Top Mortar Gak Takut Hujan
Home Sales & Marketing Sukses Berbisnis ala Kesatria Jepang

Sukses Berbisnis ala Kesatria Jepang

0
bisnis ala satria jepang (dok .feedme.id)

 

Citra positif  yang melekat pada bangsa Jepang, terkait dengan kesuksesan yang mereka raih dalam berbagai bidang adalah kerja keras, disiplin, punya rasa malu dan siap bertanggung jawab terhadap kesalahan atau kegagalan, pantang menyerah, loyal, dan inovatif. Meski setiap individu punya karakter dan sifat tersendiri, namun citra positif di atas secara kolektif  melekat pada bangsa Jepang.

Selain itu, sejak dini anak-anak di Jepang dididik untuk mandiri, punya minat baca tinggi, serta menjaga tradisi, salah satu tradisi yang mereka jaga adalah Bushido. Hal tersebut diungkapkan Motivator Andrie Wongso dalam seminar The Spirit of Bushido for Success in Selling.

Bushido bisa diartikan sebagai  tatacara ksatria, atau sebuah kode etik kepahlawanan golongan Samurai dalam feodalisme Jepang. Samurai sendiri adalah sebuah strata sosial penting dalam tatanan masyarakat feodalisme Jepang. Secara resmi, Bushido dikumandangkan dalam bentuk etika sejak zaman Shogun Tokugawa.

Pada zamannya Bushido adalah sikap rela mati demi negara/kerajaan dan kaisar. Namun dalam Bushido sendiri, ada nilai-nilai moral yang jika diaplikasikan pada zaman apa pun masih bisa relevan, apalagi jika diterapkan dalam dunia kerja atau dunia usaha.

Ada tujuh karakter moral dan mental yang menjadi elemen dasar dari Bushido. Ketujuh elemen itu adalah Gi (Ketulusan), Yuki (Keberanian), Jin (Kebaikan), Rei (Kesantunan), Makoto (Kejujuran), Meiyo (Martabat), dan Chugi (Kesetiaan). Menurut Andrie Wongso, ketujuh elemen di atas biasanya dimiliki oleh orang-orang yang sukses. Meskipun orang tersebut tidak dengan sengaja mempelajari dan menerapkan elemen Bushido.

CEO Astra Internasional Isuzu, Supranoto menjelaskan penerapan elemen Bushido tersebut dalam dunia kerja dan bisnis. Menurutnya, Makoto yang berarti kejujuran, atau bisa diartikan juga sebagai integritas adalah hal yang penting dalam dunia kerja maupun bisnis.

“Integritas adalah melakukan sesuatu sesuai dengan apa yang Anda katakan, termasuk di antaranya penepatan janji-janji. Integritas membuat Anda dapat dipercaya. Integritas membuat orang lain mengandalkan Anda,” ungkap Supranoto.

Dalam dunia kerja, sebuah perusahaan tentu mencari karyawan yang jujur dan punya integritas. Sementara dalam bisnis, hal ini diperlukan untuk mendapatkan kepercayaan pelanggan. Supranoto menceritakan pengalamannya ketika ada seorang calon konsumen yang menanyakan apa kekurangan dari produk truk yang dijualnya. Sebagian besar sales biasanya piawai jika ditanya apa kelebihan produknya, namun sulit jika ditanya apa kekurangannya. Jika berbohong, tidak ada kekurangannya maka konsumen yang kritis tidak akan percaya.

“Saya akhirnya menjawab, jika truk ini berhenti di lampu merah, lalu saat lampu hijau berlomba dengan mobil lain untuk melesat cepat, produk kami pasti kalah,” ungkap Pranoto.

Hal tersebut diungkapkan Pranoto, bukan tanpa alasan. Truk menurutnya memang dibuat bukan untuk beradu cepat, atau mengutamakan kecepatan, namun lebih pada kekuatan.

“Beberapa minggu kemudian, calon konsumen tersebut ternyata kena musibah, salah satu armada truk miliknya kecelakaan karena sopirnya membawa truk ngebut, ugal-ugalan. Akhirnya ia mengambil produk kami,” Papar Pranoto.

Elemen Bushido lain yang menurut Pranoto penting untuk penjualan adalah Chugi yang berarti kesetiaan. Pranoto mengungkapkan, untuk customer yang langsung berhubungan dengannya, ia selalu memberikan nomor handphone yang kapan pun bisa dihubungi jika ada masalah atau keluhan.

“Nomor handphone saya sudah 20 tahun tidak ganti,” ungkapnya.

Pranoto menceritakan pengalamnnya saat masih bertugas di Trac, Astra Rent Car. Saat itu ada pelanggan yang menggunakan jasanya, namun dalam perjalanan mobilnya terperosok dan konsumen tersebut bingung tak tahu harus melakukan apa.

“Akhirnya, dia telepon saya pukul 11 malam, dan menanyakan apa yang harus dilakukannya, saya kemudian minta waktu 10 menit untuk mencari solusi,” ungkap Pranoto.

Karena lokasinya lebih dekat ke Bandung, Pranoto kemudian menghubungi cabang Bandung untuk berkordinasi, lima menit kemudian ia menghubungi customer tersebut dan mengatakan untuk menunggu di lokasi, karena setengah jam lagi akan ada mobil pengganti yang akan diantarkan.

Pranoto mengatakan untuk menunggu sekitar setengah jam padahal estimasi waktunya cukup hanya 15 menit. Hal itu dilakukannya agar apa yang customer dapatkan, melebihi ekspektasi.

“Kalau saya katakan sebentar lagi sampai, tapi ternyata lama, justru orang akan kecewa dan kesal menunggu,” ungkap Pranoto. Hasilnya, customer tersebut hingga kini menjadi pelanggan setia.

Gi atau ketulusan juga menjadi perhatian Supranoto, kali ini ia menceritakan pengalamanya sebagai konsumen.

“Saya cukup sering bepergian dengan pesawat dengan kelas dan pelayanan yang berbeda-beda,” ungkapnya.

Ada pramugari yang menawarkan dengan ala kadarnya, ada juga maskapai yang pelayanannya lebih baik pramugarinya mau menerangkan menunya, yang paling baik dan membuatnya terkesan adalah pelayanan pramugari di sebuah maskapai penerbangan yang memang memperhatikan benar siapa yang dilayani.

“Dia menyapa dan melayani dengan menyebut nama, tadinya saya berpikir paling ia hanya menghafal nama manifes dan tempat duduknya, di lain kesempatan ketika saya mencoba bertukar tempat duduk pun ternyata pramugarinya masih menyapa nama saya dengan benar,” papar Supranoto.

Supranoto melihat kesungguhan mereka dalam melayani customer. Mereka memperhatikan benar siapa yang akan dilayani.

Pranoto menyimpulkan, Makoto ditambah Chugi, akan menghasilkan Customer Satisfaction (kepuasan pelanggan), yang jika ditambah lagi dengan Gi atau ketulusan akan didapat Customer Delighted (pelanggan senang), yang kemudian bisa berkembang menjadi Customer Loyality (pelanggan setia).

Untuk bisnis secara umum, juga dibutuhkan keberanian atau Yuki. Keberanian ini dalam berbagai hal, dari keberanian memulai usaha, keberanian berinovasi, keberanian melakukan terobosan yang tidak biasa, atau jika berhubugan dengan selling adalah keberanian menghadapi komplain dari pelanggan.

Jika elemen-elemen di atas sudah dilakukan, maka Meiyo atau martabat serta nama baik akan bisa terbentuk. Hal ini terkait citra usaha yang kemudian harus selalu dijaga. Salah satu hal yang dapat menjaga dan memperbaiki citra, adalah melakukan kebajikan (Jin). Karena itu dewasa ini, banyak perusahaan sudah mulai peduli melakukan program CSR atau Corporate Social Responsibility, sebuah tanggung jawab sosial terhadap lingkungan dan masyarakat sekitar.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Exit mobile version