Ellen May, Bertekad Ciptakan 2 Juta Investor Pasar Modal Mandiri dan Berhasil

0
245
Ellen May (dok ist)

 

Wanita kelahiran Solo 20 Mei 1983 ini merupakan seorang trader, investor dan juga edukator di bidang pasar modal khususnya edukasi saham melalui wadah Ellen May Institute yang dipimpinnya sejak lima tahun lalu.

Perannya sebagai ibu rumah tangga tak serta merta terabaikan. Ibu dua anak ini menjalankan dua tanggung jawab sekaligus demi kemaslahatan keluarga dan Indonesia. Ellen May sangat giat menebar inspirasi dan pengalamannya melalui akun Twitter miliknya @pakarsaham dengan 205 ribu pengikut, menjadi pembicara di forum seminar, kontributor di beberapa acara televisi, motivator dan mendirikan Ellen May Institute.

Kontribusinya perlahan tampak. Masyarakat dewasa ini nampaknya mulai melek pasar modal. Terbukti dari banyaknya muncul para trader sukses yang juga tak segan berbagi ilmu kepada para ‘pemain’ pemula. Namun perlu diakui, edukasi tentang pasar saham masih minim. Bahkan beberapa harus terseok- seok belajar secara otodidak. Ini tantangan besar Ellen May untuk jangka panjang yang harus ia pecahkan. Yakni menelurkan dua juta investor dan trader pasar saham sebagai bentuk kontribusi menguatkan roda ekonomi Indonesia.

Gambler

Ketertarikannya pada dunia trading dimulai dengan instrumen reksadana dan saham. Tepatnya pada tahun 2006. Seperti kebanyakan orang, Ellen mengawali aktivitas jual beli saham dengan berbekal intuisi layaknya seorang penjudi bukan investor jangka panjang.

Di tahun pertamanya ia bermain saham, untung spektakuler ia dapatkan. Karena hanya berbekal perasaan dan minim pengetahuan, tahun berikutnya tepatnya di 2008, ia mengalami kerugian besar karena krisis ekonomi yang melanda dunia ketika itu.

Proses pembelajaran itu ia kisahkan secara gamblangi. Sebuah kisah dan pengalaman inspiratif yang bermuara pada cita-cita besar yakni memajukan perekonomian bangsa melalui pasar modal.

“Waktu itu saya pengantin baru tahun 2006 yang nggak bisa hanya diam dan tidak produktif. Saya ingin kerja atau bisnis tapi suami nggak mengizinkan. Dia menyarankan saya belajar saham saja di rumah. Tapi itu tidak mudah karena aksesnya susah didapat, tidak seperti sekarang. Semua otodidak, dengan baca buku, sharing dengan teman. Semua dimulai dari rumah, sampai sekarang pun hampir semua dilakukan di rumah,” kata Ellen May memulai pembicaraan.

Pukulan telak ia rasakan di tahun 2008. Kondisi itu yang kemudian menjadi pembelajaran baginya untuk membenahi diri dan mempertebal wawasan. Di masa vakum beberapa bulan, Ellen mulai serius belajar tentang pasar saham. Dengan membaca buku-buku impor, sharing dengan ahli pasar saham nasional bahkan dunia hingga akhirnya ia menemukan sebuah sistem yang profitable untuk trading baik dalam saham, forex, komoditas, dan futures.

Akhir tahun 2008, Ellen kemudian menerapkan ilmu investasi yang ia pelajari dimasa rehat. Ternyata hasilnya cukup memuaskan. Grafik keuntungan yang ia dapat perlahan menanjak. Hingga tahun 2013 ia melihat pertumbuhan 5 hingga 16 kali lipat.

Proses jatuh-bangun itu kemudian ia tuangkan dalam sebuah buku yang berjudul Smart Traders Not Gamblers yang diikuti oleh buku kedua Smart Traders Rich Investor: The Baby Steps, dua tahun berikutnya. Melalui buku yang hanya dalam waktu tiga minggu sejak diterbitkan memperoleh best seller nasional, Ellen bertekad mengispirasi dan mengedukasi Indonesia untuk pasar modal yang semakin maju serta investor yang berhasil.

“Setelah saya tulis buku kemudian banyak orang yang minta diajarkan sama saya. Akhirnya saya membuat seminar dan pelatihan. Ternyata sambutannya luar biasa. Saat itu juga saya bertekad akan melanjutkan kegiatan itu yakni educating people,” tegasnya.

Sambutan baik mengalir deras dengan gelaran seminar yang ia adakan di kota kelahirannya, Solo. Banyak diantara mereka (peserta training) mengucapkan terima kasih karena trading-nya berhasil setelah ikut seminar. Ellen May semakin tergerak memajukan pasar modal Indonesia yang sampai saat ini jumlah investornya belum mencapai 0,5% dari total penduduknya.

“Akhirnya kita berkomitmen di Ellen May Institute dengan misi menjangkau dua juta investor pasar modal di Indonesia. Saya juga ingin mendukung Bursa Efek tentang bagaimana memotivasi orang yang awalnya takut berinvestasi, kita educate mulai dari level yang paling basik sampai kepada ilmu yang lebih dalam lagi sampai mereka benar-benar mengerti,” tandasnya.

Tak hanya melalui forum seminar gratis dan berbayar yang diadakan diberbagai kota besar di indonesia, sarjana IT jebolan Universitas Bina Nusantara ini memanfaatkan media sosial seperti Twitter @pakarsaham, workshop, dan juga melalui media cetak dan elektronik sebagai sarana menebar ilmu dan inspirasinya.

Ellen May paham betul bahwa bagi para investor pemula tak hanya bisa mengandalkan intuisi seperti layaknya berjudi. Diperlukan wawasan dan pengetahuan yang cukup untuk ikut serta dalam arus jual-beli pasar saham.

“Saya melihat orang di pasar modal banyak mengalami pahitnya dari pada manisnya. Saya juga melihat banyak orang yang masuk ke pasar modal lalu gagal dan berhenti. Saya juga melihat ada beberapa yang berhasil. Memahami strategi dalam pasar modal itu tidak boleh setengah-setengah. Kita harus mengerti dulu profil diri, menadalami ilmunya secara utuh dan disiplin. Setelah itu yang tak kalah pentingnya adalah memahami ilmu pengendalian diri atau psikologi trading yang hanya bisa didapat dari latihan jam terbang,” jelas Ellen.

Tak cukup bagi Ellen untuk hanya memahami ilmu strategi pasar modal tersebut. Untuk menjalankan Ellen May Institute, wanita berparas cantik ini juga mempelajari berbagai bidang ilmu terkait. Seperti ilmu komunikasi, manajemen, kepemimpinan, bisnis dan psikologi.

“Selain mendalami ilmu pasar modal secara utuh, saya juga mempelajari ilmu komunikasi, psikologi, bisnis, leadership. Semua otodidak karena memang mau tidak mau harus bisa. Karena bisnis seperti ini ujungnya akan memberi value kepada banyak orang. Fokus utamanya memberikan manfaat dan dampak yang sebesar-besarnya untuk sebanyak-banyaknya orang,” terangnya.

“Kepuasan kami adalah ketika banyak orang yang berhasil. Dari alumni-alumni saya banyak yang memberikan kisah suksesnya. Misalnya dia bisa bayarin istrinya kemoterapi. Kita sangat senang meninggalkan suatu jejak manfaat untuk mereka. Saya selalu bilang ke mereka, berterima kasihlah kepada diri sendiri, kepada Tuhan, karena saya dan tim hanyalah bagian dari perjalanan kecil dari hidup Anda. Jadi ketika Anda berhasil, itu adalah kerja keras Anda dan penyertaan yang Maha Kuasa,” paparnya lugas.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.