Projek Satu Miliar

0
102

My First Million Dollars. Itulah judul buku pernah saya baca di toko buku Gramedia. Buku ini mengisahkan tentang anak muda di Amerika yang berhasil mencapai U$1juta pertama mereka di bawah usia 30 tahun. Begitu juga di Indonesia, ada penulis buku menceritakan pengalaman dia pertama sekali mendapatkan U$1juta dolarnya.

CNBC malahan ada program TV “Big Idea”. Acara membahas tentang keberhasilan para pelaku usaha bisnis UKM mencapai million dolarnya. Bintang tamu yang hadir pada acara itu, rata-rata adalah pengusaha yang telah mencapai omset jutaan dolar. Dalam sebuah buku “Passion” pun saya pernah membaca. Sang penulis mengajak pembaca untuk membuat sebuah proyek U$1juta. Dia begitu semangat berapi-api seakan ingin menyatakan bahwa segala kemungkinan bisa terjadi.

Antri di Bank

Sementara itu, Senin 9 Desember yang lalu. Saya mendatangi sebuah Bank untuk mengajukan permohonan pembuatan kartu kredit. Di dalam Bank yang saya kunjungi ini, Antri seakan telah menjadi budaya para nasabahnya. Jangankan pergi ke bank untuk setoran. Biasanya, di ATM-nya pun juga demikian.

Sembari menunggu panggilan untuk duduk di depan meja Customer Service (CS). Saya melanjutkan membaca buku “Zappos Delivery”. Buku ini sungguh menarik bagi saya. Karena, buku ini bukan mengisahkan tentang bisnis Zappos sendiri, akan tetapi sang pengarang—Tony  Hsieh pendiri Zappos sendiri—menceritakan pengalaman hidup dia memulai bisnis dari semenjak sekolah sampai Zappos berdiri.

Sampai saat ini, saya baru membaca hingga Bab II. Meski demikian, di akhir-akhir Bab II ini ada semacam memicu adrenalin saya untuk menguji diri saya sendiri. Seperti halnya yang Tony  Hsieh lakukan kepada dirinya.

Projek 1 Miliar

Selesai membaca Bab II, tiba-tiba saja ada bisikan dalam diri saya. Semacam dialog batin. “Apakah hidupku seperti ini saja? Apakah aku pantas untuk menjadi pemilik usaha? Apakah karirku akan memimpin ratusan karyawan?

Menariknya, ada yang menjawab dalam diri saya. “Ya aku bisa. Ya, aku pantas untuk hal itu”. Lalu muncul lagi pertanyaan. “Lalu apa yang  mesti aku lakukan?” Jawabannya adalah, “Projek 1 Miliar”.

Jawaban projek 1M ini sungguh mengejutkan saya. Karena, dulu saya berpikir—bermimpi saja—mempunyai 1 M seakan itu merupakan suatu hal yang sangat mustahil bagi saya. Tidak dapat saya pungkiri. Masih ada bagian dalam diri menolak dan menakuti, “Tidak mungkin bisa”.

Akan tetapi, begitu jawaban “Projek 1 Miliar” muncul, tubuh saya tidak memberikan alarm bahwa ada bagian yang menolaknya. Saya senang dan bahagia dengan kondisi ini. Walaupun saya sadar, sampai saat saya menuliskan catatan ini, belum ada “IDE” terbersit dalam diri saya. Ide untuk saya eksekusi, agar projek 1 miliar menjadi kenyataan.

Dalam hal ini, saya menyikapi. Tahap awal adalah mensyukuri perubahan mindset. Bahwa saya pantas untuk memiliki 1 Miliar. Yang dulunya, mengungkapkan saja berat rasanya. Beragam gambar alasan muncul seakan menegaskan. Tidak mungkin.

Sekali lagi. Walau entah bagaimana caranya? Tapi saya sangat yakin. Allah akan mengizinkan, meridhai dan mengabulkan harapan saya ini. Dan tugas saya selanjutnya, mengikuti intuisi bisnis dan mengeksekusinya. Mohon sambung doa, projek ini menjadi kenyataan. Aamiin.

 

Oleh    : Rahmadsyah Mind-Therapist

Trainer Soft-Skill, Associate Trainer @Tantowi Yahya Plublic Speaking School dan Lembaga Pelatihan Ratih Sang.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.