Belajar dari Fenomena Bisnis Kue Artis yang Booming di Awal tapi Redup Kemudian

0
1428

Berempat.com – Selain dikenal sebagai negara yang kaya akan sumber daya alamnya, Indonesia saat ini juga dikenal sebagai negara yang mudah ikut-ikutan pada sesuatu yang sedang tren atau viral. Baik soal urusan fesyen, gaya hidup, hingga pemilihan bisnis.

Fenomena bisnis kue artis menjadi salah satu bukti nyata. Di awal kemunculannya pada 2017 silam, bisnis kue artis sangat viral dan cukup menyedot perhatian masyarakat Indonesia. Banyak yang lantas berburu produk kue-kue artis ini. Bahkan tak jarang antrean tampak mengular di toko-toko kue artis yang baru buka.

Namun, saat ini bisa dibilang fenomena tersebut mulai meredup. Tak ada lagi sesuatu yang banyak diperbincangkan atau viral dari bisnis kue para artis tersebut. Sama seperti nasib Es Kepal Milo yang mulanya begitu digandrungi tapi kini sepi peminat.

Meredupnya bisnis kue artis ini sendiri sempat diungkap oleh President of Industry Pastry Alliance Chef Rahmat Kusnendi di sebuah acara Blue Band Master pada April lalu. Menurutnya, saat ini bisnis kue artis telah sepi peminat.

“Kalau dilihat (secara kasar), (peminatnya) dari 100 persen, mungkin tersisa 30-40 persen,” ungkap Rahmat seperti dikutip dari Kompas.com.

Rahmat sendiri menyoroti beberapa kekurangan dari fenomena bisnsi kue artis yang sempat booming tersebut. Di antaranya seperti yang sejak awal mengincar para penggemarnya sebagai target pasar, minimnya inovasi, dan kurangnya pondasi yang kuat seperti tidak adanya pengetahuan mumpuni soal kue dan bisnisnya.

Mantan GM R&D and Production Bread Life ini juga menegaskan bahwa kebanyakan artis memperlakukan bisnis kuenya layaknya bisnis fesyen. Para artis hanya mengandalkan strategi pemasaran melalui media sosial dengan memajang foto yang menggoda. Padahal, menurut Rahmat, bisnis makanan tidak hanya dilihat dari foto tapi juga perlu dirasakan.

“Banyak orang yang beli kue si artis karena senang lagi tren tapi akhirnya beli cuma sekali dan berakhir musiman saja,” terang Rahmat sebagaimana dikutip dari CNBC Indonesia.

Terkesan memanfaatkan fenomena yang sedang tren sehingga ikut-ikutan untuk terjun ke bisnis kue juga tampak. Fenomena berbisnis ikut-ikutan ini juga sempat disinggung oleh seorang pengusaha yang sukses menjalankan 4 bisnis sekaligus, Yossa Setiadi.

Yossa melihat bahwa sudah ada yang salah dengan kebiasaan para pengusaha musiman di Indonesia ini. Makanya, ia sendiri merasa tak heran apabila di Indonesia setiap harinya banyak bermunculan pengusaha-pengusaha baru, tapi setiap hari banyak juga yang berguguran atau bangkrut.

“Demam batu akik, semua pada main batu akik. Demam ojol (ojek online) semua pada ojol. Pada dasarnya nanti akan ketemu titik bejana. Titik bejana itu kembali ke porsi awalnya,” ujarnya kepada Berempat.com di Jakarta beberapa waktu lalu.

Yossa pun memberi contoh bagaimana dulu seorang mitra pengemudi ojek daring bisa mendapatkan penghasilan Rp 16 juta per bulan. Namun, saat ini sudah jarang atau hampir tak ada yang bisa mendapatkan penghasilan seperti itu karena semakin banyaknya yang mengikuti.

Pemilik usaha Bawang Goreng Soy yang sudah mendistribusikan produknya ke hotel bintang 5 di Indonesia ini pun menegaskan perlunya perenungan sebelum memulai bisnis. Ia mengambil cara dari ‘Jurus 6 Detik’ dari Anthony Dio Martin.

“Apa benar-benar jika saya lakukan ini manfaatnya besar? Dari situ bisa sadar, oh ternyata memang kita bukan kelasnya. Dan kacaunya di Indonesia itu, (mudah) panas-panasnya itu,” tegas Yossa.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.