Mengenal Taylor Fine Good, Merek Tas Traveling Lokal yang Sudah Merambah Luar Negeri

0
3316
Salah satu produk Taylor Fine Good (TFG). (milamili.com)

Berempat.com – Barangkali bukan hal sulit untuk menemukan produk Taylor Fine Good (TFG) di beberapa situs e-commerce kenamaan Indonesia macam Blibli.com hingga Zalora. Tapi, tahukah Anda kalau TFG merupakan merek lokal asal Surabaya yang bahkan sudah mengekspor produknya ke Malaysia dan Thailand?

TFG sendiri didirikan oleh Edwin Yani Widjaja pada 2012 silam. Bermodalkan uang Rp 5 juta, ia memulai bisnisnya untuk memproduksi tas dan tali kamera. Kini, menurut penuturan Edwin, TFG memiliki produk dengan spesifikasi yang menyasar hipster traveler.

Karena fokus dan begitu spesifiknya pasar yang dituju, Edwin berharap produknya dapat dipakai oleh para traveler dengan kesan beda dan fashionable. “Produk TFG menyasar generasi milenial,” sebutnya dalam acara Media Gathering The Big Start Indonesia di Surabaya, beberapa waktu lalu.

Untuk pemasaran sendiri, produknya banyak dijual di kota-kota besar seperti Jakarta dan Surabaya. Harga untuk setiap produknya pun dipatok terjangkau, yakni Rp 150.000 untuk strap kamera dan Rp 300.000-Rp 500.000 untuk tas.

Menurut pengakuan Edwin, saat ini TFG telah memasarkan produknya, baik secara offline yang tersebar di 36 toko di Indonesia dan daring yang memanfaatkan keberadaan e-commerce. Begitu larisnya produk TGF ini, Edwin pun sampai berhasil mendapatkan omset per bulan yang mencapai di atas Rp 100 juta.

“Omset di atas Rp 100 juta tapi di bawah Rp 1 miliar ya,” sebutnya.

Namun, perlu diketahui bahwa sebelum bisa seperti sekarang ini, Edwin pernah kesulitan dalam menjual produknya. Apalagi, ia mengaku bukan berasal dari kalangan keluarga pebisnis. Edwin pun memulai TGF dengan menyasar para fotografer. Alasannya, karena produk tas dan tali kamera kebanyakan merupakan produk impor.

Tetapi, sayangnya, selama 2 tahun penjualannya tak menjanjikan. Edwin justru cenderung merugi. Bahkan, ia mengaku produknya yang ditaruh di toko-toko kamera tak pernah dipajang.

Edwin pun memutar otak. Akhirnya, ia pun memutuskan untuk memasarkan produknya ke distro-distro. Dengan demikian, otomatis produknya lebih memosisikan diri sebagai bagian dari lifestyle. Dan rupanya pilihan Edwin tepat. Pasalnya, produknya langsung diminati.

Dan kini, produknya pun sudah dipasarkan bukan hanya di Indonesia, tapi juga sampai ke luar negeri.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.