Harga minyak dunia kembali menguat setelah Amerika Serikat (AS) membuka kemungkinan blokade laut terhadap pelabuhan Iran berlangsung tanpa batas waktu. Situasi tersebut membuat pasar kembali mencermati potensi gangguan pasokan energi sekaligus dampak dari kebijakan Isolasi Ekonomi Iran yang mulai digaungkan Washington.
Mengutip CNBC, Sabtu (15/8/2026), harga minyak Brent sebagai acuan global naik 1,7 persen menjadi US$88,52 per barel. Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat menguat 1,4 persen ke level US$82,40 per barel.
Kenaikan itu terjadi setelah kedua harga acuan sempat terkoreksi sekitar 2 persen pada perdagangan Kamis. Meski demikian, secara mingguan Brent dan WTI masih mencatat penguatan lebih dari 5 persen.
Perhatian pelaku pasar kembali tertuju pada pernyataan Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengenai sejumlah langkah untuk menciptakan Isolasi Ekonomi Iran. Dalam wawancara dengan Newsmax, Bessent menyebut langkah yang tengah disiapkan pemerintah AS memiliki skala yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Pernyataan tersebut muncul tidak lama setelah Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menyatakan pasukan Amerika dapat mempertahankan blokade terhadap pelabuhan Iran dalam waktu yang tidak ditentukan.
Ketegangan Hormuz Kembali Mengerek Risiko Pasokan
Situasi semakin memanas setelah Uni Emirat Arab (UEA) menyatakan Iran menyerang dua kapal milik Abu Dhabi National Oil Company (ADNOC) yang sedang melintasi Selat Hormuz pada Kamis malam.
Kabar tersebut kembali menempatkan Selat Hormuz sebagai pusat perhatian pasar energi. Jalur perairan yang menghubungkan kawasan Teluk dengan pasar global itu merupakan salah satu rute utama pengiriman minyak dunia. Gangguan terhadap lalu lintas kapal berpotensi menimbulkan tekanan baru terhadap pasokan dan harga energi.
Sehari sebelumnya, kekhawatiran pasar sempat mereda setelah Menteri Energi AS Chris Wright mengatakan volume ekspor minyak yang melewati Selat Hormuz masih lebih tinggi dibandingkan sejumlah perkiraan independen. Pernyataan itu membuat harga minyak terkoreksi.
Namun, perkembangan geopolitik terbaru kembali membalik sentimen tersebut. Pelaku pasar kini memperhitungkan kemungkinan kebijakan Isolasi Ekonomi Iran berlangsung lebih lama dan berdampak terhadap aktivitas perdagangan energi.
Di sisi lain, Badan Energi Internasional (IEA) memperkirakan pertumbuhan permintaan minyak global tahun ini akan lebih rendah dari proyeksi sebelumnya. Tekanan terhadap aktivitas ekonomi serta gangguan arus energi di sekitar Selat Hormuz menjadi sejumlah faktor yang diperhatikan dalam prospek tersebut.
