Otak di Balik Merebaknya Layanan Isi Angin Nitrogen di Indonesia

0
2933
CEO Green Nitrogen - Adang Wijaya. (Dok. Pribadi)

“Apa pun bisnisnya, kunci utamanya di SDM”

Berempat.com – Dulu, pemilik kendaraan bermotor banyak yang tak terlalu peduli pada jenis angin yang digunakan untuk mengisi ban. Selama dapat membuat ban tak kempis maka sudah cukup. Padahal, keselamatan berkendara dimulai dari ban. Bila tekanan angin di ban tiba-tiba naik, maka ban bisa pecah sewaktu-waktu.

Namun, sejak medio 2011, kepedulian pemilik kendaraan untuk memilih angin yang ‘ramah’ pada ban mulai terbentuk. Sebetulnya itu berkat hadirnya layanan isi angin nitrogen di SPBU Pertamina untuk pertama kalinya.

Sebuah gerai berukuran sedang yang didominasi warna merah dengan papan bertuliskan NITROGEN—nama gas yang digunakan itu sendiri—yang didominasi warna hijau, tersemat di sudut area SPBU Pertamina. Gerai itu kini dapat dengan mudah kita temukan di setiap SPBU Pertamina, baik yang dikelola oleh Pertamina sendiri maupun oleh swasta—di Jabodetabek kode SPBU 31 milik Pertamina dan 34 bila milik swasta.

Itu adalah gerai Green Nitrogen; gerai isi angin nitrogen pertama yang hadir di SPBU Pertamina di seluruh Indonesia. Sebelum gerai itu muncul, kebanyakan pemilik kendaraan di Indonesia belum tahu bahwa nitrogen merupakan gas yang ramah pada ban ketimbang oksigen.

Sempat Tak Diacuhkan, Kini Satu-satunya Operator Resmi Isi Nitrogen SPBU Pertamina

Gerai itu pertama kali didirikan oleh dua sahabat, Adang Wijaya dan Fajar Kristanto. Di bawah bendera PT Global Insight Utama, mereka berdua membagi tugas mengembangkan bisnis yang mulanya dianggap tak lebih dari tambal ban pinggir jalan. Adang Wijaya bertindak sebagai CEO yang memikirkan berbagai strategi pemasaran, sedangkan Fajar bertindak sebagai COO yang memastikan tak ada hambatan pada operasional gerai.

Apa yang dialami Adang dan Fajar sebetulnya tak jauh berbeda dengan pendiri Aqua Tirto Utomo maupun Bob Sadino. Mereka sama-sama mengenalkan ‘hal baru’ yang semula dianggap bukan hal penting untuk dibeli. Siapa yang mau membeli air mineral kemasan kalau bisa memasak air sendiri? Siapa juga yang peduli bedanya telur ayam kampung dan negeri? Dan siapa juga yang mau mengisi ban dengan nitrogen yang lebih mahal kalau bisa bayar murah untuk isi angin biasa di pinggir jalan?

Tapi, mereka bisa mengubah semua pandangan masyarakat dengan berbagai usaha. Untuk Green Nitrogen saja, sampai saat ini gerainya telah tersebar lebih dari 500 gerai di SPBU Pertamina dari Medan hingga Lombok.

Tahun 2011 menjadi tahun yang bersejarah bagi Adang Wijaya. Karena di tahun itulah untuk kali pertama ia mendirikan gerai Green Nitrogen di SPBU Pertamina yang berlokasi di Harapan Indah, Bekasi. Namun, SPBU tersebut bukanlah dikelola Pertamina, melainkan dikelola perorangan.

Adang saat itu memang belum bisa menembus ke PT Pertamina langsung. Sebab sesuatu yang baru, apalagi bisnisnya belum teruji seperti miliknya tentu tak akan mudah diterima oleh Pertamina. Karena itu, Adang pun berusaha melobi para pemilik SPBU Pertamina yang dikelola swasta.

Keputusannya memilih SPBU sebagai lokasi gerainya lantaran tingginya intensitas pengendara untuk mengunjungi SPBU. Apalagi di beberapa SPBU pun sudah dilengkapi oleh mesin ATM. Namun, tentu tak mudah untuk bisa diterima pihak SPBU untuk menyewa sebagian lahannya yang tak lebih berukuran dari 5×6 meter.

“Tidak mudah untuk bisa masuk ke SPBU karena sudah ada layanan angin gratis,” kisah Adang kepada Berempat.com di kantornya yang berada di wilayah Bekasi, Jawa Barat.

Selain sudah adanya fasilitas angin gratis, kemunculan gerai Green Nitrogen di area SPBU bisa mengubah tataletak SPBU yang sudah distandarisasi oleh Pertamina. Sebab itu, banyak juga pemilik SPBU yang tak membuka tangannya untuk Adang Wijaya.

Tapi, beruntung, atas kebaikan hati si pemilik Adang pun bisa menyewa lahan di SPBU Pertamina di Harapan Indah dengan biaya Rp 8 juta per tahun. Namun, bukan itu yang menjadi tantangan bagi Adang. Justru, setelah gerainya dibuka untuk pertama kalilah Adang harus berjibaku mendatangkan pelanggan pertama.

“Dulu dalam sehari itu cuma dapat omset antara Rp 5 ribu-Rp 20 ribu. Sekalinya dapat Rp 40 ribu langsung senang banget. Duitnya waktu itu buat beliin karyawan nasi padang,” kenang Adang yang sesekali terkekeh.

Sedikitnya omset yang diterima Adang saat itu tak terlepas dari minimnya pengetahuan masyarakat pada manfaat nitrogen bagi ban. Untungnya, Adang yang lulusan PPM Manajemen ini mengerti apa yang mesti dilakukannya. Hal pertama yang menjadi fokusnya ada pada pelayanan. Karena pelayanan adalah hal pertama yang akan dirasakan konsumennya.

“Dari pelayanan itulah akhirnya kami ada kesempatan untuk edukasi pasar. Kami layani dan kami jabarkan kelebihan nitrogen,” tukasnya.

Karena itu Adang pun giat melakukan edukasi kepada pengunjung SPBU, entah dengan membagikan brosur hingga berbincang langsung—tak sedikit yang datang dan bertanya karena penasaran.

Sampai akhirnya, di penghujung tahun 2011 Adang pun memberanikan diri untuk menemui pihak Pertamina Retail langsung. Tujuannya saat itu hanya satu; menjadi partner resmi PT Pertamina Retail. Memang tak mudah, perlu kelihaian Adang untuk bernegosiasi. Beruntung, pihak Pertamina mau mendengarkan dan sudi menjalin kerja sama. Esoknya, Green Nitrogen pun diberi tempat untuk membuka 10 gerainya di 10 SPBU Pertamina berkode 31.

“Banyak jalan yang kebetulan dibukakan pintunya. Sesusai dengan hadis Nabi, kalau kita berbisnis atau berdagang akan ada 9 pintu kemudahan yang dibuka,” ujar Adang.

Sejak menjadi operator resmi layanan nitrogen di SPBU Pertamina, pertumbuhan gerai Green Nitrogen pun seperti tak bisa dihentikan. Dalam setahun jumlah gerainya tumbuh hingga mencapai seratus gerai. Sampai di awal tahun 2018 ini, jumlah gerainya lebih dari 500 gerai. Green Nitrogen juga mampu menyerap tenaga kerja hingga 2.000 orang.

Bahkan lebih dari 10 penghargaan telah dikoleksi baik atas nama individu maupun untuk merek Green Nitrogen sampai saat ini.

3 Tantangan yang Dihadapi: Isu Nitrogen Palsu, Merek yang Dijiplak, dan Dicaploknya Lahan

Setidaknya ada tiga tantangan yang dihadapi dalam menjalankan bisnis oleh Green Nitrogen sampai saat ini. Adang menyebut mulai dari isu hoaks, gerai nitrogen yang menjiplak mereknya, hingga pemilik SPBU yang memilih membuka gerai nitrogennya sendiri.

Untuk isu nitrogen palsu yang sempat menerpa mereknya itu terjadi di tahun 2015 ketika pengguna akun Facebook mengunggah sebuah testimonial yang menyudutkan mereknya. Dalam unggahannya itu, si pemilik akun memang tak menyebutkan merek tertentu, tapi ia memajang foto gerai lawas Green Nitrogen. Apalagi, ia menuding bahwa layanan nitrogen yang menggunakan kompresor—seperti yang digunakan Green Nitrogen—adalah palsu. Karena sepengetahuannya, nitrogen yang asli sudah dalam berbentuk tabung tanpa perlu kompresor lagi.

“Pertama kali kita langsung update di media sosial. Kita klarifikasi soal isu itu,” papar Adang.

Seperti yang sudah dikatakan di awal, Adang memang menawarkan sesuatu yang baru. Bila pada umumnya pengisian nitrogen menggunakan tabung, tapi Adang menggunakan teknologi terbaru, yakni nitrogen generator yang dapat ‘menambang’ nitrogen dari udara langsung. Seperti diketahui, kandungan udara kita ini melingkupi 78% nitrogen, 20% oksigen, 0,93% argon, 0,03% karbon dioksida, dan 0,003% gas lainnya.

Karena itu Adang selalu menerangkan bila diperlukan kompresor berkekuatan 3PK. Karena kompresor berfungsi untuk mendorong udara masuk untuk nantinya disaring oleh mesin nitrogen generator.

“Milik kami tidak menggunakan tabung, tapi milik kami menggunakan mesin terbaik nitrogen generator dan kompresor Hitachi,” terang alumni Universitas Brawijaya Malang tersebut.

Memang, sepenelusuran Berempat.com, mesin nitrogen generator yang digunakan Adang sebenarnya dijual bebas di pasaran. Beberapa layanan yang berhubungan dengan ban bahkan kini ikut menggunakannya, seperti Planet Ban, Pro Ban, hingga AHASS.

Selain itu, andai benar Green Nitrogen memproduksi nitrogen palsu maka sudah pasti pihak Pertamina Retail segera memutus kontrak dengan mereknya dan melarang untuk beroperasi lagi. Karena jelas hal tersebut bisa merusak citra Pertamina. Namun, yang ada Pertamina masih terus melanjutkan kerja sama mereka.

Lucunya, Adang menemukan isu tersebut terus diangkat hingga dua tahun berselang. Di aakhir tahun 2016 dan tahun 2017, isu tersebut disebar melalui pesan Whats App. Isi dari pesan berantai tersebut pun sama persis, masih menggunakan pernyataan dari pemilik akun Facebook yang menuding layanan nitrogen berkompresor adalah palsu. Tak ada pernyataan tambahan maupun pendukung dari para ahli.

Tapi, ketika ditanya apakah ada kemungkinan isu tersebut disebar lagi oleh kompetitor, Adang beranggapan lain. Menurutnya, tersebarnya lagi isu nitrogen palsu dalam dua tahun bukanlah dari kompetitor, melainkan karena sifat dari media sosial.

“Buktinya apa? Kalo berniat nakal mereka pasti buat gempuran kedua-ketiga-keempat dan dengan berita yang berbeda-beda. Tapi ini Cuma satu dan dibuat berulang-ulang. Kayaknya bukan pesaing sih,” tuturnya.

“Hoaks gak selamanya datang dari kompetitor, tapi bisa juga karena karakteristik (pengguna) media sosial yang suka asal share-share begitu aja. Tapi pada saat (nanti) pasti ilang sendirilah,” sambung Adang.

Tantang lain yang ditemukan Adang selanjutnya adalah kemunculan berbagai gerai nitrogen sebagai kompetitor. Tapi, yang dipermasalahkan bukan kompetitor yang bermain ‘bersih’, melainkan kompetitor yang benar-benar menjiplak logo, merek, hingga standarisasi gerai.

“Memang ada saja yang kami temukan. Walaupun nama, logo dan kepemilikan Green Nitrogen sudah didaftarkan pada hak cipta (merek) tapi masih saja banyak yang meniru dan menjiplak seluruhnya,” sebut lelaki kelahiran Pemalang 28 Februari 1970 ini.

Menanggapi kehadiran para kompetitor yang nakal tersebut, Adang tak menempuh jalur hukum, melainkan hanya melakukan teguran kepada oknum pengusaha yang bersangkutan.

“Biar saja. Nanti juga masyarakat tahu karena memang kualitasnya akan terasa beda. Begitu juga pelayanannya pasti beda. Saya berpikir positif saja, kalau dijiplak malah membuat promosi gratis,” ujarnya terkekeh.

Dan tanpa disadari, tersebarnya gerai Green Nitrogen hingga sudah banyaknya pengguna setia nitrogen membuat banyak orang mulai melirik bisnis ini, tak terkecuali para pemilik atau pengelola swasta SPBU Pertamina. Mereka tak jarang memilih menaikkan harga sewa lahan selangit saat kontraknya bersama Green Nitrogen akan berakhir. Karena biaya sewa yang diminta kadang tak masuk akal, Adang pun memilih untuk tak memperpanjang kontrak sehingga mau tak mau gerai Green Nitrogen di SPBU tersebut harus tutup. Tapi, jangan heran bila setelah itu ada gerai nitrogen baru yang berdiri.

“Tantangan kami ini memang banyak SPBU yang melirik nikmatnya bisnis nitrogen. Tapi, kata kuncinya mereka tidak tahu betapa pentingnya layanan nitrogen. Sebagian besar ada yang berjalan tidak bagus. Beberapa bulan diambil alih mereka, langsung turun penjualannya. Kalo kami kan lengkap. Yang utama kami memahami bisnis ini dari hulu ke hilir,” tukas Adang.

Karena memang saat ini bisnisnya mulai terkendala perpanjangan sewa lahan di SPBU Pertamina milik swasta, Adang pun sudah mencari alternatif lokasi untuk membuka gerainya.

“Sekarang lagi dibangun sih. Tempat-tempat yang tingkat frekuensi kedatangan pengunjung atau masyarakat sering seperti dayang ke SPBU,” ujarnya yang enggan menjelaskan lebih jauh.

Namun, Adang mengaku saat ini tak terlalu cemas dengan kehadiran para kompetitor, baik yang bermain bersih maupun yang menjiplak mereknya. Karena ia menilai bahwa mereka tak mengedepankan pelayanan kepada konsumen.

“Dari sebagian besar pemain yang mau menjiplak, mengambil alih, atau juga pemain baru, tapi mereka menjalaninya tidak tuntas. Mereka tidak paham bagaimana membangun value pelayanan bagi customer,” ujarnya.

Pelayanan memang menjadi poin penting yang selalu diutamakan oleh Adang dalam mendongkrak bisnisnya. Mulai dari memastikan tingkat kemurnian nitrogen yang diberikan, memberikan garansi layanan, hingga memastikan konsumen dapat dengan mudah menemukan gerai Green Nitrogen adalah hal-hal yang diyakini Adang hanya dimiliki oleh mereknya saat ini.

“Itu dia para pemain baru yang coba-coba bermain di bisnis ini, atau menjiplak bisnis ini. Mereka tidak paham bagaimana menjalankan bisnis ini dari hulu ke hilir. Yang mereka pahami hanya layanan isi angin dan selesai. Dan tidak menjamin value yang signifikan bagi pelanggan,” terang Adang.

Inovasi dan Layanan Green Nitrogen yang Membuat Beda

“Apa pun bisnisnya, kunci utamanya di SDM.”

Itulah yang dikatakan Adang saat diminta menyebutkan apa kelebihan Green Nitrogen dibanding kompetitor. Memang kenyataannya sebuah merek akan besar bila pandai mengelola sumber daya manusia (SDM) yang dipunya. Terutama bila yang bergerak di bidang jasa seperti Green Nitrogen. Keramahan, keterampilan, dan kelihaian SDM dalam menghadapi pelanggan menjadi hal yang harus paling menonjol. Bila tidak, maka pelanggan tak akan segan-segan lari ke kompetitor.

Berikutnya adalah inovasi. Adang memang menjadi pribadi yang tak kenal lelah dalam berinovasi. Terutama dalam hal meningkatkan pelayanan kepada konsumen. Seperti disediakannya struk transaksi yang menjamin garansi layanan dan alat tukar berbagai promo, dan layanan tambal ban darurat yang bisa dipanggil ke lokasi.

Sejauh ini, menurut penelusuran Berempat.com, Green Nitrogen pun menjadi satu-satunya layanan isi angin nitrogen yang pernah menjalin kerja sama dengan banyak merchant, seperti Alfamart, Seven-Eleven, Blibli.com, Kopi Oey, dan banyak lagi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.