Top Mortar Gak Takut Hujan
Home Bisnis Butet Kartaredjasa Kritik Tajam Jokowi Lewat Pantun Revolusi Mental Gagal

Butet Kartaredjasa Kritik Tajam Jokowi Lewat Pantun Revolusi Mental Gagal

0
Butet Kartaredjasa/Net

Butet Kartaredjasa Kritik Tajam Jokowi Lewat Pantun Revolusi Mental Gagal, Butet Kartaredjasa, seorang seniman monolog, secara tajam mengkritik Presiden Joko Widodo melalui pantun dalam acara kampanye akbar pasangan Calon Presiden dan Calon Wakil Presiden nomor urut 3, Ganjar Pranowo-Mahfud MD, di Yogyakarta. Dalam video yang diunggah di kanal YouTube Sakarepisme Official dengan judul “Sindiran Pedas Butet Kartaredjasa untuk Jokowi Lewat Pantun di Kampanye Ganjar,” Butet menyampaikan kritikan tajamnya terhadap Jokowi.Dalam pantun yang berjudul “Pantun Hajatan Rakyat,” Butet menyampaikan ungkapan kekecewaannya terhadap Jokowi. Ia menggunakan perumpamaan kucing yang mencuri ikan empal untuk menyindir kekecewaannya terhadap kinerja Jokowi. Meskipun marah, Butet tidak mengambil tindakan yang kasar. Selain itu, ia juga menyinggung tentang gagalnya revolusi mental yang diinginkan oleh Jokowi.

Kritik Pedas Butet Kartaredjasa Terhadap Presiden Joko Widodo Dalam Bentuk Pantun

Butet juga mengkritik adanya pihak-pihak yang menggunakan trik untuk memanipulasi hasil survei agar dapat memenangkan Jokowi. Ia menyebutkan bahwa jika ada kemenangan yang dicapai melalui kecurangan, maka itu tidaklah jujur. Dalam pantun berikutnya, Butet menyampaikan rasa cintanya terhadap orang tua dengan ungkapan “satu-satu aku sayang ibu, dua-dua aku sayang ayah.” Namun, ia menyatakan bahwa jutaan pendukung Jokowi merasa ditipu dan merasa bahwa Jokowi telah berpura-pura dan menggunakan trik licik untuk mengelabui Mahkamah Agung. Tak hanya itu, Butet juga menyampaikan perbedaan pandangan tentang “tuan” antara Ganjar-Mahfud dengan calon presiden dan calon wakil presiden yang didukung oleh Jokowi. Ia menyindir bahwa bagi Ganjar-Mahfud, “tuan” mereka adalah rakyat, sementara bagi calon yang didukung oleh Jokowi, “tuan” mereka adalah konglomerat. Dalam pandangan Butet, seorang pemimpin negara seharusnya mendapatkan penghormatan dari semua pihak. Namun, Butet tidak merasa perlu menghormati pemimpin negara tersebut karena ia merasa bahwa pemimpin tersebut tidak memihak kepada rakyat.

Terakhir, Butet menyampaikan kritiknya terhadap pengelolaan negara. Ia menyebutkan bahwa keselamatan negara dijaga oleh Megawati, sedangkan Jokowi lebih memfokuskan pada pembagian sembako. Butet mengingatkan bahwa sembako tersebut sebenarnya adalah milik kita semua, yang seharusnya didanai oleh pajak rakyat dan bukan menjadi alat politik.Melalui pantun-pantunnya, Butet Kartaredjasa dengan tajam mengkritik Presiden Joko Widodo dan memberikan pandangannya tentang berbagai isu yang ia anggap penting. Kritiknya yang pedas ini merefleksikan ketidakpuasannya terhadap kinerja pemerintahan dan kebijakan yang diambil oleh Jokowi. Pantun-pantun ini juga menjadi bentuk ekspresi seni yang dapat menyampaikan pesan dengan cara yang kreatif dan menggugah.

Exit mobile version