Syarat Ekspansi ke ASEAN: Kuasai Dulu Pasar Lokal

0
388
Ilustrasi strategi marketing. (kaboompics.com)

Berempat.com – ASEAN menjadi salah satu pangsa pasar yang dianggap seksi. Karena itu tak heran ada banyak investor yang mau merogoh kantong demi mendanai banyak perusahaan rintisan (Startup) di Indonesia—merupakan bagian dari ASEAN. Begitu seksinya, Uber pun menjadi salah satu pemain yang mempertaruhkan banyak hal di ASEAN, meski akhirnya mereka memilih merger dengan Grab.

Pakar pemasaran Hermawan Kertajaya menyebut bahwa diliriknya wilayah ASEAN tidak lain karena empat kekuatan yang dimiliki, antara lain kawasan besar yang terus tumbuh, solid dan damai, bersatu dalam keberagaman, dan menjadi hub for plus—seperti ASEAN Plus Three (APT) yang terdiri dari ASEAN, Tiongkok, Jepang, dan Korea.

Namun, Hermawan mewanti-wanti agar para pengusaha Indonesia tak terhinotis oleh keseksian pasar ASEAN. Apalagi, menurutnya, tren ke depan dalam pemasaran bisnis bukan lagi globalisasi, tapi regionalisasi.

“Bila Anda belum betul-betul menjadi local champion, sebaiknya jangan dulu masuk pasar ASEAN. Lanskapnya sangat berbeda,” ujar Hermawan saat memberikan materi International Marketing di kelas terakhir pada program Strategic Marketing Executive MBA (SMEMBA) Batch 1 di Philip Kotler Theater Class Jakarta, Minggu (1/4).

Karena kalau berpikir global, maka perusahaan harus siap menghadapai beberapa negara adidaya seperti Amerika dan Eropa, belum lagi dengan Jepang, Korea Selatan, dan negara superpower baru; Tiongkok dan India. Dan jangan kesampingkan pemain lokal dari masing-masing negara yang punya peluang atau kekuatan lebih besar.

Apa yang disampaikan Hermawan memang ada benarnya. Uber menjadi salah satu bukti nyata bagaimana perusahaan besar dengan pendanaan kuat yang menggobal itu ‘takluk’ di pasar ASEAN. Mereka harus bersaing dengan Grab di ASEAN dan GO-JEK di Indonesia. Alhasil, lantaran keuangan Uber di ASEAN cukup terganggu akhirnya mereka memutuskan merger bersama Grab.

Walaupun begitu, Hermawan tetap menyarankan agar pemasar Indonesia tetap mencoba segala peluang di luar negeri. Tapi, para pemasar tetap haru memperhatikan kapabilitas perusahaannya.

“Jadi hati-hati. Pasar international bukan untuk semua orang. Anda harus mampu menjadi local champion yang sangat kuat sebelum masuk pasar Asean. Perhatikan kapabilitas Anda,” terang pria yang pernah menulis bersama Philip Kotler ini.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.