Omset Rp 315 Juta dari Usaha Kerajinan Kulit

0
2000
dok bonvoyagejogja.com

Besar dalam keluarga pengusaha distributor kulit tidak serta merta membuat Sendy Deka Saputra terpikat untuk meneruskan usaha keluarganya. Namun dengan kreativitas yang dimiliki dan juga jiwa wirausaha yang diturunkan oleh orangtua membuat pemuda yang akrab disapa Sendy ini malah memilih untuk memanfaatkan produk kulit yang dipasarkan orang tuanya menjadi sebuah produk kerajinan bernilai tinggi.

Seperti diungkapkan Sendy, minatnya untuk membuat produk berbahan kulit hadir ketika ia melihat respon masyarakat terhadap produk fashion import berbahan kulit seperti tas, dompet dan lain sebagainya yang ia jual sangat menjanjikan. Namun begitu pengetahuan yang minim terhadap cara membuat berbagai bahan tersebut sempat membuat pemuda kelahiran Desember 1989 ragu untuk memulainya.

Berkat dukungan orangtua, membuat kepercayaan diri Sendy dalam memulai usaha produk kerajinan kulit semakin meningkat, karena itu awal 2011 ia mulai merintis usaha pembuatan berbagai produk berbahan kulit dengan nama Sendy Leather.  “Ketika saya mempunyai ide untuk membuat usaha kerajinan kulit, saya sempat ragu karena tidak adanya pengetahuan tentang usaha tersebut. Namun ternyata orangtua sangat mendukung ide tersebut,” ujar Sendy.

Dalam memulai usahanya, Sendy mengeluarkan modal sebesar Rp 80 juta yang digunakan untuk membeli bahan baku dan biaya produksi. Modal tersebut sebagian ia dapatkan dari hasil usaha penjualan produk fashion import berbahan kulit dan sebagian lagi merupakan pinjaman dari orangtuanya.

Serba Kulit. Produk kerajinan kulit yang dibuat Sendy bisa dibilang tidak biasa, karena pemuda 24 tahun ini memanfaatkan semua jenis kulit untuk produk kerajinannya. Seperti kulit ular, buaya, domba dan lain sebagainya. Produk kerajinan yang dibuat pun beraneka ragam, mulai dari tas kulit, sabuk, dompet, sepatu, sandal dan juga jaket.

Karena produk yang dibuat Sendy full kulit asli yang memiliki kualitas sehingga awet digunakan maka untuk harganya pun bisa dibilang lumayan tinggi. Untuk satu buah tas wanita di tawarkan dengan harga Rp 600 ribu-Rp 900 ribu, tas pria sekitar Rp 300 ribu-Rp 500 ribu, tas kerja Rp 700 ribu- Rp 1 juta, sabuk seharga Rp 120 ribu, dompet Rp 180 ribu dan harga jaket Rp 1,4 juta. Dari semua produk yang ditawarkan, produk tas wanita paling banyak diminati pasar. Hal tersebut dapat dilihat dalam satu hari Sendy dapat menjual paling tidak 10 pcs tas wanita, dengan omset mencapai Rp 315 juta per bulannya.

Kerja Sama dengan Penjahit. Ketidakmampuan Sendy dalam menjahit membuatnya agak kesulitan dalam proses produksi. Karena itu, Sendy memutuskan untuk bekerjasama dengan para penjahit yang ada di sekitar kediamannya. Dalam sistem kerjasama ini para penjahit hanya tinggal menjahit produk yang diinginkan, sedangkan untuk bahan baku kulit dan juga desain produk yang akan dibuat sudah di siapkan oleh Sendy. Untuk biaya produksi, biasanya Sendy mengeluarkan sekitar Rp 100 ribu- Rp 200 ribu untuk setiap produknya tergantung tingkat kesulitan dalam proses penjahitan.

Kerja Keras. Meski pada saat ini Sendy tergolong sukses dalam menjalankan usahanya, namun kesuksesan tersebut tidak didapatkan dengan begitu saja. Pada awal menjalankan usaha, Sendy harus bekerja keras dalam memasarkan produk kerajinan kulitnya. “Pada awal menjalankan usaha, saya berangkat pagi dan pulang malam untuk menawarkan produk-produk saya ke pasar-pasar  dan juga berbagai pameran. Aktivitas seperti itu saya lakukan selama 3-4 bulan. Tujuannya agar produk saya bisa dikenal oleh masyarakat luas,” ungkap Sendy.

Selain berjuang keras dalam memasarkan usahanya, Sendy juga pernah mengalami penipuan dari seorang yang ingin membeli produknya. Setelah produk dikirim ke tempat pemesan ternyata alamat yang diberikan palsu sehingga barang yang sudah dikirim kembali padanya sehingga ia mengalami kerugian. Kejadian tersebut sebenarnya cukup membuat Sendy frustasi, apalagi kejadian itu terjadi di awal ia menjalankan usahanya. Namun berkat dukungan orang tua dan juga tekat yang kuat dalam menjalankan usaha membuat Sendy kembali bersemangat dalam merintis usahanya tersebut.

Selain mengikuti berbagai pameran dan menawarkan langsung ke pasar, Sendy juga menggunakan cara lain untuk mempromosikan produknya yaitu dengan memanfaatkan internet yang memiliki jangkauan luas dan banyak digunakan masyarakat. Sendy juga mengaku membuka kesempatan kerjasama dalam bentuk reseller kepada siapa saja yang ingin memasarkan produk kerajinan kulit buatannya.

Untuk menjadi reseller, calon reseller bisa langsung menghubunginya terlebih dahulu atau bisa datang langsung ke tempat usahanya yang terletak di kota Solo, Jawa Tengah. Setelah itu calon reseller bisa melakukan pembelian minimal 6 pcs dan secara otomatis akan mendapatkan potongan harga antara 25%-30%. Dengan berbagai sistem pemasaran yang dilakukan tidak heran jika produk kerajinan kulit yang dibuatnya sudah dikenal di berbagai pelosok Indonesia seperti Yogjakarta, Surabaya, Solo, Semarang, Jakarta, Samarinda, dan beberapa kota lainnya.

Diakui Sendy, usaha produk kerajinan kulit yang ia jalankan memiliki prospek yang sangat menjanjikan. Karena selain model-modelnya yang sangat beragam, kualitas jahitan tidak kalah bagus oleh produk-produk impor. Sehingga produk kulitnya bisa terus bersaing dengan produk-produk impor yang saat ini ada di pasaran.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.