Minggu, Mei 10, 2026
Top Mortar Gak Takut Hujan
Beranda blog Halaman 91

Karyawan Tapi Punya Bisnis Sampingan? Begini Cara Ngatur Waktunya

Karyawan tapi punya bisnis sampingan, bukan hal yang aneh lagi zaman sekarang. Banyak orang tetap bekerja di kantor dari pagi sampai sore, tapi juga merintis UMKM kecil-kecilan di waktu luang. Entah itu jualan makanan, buka online shop, sampai jadi reseller. Tapi tantangannya jelas: gimana caranya bagi waktu biar semuanya jalan tanpa bikin kepala mumet?

Nah, buat kamu yang karyawan tapi punya bisnis sampingan, Berempat.com akan memberi beberapa cara jitu buat ngatur waktu tanpa harus mengorbankan kerjaan utama atau usahamu.

1. Tentukan Skala Prioritas

Kamu harus jujur pada diri sendiri: mana yang lebih penting sekarang, pekerjaan utama atau bisnis? Kalau saat ini gaji dari kantor masih jadi tumpuan utama, ya berarti kerjaan kantor nggak boleh terbengkalai. Bisnis bisa kamu jadikan cadangan atau pelan-pelan dibesarkan tanpa bikin performa kerja turun.

2. Manfaatkan Waktu Luang

Gunakan waktu di luar jam kerja secara maksimal. Bangun lebih pagi untuk urusan operasional bisnis, atau manfaatkan malam hari dan akhir pekan buat mengelola pesanan, update konten, atau meeting dengan partner. Disiplin waktu adalah kunci utama.

3. Gunakan Bantuan Teknologi

Sekarang udah banyak tools yang bisa bantu kamu kerja lebih cepat. Misalnya, kamu bisa pakai aplikasi keuangan sederhana buat laporan UMKM, atau manfaatkan platform jualan online yang otomatis mencatat transaksi. Jadi, kamu nggak perlu ribet urus semua manual.

4. Delegasi Tugas

Kalau bisnismu mulai ramai, jangan ragu buat minta bantuan orang lain. Bisa dari keluarga, teman, atau pekerja paruh waktu. Dengan begitu, kamu bisa tetap fokus kerja sebagai karyawan, sambil memastikan usahamu tetap jalan.

5. Jaga Kesehatan dan Mental

Ini yang sering dilupakan. Sibuk kerja dan usaha bisa bikin stres atau burnout kalau kamu nggak ngasih waktu buat istirahat. Ingat, kamu tetap butuh tidur cukup, makan sehat, dan punya waktu buat diri sendiri.

Punya dua peran sekaligus memang nggak gampang. Tapi dengan manajemen waktu yang baik, semua bisa dilalui. Jangan merasa harus selalu sempurna. Yang penting konsisten dan tahu arah tujuanmu. Karena jadi karyawan tapi punya bisnis sampingan itu bukan berarti kamu rakus kerja, tapi kamu sedang menyiapkan masa depan yang lebih mandiri dan fleksibel.

Ekspor Alas Kaki dari Indonesia Naik 13,8%, Pasar Global Makin Percaya Produk Lokal

0

Kinerja ekspor alas kaki dari Indonesia terus menunjukkan tren positif di awal 2025. Berdasarkan data Kementerian Perindustrian, nilai ekspor sepanjang Januari hingga Maret 2025 mencapai USD1,89 miliar—tumbuh 13,8 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Prestasi ini menegaskan bahwa industri alas kaki nasional semakin diakui di pasar internasional.

“Secara global, posisi Indonesia kini berada di peringkat keenam sebagai negara pengekspor alas kaki terbesar, dengan pangsa pasar mencapai 3,99 persen. Ini mencerminkan daya saing tinggi produk dalam negeri,” ujar Direktur Jenderal Industri Kimia, Farmasi, dan Tekstil (IKFT), Taufiek Bawazier, saat menghadiri pelepasan ekspor produk alas kaki PT Selalu Cinta Indonesia (SCI) di Salatiga, Jawa Tengah, Kamis (12/6).

PT SCI Ekspor Sepatu Nike ke India

PT SCI yang memproduksi sepatu bermerek Nike berhasil melakukan ekspor alas kaki dari Indonesia ke India. Pada Mei 2025, perusahaan ini mengapalkan sebanyak 124.117 pasang sepatu senilai USD2 juta. Hingga September mendatang, ekspor ditargetkan meningkat hingga mencapai 227.654 pasang senilai USD3,4 juta.

Menurut Taufiek, pencapaian ini bukan hanya mencerminkan keberhasilan bisnis semata, tetapi juga menunjukkan bahwa Indonesia telah menjadi bagian penting dari rantai pasok industri alas kaki dunia. Produk nasional dinilai mampu bersaing dan memenuhi standar internasional.

Meski ekspor ke India berjalan, Taufiek tak menampik adanya tantangan, terutama terkait kebijakan Quality Control Orders (QCO) yang mulai diterapkan Pemerintah India pada Juli 2024. Kebijakan ini mewajibkan sertifikasi Bureau of Indian Standard (BIS) bagi setiap produk alas kaki yang masuk ke negara tersebut.

“Kita tidak mengalami masalah dari sisi mutu produk. Namun, hambatan utama justru datang dari keterbatasan jumlah auditor BIS yang memperlambat proses sertifikasi di lapangan,” terangnya.

Untuk mengatasi kendala ini, Pemerintah Indonesia telah mengangkat isu tersebut dalam forum Technical Barriers to Trade (TBT) WTO sebagai bagian dari Specific Trade Concern (STC). Di sisi lain, pemerintah juga aktif menjalin dialog agar penerapan kebijakan QCO lebih terbuka terhadap kolaborasi dengan lembaga sertifikasi internasional yang sudah terpercaya.

Dukungan Pemerintah dan Prospek ke Depan

Pemerintah melalui Kementerian Perindustrian berkomitmen memperkuat iklim usaha dan mendorong ekspansi pasar industri alas kaki nasional. Langkah ini dilakukan lewat kerja sama perdagangan, mendorong pengakuan sertifikasi bersama, serta membuka akses pasar ke kawasan nontradisional seperti Asia Selatan, Timur Tengah, Afrika, dan Amerika Latin.

“Kami ingin industri alas kaki Indonesia terus tumbuh, menciptakan lapangan kerja, dan memperluas kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi yang inklusif,” ujar Taufiek.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), sektor alas kaki mencatat pertumbuhan sebesar 6,95 persen pada kuartal pertama 2025. Bahkan hingga Agustus 2024, industri kulit dan alas kaki telah menyerap tenaga kerja sebanyak 961 ribu orang—naik 3 persen dari tahun sebelumnya. Ini menegaskan bahwa industri ini adalah sektor strategis padat karya yang mendukung stabilitas sosial dan ekonomi Indonesia.

Tambang di Raja Ampat Picu Kerusakan Ekosistem, KKP Minta Aturan Ditinjau Ulang

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menyoroti aktivitas tambang di Raja Ampat yang dinilai berdampak serius terhadap lingkungan dan ekosistem laut. Seiring dengan itu, KKP mengusulkan penyesuaian regulasi terkait pengelolaan pulau-pulau kecil yang selama ini dinilai tumpang tindih. Saat ini, sebagian wilayah yang menjadi lokasi tambang masuk dalam kategori pulau kecil, namun perizinannya berada di bawah Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

Direktur Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil KKP, Ahmad Aris, menyatakan bahwa praktik pertambangan di kawasan seperti tambang di Raja Ampat dilakukan berdasarkan izin kawasan hutan. Padahal, dari sisi karakteristik, lokasi-lokasi tersebut lebih tepat dikategorikan sebagai pulau kecil yang seharusnya menjadi kewenangan KKP.

“Selama ini, seolah-olah kalau kawasan itu hutan, maka dianggap tidak ada kegiatan yang berdampak. Padahal, tambang tetap bisa memberi pengaruh besar, terutama di wilayah pesisir dan laut. Maka dari itu, kami dorong adanya harmonisasi kewenangan lintas lembaga,” kata Aris di Kantor KKP, Jakarta, Rabu (11/6/2025).

KKP Usul Review Aturan, Hindari Tumpang Tindih Perizinan

Sebagai langkah awal, KKP berencana melakukan peninjauan ulang terhadap regulasi yang mengatur pulau-pulau kecil. Tujuannya adalah menciptakan keselarasan antara kebijakan yang ada, agar proses perizinan tidak membingungkan dan lebih terintegrasi.

“Ke depan, kami akan melakukan review terhadap semua regulasi yang berkaitan dengan pulau kecil. Jangan sampai ada undang-undang yang tidak sinkron dan menimbulkan ketidakpastian bagi masyarakat maupun pelaku usaha,” ujarnya.

Selain soal kewenangan, Aris juga mengungkapkan kekhawatiran terhadap dampak lingkungan yang ditimbulkan dari aktivitas tambang. KKP mencatat, salah satu ancaman terbesar adalah sedimentasi yang dapat merusak terumbu karang dan area pemijahan ikan di sekitar pulau-pulau kecil Raja Ampat.

Sedimentasi Jadi Ancaman Serius bagi Ekosistem Laut

Dari hasil pengawasan Direktorat Jenderal Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP), diketahui bahwa sedimentasi akibat pertambangan berpotensi besar mencemari laut. Namun, menurut Aris, efek dari kegiatan tersebut tidak langsung terlihat, melainkan muncul saat musim hujan dan gelombang tinggi tiba.

“Kalau cuaca masih tenang, dampaknya belum terlalu tampak. Tapi saat hujan deras dan arus kuat, sedimen dari atas lahan bisa mengalir ke laut, menutupi terumbu karang dan padang lamun,” jelasnya.

Ia menambahkan, wilayah pesisir yang rusak oleh sedimentasi bukan hanya kehilangan fungsi ekologis, tetapi juga bisa kehilangan potensi ekonomi. Pasalnya, ekosistem seperti terumbu karang dan laguna menjadi lokasi pemijahan ikan sekaligus daya tarik wisata bahari.

“Ini bukan hanya soal kelestarian alam, tapi juga keberlanjutan ekonomi masyarakat pesisir,” tutup Aris.

Masihkah Bisnis Franchise Minuman Menjanjikan di Tahun 2025 ini?

Bisnis franchise minuman sempat jadi primadona dalam beberapa tahun terakhir. Dari kopi kekinian, teh boba, sampai es krim viral—semuanya pernah jadi tren besar yang bikin banyak orang tertarik buka usaha serupa. Tapi, di tahun 2025 ini, pertanyaannya jadi lebih serius: Apakah bisnis franchise minuman masih relevan dan banyak dicari orang?

Jawabannya: Masih Relevan, Tapi…

Ya, bisnis franchise minuman masih relevan di tahun 2025. Tapi tidak semua jenis minuman atau franchise bisa langsung sukses. Pasarnya sudah jauh lebih padat, konsumen juga makin selektif. Jadi, siapa pun yang ingin terjun ke bisnis ini harus paham strategi dan tren terbaru, bukan sekadar ikut-ikutan.

Kenapa Masih Banyak yang Cari?

  1. Gaya Hidup Nongkrong Tetap Eksis
    Anak muda zaman sekarang masih suka nongkrong, meeting santai, atau sekadar update story Instagram dengan minuman estetik. Ini jadi peluang emas buat brand minuman yang punya konsep menarik dan suasana tempat yang nyaman.

  2. Franchise = Praktis dan Teruji
    Banyak orang masih melihat franchise sebagai jalur cepat untuk berbisnis. Nama brand sudah dikenal, SOP jelas, dan biasanya ada pelatihan serta dukungan dari pusat. Ini mengurangi risiko gagal, apalagi buat pemula.

  3. Inovasi Menu Terus Berkembang
    Franchise yang bisa terus berinovasi—baik dari segi rasa, kemasan, maupun cara pemasaran—akan tetap jadi incaran. Minuman yang unik dan ‘Instagramable’ masih sangat digemari.

  4. Tren Minuman Sehat Mulai Naik
    Selain minuman manis, sekarang mulai bermunculan franchise yang fokus ke minuman sehat seperti jus cold-pressed, infused water, atau herbal drink. Ini menarik minat segmen pasar yang lebih sadar kesehatan.

Tapi, Ada Tantangannya Juga…

  1. Persaingan Ketat Banget!
    Waralaba minuman kini bersaing bukan cuma dengan sesama franchise, tapi juga dengan UMKM lokal yang kreatif dan fleksibel. Kalau gak punya keunikan, gampang banget tenggelam.

  2. Tren Cepat Berganti
    Tren minuman bisa berubah cepat. Apa yang laris tahun lalu belum tentu ramai di tahun ini. Jadi penting untuk pilih franchise yang fleksibel dan bisa adaptif.

Bisnis franchise minuman masih menarik di tahun 2025, tapi tidak bisa asal ikut tren. Harus jeli melihat peluang, riset lokasi, kenali target pasar, dan pilih brand yang punya reputasi baik serta siap berinovasi. Kalau semua dipersiapkan matang, cuan pun bukan hal yang mustahil.

Diskon Tarif Pesawat 6% Berlaku di Musim Liburan, Maskapai Nilai Efeknya Kurang Maksimal

0

Pemerintah resmi menerapkan diskon tarif pesawat sebesar 6% berupa Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP). Kebijakan yang berlaku mulai 5 Juni hingga 31 Juli 2025 ini diharapkan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi nasional, khususnya lewat peningkatan aktivitas perjalanan masyarakat selama masa libur sekolah.

Namun, pelaku industri penerbangan menganggap manfaat kebijakan tersebut belum sepenuhnya terasa, baik bagi penumpang maupun maskapai. Sekretaris Jenderal Indonesia National Air Carriers Association (INACA), Bayu Sutanto, menyebut waktu penerapan insentif ini kurang tepat.

“Kalau dilihat dari sisi ekonomi, kebijakan ini kurang maksimal. Tapi dari sudut pandang populis, ya mungkin bisa dianggap tepat karena memberikan keringanan berupa diskon tarif pesawat kepada masyarakat,” ujarnya dikutip dari CNBC Indonesia, Rabu (11/6/2025).

Bayu menambahkan, keputusan pemerintah ini datang terlambat, mengingat sebagian besar calon penumpang telah memesan tiket jauh hari sebelumnya. “Mayoritas keluarga yang bepergian di masa libur sekolah sudah merencanakan perjalanan mereka dua sampai tiga bulan sebelumnya, termasuk memesan tiket, hotel, hingga tiket masuk destinasi wisata,” jelasnya.

Dampak Terbatas karena Waktu Pelaksanaan Tidak Strategis

Menurut Bayu, tren peningkatan jumlah penumpang setiap musim liburan merupakan hal yang rutin. Ia menilai bahwa sebagian besar masyarakat telah mengantisipasi lonjakan harga dengan membeli tiket lebih awal demi mendapatkan harga yang lebih terjangkau.

“Biasanya, liburan keluarga itu minimal tiga orang—orang tua dan anak, atau kakek-nenek dengan cucu. Jadi wajar kalau perencanaan mereka dilakukan jauh-jauh hari untuk menghindari harga tinggi saat peak season. Kita tunggu saja apakah kebijakan ini akan berdampak signifikan atau tidak,” tambahnya.

Sebelumnya, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati telah menetapkan aturan terkait potongan PPN tiket pesawat melalui Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 36 Tahun 2025. Aturan tersebut mengatur tentang PPN atas jasa angkutan udara niaga berjadwal untuk kelas ekonomi dalam negeri selama masa libur sekolah.

Dalam pasal 2 ayat 3 PMK tersebut dijelaskan bahwa PPN sebesar 5% ditanggung oleh penerima jasa, sementara pemerintah menanggung tambahan sebesar 6%. Tujuannya tak lain adalah untuk memberi stimulus sektor penerbangan dan mendukung mobilitas masyarakat saat musim liburan.

Investasi Berlanjut! Pabrik Mercedes di Cikarang Siap Produksi 5.000 Unit per Tahun

Keberadaan Pabrik Mercedes di Cikarang menjadi bukti nyata bahwa sektor otomotif Indonesia masih bergerak dinamis di tengah tekanan global. Meski ekonomi dunia belum sepenuhnya pulih, investasi baru seperti yang dilakukan PT Daimler Commercial Vehicles Manufacturing Indonesia (PT DCVMI) menunjukkan keyakinan investor terhadap potensi jangka panjang Indonesia sebagai basis produksi otomotif.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menegaskan, pendirian Pabrik Mercedes di Cikarang merupakan bentuk kepercayaan Daimler Truck AG kepada Indonesia. Hal itu disampaikannya saat meresmikan fasilitas baru di kawasan Delta Silicon 8, Cikarang, Jawa Barat, pada Selasa (10/6). “Mereka melihat Indonesia bukan hanya sebagai pasar, tapi juga pusat produksi strategis untuk kebutuhan global,” ujar Agus.

Menurut Agus, langkah ini mengukuhkan posisi Indonesia sebagai tujuan utama investasi otomotif, terutama di era transisi menuju kendaraan ramah lingkungan. Pemerintah pun mendukung penuh komitmen PT DCVMI dalam memperkuat industri kendaraan niaga melalui fasilitas baru yang mampu memproduksi hingga 5.000 unit per tahun.

Mercedes-Benz sendiri telah hadir di Indonesia sejak 1978 melalui PT Star Motor Indonesia. Eksistensi mereka makin kokoh sejak terbentuknya PT DCVMI pada 2019, yang kini masuk dalam lima besar produsen kendaraan niaga seperti truk dan bus di Tanah Air.

Dorong Produksi Ramah Lingkungan dan Kandungan Lokal

Kemenperin mendorong agar pengembangan ke depan lebih berorientasi pada kendaraan niaga beremisi rendah. Untuk itu, PT DCVMI diharapkan memperluas produksi model ramah lingkungan, termasuk kendaraan dengan standar emisi Euro 5 dan Euro 6, guna merespons tren global dan memperkuat ekspor.

Pabrik ini juga telah mengadopsi teknologi SCR (Selective Catalytic Reduction) dengan penggunaan cairan DEF (Diesel Exhaust Fluid) yang ramah lingkungan. “Langkah ini mendukung target Net Zero Emission sektor manufaktur pada 2050,” imbuh Agus.

Selain aspek teknologi, peningkatan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) juga menjadi perhatian. Saat ini, rata-rata TKDN kendaraan buatan PT DCVMI mencapai 28,08 persen. Pemerintah menilai angka ini masih bisa ditingkatkan guna mendukung industri komponen dalam negeri sekaligus memperluas peluang partisipasi dalam pengadaan pemerintah dan pemanfaatan insentif fiskal.

Agus juga menyoroti defisit neraca perdagangan kendaraan niaga yang pada kuartal pertama 2025 tercatat sebesar USD608,7 juta. Untuk itu, peningkatan kandungan lokal dinilai sebagai langkah strategis menekan angka impor sekaligus memperluas jangkauan ekspor.

“Keberadaan pabrik baru ini sangat tepat, bukan hanya menjawab tantangan perdagangan, tapi juga membuka lapangan kerja dan memperkuat rantai pasok lokal. Ini adalah kolaborasi besar antara pemerintah dan pelaku industri dalam memajukan sektor otomotif nasional,” tutup Agus.

Inflasi Bukan Cuma Istilah Ekonomi, Ini Dampaknya ke Kehidupan Kita

Pernah nggak kamu merasa harga-harga barang makin naik, tapi gaji segitu-gitu aja? Nah, itulah yang disebut dengan inflasi. Inflasi bukan cuma soal ekonomi kelas atas atau urusan para pakar keuangan—ini kejadian yang nyata dan kita semua rasain dampaknya.

Tapi sebenernya, apa itu inflasi? Kenapa bisa terjadi? Dan kayak gimana contoh inflasi yang pernah terjadi di suatu negara?

Apa Itu Inflasi?

Secara simpel, inflasi itu adalah kenaikan harga barang dan jasa secara umum dan terus menerus dalam suatu periode waktu. Misalnya, harga telur tahun lalu Rp20.000 per kilo, sekarang Rp28.000. Kalau hal ini terjadi di banyak produk dan nggak cuma sementara, itulah inflasi.

Inflasi bikin daya beli kita menurun. Artinya, uang Rp100 ribu yang dulu cukup buat belanja seminggu, sekarang cuma cukup buat 4 hari.

Dampaknya Inflasi, Kenapa Harga-Harga Bisa Naik?

  1. Permintaan Lebih Tinggi dari Penawaran (Demand Pull Inflation)
    Ini terjadi saat banyak orang ingin beli barang atau jasa, tapi jumlah barangnya terbatas. Misalnya pas lebaran, harga daging bisa naik karena permintaan melonjak.

  2. Biaya Produksi Naik (Cost Push Inflation)
    Kalau bahan baku naik (contoh: minyak goreng atau BBM), otomatis biaya produksi naik. Produsen akhirnya ikut menaikkan harga jual.

  3. Kebijakan Pemerintah atau Bank Sentral
    Misalnya, ketika pemerintah mencetak uang terlalu banyak atau bunga bank diturunkan, bisa memicu inflasi. Uang beredar jadi terlalu banyak, tapi barangnya tetap segitu-gitu aja.

  4. Kurs Rupiah Melemah
    Kalau nilai tukar rupiah melemah terhadap dolar, harga barang impor jadi mahal. Otomatis harga barang-barang lokal yang bergantung pada impor juga ikut naik.

Kasus di Venezuela jadi Contoh Nyata Inflasi

Salah satu contoh ekstrem inflasi pernah terjadi di Venezuela. Negara ini mengalami hiperinflasi—di mana harga-harga naik secara gila-gilaan dalam waktu singkat.

  • Tahun 2018, tingkat inflasi di Venezuela tembus lebih dari 1.000.000%!

  • Harga roti bisa naik 2x lipat dalam sehari.

  • Uang kertas jadi nggak ada nilainya, sampai-sampai masyarakat lebih memilih barter barang daripada pakai uang.

Penyebabnya? Kombinasi dari kebijakan pemerintah yang keliru, korupsi, anjloknya harga minyak (komoditas utama mereka), dan pencetakan uang yang berlebihan.

Indonesia Juga Pernah Kena Inflasi Parah

Indonesia pernah mengalami inflasi tinggi pada krisis moneter 1998, saat nilai tukar rupiah anjlok parah. Harga barang naik drastis, banyak perusahaan bangkrut, dan PHK massal terjadi.

Namun sekarang, Bank Indonesia cukup aktif menjaga inflasi dengan kebijakan moneter agar tetap stabil. Idealnya, inflasi Indonesia dijaga di angka sekitar 2–4% per tahun.

Inflasi bukan cuma angka di berita ekonomi. Kita semua merasakannya—mulai dari harga cabai yang naik, biaya sekolah anak yang makin mahal, sampai biaya hidup yang terus merangkak.

Makanya, penting buat kita belajar ngatur keuangan, investasi, dan nggak cuma nabung doang. Karena uang yang disimpan terus tanpa berkembang bisa “tergerus” inflasi.

Empat Izin Pertambangan Dicabut, PT GAG Nikel Lolos karena Punya RKAB 2025

Pemerintah memastikan bahwa izin pertambangan milik PT GAG Nikel yang berlokasi di Raja Ampat, Papua Barat Daya, masih berlaku dan tidak termasuk dalam daftar perusahaan yang izinnya dicabut. Keputusan ini berbeda dengan empat perusahaan lain di wilayah yang sama yang harus merelakan pencabutan izin pertambangan mereka oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).

Empat perusahaan yang resmi dicabut izinnya adalah PT Anugerah Surya Pratama, PT Nurham, PT Mulia Raymond Perkasa, serta PT Kawei Sejahtera Mining. Meski begitu, kegiatan produksi di seluruh perusahaan tambang di kawasan tersebut dihentikan sementara untuk evaluasi.

Hanya Satu Perusahaan Kantongi RKAB 2025

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengungkapkan bahwa penghentian produksi dilakukan serentak pada Kamis (5/6/2025), menyusul peninjauan terhadap legalitas dan kelengkapan dokumen setiap IUP yang beroperasi di wilayah itu. Dari lima perusahaan tambang yang terdaftar, hanya PT GAG Nikel yang sudah mendapatkan persetujuan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) untuk tahun 2025.

“Dari lima IUP yang ada, hanya satu yang sudah mengantongi RKAB tahun ini, yaitu PT GAG Nikel. Sementara empat lainnya belum dapat, jadi tidak bisa beroperasi sampai ada kejelasan,” ujar Bahlil dalam konferensi pers di Istana Negara, Selasa (10/6/2025).

Kelima perusahaan yang memiliki izin di wilayah ini meliputi:

  • PT GAG Nikel – 13.136 hektare

  • PT Kawei Sejahtera Mining – 5.922 hektare

  • PT Mulia Raymond Perkasa – 2.193 hektare

  • PT Anugerah Surya Pratama – 1.173 hektare

  • PT Nurham – 3.000 hektare

Namun dari semuanya, hanya PT GAG Nikel yang masih beroperasi dengan status kontrak karya, yang berarti tunduk pada aturan kontraktual berbeda dari IUP biasa.

Sejarah Panjang Aktivitas Tambang di Pulau Gag

Bahlil juga menyoroti bahwa kegiatan pertambangan oleh PT GAG Nikel bukan hal baru. Eksplorasi di Pulau Gag sudah berlangsung sejak tahun 1972. Perusahaan ini memperoleh kontrak karya pada 1998, dan setelah melalui fase eksplorasi lanjutan pada 2002 hingga 2008, pembangunan proyek dimulai antara 2015 sampai 2017, sebelum akhirnya memulai produksi pada 2018.

Dari luas keseluruhan Pulau Gag yang mencapai lebih dari 13.000 hektare, area tambang aktif hanya sekitar 260 hektare. Dari total itu, lebih dari 130 hektare telah direklamasi dan sekitar 54 hektare sudah diserahkan kembali ke negara.

“Jadi dari 260 hektare yang sudah dibuka, lebih dari separuhnya sudah direklamasi, dan sebagian bahkan sudah kami kembalikan ke negara. Saat ini masih tersisa sekitar 130 hektare yang masih aktif,” jelas Bahlil.

Jualan Live Produk Kecantikan, Lebih Cuan di TikTok atau Shopee Live?

Sekarang ini jualan online udah makin seru—nggak cuma lewat foto produk, tapi juga lewat live streaming! Khususnya buat produk kecantikan, tren jualan live ini makin menggila. Tapi pertanyaannya, lebih rame mana sih: TikTok Live atau Shopee Live? Dan gimana sih cara cari tahu tempat yang paling cocok buat jualan?

Yuk, ikut Berempat.com membahasnya satu-satu dengan cara yang santai dan gampang dicerna.

TikTok Live: Jagonya Hiburan + Impulsif Beli

TikTok tuh terkenal dengan konten hiburan yang singkat, cepat, dan engaging. Kalau kamu bisa tampil percaya diri, komunikatif, dan bawa aura fun pas jualan produk kecantikan di live, TikTok bisa jadi ladang cuan.

Kelebihan TikTok Live:

  • Algoritma kuat, bisa muncul di FYP pengguna meskipun belum follow kamu

  • Banyak pembeli impulsif, cocok buat flash sale dan bonus menarik

  • Penonton suka interaksi langsung: tanya-tanya produk, minta review real time

Shopee Live: Target Lebih Jelas, Tapi Saingan Ketat

Shopee punya user base yang udah niat belanja sejak awal buka aplikasinya. Jadi, kalau kamu jual produk kecantikan di Shopee Live, penontonnya biasanya lebih fokus dan niat beli.

Kelebihan Shopee Live:

  • Ada sistem voucher otomatis, flash sale, dan penawaran khusus

  • Sudah terintegrasi langsung dengan katalog toko dan keranjang

  • Ada fitur replay yang bisa tetap ditonton setelah live selesai

Gimana Cara Riset: Cocokin Produkmu, Bukan Cuma Ikut Tren!

Biar nggak asal tebak, kamu bisa lakukan riset sederhana tapi efektif kayak gini:

1. Cek Kompetitor

  • Cari seller produk serupa (misal: skincare lokal, lipcream, dll)

  • Lihat mereka live di mana lebih aktif, dan berapa banyak views atau interaksinya

  • Catat jam tayang dan gaya penyampaiannya

2. Gunakan Fitur Insight / Analytics

  • TikTok punya TikTok Shop Seller Center: kamu bisa pantau performa video & live

  • Shopee Seller Center juga punya data kunjungan live, klik produk, dan conversion rate

3. Tes Live Sendiri di Dua Platform

  • Coba siaran langsung di TikTok dan Shopee (pakai produk sama, jam yang mirip)

  • Bandingkan: mana yang lebih rame, lebih banyak interaksi, dan lebih banyak closing

4. Perhatikan Audiens

  • TikTok lebih cocok buat target Gen Z & milenial muda yang senang eksplorasi

  • Shopee lebih kuat di kalangan pengguna yang fokus cari diskon & penawaran jelas

Nggak ada jawaban pasti mana yang “paling ramai”, karena semuanya balik lagi ke:

  • Target pasar kamu

  • Gaya live kamu

  • Produk yang dijual

Kalau kamu bisa kasih interaksi yang engaging, paham kebutuhan audiens, dan tahu kapan waktu terbaik buat live, dua-duanya bisa jadi ladang cuan. Tapi yang penting: riset dan eksperimen kecil-kecilan dulu, jangan asal ikut tren.

Belum Terima BSU? Simak Cara Cek Penerima dan Solusi Jika Dana Belum Masuk

0

Pemerintah kembali menyalurkan Bantuan Subsidi Upah (BSU) pada tahun 2025 sebagai bentuk dukungan terhadap para pekerja bergaji rendah di tengah tekanan ekonomi yang masih berlangsung. Masyarakat yang merasa berhak mendapatkan bantuan ini diimbau untuk segera cek penerima BSU melalui laman resmi BPJS Ketenagakerjaan atau situs bsu.bpjsketenagakerjaan.go.id.

Cek penerima BSU menjadi langkah awal yang penting agar pekerja dapat mengetahui status kelayakan mereka dalam menerima bantuan tunai senilai Rp600 ribu tersebut. Pihak BPJS Ketenagakerjaan juga telah menyediakan berbagai kanal untuk mempermudah akses informasi, baik melalui aplikasi mobile, situs resmi, maupun layanan call center.

Jadwal dan Syarat Pencairan Bantuan Subsidi Upah (BSU)

Penyaluran BSU untuk tahap awal direncanakan berlangsung mulai pertengahan Juni 2025. Penerima manfaat adalah pekerja yang terdaftar aktif di BPJS Ketenagakerjaan hingga Maret 2025, dengan gaji bulanan di bawah Rp3,5 juta. Selain itu, calon penerima tidak sedang menerima bantuan sosial lain seperti PKH, Kartu Prakerja, atau BLT.

Bantuan ini secara langsung akan ditransfer ke rekening pribadi para pekerja yang telah terverifikasi datanya oleh BPJS dan Kementerian Ketenagakerjaan.

BSU Belum Masuk Rekening? Gimana Solusinya?

Banyak pekerja yang mengeluhkan dana BSU belum juga cair meski dinyatakan lolos verifikasi. Menanggapi hal ini, Kementerian Ketenagakerjaan memberikan sejumlah solusi. Pertama, pastikan bahwa data rekening yang terdaftar masih aktif dan valid. Kedua, pekerja diminta mengecek kembali status keaktifan kepesertaan BPJS Ketenagakerjaan mereka.

Jika semua data dinyatakan sesuai namun dana belum masuk, pekerja disarankan menghubungi kontak resmi BPJS Ketenagakerjaan atau mengunjungi kantor cabang terdekat untuk pengecekan manual.

Menteri Ketenagakerjaan, Ida Fauziyah, dalam keterangannya menegaskan bahwa penyaluran BSU 2025 dilakukan secara bertahap. “Kami mengimbau masyarakat untuk bersabar dan memastikan data mereka lengkap dan valid. Pemerintah berkomitmen agar bantuan ini tepat sasaran,” ujar Ida.

Sebagai informasi tambahan, BSU 2025 ditargetkan menyasar jutaan pekerja di seluruh Indonesia sebagai bentuk perlindungan sosial berkelanjutan di tengah fluktuasi ekonomi global dan tekanan biaya hidup.