Top Mortar tkdn
Home Ekonomi Pasar Bambu Dunia Tembus US$118 Miliar, Industri Berbasis Bambu Indonesia Punya Peluang...

Pasar Bambu Dunia Tembus US$118 Miliar, Industri Berbasis Bambu Indonesia Punya Peluang Besar

0
Pasar Bambu Dunia Tembus US$118 Miliar, Industri Berbasis Bambu Indonesia Punya Peluang Besar (Dok Foto: Kemenperin)

Pengembangan industri berbasis bambu terus didorong Kementerian Perindustrian (Kemenperin) untuk memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global. Penguatan dilakukan dari sisi hulu, terutama dalam memastikan bahan baku bambu tersedia dengan kualitas, jumlah, dan kontinuitas yang sesuai kebutuhan industri.

Langkah tersebut salah satunya diwujudkan melalui Akademi Komunitas Bambu (AKB) Tahun Anggaran 2026 yang digelar di Balai Diklat Industri (BDI) Denpasar, Bali. Program ini diarahkan untuk meningkatkan kemampuan sumber daya manusia sekaligus memperbaiki tata kelola penyediaan bahan baku.

Peluang pengembangan industri berbasis bambu dinilai semakin terbuka seiring meningkatnya permintaan terhadap material berkelanjutan. Pasar produk bambu dunia diperkirakan tumbuh dari US$74 miliar pada 2024 menjadi US$118,3 miliar pada 2034. Pertumbuhan tersebut diproyeksikan mencapai 4,8 persen per tahun sepanjang 2025–2034.

Pasar Global Bambu Terus Berkembang

Plt. Direktur Jenderal Industri Agro Kemenperin Putu Juli Ardika mengatakan Indonesia memiliki modal penting berupa sumber daya bambu yang melimpah dan beragam. Potensi tersebut perlu diikuti penguatan industri serta rantai pasok yang terintegrasi dari hulu hingga hilir.

Asia-Pasifik menjadi kawasan dengan pasar bambu terbesar, mencapai US$41,5 miliar atau sekitar 56,2 persen dari pasar global. Produk bambu digunakan untuk berbagai kebutuhan, antara lain furnitur, scaffolding, engineered bamboo, pulp dan kertas, arang aktif, kerajinan, hingga tekstil.

Namun, ekspor bambu dunia masih didominasi China dengan pangsa 74,8 persen. Vietnam berada di posisi berikutnya dengan 3,2 persen, sedangkan Indonesia masuk 12 besar dengan pangsa sekitar 0,9 persen. Data tersebut menunjukkan ruang pertumbuhan industri berbasis bambu nasional masih sangat luas.

Bambu Berpotensi Dukung Sektor Konstruksi

Peluang lain datang dari program pembangunan tiga juta rumah per tahun. Kemenperin melihat teknologi Cement-Bamboo Frame Technology (CBFT) berpotensi digunakan untuk pembangunan hunian tipe 36, termasuk dalam skema rumah sederhana dan FLPP.

Teknologi tersebut memiliki bobot ringan dan dapat dirakit tanpa alat berat. Pemanfaatannya juga berpotensi meningkatkan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) dalam pembangunan modular.

Menurut Putu, pengembangan industri berbasis bambu membutuhkan dukungan bahan baku yang konsisten dan terstandardisasi. Salah satu kendala yang masih ditemui adalah terbatasnya kelembagaan penyedia bambu berkualitas.

Melalui AKB 2026, Kemenperin menyiapkan SDM yang mampu mengelola pusat logistik bambu. Program Training of Trainers (ToT) juga diarahkan kepada pemasok dan penggiat bambu di sektor hulu.

Peserta direkomendasikan oleh offtaker sehingga diharapkan mampu memperbaiki tata kelola pusat logistik sekaligus menjaga mutu bahan baku. Dengan langkah tersebut, industri berbasis bambu diharapkan memiliki fondasi hulu yang lebih kuat dan mampu menangkap peluang pasar global secara lebih optimal.

Exit mobile version