Budiyanto Darmastono, Sang Spesialis Bisnis Logistik

0
84
Direktur sekaligus pendiri PT Satria Antaran Prima (SAP Express) Budiyanto Darmastono.

Dia pernah menjadi bagian penting dari NCS, sebelum kemudian membesarkan SAP Express

Berempat.com – Budiyanto Darmastono, ialah sosok di balik lahir dan berkembangnya PT Satria Antaran Prima (SAP Express), perusahaan logistik berbasis Android pertama di Indonesia. SAP Express lahir dengan visi-misi besar seorang Budiyanto yang tak asing pada teknologi.

Melansir dari situs resminya sap-express.id, SAP Express yang baru berdiri pada 9 November 2014 ini mampu menebar 40 cabang dan 200 titik gerai di Indonesia hanya dalam tempo setahun. Berkat capaian tersebut, pada Mei 2015 silam perusahaan yang identik dengan warna oranye ini menjadi salah satu peraih Rekor Bisnis Indonesia (ReBI) yang ke-13 sebagai Perusahaan Kurir Pertama dengan Mobile System berbasis Android serta Pembukaan Kantor Tercepat dan Terbanyak Dalam 6 Bulan.

Selain ReBI, dua penghargaan lain juga berhasil direngkuh oleh SAP Express di tahun yang sama, yakni Franchise Startup Award dan Indonesian Inspire & Best Company Award. Setahun berselang, tepatnya 2016, SAP Express meraih Indonesia Franchise Marketing Award dan dua tahun setelahnya sebuah penghargaan kembali hadir, yakni The Most Promising Brand 2018.

Berbagai penghargaan itu tentu bukan target utama yang ingin direngkuh oleh Budiyanto. Dalam sebuah kesempatan, Budiyanto sempat mengungkapkan target yang ingin diraihnya bersama SAP Express. Salah duanya ialah memiliki 1.000 gerai dan dapat melantai di bursa saham.

“Target saya 5 tahun perusahaan ini sudah go public,” ucapnya kepada saya saat dalam proses wawancara untuk keperluan profilnya dalam buku Indonesia Successfull Young Entrepreneurs.

Dan kini, saat usia perusahaannya akan berusia 5 tahun, Budiyanto telah menyatakan siap melakukan penawaran perdana (IPO) di bursa saham menjelang akhir tahun 2018. SAP diketahui bakal melepas 60% sahamnya dengan harga awal di angka Rp 220 – Rp 260 per lembar saham. Sementara, dana yang akan diterima nantinya dari IPO ini akan digunakan untuk merealisasikan targetnya yang ingin menumbuhkan 1.000 gerai.

Namun, ternyata SAP Express merupakan perusahaan logistik kedua yang dilahirkan oleh Budiyanto. Pria kelahiran Karanganyar, Solo, 1967 silam ini ternyata pernah menjadi salah satu aktor dari berdirinya sebuah perusahaan logistik kenamaan pada 1994 silam. Perusahaan itu bernama PT Nusantara Card Semesta atau yang lebih dikenal sebagai NCS. 17 tahun lamanya Budiyanto turut membesarkan NCS lewat tangan dinginnya, sebelum kemudian sebuah gejolak internal mendorongnya untuk melepaskan seluruh aset dan pengaruhnya dari perusahaan tersebut.

“Akhirnya pertumbuhannya sangat cepat. Sampai tahun 2011, kemudian saya tinggalkan NCS,” kisahnya yang lantas sempat menjajal bisnis properti selama 2 tahun.

Anak Guru yang Bercita-cita Menjadi Pegawai Bank

Terlahir dari keluarga guru, di mana ayah dan ibunya adalah guru, pun dengan ketiga kakaknya yang mengikuti jejak menjadi guru, nyatanya tak membuat Budiyanto remaja punya cita-cita menjadi guru. Budi justru lebih tertarik menjadi pegawai bank saat dewasa kelak.

“Karena yang saya lihat di zaman dulu, kehidupan guru itu susah karena hidup pas-pasan. Dulu saya pun hidup susah, sekolah pun susah. Sehingga saya putuskan ketika SMA itu saya cita-cita ingin menjadi pegawai bank,” kenang pria yang juga membeli franchise Rumah Makan Sederhana ini.

Namun, kendati tak ingin mengikuti jejak orangtuanya tak berarti Budi hilang kepedulian pula pada mereka. Budi justru masih menjalani hidupnya dengan mengantongi petuah-petuah yang diberikan oleh orangtuanya. Di kepalanya, tersemat pesan orangtua bahwa dirinya harus selalu baik kepada orang lain dan tak boleh menipu.

“Beliau (ornagtua) berpesan, ‘Le walaupun kamu disakitin, jangan kamu sakit hati’. Itulah nasehat yang masih saya pegang sampai saat ini. Makanya saya tidak pernah sakit hati sama orang,” ungkap Budi.

Sementara, cita-cita menjadi pegawai bank tentu bukan muncul tanpa alasan. Budi begitu percaya bahwa dengan menjadi pegawai bank dapat mengubah garis nasibnya. Ia bisa berprasangka demikian sebab dulu rumahnya pernah disekat dua untuk sebagian disewa oleh Bank BRI sebagai kantor. Maka saban hari matanya tak asing memandang tampilan pegawai bank yang necis. Tak jarang pula ia mendapati pegawai bank yang masih muda sudah mampu membeli motor.

Saat menginjak bangku SMA, Budiyanto yang suka hitung-menghitung memilih jurusan IPS dengan konsen akuntansi. Pilihan itu pun tak lain demi menunjang cita-citanya sebagai pegawai bank. Namun, Budiyanto tak benar-benar bekerja di bank kelak.

Selepas menempuh pendidikan Akuntansi D3 di Universitas Gadjah Mada (UGM) di Yogyakarta, Budi memutuskan merantau ke Jakarta. Di Ibu Kota, ia pun bekerja di salah satu perusahaan kartu kredit dunia, Diners Club International sebagai account officer. Di tahun ’90-an, kala itu Budi baru mendapat upah Rp 2 juta per bulan.

Namun, sadar akan pendidikannya yang hanya D3, di sela-sela bekerja Budi memutuskan untuk melanjutkan pendidikannya. Ia pun memilih menempuh pendidikan S1 di Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Indonesia (STEI) Rawamangun, Jakarta.

“Saya memang mendalami akutansi karena suka hitung-hitungan,” aku Budi.

Segelintir Kisah Memulai NCS

Budi adalah anak ke-4 dari 6 bersaudara. Hanya dirinya dan kedua adiknya yang kini tak mengikuti rekam jejak ayah, ibu dan ketiga kakaknya berserta pasangan mereka, semua menjadi guru. Budi mengaku menyebarkan dogma kepada kedua adiknya untuk mengikuti jejak dirinya.

Namun, Budi tak serta-merta langsung dapat menemukan bisnis yang cocok untuk digelutinya. Selama masih bekerja sebagai karyawan, ia sempat mencoba berbagai bisnis sampingan, mulai dari berjualan kue, berjualan baju dengan menawarkan sistem cicil, hingga jual-beli mobil bekas.

Kala itu, Budi hanya berpikir bahwa apa yang dilakukannya di samping bekerja merupakan langkah awal dirinya dapat menemukan bisnisnya kelak. Sebab, yang ada di pikirannya kala itu hanya satu, “kalau saya terus-terusan jadi pegawai kapan lagi saya bisa membahagiakan keluarga saya?” Dari situlah ia pun berpikir jika memang tak ada jalan selain memulai usaha.

Sedikit demi sedikit, dari ragam bisnis sampingan yang dijalani Budi pun bisa menabung untuk modal. Waktu itu, tahun 1994, Budi yang berusia 27 tahun memutuskan menggunakan modal Rp 25 juta untuk mendirikan perusahaan kurir bersama istri dan rekan kerjanya. Perusahaan itulah yang saat ini dikenal dengan NCS.

“Karena saat itu di tahun 94/95 saya lihat bisnis kurir ini masih sangat sedikit pemainnya, tapi pangsa pasarnya besar sekali,” ungkap Budi.

Kala itu NCS memang mengambil pangsa pasar kurir dokumen perusahaan sebagai target utama. Namun, di enam bulan pertama Budi masih memijakkan setengah kakinya di NCS. Artinya, Budi masih berposisi sebagai karyawan dan belum benar-benar 100% menggarap NCS. Keputusan Budi untuk mundur sebagai seorang karyawan ketika ia tersadar bahwa NCS tak mengalami perkembangan di 6 bulan pertamanya.

“Akhirnya saya keluar dan pelan-pelan NCS pun naik kemudian setelah mendapatkan pekerjaan untuk mengirimkan dokumen, billing statement, paket. Modal saya itu dulu hanya Rp 25 juta. Karyawan saya hanya 5 orang. Dengan uang itu saya hanya bisa menyewa garasi kecil sekali di Slipi (Jakarta Barat),” kenangnya.

Budi mengklaim bahwa saat itu NCS sangat berbeda dengan perusahaan kurir lainnya. Di tahun 1995, kala perusahaan kurir lain masih manual, NCS justru tampil dengan teknologi meski terbilang sederhana, semacam penerapan resi pengiriman. “Yang penting semua pengiriman (datanya) diinput dan bisa laporan ke klien,” ujarnya.

Kendati pernah terkena dampak krisis moneter 1998, namun NCS mampu terus bangkit dan berkembang. Sebelum kemudian perbedaan mendorongnya untuk melepaskan NCS  pada 2011. Namun, pada 2014 Budi kembali ke bisnis kurir dengan mengerek benderanya sendiri, yakni SAP Express.

Strategi Ulung Budiyanto Mengembangkan SAP Express

Pernah menahkodai perusahaan kurir dari nol sampai berkembang selama 17 tahun tentu sudah membuat Budi tak hanya kenyang pengalaman, tapi juga berbagai strategi ulung. Berkat itulah ia pun mampu mendorong SAP Express melejit. Dalam tempo satu tahun berdiri, SAP Express telah memiliki 40 cabang dan 200 gerai, hingga terus bertambah menjadi 70 cabang di tahun 2018.

Setidaknya, hal pertama yang membuat SAP Express mampu berkembang pesat yaitu menerapkan apa yang pernah diusung Budi pada NCS, yakni penerapan teknologi. Sudah sejak awal Budi memang memiliki prinsip untuk memberikan sesuatu yang berbeda dalam setiap bisnis yang dijalaninya.

“Di perusahaan yang lain belum ada yang menggunakan teknologi Android. Dan ketika saya buka pada September 2014 kemarin, saya memang langsung meluncurkan sistem yang begitu launching menggunakan teknologi Android, di mana perusahaan lain belum menjalankan,” klaimnya.

Budi adalah seorang pebisnis yang punya latar belakang pendidikan akuntansi namun sangat mementingkan teknologi. Baginya, penerapan teknologi di era ini menjadi keharusan yang hakiki.

Hal kedua yang membuat SAP Express mampu berkembang pesat ialah strategi Budi dalam merekrut karyawan. Budi mengakui bahwa dirinya menganut konsep perbankan dalam merekrut karyawan untuk posisi strategis.

“Bank itu kalau membuat perusahaan yang besarnya cepat adalah dengan cara mengambil orang-orang yang pengalaman bekerja di Bank. Saya lihatnya ke sana,” ungkapnya sambil tersenyum.

Bagi Budi, menerapkan strategi perekrutan karyawan perbankan pada perusahaan yang bergerak di bidang jasa bukanlah hal yang keliru. Malah, ia menilai strategi semacam itu bisa diterapkan di banyak perusahaan. Sebab, menurutnya, strategi itu merupakan cara jitu lagi cepat untuk mengembangkan perusahaan yang baru berdiri.

“Kalau kita membuat perusahaan baru, lalu kita mengambil orang yang baru dan belum berpengalaman, maka itu akan sulit dan lama,” tukasnya.

Sederhananya, melalui strateginya ini otomatis berbagai ilmu dari perusahaan sejenis yang tertanam di benak karyawan-karyawannya dapat terkumpul menjadi satu. Kemudahanlah yang lantas didapatkan oleh Budiyanto sebagai Direktur Utama. Ia cukup memadupadankan berbagai ide dan ilmu untuk kemajuan SAP Express.

Namun, Budi mewanti-wanti satu hal yang mesti dipahami oleh pengusaha apabila ingin mengikuti jejaknya dalam bajak membajak karyawan. Yakni perusahaan yang menganut konsep seperti ini perlu mengeluarkan dana yang lebih besar.

“Jadi, ada dua konsep dalam hal bisnis. Apabila modal kita kecil harus pelan-pelan karena tidak bisa rekrut orang. Kedua, kalau ada modal harus berani rekrut orang. Tapi ada catatannya, kita berani rekrut orang yang berpengalaman dengan gaji besar, tapi dia harus memberikan effort yang jauh lebih besar kepada perusahaan,” terangnya.

Soal strategi bajak membajak karyawan ini, Budi menjamin bahwa hal serupa juga diterapkan oleh hampir seluruh perusahaan yang bisa tumbuh besar dalam tempo singkat di zaman ini.

Sudah aktif menulis sejak 2011. Menggemari fiksi. Beberapa karya cerpen sudah dibukukan dan dimuat di berbagai media online. Sudah menelurkan 4 buah buku bertema inspirasi bisnis.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here