Pebisnis Spa yang Tak Menutup Mata Pada Nasib Terapis Indonesia

0
873

“Terapis Indonesia itu sangat diakui di Eropa, di Australia. Mereka sangat happy kalau dapet terapis dari Indonesia.”

Berempat.com – Tepat di tanggal 8 Agustus lalu, Trisya Suherman mengunggah momen bahagianya di akun Instagram @trisya_suherman. Dikelilingi oleh rekan bisnis dan para staf Bambu Spa berseragam kaos Polo kuning, senyum Trisya tampak mengembang. Tepat di hadapannya, nasi tumpeng sebagai simbol syukuran dan kue tart cokelat dengan lilin berbentuk 1 dan 0 (10) ditaruh di meja.

Tanggal tersebut memang menjadi salah satu tanggal spesial dalam hidupnya. Sebab tepat 10 tahun lalu, di tanggal tersebut Trisya untuk pertama kalinya menjalankan bisnis spa. Menempati lantai dua di sebuah ruko di Mutiara Taman Palem Blok A5 No.3, Cengkareng, Jakarta Barat, Trisya untuk kali pertama mengenalkan metode relaksasi yang memanfaatkan bambu sebagai alat pemijatnya di Indonesia.

Kini Bambu Spa (PT Louise and Chlesea Indonesia) sudah tersebar di berbagai kota besar melalui konsep franchise. Total sudah ada 18 cabang Bambu Spa. Bahkan, yang terbaru Trisya sudah akan membuka master franchise Bambu Spa di Manila, Filipina.

“Kita udah ada agreement dengan franchisee di Manila. Sudah ada MoU-nya,” ujar perempuan yang akrab disapa Ica ini saat ditemui Berempat.com di Bambu Spa Tebet, Jakarta Timur, beberapa waktu lalu.

Berbisnis bagi Ica layaknya sebuah hobi. Ia mengaku lebih memilih mengalokasikan uang yang dipunya untuk berbisnis daripada berbelanja. Karena itu, di luar Bambu Spa ia juga senang mengembangkan bisnis lain.

“Saya tuh ada duit langsung alokasinya ke bisnis. Gak dibuat shopping. Gak tau ya, lebih berani ngeluarin puluhan juta, ratusan juta untuk nanem di bisnis dibanding saya harus gimana-gimana,” ujar perempuan yang sudah memiliki 3 putri ini.

Ica saat ini tengah mengembangkan perusahaan di bidang broker properti bersama orangtuanya. Perusahaan itu diberi nama Anugerah Kembang Sejahtera, atau ia lebih senang menyebutnya Aksea Property.

Untuk di awal tahun ini saja, Ica membocorkan adanya proyek yang sedang dibangunnya bersama beberapa pengusaha. Ica dan beberapa pengusaha lainnya ingin membangun sebuah platform marketplace ilojam.com yang merupakan kependekan dari I Love Jakarta Mal (dot) com.

“Itu semua tentang Jakarta, entah oleh-oleh, souvenir, informasi tentang Jakarta, itu masuk di situ semua,” kisahnya bersemangat.

Selain berbisnis, perempuan kelahiran 28 April 1980 ini juga senang menjalin relasi. Kesenangannya itu yang kemudian membawa langkahnya untuk membangun sebuah komunitas yang kini bernama Yayasan CEO Indonesia. Ica pun dipilih sebagai Ketua Umum dari asosiasi yang kerap mengisi acara CEO Forum di Metro TV itu.

“(CEO Indonesia) Sudah ada 500 member dan kita juga buka chapter di Singapore. Setiap hari Jumat di sana kalo komunitas kita mau kumpul ada tempatnya. Di sana ada ketuanya juga,” tutur Ica.

Keluwesan Ica dalam menjaring koneksi pun turut membawanya tergabung dalam sebuah lembaga di pemerintahan. Tahun ini Ica tengah menjalani peran sebagai Ketua Promosi Kelembagaan di Lembaga Sertifikasi Kompetensi (LSK) Spa Nasional. LSK tersebut berada langsung di bawah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) RI.

Konsentrasi lembaga tersebut adalah memberikan pendidikan bagi terapis spa di Indonesia. Nantinya, terapis-terapis tersebut akan mendapat sertifikasi setelah mendapatkan berbagai pendidikan dan pelatihan hingga tingkat nasional.

Ica sangat konsen dalam upaya memberikan sertifikasi kepada terapis spa di Indonesia. Pasalnya, ia mengaku sempat kesulitan mendapatkan terapis yang berkompeten untuk Bambu Spa. Apalagi, menurutnya, mendidik terapis pun tak bisa instan layaknya mendidik pramusaji.

“Ini benar-benar langsung ke manusianya. Sudah itu kalo (pelayanan) jelek, brand kita yang jelek. Makanya itu saya sangat bersyukur bergabung di LSK Spa ini. Jadinya terapis kita semua tersertifikasi, saya juga tahu yang dimau pemerintah itu seperti apa standarisasinya,” ungkap lulusan S1 Ekonomi Manajemen di Universitas Bina Nusantara (Binus) ini.

 

Sangat Konsen Mendidik Terapis Spa

Bagi Ica, sebagai seorang pebisnis ia harus benar-benar berkecimpung dan memahami tentang dunia bisnis yang digelutinya. Dalam hal ini, Ica menganggap dirinya harus paham betul soal spa, baik dari segi perencanaan bisnis, target pasar, hingga yang bersentuhan langsung dengan konsumen seperti pelayanan dan dampak spa terhadap kesehatan. Ica bahkan mengaku bisa melakukan terapi sebagaimana seorang terapis di spa bekerja.

Pengetahuan-pengetahuan tentang spa didapatkan Ica setelah ia mengambil pendidikan CIDESCO School pada 2016 lalu. CIDESCO merupakan asosiasi terapi kecantikan internasional ternama di dunia. Organisasi tersebut berdiri pada 1946 dan berpusat di Zurich, Swiss. Kini CIDESCO tersebar di berbagai dunia, termasuk Indonesia.

Minatnya untuk mengikuti pendidikan di CIDESCO lantaran pendidikan organisasi tersebut di bidang terapis dan kecantikan sangat diakui. Bahkan lulusannya dianggap menjadi paling ahli di bidang tersebut. Ica pun mengaku bahwa ia belajar di CIDESCO sembari merintis Bambu Spa.

“Jadi saya sambil bangun bisnis, sambil belajar juga. Tiap senin-jumat dari jam 8 (pagi) sampai jam 4 (sore). Jadi benar-benar, saya (belajar) massage orang. Kita harus bisa prosesnya. Terus teorinya pun saya sudah kayak belajar anak IPA,” kisah Ica yang kemudian mengaku senang karena dapat lulus dan meraih gelar CIDESCO.

Selepas mendapatkan pendidikan tersebut, Ica mengaku lebih paham bagaimana membentuk dan mendidik terapis di Bampu Spa. Karena itu, ia mengaku lebih senang mencari terapis yang belum berpengalaman untuk kemudian dididiknya sendiri ketimbang mencari terapis yang sudah berpengalaman.

“Kita lebih suka yang dididik dari nol. Pertama, dia lebih tahu apa yang kita mau, terus gak ngebanding-bandingin (dengan tempat spa lain),” ungkap perempuan yang memulai kariernya sebagai Customer Service di Lippo Bank (sekarang CIMB Niaga) 2002 silam.

Ica pun tak main-main dalam memberi pendidikan atau pelatihan kepada terapisnya. Ia bahkan membuat level terapis layaknya pendidikan formal pada umumnya. Ica membagi menjadi 4 level, yakni level 1 yang setara SMP, level 2 yang setara SMA, level 3 yang setara Diploma, dan Level 4 yang setara S1. Setiap terapis akan mendapatkan sertifikasi saat berhasil lulus dari setiap level.

Bagi Ica, memberikan pendidikan dan pelatihan serta sertifikat kepada terapisnya bukan hanya akan membuat Bambu Spa lebih dipercaya oleh pelanggan, tetapi itu semua bisa menjadi bekal bagi para terapis itu sendiri. Sebab Ica berpikir, dengan berbekal semua itu para terapis bisa tetap berdaya di masa pensiun atau ketika mereka memutuskan tak mau lagi bekerja.

“Nanti setelah mereka pensiun atau gak mau kerja lagi, mereka bisa ngajarin anak muda. Jadi mereka lebih ada value-nya bagi generasi baru, bisa untuk ngajarin. Dibanding kerja di pabrik atau jaga toko (selepas pensiun),” tuturnya.

Ica memang terlihat sangat peduli pada nasib terapis spa, baik yang bekerja di Bambu Spa maupun secara nasional. Pasalnya, Ica tahu betul bahwa sebenarnya kualitas terapis di Indonesia sangat mumpuni sehingga semestinya bisa memiliki nasib yang lebih baik, dan peluang yang lebih besar. Ica bahkan berani mengklaim bahwa kualitas terapis Indonesia lebih diakui oleh negara-negara di Eropa dan Australia.

“Terapis Indonesia itu sangat diakui di negara Eropa, di Australia. Mereka sangat happy kalo dapet terapis dari Indonesia. Saya sudah sering ke Maldiev, Eropa, dan mereka senang banget dapat terapis dari Indonesia. (di) Afrika pun terapis Indonesia sangat banyak,” ujar Ica.

Karena itu, Ica menganggap bahwa peluang Indonesia untuk bisa memberdayakan terapis ke luar negeri sangat besar. Ia bahkan menganggap Indonesia jauh lebih baik mengekspor Tenaga Kerja Wanita (TKW) untuk diberdayakan sebagai terapis ketimbang mengekspor asisten rumah tangga.

“Kasihlah ke saya, nanti saya didik anak-anaknya. Mereka bisa langsung dapat kerja kok, entah di Bambu Spa atau sesuai permintaan dari luar negeri. Mereka habis sertifikasi masa depannya enak. Mereka bisa kerja di hotel-hotel, diakuin, gaji besar. Hotel bintang 5 kalo gak ada spa gak jadi bintang 5 lho,” ungkap Ica yang hari itu tampil dengan dress kuning bermotif batik.

Memperkenalkan The Art of Bamboo Body Spa Pertama di Indonesia

Nama Ica mulai besar dan kerap muncul di media massa seiring semakin luasnya nama Bambu Spa dikenal oleh masyarakat Indonesia. Bambu Spa pertama kali dibuka pada 8 Agustus 2008 silam. Saat itu, Ica membuka spa lantai 2 di sebuah ruko di Taman Palem, Cengkareng, Jakarta Barat. Di ruko tersebut Ica menempati lantai 3, sedangkan di lantai 1 dipakai untuk toko.

Untuk bisa menyewa ruko di Taman Palem itu, Ica mengaku harus menyewakan rumahnya sendiri. Bahkan, untuk bisa mendekorasi lantai duanya agar layak menjadi spa Ica harus mengajukan Kredit Tanpa Agunan (KTA) ke Bank sebesar Rp 30 juta.

Lucunya, kala pertama kali membuka spa Ica langsung menggunakan nama Bambu Spa sebagai merek karena terinspirasi oleh gambar bambu di lantai kamar mandi rumahnya. Jadi, kala itu pelayanan spa yang Ica tawarkan masih konvensional. Tak ada metode spa dengan bambu.

Metode spa dengan bambu baru didapati Ica saat ia sedang berlibur ke Thailand. Di negara Gajah Putih itu, Ica menemukan tempat spa yang menggunakan bambu. Kala itu ia baru tahu kalau spa dengan menggunakan bambu sudah diakui khasiatnya di dunia internasional.

Spa dengan bambu diketahui Ica berasal dari China sebagai negara Tirai Bambu. Tapi, spa menggunakan bambu justru lebih popular di Jepang. Dan tanpa sengaja Ica menemukannya di Thailand, sebelum kemudian terbersit di benaknya untuk membawa konsep yang serupa ke Indonesia.

Ica menjelaskan bahwa bambu lebih bagus digunakan untuk massage karena lebih stabil dibanding dengan tangan. “Presurnya bagus. Cocok untuk yang berlemak karena bisa meluruhkan lemak,” terang perempuan yang sedang mengambil pendidikan S2 Magister Manajemen di Universitas Esa Unggul ini.

Menurut Ica, bambu yang digunakan pun tak bisa sembarangan. Paling tidak bambu yang digunakan harus memiliki ukuran ruas 40 cm. Alasannya agar bambu tak membuat sakit badan customer. Selain itu bambunya pun harus diolah lebih dulu agar tak ada serbuk maupun bagian lain yang bisa melukai badan saat digunakan.

“Kita namakan The Art of Bamboo Body Spa. Dari situ banyak media yang ngeliput Bambu Spa, media televisi terutama untuk healty and lifestyle,” kisahnya.

Mulanya, Ica mengaku belum terpikir membuka kemitraan atau franchise. Namun, karena dari mulut ke mulut Bambu Spa mulai diminati karena dilihat dari segi peluang bisnisnya, Ica pun mulai belajar soal bisnis franchise.

“Saya belajar sama Pak Anang Sukandar (Ketua Asosiasi Franchise Indonesia saat itu), Pak Tri Raharjo (Konsultan bisnis), Pak Utomo Nyoto (konsultan bisnis). Saat itu aku merasa mereka itu mentor aku. Saya banyak belajar sama mereka, konsultasi, belajar,” kenang Ica.

Selepas mempelajari banyak hal soal seluk beluk bisnis franchise dan menerapkannya pada Bambu Spa, di tahun 2012 Bambu Spa baru resmi membuka peluang bisnis lewat konsep franchise. Saat itu, Ica mengaku baru dinyatakan bisa membuka franchise setelah mendapat restu dari ketiga mentornya.

Sejak itu, Bambu Spa pun mulai melebarkan sayapnya. Meski tak jarang ada cabang yang berguguran karena berbagai faktor. Ica menyebut salah satunya adalah harga sewa tempat yang suka dinaikkan sehingga terlampau mencekik. Bahkan, di awal-awal berdiri Bambu Spa sempat sering dikunjungi oleh Satpol PP karena dikira spa plus-plus. Kendala-kendala seperti itu diakui Ica kerap menerpa bisnisnya di awal berdiri.

Bahkan kendala internal seperti membangun manajemen yang solid, SOP (Standar Operational Procedure), dan sistem yang baik juga kerap ditemukannya. Namun, Ica pantang menyerah. Ia sudah menganggap Bambu Spa sebagai separuh jiwanya yang tak boleh ditinggalkannya begitu saja.

Bagi Ica, bisnis apa pun sudah pasti akan menemui kendala. Tinggal kembali lagi kepada yang menjalaninya.

“Kembali lagi siapa yang ngejalanin, siapa nahkodanya. CEO itu, kan, nahkodanya. Perusahaan yang berhasil itu dari nahkodanya, mau dibawa ke mana kapal ini. Kalo dia mau berhenti, ya kapalnya berhenti. Kalo maju terus, ya maju, apa saja sampai badai dilewatin,” tegas Ica.

Kini, berkat kegigihannya, Bambu Spa sudah memiliki 18 cabang yang tersebar di Jakarta hingga Bali. Bahkan, dalam waktu dekat Bambu Spa akan membuka cabangnya di Manila, Filipina.

Sudah aktif menulis sejak 2011. Menggemari fiksi. Beberapa karya cerpen sudah dibukukan dan dimuat di berbagai media online. Sudah menelurkan 4 buah buku bertema inspirasi bisnis.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here