Sepatu Loafer Desain Klasik Modern Diminati Pasar Malaysia dan Singapura

0
871

Berniat membantu perekonomian keluarga, membuat Muhammad Iqbal terus mencari peluang usaha. “Waktu saya masih kuliah, keluarga saya dalam masa pailit, usaha yang dikembangkan orangtua mendapatkan cobaan dan sempat gulung tikar,” ceritanya. Tidak ingin merepotkan kedua orangtua, kondisi tersebut menjadi motivasi kuat dalam dirinya untuk mencari peluang bisnis yang menguntungkan.

Dari sanalah Iqbal mencari ide usaha. Setelah melakukan survei ke berbagai tempat usaha dan internet, akhirnya ia pun memantapkan diri membangun usaha produksi sepatu. Setelah mencari pengrajin sepatu yang mampu sesuai, ia pun mulai menjalankan usahanya. Saat itu, Iqbal mencoba menjual sepatu kulit beberapa pasang saja. Setelah mendapat respon yang baik dari konsumen, ia mulai fokus terjun ke bisnis tersebut dengan modal awal sekitar Rp 10 juta. Lulus kuliah, Iqbal dibantu seorang teman, Novita Wardani, semakin fokus menggeluti usaha pembuatan sepatu.

Demi kepuasan pelanggan, Iqbal dan Novita terus menginovasi produk-produk terbaru. Biasanya up date model terbaru didapatkan dari dunia maya ataupun majalah fesyen mengenai perkembangan fesyen, khususnya sepatu. Saat ini yang sedang ngetren sepatu loafer yang lebih menampilkan sisi modern tanpa meninggalkan nuansa klasik yang dulu sempat booming. Iqbal dan Novita pun memproduksi sepatu loafer yang unik dan menarik perhatian pembeli.

Full Bahan Kulit. Agar terkesan elegan dan eksklusif, Iqbal dan Novita membuat sepatu loafer dengan bahan full kulit asli, yakni kulit sapi dan kulit domba. “Apalagi produk sepatu kita, semuanya identik dengan bahan kulit. Jadi untuk sepatu loafer-nya pun berbahan kulit,” jelas Iqbal. Tetapi, meskipun bahan baku yang digunakan full kulit asli, harga jualnya masih sangat terjangkau, yakni bekisar Rp 300 ribu hingga Rp 550 ribu per pasang, tergantung kerumitan pembuatan.

Dari segi desain, sepatu loafer buatan Iqbal dan Novita dengan brand Id Leather, lebih mengusung konsep modern klasik, yang terkesan eksklusif namun tetap stylish. Selain itu, sepatu loafer diberi ciri khas yang unik, yakni aksen tali temali pada sepatu loafer, mulai dari tali biasa, tali ikat kupu-kupu, hingga tali rumbai, padahal sepatu loafer biasanya tanpa tali. Konsumen pun bisa memilih produk sepatu ready stock atau request model, bahan baku yang digunakan, warna, dan size sesuai keinginan. Dari banyak desain yang diberikan oleh Id Leather, sepatu Loafer bentuk lonjong memanjang, serta aksen tali yang dirangkai, menjadi best seller.

Selain menonjol pada bagian upper-up (bagian atas sepatu), sepatu buatan Iqbal dan Novita ini memiliki kenyamanan yang pas saat dipakai. Hal itupun sudah banyak dibuktikan oleh para konsumennya. Tidak hanya itu, sol sepatu yang digunakan anti selip, sehingga cukup safety saat dipakai. “Apalagi untuk kerapian jahitan dan pengeleman sudah ditangani dengan baik. Jadi sepatu buatan saya, salah satunya loafer sudah terbukti kuat dan enak dipakai,” jelas Iqbal. Dengan berbagai keunggulan tersebut, sepatu loafers Id Leather bisa laku terjual sebanyak 60 pasang setiap bulan.

Bahan Baku Berkualitas. Dari awal menggeluti usaha pembuatan sepatu, Iqbal dan Novita memang sudah memfokuskan diri untuk memberikan produk sepatu dengan kualitas terbaik. Maka dari itu, mereka pun tidak main-main dalam pemilihan bahan baku dan SDM yang mengerjakan proses produksi. “Sebelum memulai usaha ini, kita sudah survei pengrajin sepatu yang mampu memberikan hasil sesuai standar kita. Jadi hasilnya sudah pasti nggak mengecewakan,” terang Iqbal.

Bahan baku yang digunakan adalah kulit asli, yakni kulit sapi dan kulit domba seharga Rp 550 ribu per lembar ukuran 10 meter, sol luar Rp 180 ribu per kodi, spon ati Rp 80 ribu per gulung, kertas karton Rp 5 ribu per lembar, bahan texon Rp 20 ribu per meter, bahan vinyl Rp 35 ribu per meter, kertas manila Rp 150 ribu per pak, lem sintetis dan Rp 70 ribu per kaleng isi ½ kg.

Jasa Makloon. Dari awal memulai usaha hingga saat ini, Iqbal dan Novita tetap menyerahkan keseuruhan produksi kepada jasa makloon pengrajin sepatu, yang berada di kawasan Puri Cipageran, Cimahi, Jawa Barat. “Dari mulai usaha saya memang selalu menggnakan jasa makloon, karena saya sudah cocok dengan mereka. Dan untuk mencari SDM berpengalaman sendiri, masih terasa sulit,” jelas Iqbal. Ditambahkannya, dengan menggunakan jasa makloon ia tidak harus merasa ribet dengan proses produksi dan pencarian bahan baku.

Namun, meskipun mempercayakan seluruh proses pembuatan dan penyediaan bahan baku kepada pihak makloon, Iqbal tidak hanya tinggal diam menerima hasil. Untuk memperoleh produk yang eksklusif dan berkualitas, masalah desain dan pemilihan jenis bahan baku, khususnya bahan kulit, masih terus ia tentukan dan urus sendiri. Tidak hanya itu, Iqbal dan Novita sering juga memantau proses produksi.

Hal itu membuat mereka sedikit banyak mengetahui tahapan demi tahapan pembuatan sepatu loafer. Mula-mula Iqbal dan Novita membuat desain sepatu loafer, mulai dari bentuk, aksen, bahan baku yang digunakan, warna, serta ukuran sepatu. Bila desain sudah jadi, maka langsung diserahkan kepada pengrajin dan memilih bahan baku yang sudah tertera dalam desain yang mereka buat.

Barulah proses pengerjaan oleh para pengrajin sepatu yang diawali pembuatan alas sepatu, yakni dengan membuat pola sepatu berukuran 36-40 hingga 41 di atas bahan uniflex berbentuk lembaran serta lembaran busa tipis dengan ketebalan 1 mm. “Bahan uniflex tersebut berfungsi sebagai alas kaki, sedangkan busanya terletak di atasnya dengan lapisan kain pada busa,” jelas Iqbal. Fungsi dari busa tersebut untuk membuat sepatu empuk dan nyaman dipakai.

Selanjutnya pembuatan pola upper shoes atau bagian atas sepatu yang terbuat dari kulit sesuai desain. Untuk modifikasi warna, biasanya memadukan 1-3 warna dalam satu sepatu. Setelah pemotongan kulit sesuai pola, maka dilanjutkan dengan proses perangkaian sepatu yang dilakukan dengan menjahit sepatu sesuai pola dan desain.

Kemudian berlanjut pada proses pemasangan alas sepatu dengan upper shoes pada shoes last (kaki tiruan). “Untuk pemasangan pada kaki tiruan, dimaksudkan agar produk sepatu memiliki ukuran yang pas saat dipakai,” jelas Iqbal. Agar proses perangkaian memiliki kualitas yang baik, maka digunakanlah lem putih dan lem kuning merek Super, serta di bagian ujungnya dipaku dengan paku kecil agar kekuatannya lebih maksimal. Barulah dilanjutkan dengan pemasangan sol sepatu, yang sebelumnya sudah dipotong sesuai ukuran.

Setelah semua proses produksi selesai, maka dilanjutkan dengan proses finishing, yakni memeriksa kualitas dan kerapian jahitan, serta kekuatan dari sepatu. Selain itu juga ada proses penyemiran sepatu, agar warnanya lebih mengkilat dan terlihat menarik. Satu pasang sepatu loafer, biasanya membutuhkan waktu 2-3 hari proses pengerjaan. Biaya makloon bisa mencapai Rp 270 ribu per pasang, tergantung tingkat kerumitan dan penggunaan bahan baku.

Pemasaran. Sadar akan kekuatan media massa, khususnya media online yang mampu mempromosikan sebuah produk hingga ke seluruh penjuru daerah, membuat Iqbal dan Novita pun gencar melakukan penjualan via dunia maya. Mulai dari jejaring sosial seperti Facebook, Twitter, blackberry messenger, dan LINE hingga pemasaran di toko online seperti Kaskus. “Agar konsumen tidak cepat bosan, saya rajin meng-update produk-produk terbaru. Sehingga mereka pun bisa melihat dan langsung memesan,” jelas Iqbal.

Dengan teknik pemasaran tersebut, tidak heran sepatu loafer ID Leather laris manis dipesan konsumen, meskipun sepatu jenis ini terbilang baru di pasaran. Dan dalam satu bulan, mereka mereka mampu meraup omset hingga Rp 18 juta untuk sepatu loafer saja, dengan keuntungan mencapai 20% dari omset. Para pelanggan pun bukan hanya dari berbagai daerah di Indonesia, tetapi sudah merambah negara tetangga, seperti Malaysia dan Singapura.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.