Kamis, Mei 7, 2026
Top Mortar Gak Takut Hujan
Beranda blog Halaman 77

Ekspansi Sektor Industri Meningkat, IKI Juli 2025 Tembus 52,89

0

Tingkat kepercayaan pelaku usaha terhadap sektor manufaktur nasional kembali menunjukkan tren positif. Indeks Kepercayaan Industri (IKI) per Juli 2025 naik menjadi 52,89 dari 51,84 pada bulan sebelumnya. Capaian ini menegaskan bahwa ekspansi sektor industri masih berlanjut, meskipun tantangan global seperti perlambatan ekonomi di AS, Eropa, Jepang, dan Tiongkok terus membayangi.

Peningkatan IKI ini tidak hanya mencerminkan daya tahan industri nasional, tetapi juga dorongan kuat dari kebijakan pemerintah yang berpihak pada sektor riil. Kementerian Perindustrian mencatat seluruh variabel utama dalam IKI mengalami kenaikan, mulai dari pesanan yang naik ke 54,40, persediaan produk menjadi 54,99, hingga produksi yang menyentuh angka 48,99—meski masih berada di zona kontraksi.

Permintaan Global dan Domestik Dorong Kinerja

Juru Bicara Kemenperin, Febri Hendri Antoni Arif, mengungkapkan bahwa peningkatan pesanan disumbang oleh naiknya permintaan baik dari pasar ekspor maupun domestik. Hal ini tak lepas dari dampak kebijakan seperti Perpres 46/2025 tentang pengadaan barang dan jasa pemerintah yang mendorong konsumsi produk dalam negeri.

Kinerja ekspor juga memperlihatkan tren positif. IKI ekspor Juli tercatat 53,35, naik dari 52,19 pada bulan sebelumnya. Sektor-sektor seperti industri logam dasar, makanan, bahan kimia, dan elektronik memberikan kontribusi signifikan, dengan ekspor logam dasar mencapai USD4,6 miliar. Sementara itu, industri aneka seperti perhiasan dan media rekaman mencatat lonjakan ekspor hingga lebih dari 150 persen.

Permintaan dalam negeri juga terjaga dengan IKI domestik naik ke 52,16. Momentum liburan sekolah dan tahun ajaran baru disebut turut mendorong konsumsi rumah tangga, ditambah dukungan pemerintah terhadap daya beli masyarakat.

Peluang Ekspor dan Strategi Industrialisasi Nasional

Di sisi lain, Kemenperin memanfaatkan peluang dari kesepakatan dagang IEU-CEPA dan kerja sama dengan AS. Langkah konkret dilakukan dengan memfasilitasi industri-industri lokal untuk masuk pasar ekspor dan mendorong ekspansi kawasan industri berbasis ekspor. “Ekspansi sektor industri harus dikawal dengan peningkatan daya saing produk lokal,” tegas Febri.

Subsektor industri alat angkutan dan tembakau mencatat IKI tertinggi, didorong kenaikan penjualan domestik dan ekspor ke negara mitra seperti Selandia Baru dan AS. Sebaliknya, industri reparasi dan perawatan mesin (KBLI 33) menjadi satu-satunya yang mengalami kontraksi akibat rendahnya aktivitas pengadaan musiman.

Upaya proteksi industri nasional juga diperkuat lewat penerapan SNI dan regulasi pembatasan impor selektif untuk menjaga pasar dalam negeri dari serbuan produk luar. “Kami ingin memastikan 19 juta tenaga kerja di sektor manufaktur tetap terlindungi,” tambahnya.

Optimisme pelaku industri pun terus tumbuh. Sekitar 77,1 persen pelaku usaha melaporkan kondisi usaha membaik atau stabil. Harapan enam bulan ke depan meningkat, seiring konsistensi kebijakan pemerintah seperti perpanjangan harga gas khusus industri dan penguatan TKDN.

Kementerian Perindustrian juga menegaskan komitmennya dalam mendukung program prioritas nasional, seperti Makan Bergizi Gratis, ketahanan energi dan pangan, serta program koperasi modern yang diusung pemerintahan saat ini. Semua langkah tersebut diharapkan memperkuat fondasi industri sebagai tulang punggung ekonomi nasional.

Produk Lokal Bangkit, Oleh-Oleh Tangerang Selatan Masuk Jaringan Retail Besar

0

Pemerintah melalui Kementerian UMKM memperkuat posisi pelaku usaha mikro dalam ekosistem Oleh-Oleh Tangerang Selatan dengan membuka akses yang lebih luas ke jaringan ritel modern dan pusat oleh-oleh lokal. Upaya ini menjadi bagian dari langkah strategis untuk memajukan produk khas daerah agar mampu bersaing di pasar lebih luas, termasuk di Gerai Lengkong yang kini menjadi etalase utama produk Oleh-Oleh Tangerang Selatan.

Penguatan ini ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) dan Letter of Intent (LoI) yang melibatkan 20 pelaku UMKM dengan potensi transaksi mencapai Rp1,2 miliar. Kerja sama ini menjadi awal dari proses bisnis yang akan dilanjutkan dalam bentuk kontrak penjualan resmi (Sales Contract).

Kolaborasi UMKM dan Retail Modern

Menteri UMKM Maman Abdurrahman saat menghadiri acara Penguatan Rantai Pasok Klaster Oleh-Oleh di Gerai Lengkong, Tangerang Selatan, pada Selasa (29/7), menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan inisiatif perdana untuk mempertemukan UMKM dengan agregator besar dalam skema rantai pasok nasional.

“Ini kita mulai dari Tangerang Selatan dengan melibatkan sekitar 300 UMKM. Gerai Lengkong menjadi pionir gerakan ini,” ujar Menteri Maman.

Tak hanya berhenti di Gerai Lengkong, pihak kementerian juga berencana menggandeng perusahaan besar seperti Sarinah dan jaringan ritel nasional Alfamart untuk membuka jalur distribusi yang lebih luas bagi produk-produk lokal.

Menteri Maman menambahkan bahwa ke depan, pola kemitraan akan menggunakan pendekatan business-to-business (B2B), sehingga pelaku UMKM diminta untuk menyesuaikan standar produk mereka dengan kebutuhan para agregator.

“Standardisasi jadi syarat mutlak, agar produk UMKM bisa masuk ke pasar modern dengan lancar,” katanya.

Dukungan terhadap program ini juga datang dari Pemerintah Provinsi Banten. Wakil Gubernur Achmad Dimyati Natakusumah berharap inisiatif ini mampu menghadirkan oleh-oleh khas Banten secara lebih mudah diakses oleh masyarakat.

“Seperti di Medan ada durian ucok, kita di Banten punya bandeng yang khas. Harapannya bisa jadi ikon oleh-oleh yang tersedia di Gerai Lengkong,” ungkapnya.

Pendiri Gerai Lengkong, Lista Hurustiati, menegaskan bahwa peran gerainya tak hanya sebatas tempat jual beli. Menurutnya, Gerai Lengkong merupakan jembatan penghubung antara semangat cinta produk lokal dan kebutuhan pasar yang terus berkembang.

“Kami ingin mengajak masyarakat bangga dan mencintai karya anak bangsa. Di sini, kami memasarkan sekaligus mengkampanyekan gerakan membeli produk lokal,” ujar Lista.

Ia juga menambahkan bahwa dukungan dari berbagai pihak—baik pemerintah, swasta, maupun pemangku kepentingan lain—sangat penting untuk memastikan rantai pasok produk UMKM bisa tumbuh secara berkelanjutan dan memberi dampak nyata bagi kesejahteraan pelaku usaha mikro.

Bukan Cuma Mental, Ini yang Harus Disiapkan Demi Impian Menjadi Pebisnis

Punya impian menjadi pebisnis di usia 25 tahun bukan hal mustahil. Justru ini usia emas untuk mulai membangun pondasi, mencoba hal baru, dan mengumpulkan kegagalan sebagai pelajaran. Banyak yang berpikir cukup punya mental baja saja sudah cukup untuk terjun ke dunia usaha. Nyatanya, impian menjadi pebisnis yang sukses butuh lebih dari sekadar keberanian. Harus ada persiapan nyata—baik dari sisi keterampilan, strategi, maupun keuangan.

Memasuki usia 25, banyak orang berada di titik transisi: baru lulus, baru kerja, atau mulai jenuh dengan rutinitas kantoran. Dan di saat yang sama, banyak ide bisnis bertebaran di kepala. Tapi bagaimana menjembatani mimpi dan realitas? Apa saja bekal nyata yang bisa disiapkan sebelum benar-benar terjun?

Bekal Nyata Selain Mental untuk Wujudkan Impian Menjadi Pebisnis

1. Skill yang Relevan dengan Bisnis di Era Modern

Mental pejuang penting, tapi tanpa keahlian dasar, bisnis bisa mandek di tengah jalan. Misalnya, kalau tertarik bisnis fashion, pelajari tren pasar, digital marketing, dan supplier management. Atau kalau ingin buka kafe, kuasai basic F&B operations, cost control, dan experience customer handling.

Tak perlu gelar MBA, cukup ikut kursus daring, belajar dari YouTube, atau bahkan magang di usaha kecil bisa jadi modal awal yang luar biasa.

2. Literasi Keuangan yang Kuat

Banyak bisnis rontok bukan karena produk jelek, tapi karena keuangan yang amburadul. Di usia 25, mulai biasakan mencatat pemasukan-pengeluaran, bikin budgeting, dan pahami konsep cash flow. Punya bisnis berarti harus bisa bedakan uang pribadi dan uang usaha. Jika masih bingung, belajar pakai aplikasi keuangan sederhana atau minta arahan dari mentor.

3. Lingkaran Pertemanan yang Mendukung

Lingkungan itu berpengaruh besar terhadap laju mimpi. Kalau nongkrong cuma bahas gosip dan drama, susah berkembang. Coba gabung komunitas bisnis, ikut diskusi wirausaha, atau aktif di ruang digital seperti LinkedIn atau X. Bertemu orang-orang dengan energi serupa bisa membuka pintu kesempatan dan kolaborasi.

4. Simulasi Bisnis Kecil-Kecilan

Tak perlu langsung buka toko besar. Coba mulai dari bisnis kecil dengan risiko rendah. Misalnya jualan online, dropship, jadi affiliate, atau jasa freelance. Dari situ akan terlihat ritme dunia usaha: bagaimana menarik pelanggan, menghadapi komplain, hingga mengatur logistik.

Simulasi ini bukan sekadar “iseng”, tapi batu loncatan sebelum masuk ke arena sebenarnya.

5. Pola Hidup yang Disiplin

Sering disepelekan, tapi ini pondasi kuat. Tidur cukup, rutin olahraga, dan mampu mengatur waktu akan berdampak besar saat nanti harus lembur menyelesaikan order, atau bangun pagi meeting dengan klien. Tanpa kebiasaan baik, produktivitas akan cepat ambruk.

6. Rencana Jangka Menengah

Impian boleh besar, tapi harus dibagi jadi langkah konkret. Di usia 25, buat rencana 1–3 tahun: mau fokus belajar apa, kapan mau mulai bisnis kecil, kapan mulai mengumpulkan modal, dan siapa yang bisa jadi mentor. Rencana ini fleksibel, tapi penting sebagai arah agar tidak cuma jalan di tempat.

Impian menjadi pebisnis bukan cuma soal “kapan mulai”, tapi seberapa matang kita menyiapkan diri. Usia 25 adalah titik awal yang ideal—cukup muda untuk banyak mencoba, cukup dewasa untuk bertanggung jawab. Jangan cuma tunggu waktu yang pas, tapi buat waktumu jadi pas dengan persiapan yang matang.

Masa Depan Batik Indonesia di Tangan Gen-Z: Antara Warisan dan Inovasi

0

Masa Depan Batik Indonesia kini tak hanya berpijak pada warisan leluhur, tetapi juga berada di tangan generasi muda yang terus memberi warna baru melalui teknologi, kreativitas, dan kewirausahaan. Warisan budaya yang diakui UNESCO sejak 2009 ini terus bergerak dinamis, menjawab zaman lewat pendekatan kekinian yang diusung Gen-Z dan milenial. Dengan jumlah penduduk muda yang mencapai lebih dari 53,8% dari total populasi, peluang untuk membentuk masa depan batik Indonesia semakin terbuka lebar.

Dalam kuliah umum bertajuk “Membatik Pikiran, Mewarnai Karakter, Menjahit Cita-Cita” yang menjadi bagian dari Industrial Festival dan Gelar Batik Nusantara 2025 di Jakarta (30/7), Wakil Menteri Perindustrian Faisol Riza menekankan pentingnya peran anak muda dalam menjaga relevansi batik di era modern. “Jangan lupa, para pembatik di masa lalu juga anak-anak muda. Mereka menggali inspirasi dari lingkungan, budaya, dan pengalaman hidup,” ujarnya di hadapan lebih dari 300 mahasiswa.

Lima Pilar Penguat Generasi Muda dalam Menjaga Eksistensi Batik

Wamenperin menekankan lima hal penting yang perlu dimiliki generasi muda agar mampu menjawab tantangan zaman sekaligus membawa batik tetap hidup di tengah arus globalisasi. Pertama adalah kesiapan intelektual, agar mereka tak sekadar bangga mengenakan batik, tapi juga memahami sejarah dan nilai filosofisnya.

Kedua, penguasaan keterampilan digital dan kreativitas. Desain grafis, animasi, dan pembuatan konten media sosial menjadi alat penting untuk membawa batik ke audiens global. “Digitalisasi adalah keniscayaan, dan kita sedang membangun infrastrukturnya agar bisa diakses lebih merata,” kata Faisol.

Ketiga, pengalaman kewirausahaan. Menurutnya, membangun brand lokal berbasis batik dengan pendekatan streetwear, sustainable fashion, hingga digital marketing bisa membuka pasar baru yang lebih luas. Keempat, kepekaan sosial dan lingkungan. Anak muda dinilai mampu merespons isu penting, seperti limbah industri, energi terbarukan, hingga pelestarian sungai.

Kelima, semangat aktif dan rasa bangga. “Kita perlu anak muda yang punya tujuan hidup jelas, semangat terukur, dan tak malu bermimpi besar,” tegasnya.

Faisol juga menyampaikan bahwa pemerintah telah menyiapkan banyak program lintas kementerian untuk memperkuat ekosistem batik, mulai dari Kementerian Perindustrian, Kementerian UMKM, BUMN, hingga Dekranasda.

Rangkaian Industrial Festival 2025 yang berlangsung pada 30 Juli – 3 Agustus di Pasaraya Blok M ini juga menegaskan peran batik dalam lanskap industri kreatif modern. Dengan tagline #BATIKRIZZ, festival ini menghadirkan talkshow seputar inovasi batik berkelanjutan dan teknologi yang mendukung pengrajin lokal.

Di tengah pameran dan diskusi hangat tersebut, optimisme terhadap masa depan batik Indonesia terasa nyata—dijahit oleh semangat muda, dibatik oleh kreativitas, dan diwarna oleh cita-cita besar bangsa.

Blokir Rekening PPATK Bikin Resah, Ini Kata DPR dan Pengamat

0

Kebijakan Blokir Rekening yang dilakukan PPATK tengah menjadi sorotan publik usai munculnya rencana pemblokiran terhadap rekening yang tidak aktif selama tiga bulan. Rencana ini sontak memicu perdebatan, bahkan Komisi XI DPR RI mendesak Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) segera memberi klarifikasi terbuka kepada masyarakat.

Wakil Ketua Komisi XI DPR, Dolfie OFP, menyebut bahwa wacana ini menimbulkan keresahan luas, terutama karena belum adanya informasi teknis dan kriteria jelas yang menjadi dasar pemblokiran. “Kami minta OJK dan PPATK menjelaskan secara detail agar tidak menimbulkan kekhawatiran berlebihan di masyarakat,” ujarnya di Gedung DPR RI, Jakarta.

Tujuan dan Respons Perbankan

PPATK sebelumnya mengungkap bahwa pemblokiran rekening dorman atau ‘nganggur’ bertujuan mencegah penyalahgunaan data perbankan yang kerap terjadi dalam tindak pidana, seperti pencucian uang dan pendanaan ilegal. Lembaga itu juga mencatat ada lebih dari 10 juta rekening tidak aktif yang dinilai berpotensi disalahgunakan.

Meski memiliki niat baik, langkah Blokir Rekening yang dilakukan PPATK ini menimbulkan reaksi beragam. Sejumlah bank besar seperti BNI dan BCA menyatakan siap mendukung kebijakan tersebut, namun menegaskan bahwa tindakan pemblokiran tidak bisa dilakukan sepihak. Bank tetap mengedepankan prosedur internal dan mengacu pada regulasi yang berlaku, termasuk memberikan pemberitahuan terlebih dahulu kepada pemilik rekening.

“Kami biasanya melakukan pemantauan terhadap rekening dorman dan memberikan notifikasi sebelum mengambil langkah penutupan atau pembekuan,” kata Direktur BCA, Rudy Susanto.

Perlu Sosialisasi dan Regulasi yang Jelas

Pengamat keuangan dari INDEF, Nailul Huda, menilai bahwa pemblokiran rekening dorman sebaiknya diatur secara hati-hati dan tidak tergesa-gesa. Ia menekankan pentingnya sosialisasi masif agar masyarakat memahami batasan serta cara menghindari pembekuan.

“Jika tidak ada edukasi yang jelas, maka bisa terjadi kepanikan di kalangan nasabah, terutama dari kalangan UMKM atau masyarakat kecil yang mungkin menyimpan dana darurat di rekening yang jarang digunakan,” ujar Huda.

DPR pun mengingatkan agar pemerintah dan otoritas keuangan tidak gegabah dalam menerapkan kebijakan ini. Selain aspek teknis, perlu ada jaminan perlindungan data dan hak nasabah dalam setiap proses pemblokiran.

Dengan polemik yang terus bergulir, publik kini menunggu sikap resmi dari PPATK dan OJK. Apakah kebijakan ini akan tetap dijalankan penuh, atau justru dikaji ulang dengan melibatkan lebih banyak pemangku kepentingan.

Penerapan Bisnis Model Canvas, Solusi Visual untuk Perencanaan Bisnis

Di era bisnis yang semakin dinamis, memiliki peta jalan yang jelas adalah kunci kesuksesan. Salah satu alat strategis yang kini banyak digunakan oleh pelaku usaha, mulai dari startup hingga UMKM, adalah Bisnis Model Canvas (BMC). Penerapan Bisnis Model Canvas tidak hanya membantu mengorganisir ide bisnis secara visual, tetapi juga memudahkan pengusaha dalam mengevaluasi dan mengembangkan model usaha mereka. Lantas, apa sebenarnya BMC, dan mengapa alat ini begitu penting?

Apa Itu Bisnis Model Canvas?

Bisnis Model Canvas adalah kerangka kerja visual yang dikembangkan oleh Alexander Osterwalder dan Yves Pigneur dalam buku Business Model Generation. Alat ini terdiri dari sembilan blok utama yang mencakup seluruh aspek bisnis, mulai dari nilai proposisi hingga struktur biaya. Dengan format satu halaman, BMC memungkinkan pelaku bisnis melihat gambaran besar usaha mereka secara cepat dan efektif.

9 Komponen Penting dalam Bisnis Model Canvas

  1. Customer Segments – Siapa target pasar utama?

  2. Value Propositions – Apa nilai unggulan yang ditawarkan kepada pelanggan?

  3. Channels – Bagaimana produk atau jasa didistribusikan?

  4. Customer Relationships – Bagaimana relasi dengan pelanggan dibangun?

  5. Revenue Streams – Dari mana sumber pendapatan utama?

  6. Key Resources – Sumber daya apa yang paling krusial?

  7. Key Activities – Aktivitas utama apa yang harus difokuskan?

  8. Key Partnerships – Siapa mitra strategis yang dibutuhkan?

  9. Cost Structure – Bagaimana struktur biaya operasional?

Mengapa Penerapan Bisnis Model Canvas Penting?

BMC bukan sekadar teori—alat ini telah terbukti membantu banyak bisnis, dari skala kecil hingga korporasi, dalam menyusun strategi yang terukur. Dengan Penerapan Bisnis Model Canvas, pengusaha bisa:

  • Mengidentifikasi celah pasar yang belum tergarap maksimal

  • Meminimalisir risiko melalui evaluasi model sebelum eksekusi

  • Meningkatkan efisiensi dengan fokus pada elemen kritis

Bagi UMKM dan startup, BMC menjadi solusi praktis karena tidak memerlukan dokumen bisnis plan yang rumit. Cukup dengan satu kanvas, seluruh tim bisa menyelaraskan visi tentang arah pengembangan bisnis.

Dalam dunia bisnis yang penuh ketidakpastian, memiliki peta strategi adalah keharusan. Penerapan Bisnis Model Canvas memberikan kemudahan bagi pelaku usaha untuk merancang, menguji, dan menyesuaikan model bisnis secara fleksibel. Bagi yang belum mencoba, tidak ada salahnya memulai sekarang!

UMKM Didorong Aktif Terlibat dalam Rantai Pasok Program MBG

0

Keterlibatan pelaku usaha kecil dalam Program MBG (Makan Bergizi Gratis) terus diperluas. Kementerian UMKM mendorong lebih banyak pelaku usaha mikro untuk mengambil bagian dalam rantai pasok penyediaan bahan pangan program nasional tersebut. Program MBG dinilai telah membuka ruang baru bagi pemberdayaan ekonomi warga, khususnya bagi pelaku usaha berskala kecil.

“Program MBG terbukti memberikan dampak luar biasa bagi masyarakat. Sekarang tinggal bagaimana kita mendorong lebih banyak pelaku UMKM agar ikut ambil peran,” ujar Menteri UMKM Maman Abdurahman saat meninjau salah satu UMKM pemasok MBG di Tangerang Selatan, Selasa (29/7).

Maman menilai, Program MBG untuk UMKM tidak hanya memperluas pasar, tetapi juga memperkuat rantai distribusi pangan lokal. Ia mencontohkan sebuah koperasi yang awalnya hanya digerakkan dua orang ibu rumah tangga, kini sudah mempekerjakan lebih dari 100 orang dan mampu menyuplai hingga satu ton sayuran setiap hari ke dapur SPPG (Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi).

“Kemarin mereka hanya menyuplai untuk Tangerang Selatan, sekarang sudah menjangkau Bogor,” tambah Maman.

Dorong Penguatan Manajemen dan Kualitas Suplai

Menteri Maman mengingatkan pentingnya menjaga standar kualitas dan higienitas bahan pangan, karena kesalahan sedikit saja dapat berdampak pada keberlangsungan Program MBG untuk UMKM. Ia juga meminta pelaku usaha memperkuat sisi manajemen agar kuantitas, kualitas, dan kontinuitas tetap terjaga.

Untuk mendukung hal tersebut, Kementerian UMKM telah membina 30 pelaku usaha mikro tahap awal agar memenuhi standar sebagai pemasok resmi program MBG. Salah satu mitra binaan, CV ST Jaya Mandiri, menyuplai langsung ke dapur SPPG dan turut membuka lapangan kerja baru bagi warga sekitar.

“Kami berharap, ke depan akan lebih banyak UMKM yang dibina dan mampu menjangkau pasar yang lebih luas,” kata Seno Gumelar, Co-founder CV ST Jaya Mandiri.

Tini, salah satu pekerja yang merupakan ibu rumah tangga, mengaku sangat terbantu dengan penghasilannya dari program ini. “Semoga bisa berlanjut terus. Program ini sudah jadi sumber penghasilan utama bagi banyak keluarga,” ujarnya.

Kepala SPPG Khusus Serpong Lengkong Wetan, Nindy Sabrina, juga menekankan pentingnya peran UMKM dalam menjaga kualitas makanan bergizi. SPPG yang ia pimpin mendapat predikat “SPPG Ramah UMKM” karena mayoritas pasokannya berasal dari pelaku usaha kecil.

“Setiap hari kami memasak hingga 3.500 porsi. Tanpa dukungan UMKM, itu tidak mungkin tercapai,” kata Nindy.

Dukungan terhadap keberlanjutan Program MBG untuk UMKM juga ditegaskan Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana. Menurutnya, UMKM dari berbagai daerah sudah mulai terlibat aktif, dan pemerintah akan terus membuka ruang seluas-luasnya bagi mereka untuk terlibat secara langsung dalam pemenuhan gizi masyarakat.

Heboh Blokir Rekening Nganggur, Gimana Dampaknya bagi Nasabah?

0

Blokir Rekening Nganggur menjadi isu hangat yang menyedot perhatian publik setelah Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) menyatakan bakal menonaktifkan rekening yang tidak aktif selama tiga bulan. Langkah ini disebut sebagai bagian dari upaya pengawasan transaksi keuangan sekaligus pencegahan tindak pidana, termasuk pencucian uang dan pendanaan terorisme.

Ketua PPATK, Ivan Yustiavandana, mengungkapkan bahwa fenomena rekening tidak aktif atau dormant berpotensi dimanfaatkan pihak tidak bertanggung jawab. Bahkan, dalam sejumlah kasus, rekening jenis ini kerap digunakan sebagai sarana pencucian dana hasil kejahatan. Oleh karena itu, PPATK tengah mendorong kerja sama dengan perbankan nasional agar lebih tegas dalam mengelola rekening-rekening yang sudah lama tidak dipakai bertransaksi.

Lebih lanjut, Ivan menyebut setidaknya ada 10 juta rekening bantuan sosial (bansos) yang saat ini terdeteksi dalam kondisi menganggur. Jumlah tersebut sangat besar dan dinilai berisiko tinggi apabila tidak segera ditindaklanjuti oleh pihak terkait.

Sorotan Publik dan Kontroversi Terkait Kasu Viral ini!

Namun, kebijakan blokir rekening nganggur ini tak luput dari kritik. Pengacara kondang Hotman Paris Hutapea misalnya, menyuarakan keprihatinannya atas rencana tersebut. Menurutnya, masyarakat tidak bisa dipukul rata, apalagi banyak nasabah yang membuka rekening hanya untuk keperluan tertentu seperti menerima bantuan, tabungan anak, atau pembayaran gaji pekerja informal. Ia meminta pemerintah agar meninjau ulang kebijakan ini agar tidak merugikan masyarakat kecil.

Di sisi lain, perbankan sendiri sebenarnya sudah memiliki aturan internal mengenai rekening dormant. Biasanya, jika tidak ada transaksi selama periode tertentu (umumnya 6 hingga 12 bulan), maka status rekening akan berubah dan dikenai biaya administrasi tambahan. Namun dengan keterlibatan PPATK, pendekatan yang dilakukan kini lebih terfokus pada aspek keamanan dan deteksi dini aktivitas ilegal.

PPATK menegaskan bahwa tindakan pemblokiran akan dilakukan secara selektif dan berdasarkan hasil analisis menyeluruh. Nasabah masih memiliki kesempatan untuk mengaktifkan kembali rekeningnya jika memang masih dibutuhkan. Lembaga tersebut juga mengimbau masyarakat untuk lebih aktif memantau rekening miliknya agar tidak terdampak aturan ini.

Sejumlah bank besar pun mulai menyosialisasikan hal ini melalui media sosial dan layanan pelanggan. Mereka meminta nasabah untuk melakukan setidaknya satu transaksi setiap tiga bulan agar rekening tetap aktif.

Meski menimbulkan kontroversi, kebijakan ini dianggap sejalan dengan upaya memperkuat integritas sistem keuangan nasional. Pemerintah juga menekankan bahwa kebijakan ini tidak dimaksudkan untuk merampas dana milik masyarakat, melainkan lebih pada tujuan pengamanan dan efisiensi sistem finansial di tengah maraknya kejahatan digital.

Pusing Milih Bisnis Sendiri atau Bisnis Partner? Simak Dulu Ini!

Banyak orang bermimpi punya usaha sendiri, tapi saat waktunya benar-benar mulai, muncul satu pertanyaan penting: Bisnis sendiri atau bisnis partner? Keduanya punya kelebihan dan kekurangan yang bisa menentukan arah kesuksesan jangka panjang. Apakah lebih nyaman bergerak bebas sebagai solopreneur, atau lebih strategis membangun bersama partner? Ini bukan soal benar atau salah, tapi soal gaya dan kesiapan.

Bicara soal bisnis sendiri atau bisnis partner, keputusan ini seringkali lebih personal daripada teknis. Ada yang merasa lebih aman membagi beban, ada juga yang lebih percaya pada kemampuan diri sendiri dan tidak mau repot berbagi keputusan.

Keuntungan dan Tantangan dari Membangun Bisnis sendiri atau Bisnis Bersama Partner

  • Jalani Sendiri: Kebebasan Penuh, Tapi Beban Juga Penuh

Menjadi solopreneur artinya kamu adalah pemimpin, eksekutor, hingga pengambil keputusan utama. Kebebasan dalam menentukan arah bisnis tentu jadi daya tarik utama. Nggak perlu rapat panjang atau diskusi alot untuk ambil keputusan. Semua bisa dieksekusi secepat ide muncul.

Tapi di balik itu, semua risiko juga ada di pundak sendiri. Ketika kehabisan ide, kehilangan motivasi, atau menghadapi masalah teknis, kamu harus cari solusinya sendiri. Belum lagi tekanan finansial yang mungkin lebih terasa karena tidak ada yang diajak berbagi modal atau kerugian.

  • Bareng Partner: Berbagi Peran, Berbagi Risiko

Punya partner dalam bisnis bisa memperkuat eksekusi dan mempercepat pertumbuhan. Kamu bisa membagi fokus: satu urus operasional, satu lagi fokus pemasaran. Bahkan secara psikologis, banyak pengusaha merasa lebih “kuat” ketika punya rekan yang bisa diajak brainstorming atau sekadar curhat soal beban kerja.

Namun, bisnis dengan partner juga butuh komitmen komunikasi dan kesepakatan yang jelas sejak awal. Visi yang tidak sejalan bisa jadi sumber konflik. Banyak bisnis bubar bukan karena ide gagal, tapi karena partner pecah kongsi.

  • Apa yang Harus Dipertimbangkan?

Sebelum memutuskan, coba jawab beberapa pertanyaan ini:

  1. Apakah kamu lebih suka bekerja sendiri atau berkolaborasi?

  2. Apakah kamu punya skill yang lengkap, atau justru butuh orang lain untuk saling melengkapi?

  3. Siapkah kamu berbagi keuntungan dan keputusan?

  4. Apakah kamu punya cukup modal untuk berjalan sendiri, atau lebih aman jika berbagi beban awal dengan partner?

Kalau kamu memilih punya partner, pastikan semua dibicarakan di awal: dari pembagian tugas, pengambilan keputusan, hak kepemilikan, sampai skenario terburuk seperti ingin keluar dari bisnis.

Sebaliknya, jika ingin solo, pastikan punya jaringan support yang kuat: mentor, komunitas, atau freelancer yang bisa bantu ketika beban kerja membludak.

Baik bisnis sendiri atau bisnis partner, yang paling penting adalah bagaimana kamu bisa konsisten dan berkomitmen. Banyak solopreneur sukses karena fokus dan lincah. Banyak juga bisnis partnership berkembang pesat karena kolaborasi yang solid. Yang penting bukan jumlah orang di awal, tapi bagaimana kamu menjalankan dan menyesuaikan strategi saat tantangan datang.

Kalau masih ragu, mungkin bisa mulai dari kecil sebagai solopreneur, dan seiring waktu buka peluang untuk kolaborasi ketika bisnis mulai tumbuh.

Daya Saing Kopi Nasional Meningkat, Ekspor Komoditas Kopi Tembus Tiongkok

0

Ekspor komoditas kopi Indonesia terus menunjukkan tren positif. Terbaru, sebanyak 57,6 ton kopi robusta dilepas dari Gudang Sistem Resi Gudang (SRG) Subang menuju Tiongkok. Langkah ini menegaskan bahwa ekspor komoditas kopi kian terdorong lewat pemanfaatan SRG sebagai instrumen strategis yang dikelola oleh Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti), di bawah naungan Kementerian Perdagangan.

Wakil Menteri Perdagangan, Dyah Roro Esti Widya Putri, saat pelepasan ekspor pada Senin (28/7), menyebut bahwa SRG bukan sekadar sarana tunda jual, melainkan juga menjadi alat pemberdayaan dan penguat posisi perdagangan komoditas Indonesia di pasar internasional. Ekspor kali ini dilakukan oleh Koperasi Produsen Gunung Luhur Berkah (KPGLB) untuk perusahaan asal Tiongkok, Zhanjiang Fruit Home Trading Co. Ltd, dengan nilai transaksi mencapai USD 264.960 atau sekitar Rp4,31 miliar.

Sistem Resi Gudang Perkuat Daya Saing Komoditas Nasional

Menurut Wamendag Roro, penggunaan SRG memberikan keunggulan kompetitif yang nyata. Kualitas dan kuantitas komoditas tersertifikasi karena telah melalui pengujian sebelum disimpan, menjadikannya jaminan kepercayaan bagi pembeli global. “SRG bukan solusi domestik semata, tapi juga respons strategis atas kebutuhan pasar dunia akan mitra dagang yang kredibel,” ujarnya.

Hingga kini, KPGLB telah menjalin kontrak ekspor komoditas kopi dengan sejumlah negara, termasuk Mesir, Uni Emirat Arab, Arab Saudi, Lebanon, Vietnam, dan kini Tiongkok sebagai pasar terbarunya. Roro menegaskan bahwa peluang ekspor semakin terbuka, terlebih di tengah meningkatnya permintaan global dan tantangan perubahan iklim yang mengganggu pasokan.

Data Kementerian Perdagangan menunjukkan bahwa neraca perdagangan Indonesia masih mencatat surplus pada Semester I-2025. Ekspor nonmigas pada Mei 2025 saja mencapai USD 24,61 miliar, naik 9,68 persen secara tahunan.

Kepala Bappebti Tirta Karma Senjaya menjelaskan, implementasi SRG terus mengalami pertumbuhan positif. Selama periode 2020–2024, nilai transaksi SRG tumbuh rata-rata 112 persen. Sementara pada 2025, hingga 16 Juli, transaksi telah mencapai Rp583,84 miliar, dengan pembiayaan sebesar Rp285,9 juta yang disalurkan oleh tujuh lembaga, baik bank maupun non-bank, seperti Bank BRI, BJB, BSI, dan PT Kliring Perdagangan Berjangka Indonesia.

Sejauh ini, pelaksanaan SRG telah mencakup 27 jenis komoditas dari sektor pertanian, perikanan, peternakan, hingga pertambangan. Dari jumlah tersebut, 18 komoditas telah memanfaatkan skema Resi Gudang, termasuk kopi. Program ini sudah menjangkau 138 kabupaten/kota di 25 provinsi di seluruh Indonesia.

“Pelepasan ekspor kopi hari ini menunjukkan bahwa dengan pengelolaan SRG yang tepat, pelaku usaha lokal dapat langsung mengakses pasar ekspor dan meningkatkan daya saing komoditas nasional,” tutup Wamendag Roro.