Perlukah Menjaga Citra Pribadi di Media Sosial untuk Kepentingan Bisnis?

0
649
Ilustrasi mengelola waktu kerja karyawan. (Unsplash.com/@anniespratt)

Berempat.com – Menjadi seorang pengusaha kadang kala membuat Anda dituntut untuk menjaga sikap, baik di depan relasi, publik, bahkan di media sosial. Sebab melihat fenomena yang terjadi di Indonesia saat ini, di mana segala hal bisa dengan mudah viral di media sosial, turut menuntut para pengusaha untuk menjaga diri pada setiap unggahannya agar tak memengaruhi urusan bisnis.

Karena yang dikhawatirkan, apabila ada unggahan yang dianggap ‘salah’ atau ‘tidak semestinya’ oleh publik, maka citra pribadi akan tercoreng yang juga berdampak pada citra bisnis. Namun, apakah benar bahwa citra pribadi memengaruhi bisnis kita?

CEO Pink Lily Tory Gerbig pun sempat diterpa pertanyaan semacam itu. Sebagai informasi, Pink Lily merupakan sebuah platform butik khusus untuk perempuan. Pada tulisannya di sebuah portal entrepreneur, Tory pun mengungkapkan pandangannya mengenai hal itu.

Sebagai seorang pebisnis, Tory mengaku bahwa ia sempat sempat memikirkan cara-cara seperti apa untuk bisa ‘tampil’ baik di media sosial. Pertanyaan-pertanyaan pun datang di benaknya: haruskah ia mengunggah foto pribadinya bersamaan dengan foto professional? Haruskah ia mengelola banyak akun, membagi kehidupan kerjanya lebih daripada kehidupan pribadinya?

Tory tak menampik bahwa banyak teman dan koleganya yang merasa harus berhati-hati dalam mengelola akun media sosial pribadi mereka. Bahkan, mereka sudah memikirkan konsekuensi seperti apa yang harus diterima kalau sampai gagal membangun citra pribadi di media sosial.

Menurut Tory, seorang pebisnis memang perlu untuk eksis di media sosial. Sebab bila tak melakukan hal itu maka sama saja melepas peluang kunci untuk memberikan pengaruh, menjangkau calon pelanggan dan mitra.

Tapi, apakah perlu untuk benar-benar menjaga citra pribadi di media sosial?

Tory beranggapan bahwa Anda tak perlu membuat akun ganda hanya untuk memisahkan mana unggahan yang bersifat pribadi dan mana yang sifatnya profesional. Ia justru menyarankan agar Anda cukup memiliki satu akun pribadi untuk menyatukan kehidupan pribadi dan pekerjaan.

Twitter dan Instagram, menurut Tory, menjadi media sosial yang memiliki basis pengguna yang signifikan dan sering digunakan oleh para CEO. Jika Anda sudah memiliki kehadiran di salah satu atau kedua situs ini, pertimbangkan untuk menambah konten Anda dengan lebih banyak detail pribadi yang dapat diakses dan unggah lebih sering detail pribadi Anda.

Dengan cara itu, Tory berpendapat bahwa pebisnis bisa lebih memanfaatkan media sosial dengan baik dan untuk mengembangkan pribadi serta bisnis secara beriringan.

Sebagai seorang wanita, Tory yakin bahwa pengusaha perempuan di luar sana banyak yang beranggapan bahwa mereka perlu menutup diri atau tak menjadi diri sendiri di media sosial. Tujuannya sudah pasti untuk menjaga citra diri agar dapat memengaruhi citra dan kesuksesan bisnis.

Namun, Tory justru beranggapan lain. Menurutnya, menjadi diri sendiri di media sosial adalah kebajikan, bukan kewajiban. Artinya, ia menekankan perlunya menjadi diri sendiri di media sosial tanpa harus takut berpengaruh pada kesuksesan bisnis.

Tory pun menjabarkan hasil survei terbaru yang menemukan bahwa 80%-90% konsumen di AS menilai sebuah merek dari keasliannya. 57% responden di antaranya  bahkan mengatakan bahwa kurang dari separuh merek terkenal bisa membuat konten yang bergema karena autentik.

Apa artinya ini untuk halaman media sosial Anda? Tory menilai bahwa pengikut, termasuk calon pelanggan, ingin Anda tampil jadi diri sendiri. Semakin asli diri Anda, semakin Anda berhasil menguasai diri dengan target audiens Anda. Ini adalah taktik yang menurut Tory sudah terbukti kepada pengusaha yang bisa menerimanya secara positif sehingga merek-nya pun terus berkembang.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.