Kamis, Mei 7, 2026
Top Mortar Gak Takut Hujan
Beranda blog Halaman 75

Masihkah Cuan? Mining Kripto Menggunakan VGA di Era Sekarang

Beberapa tahun lalu, demam mining kripto menggunakan VGA sempat mengguncang dunia digital. Para gamer kesal karena stok VGA menghilang, sementara para miner berburu kartu grafis untuk merakit rig penambangan. Harga VGA naik tajam dan sulit ditemukan. Kini, tren itu mereda. Tapi dengan kondisi pasar yang mulai stabil dan harga VGA yang tidak lagi “selangit”, muncul pertanyaan baru: apakah mining kripto menggunakan VGA masih layak untuk dijalankan di masa sekarang, bahkan mungkin di masa depan?

Tren penambangan koin digital memang dinamis. Ketika harga kripto melambung, minat untuk mining ikut melonjak. Namun, saat profit mulai tipis dan persaingan makin ketat, banyak rig yang berakhir dijual murah atau jadi “penghangat ruangan”. Meski begitu, kondisi pasar yang terus berubah membuat peluang ini belum sepenuhnya tertutup.

Melihat Peluang dari Kaca Mata Teknologi dan Ekonomi

Salah satu hal yang bisa menghidupkan kembali tren mining adalah harga VGA yang kini jauh lebih rasional. Beberapa kartu grafis kelas menengah ke atas seperti RTX 3060 atau RX 6600 XT bisa didapatkan dengan harga di bawah 5 juta. Ini membuka pintu bagi pemula atau pelaku lama yang ingin mencoba kembali peruntungan di dunia mining tanpa harus mengeluarkan modal besar.

Namun, yang perlu diperhatikan bukan hanya harga VGA. Biaya listrik dan harga koin yang ingin ditambang juga jadi pertimbangan krusial. Beberapa altcoin seperti Ethereum Classic, Ravencoin, atau Ergo masih bisa ditambang dengan VGA. Tapi dengan reward yang makin kecil dan kesulitan mining yang makin tinggi, untung-rugi perlu dihitung cermat. Jangan sampai biaya listrik malah menggerus semua potensi cuan.

Faktor lain yang bisa memicu tren ini hidup kembali adalah munculnya koin-koin baru yang bisa ditambang dengan GPU, serta meningkatnya kesadaran akan desentralisasi keuangan. Jika ada lonjakan harga koin atau muncul teknologi blockchain baru yang mengandalkan GPU mining, bukan tak mungkin euforia mining akan kembali seperti masa lalu.

Potensi Masih Ada, Tapi Perlu Kamu Hitung Untung dan Ruginya!

Jadi, apakah mining kripto dengan VGA akan kembali populer? Jawabannya: mungkin. Tapi tidak semudah dulu. Saat ini, dibutuhkan strategi, riset, dan perhitungan matang agar tetap untung. Meski peluang masih terbuka, pemain baru perlu hati-hati agar tidak hanya ikut tren sesaat.

Literasi Keuangan Bagi UMKM Jadi Prioritas OJK Hadapi Era Digital

0

Upaya memperkuat Literasi Keuangan Bagi UMKM terus digenjot Otoritas Jasa Keuangan (OJK), salah satunya melalui kegiatan Digital Financial Literacy yang berlangsung di Lasnur Convention Hall, Tegal, Kamis (7/8). Kegiatan ini menjadi bagian dari program nasional GENCARKAN—Gerakan Nasional Cerdas Keuangan—yang menyasar pelaku UMKM sebagai garda terdepan ekonomi Indonesia.

Melalui program ini, OJK berkomitmen untuk memperluas akses serta memperdalam pemahaman pelaku usaha terhadap layanan dan instrumen keuangan, utamanya dalam aspek digital. Gencarnya Literasi Keuangan Bagi UMKM menjadi salah satu strategi kunci mendorong ketahanan ekonomi lokal dan nasional di tengah disrupsi teknologi serta maraknya kejahatan finansial digital.

Perlindungan Dimulai dari Pemahaman

Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi, dan Perlindungan Konsumen OJK, Friderica Widyasari Dewi, mengingatkan pentingnya pemahaman keuangan digital sebagai langkah awal perlindungan diri. Menurutnya, edukasi menjadi tameng pertama bagi masyarakat menghadapi maraknya penipuan berbasis teknologi.

“OJK terus berupaya melindungi konsumen, tetapi perlindungan terbaik tetap berasal dari diri sendiri. Di era digital seperti sekarang, masyarakat harus mampu mengenali mana layanan keuangan yang legal dan mana yang abal-abal,” tegas Friderica.

Program GENCARKAN juga menjadi sarana OJK mendorong UMKM untuk lebih adaptif terhadap teknologi, mulai dari penggunaan e-wallet, pencatatan transaksi secara digital, hingga pemasaran lewat platform daring.

Peran UMKM dalam Ekonomi Nasional

Pelaku UMKM yang mencapai lebih dari 66 juta unit usaha memegang peranan penting dalam perekonomian. Mereka berkontribusi sekitar 61 persen terhadap PDB Indonesia dan menyerap hampir 97 persen tenaga kerja nasional. Sayangnya, kontribusi mereka terhadap ekspor masih di angka 15,7 persen.

Sepanjang 2025, GENCARKAN telah menjangkau 70 ribu lebih peserta melalui 1.167 kegiatan yang tersebar di 180 kabupaten dan kota. Angka ini menunjukkan upaya serius dalam menciptakan pemerataan pemahaman keuangan di berbagai wilayah, termasuk Tegal.

Bupati Tegal melalui Asisten II Ekonomi Pembangunan, Joko Kurnianto, menyampaikan apresiasi atas langkah OJK memfasilitasi UMKM dalam memahami literasi keuangan digital yang masih tergolong baru bagi banyak pelaku usaha.

Senada dengan itu, anggota Komisi XI DPR RI Harris Turino juga mengajak seluruh pelaku UMKM di Tegal untuk bersama menjaga ekosistem keuangan digital tetap sehat. Ia menekankan pentingnya kolaborasi dan literasi demi terciptanya pertumbuhan ekonomi yang inklusif.

Hadir pula dalam kegiatan ini sejumlah pejabat seperti Kepala Departemen Literasi, Inklusi Keuangan dan Komunikasi OJK M. Ismail Riyadi, Kepala OJK Tegal Noviyanto Utomo, serta Direktur Operations Bank Tabungan Negara I Nyoman Sugiri Yasa. Acara ini diikuti lebih dari 400 peserta dari berbagai kalangan, termasuk pelaku UMKM, mahasiswa, dan ibu rumah tangga.

Untuk menunjang edukasi, OJK juga menyediakan booth LMS Edukasi Keuangan (lmsku.ojk.go.id) dan PUJK guna membantu peserta mengenal lebih dalam produk-produk keuangan yang tersedia.

Harga Minyak Dunia yang Melemah Imbas Tarik Ulur Trump, India, dan Rusia

0

Harga Minyak Dunia yang Melemah terus menjadi sorotan pasar global sepanjang pekan ini. Sentimen negatif datang dari sejumlah faktor, mulai dari ketegangan dagang antara Amerika Serikat dan India, hingga potensi pertemuan antara Donald Trump dan Presiden Rusia Vladimir Putin. Tekanan juga datang dari kebijakan tarif baru yang diberlakukan AS terhadap sejumlah mitra dagangnya, memicu kekhawatiran akan turunnya permintaan energi global.

Berdasarkan data terkini, harga minyak Brent melemah di bawah level USD 82 per barel, mencatat penurunan mingguan terbesar sejak Juni 2025. Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) juga menunjukkan tren serupa dengan koreksi harga yang signifikan. Ketidakpastian pasar kian diperparah oleh sikap agresif AS dalam memperketat kebijakan tarif, yang secara tidak langsung menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi global.

Analis mencatat bahwa dinamika geopolitik memiliki andil besar dalam mendorong harga minyak dunia yang melemah. Salah satu pemicunya adalah langkah Amerika Serikat yang kembali memberlakukan bea masuk tinggi untuk produk asal India dan Tiongkok. Ketegangan ini menimbulkan kekhawatiran terhadap stabilitas perdagangan internasional dan menekan sentimen investor di sektor energi.

Isu Pertemuan Trump-Putin dan Tekanan Tambahan ke Pasar Energi

Di sisi lain, spekulasi mengenai kemungkinan pertemuan Trump dan Putin juga menambah tekanan terhadap pasar. Banyak pihak menilai bahwa pembicaraan tersebut berpotensi mengarah pada kebijakan yang berdampak langsung terhadap produksi dan distribusi minyak global. Meski belum ada pernyataan resmi terkait agenda pertemuan itu, pasar telah bereaksi dengan antisipasi negatif.

Faktor teknikal juga ikut memperburuk kondisi. Beberapa analis mencatat bahwa pergerakan harga sudah menyentuh titik jenuh beli (overbought) dalam beberapa pekan terakhir, yang memperbesar potensi koreksi. Di tengah kondisi ini, para pelaku pasar mulai mengambil langkah hati-hati dan menahan diri dari aktivitas spekulatif.

Kondisi ini menjadi tantangan baru bagi negara-negara produsen minyak, terutama mereka yang bergantung pada harga komoditas untuk menjaga stabilitas fiskal. Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan sekutunya pun diperkirakan akan melakukan evaluasi ulang terhadap kebijakan produksinya guna merespons fluktuasi yang terjadi.

Dengan berbagai tekanan yang ada, harga minyak dunia diperkirakan masih akan bergerak fluktuatif dalam waktu dekat. Pasar global kini menantikan kepastian dari sisi kebijakan dan arah geopolitik, yang akan menjadi penentu utama pergerakan harga energi dalam beberapa minggu ke depan.

Cuma Modal 5 Juta? Tenang, Bisnis Sampingan Ini Bisa Jadi Solusi

Punya tabungan lima juta tapi bingung mau dipakai buat apa? Daripada habis begitu aja, kenapa nggak coba dimanfaatkan untuk memulai usaha kecil-kecilan? Banyak kok pilihan bisnis sampingan modal 5 juta yang bisa dijalankan meskipun sambil tetap bekerja. Jangan anggap remeh, karena dari usaha kecil ini bisa aja berkembang jadi sumber penghasilan utama di masa depan.

Sekarang, tren orang cari tambahan penghasilan makin tinggi. Apalagi di era digital kayak sekarang, semua bisa dilakukan serba fleksibel. Nah, pertanyaannya: bisnis apa yang cocok dan realistis dengan modal lima jutaan?

Ide Bisnis Sampingan yang Cocok dengan Modal Hanya 5 Juta

  1. Jualan Makanan Ringan atau Frozen Food
    Modal segini sudah cukup untuk belanja bahan baku, kemasan, dan bahkan daftar di aplikasi ojol. Kamu bisa mulai dari rumah dan menargetkan lingkungan sekitar dulu.

  2. Usaha Laundry Kiloan Skala Kecil
    Modal 5 juta bisa dialokasikan buat beli mesin cuci, timbangan, dan sabun. Lokasinya nggak harus di ruko, cukup di rumah asal aksesnya mudah.

  3. Jasa Cuci Motor Panggilan
    Hanya butuh peralatan semprot dan sabun khusus, kamu sudah bisa memulai. Promosinya bisa lewat grup WhatsApp komplek atau media sosial lokal.

  4. Bisnis Print-on-Demand (Kaos, Tote Bag, Mug)
    Modalnya digunakan untuk kerja sama dengan vendor dan membuat desain. Kamu hanya perlu jadi perantara kreatif dan pemasaran.

  5. Jualan Online Produk Titipan (Reseller)
    Nggak harus stok barang banyak. Pilih produk dengan permintaan tinggi seperti skincare, aksesoris, atau makanan kekinian. Manfaatkan Instagram dan TikTok buat branding-nya.

  6. Budidaya Tanaman atau Ikan Hias
    Kalau punya lahan atau akuarium bekas, ini bisa jadi peluang. Tanaman hias seperti monstera, atau ikan cupang dan guppy masih punya pasar loyal.

Yang penting, sesuaikan pilihan bisnis dengan waktu luang dan minat kamu. Karena biar bagaimanapun, bisnis sampingan tetap butuh konsistensi dan perhatian.

Tips Memaksimalkan Bisnis Sampingan dengan Modal Terbatas

  • Mulai dari yang kamu suka. Bisnis yang dijalani dengan passion lebih tahan banting.

  • Manfaatkan platform gratis. Instagram, TikTok, dan Google Bisnisku bisa bantu branding tanpa biaya.

  • Fokus di pelayanan. Walaupun kecil, kesan profesional harus tetap dijaga.

  • Riset pasar sederhana. Cari tahu apa yang banyak dicari orang di sekitar kamu, jangan asal jual.

Intinya, bisnis sampingan modal 5 juta itu sangat mungkin dijalankan asal tahu strateginya. Nggak perlu nunggu kaya dulu buat mulai usaha. Yang penting mulai dari sekarang, dari yang kecil, dan dari yang kamu bisa.

Inklusi Ekonomi Lewat UMKM, Penyandang Disabilitas Harus Punya Akses Berwirausaha

0

Upaya membangun ekonomi inklusif di Indonesia terus diperkuat. Salah satunya melalui dukungan pemerintah bagi penyandang disabilitas untuk berwirausaha, yang dinilai memiliki peran besar dalam perekonomian nasional. Menteri Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), Maman Abdurrahman, menegaskan pentingnya menciptakan ruang yang lebih luas dan setara bagi penyandang disabilitas berwirausaha, termasuk akses pelatihan dan pembiayaan.

Dalam acara Gebyar Perkumpulan Orang Tua Anak Disabilitas Indonesia (Portadin) bertema “Ekosistem Inklusif: Pendidikan dan Peluang Usaha Berbasis Disabilitas”, yang digelar di Jakarta pada Kamis (7/8), Maman menyebut hak berwirausaha merupakan bagian dari hak dasar penyandang disabilitas yang dilindungi oleh negara.

“Dalam Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016, ada empat hak utama penyandang disabilitas: hak atas pekerjaan, pendidikan, aksesibilitas, dan kewirausahaan. Negara berkewajiban menghadirkan keadilan dalam hal ini,” ujar Maman.

Pemerintah Dorong Ekosistem Wirausaha yang Ramah Disabilitas

Maman menyoroti bahwa kewirausahaan harus menjadi sarana utama dalam mendukung kemandirian ekonomi kelompok disabilitas. Menurutnya, pemerintah perlu menjalankan kebijakan afirmatif yang mampu memperluas akses dan peluang usaha, terutama di sektor UMKM.

Namun, ia juga mengakui masih banyak perusahaan yang belum sepenuhnya terbuka terhadap penyandang disabilitas karena persoalan kompetensi yang dianggap belum sesuai dengan kebutuhan industri.

Di sisi lain, tantangan bagi pelaku UMKM disabilitas tidak berhenti di situ. Beberapa hambatan besar masih dihadapi, mulai dari sulitnya akses ke lembaga keuangan dan perbankan, keterbatasan adopsi teknologi, hingga rendahnya daya saing produk di pasar.

“Fakta di lapangan menunjukkan hanya 24,3 persen penyandang disabilitas berusia 15 tahun ke atas yang memiliki rekening bank, dan hanya 14,2 persen yang mengakses kredit perbankan. Ini masih sangat rendah,” jelas Maman, mengutip data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) BPS tahun 2020.

Akses Digital dan Kolaborasi Jadi Kunci

Kendala lain yang cukup krusial adalah rendahnya penggunaan teknologi digital di kalangan penyandang disabilitas. Masih berdasarkan data BPS 2020, hanya 1,1 persen dari mereka yang menggunakan internet, sebuah angka yang menggambarkan masih lebarnya kesenjangan digital.

Padahal, dari sekitar 22,9 juta penyandang disabilitas di Indonesia—sekitar 8,5 persen dari total populasi—lebih dari separuhnya atau 52,65 persen tercatat sebagai pelaku usaha.

Maman menekankan, kolaborasi lintas sektor perlu terus diperkuat agar para penyandang disabilitas tak hanya punya akses pelatihan, tetapi juga mampu tumbuh sebagai pelaku usaha mandiri yang tangguh. “Ini bukan semata soal peluang usaha, tetapi juga soal keadilan sosial dan pengakuan atas hak warga negara,” tegasnya.

Kebijakan Pro Industri Dinilai Mampu Dongkrak Kinerja Manufaktur Nasional

0

Kementerian Perindustrian menyatakan bahwa pertumbuhan industri manufaktur nasional pada kuartal II 2025 sudah mencerminkan kinerja positif yang nyata, dan akan semakin meningkat jika kebijakan pro industri diterapkan secara konsisten. Penegasan ini disampaikan menyusul adanya kritik dari sejumlah ekonom mengenai data pertumbuhan industri yang dirilis BPS dan dianggap tak sejalan dengan hasil PMI versi S&P Global. Menurut Kemenperin, capaian industri telah sesuai dengan indikator valid seperti Indeks Kepercayaan Industri (IKI), Prompt Manufacturing Index dari Bank Indonesia (PMI BI), serta data investasi dan ekspor.

Juru Bicara Kemenperin, Febri Hendri Antoni Arief, menegaskan bahwa pertumbuhan sebesar 5,60 persen pada sektor industri pengolahan nonmigas secara tahunan sudah menunjukkan kekuatan industri nasional. “IKI dan PMI BI menunjukkan tren ekspansif selama kuartal II 2025. Belanja modal di sektor manufaktur juga meningkat. Ini sinyal kuat,” ujar Febri di Jakarta, Rabu (6/8).

Indikator Kuat Validasi Kinerja Industri

Berdasarkan laporan Badan Pusat Statistik (BPS), industri pengolahan nonmigas tumbuh 5,60 persen (year-on-year) pada kuartal II tahun ini, melampaui pertumbuhan ekonomi nasional yang berada di angka 5,12 persen. Kontribusi sektor ini terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) juga naik dari 16,72 persen di kuartal II-2024 menjadi 16,92 persen pada periode yang sama tahun 2025.

Indeks Kepercayaan Industri (IKI) pada Juli 2025 tercatat sebesar 52,89—naik 1,05 poin dibandingkan bulan sebelumnya dan 0,49 poin lebih tinggi dari periode yang sama tahun lalu. Menurut Febri, data tersebut menunjukkan bahwa pelaku industri nasional tetap optimistis, meski menghadapi tekanan global dan pelemahan ekonomi di negara mitra dagang utama seperti Amerika Serikat, Eropa, Jepang, dan Tiongkok.

Dorongan Investasi dan Lapangan Kerja

Kinerja industri juga tampak dari geliat pembangunan fasilitas baru. Selama semester I-2025, sebanyak 1.641 perusahaan melaporkan pembangunan fasilitas produksi melalui Sistem Informasi Industri Nasional (SIINas), dengan total investasi mencapai Rp803,2 triliun. Aktivitas ini berdampak langsung pada penciptaan lapangan kerja baru bagi sekitar 303.000 orang—angka yang jauh melebihi data pemutusan hubungan kerja dari lembaga lain.

“Kalau tanpa dukungan kebijakan pro industri saja pertumbuhan bisa mencapai 5,60 persen, bayangkan bila kebijakan yang mendukung manufaktur dalam negeri diterapkan secara menyeluruh. Potensinya bisa jauh lebih besar,” jelas Febri.

Beberapa langkah yang dimaksud meliputi pengendalian impor produk jadi, pengalihan pelabuhan masuk untuk produk impor ke kawasan Indonesia Timur, kemudahan pasokan bahan baku seperti gas industri, serta pengurangan kuota distribusi produk dari Kawasan Berikat ke pasar domestik.

Febri juga menjelaskan bahwa dalam merumuskan kebijakan, Kemenperin tidak menjadikan PMI dari S&P Global sebagai acuan utama, melainkan menggunakan IKI dan PMI BI yang dinilai lebih akurat dan representatif. Survei IKI mencakup rata-rata 3.100 perusahaan industri per bulan, dibandingkan sekitar 500 perusahaan dalam survei S&P Global.

IKI dihimpun dari pelaku industri di 23 subsektor manufaktur dan mencakup aspek produksi, permintaan ekspor dan domestik, utilisasi kapasitas, tenaga kerja, hingga ekspektasi usaha ke depan. Dengan data primer yang dianalisis oleh pakar statistik dari IPB dan ekonom UI, IKI menjadi basis kuat bagi kebijakan industri nasional yang berkelanjutan dan terukur.

Budidaya Maggot, Bisnis Kecil dengan Target Pasar yang Luas

Siapa sangka larva kecil seperti maggot bisa jadi peluang usaha yang menguntungkan? Semakin hari, minat masyarakat terhadap budidaya maggot makin meningkat karena dianggap sebagai salah satu solusi bisnis berkelanjutan yang murah, mudah, dan punya potensi cuan besar. Tapi tentu saja, pertanyaan utamanya tetap: apa sih fungsi maggot sebenarnya dan siapa saja target pasar budidaya maggot yang paling potensial?

Maggot, yang merupakan larva dari lalat Black Soldier Fly (BSF), dikenal punya kemampuan luar biasa dalam mengurai sampah organik. Selain itu, kandungan nutrisinya yang tinggi membuatnya jadi primadona untuk pakan ternak, terutama unggas dan ikan. Nah, di sinilah peluang bisnis terbuka lebar. Dengan sedikit lahan dan peralatan sederhana, siapa pun bisa memulai budidaya maggot dan menyasar target pasar budidaya maggot yang cukup luas.

Siapa Saja yang Jadi Target Utama?

Kalau bicara soal siapa yang bisa jadi pembeli potensial maggot, jawabannya cukup beragam. Mulai dari pelaku usaha peternakan, pemilik kolam ikan, hingga pabrik pengolahan pakan. Mereka adalah pembeli utama yang mencari pakan alternatif berkualitas, tapi dengan harga yang lebih ekonomis. Di era sekarang, banyak peternak mulai beralih ke pakan alami seperti maggot karena dianggap lebih ramah lingkungan dan hasil ternaknya pun lebih sehat.

Selain itu, beberapa pelaku industri pupuk organik juga mulai melirik maggot sebagai bahan campuran kompos atau bio-aktivator. Maggot yang sudah diolah menjadi kasgot (kotoran maggot) ternyata mengandung unsur hara tinggi yang baik untuk tanah dan tanaman. Ini membuat pasar pertanian juga bisa menjadi ladang peluang baru.

Jangan lupa, instansi pemerintah dan komunitas lingkungan pun tak jarang melirik budidaya maggot sebagai bagian dari program pengolahan sampah organik. Jika kamu bisa menawarkan kerja sama dengan konsep yang kuat, potensi pasarnya bisa makin luas.

Modal Kecil, Untung Lumayan

Salah satu alasan mengapa budidaya maggot digemari adalah karena tidak butuh modal besar. Cukup dengan kontainer sederhana, bibit BSF, dan limbah organik (sisa sayur, buah, atau nasi basi), kamu sudah bisa memulai. Biayanya minim, tapi hasil panennya bisa dijual terus-menerus. Dalam waktu 2–3 minggu, maggot sudah bisa dipanen dan dijual, baik dalam bentuk segar, kering, maupun diolah.

Kunci suksesnya ada pada konsistensi dalam perawatan serta pemahaman soal siklus hidup BSF. Kalau dikelola dengan baik, budidaya ini bisa menghasilkan ratusan ribu hingga jutaan rupiah per bulan, tergantung skala usaha dan jaringan pasar yang dimiliki.

Budidaya maggot memang terdengar sederhana, tapi justru di situlah keunikannya. Dengan memanfaatkan limbah, kamu bisa menciptakan peluang bisnis yang tidak hanya menguntungkan, tapi juga berdampak positif bagi lingkungan. Yang terpenting adalah mengenali target pasar budidaya maggot dengan tepat, lalu fokus membangun kualitas produksi dan branding usaha.

Pelaku Industri Sektor Kosmetik Jadi Motor Inovasi Lokal, Gimana Strategi Pemerintah?

0

Upaya pemerintah dalam memperkuat industri nasional terus digalakkan, salah satunya lewat peningkatan daya saing pelaku industri sektor kosmetik dan obat tradisional. Melalui Direktorat Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA), Kementerian Perindustrian konsisten memberikan pembinaan agar para pelaku usaha, terutama yang tergolong IKM, mampu naik kelas dan bersaing di level nasional maupun internasional.

Direktur Jenderal IKMA, Reni Yanita, menyatakan bahwa memperluas skala usaha menjadi hal penting yang perlu dilakukan agar pelaku IKM tidak hanya bertahan, tetapi juga berkembang secara berkelanjutan. Menurutnya, dengan naik kelas, pelaku industri sektor kosmetik tak hanya meningkatkan daya saing, tapi juga memperluas akses pasar dan berkontribusi nyata terhadap perekonomian nasional.

“Pertumbuhan IKM seharusnya tidak hanya dilihat dari sisi kuantitas, tapi juga kualitas. Ketika sebuah IKM mampu menjadi merek yang dikenal luas, maka dampaknya akan dirasakan hingga ke level konsumen dan perekonomian secara keseluruhan,” ujar Reni dalam keterangan tertulis, Selasa (5/8).

Dominasi IKM dan Kinerja Ekspor Menjanjikan

Saat ini, sektor kosmetik dan obat tradisional berada dalam posisi yang cukup strategis dalam peta industri manufaktur nasional. Selain jumlah pelakunya yang besar, sektor ini juga menunjukkan potensi nilai ekonomi yang menjanjikan. Berdasarkan data 2024, tercatat ada 1.292 industri kosmetik di Indonesia, di mana sekitar 89% di antaranya berasal dari kalangan IKM. Untuk industri obat tradisional, dari 1.043 unit usaha yang terdata, 86% juga dikuasai oleh pelaku IKM.

Tak hanya unggul dalam jumlah, kinerja ekspor juga menunjukkan tren positif. Sepanjang 2024, produk kosmetik Indonesia berhasil mencatatkan nilai ekspor mencapai USD 410,7 juta. Sementara produk obat tradisional menyumbang ekspor senilai USD 6,9 juta, dengan negara tujuan utama seperti Taiwan, Malaysia, dan Filipina.

Meski begitu, Reni mengakui masih banyak tantangan yang dihadapi, mulai dari keterbatasan teknologi dan kapasitas produksi, kurangnya pemahaman terkait perizinan seperti BPOM, hingga strategi pemasaran dan branding yang belum optimal.

Program Pembinaan dan Kolaborasi Strategis

Untuk menjawab tantangan tersebut, Ditjen IKMA telah menggulirkan berbagai program pembinaan yang dirancang agar IKM di sektor ini bisa berkembang. Mulai dari fasilitasi sertifikasi produk, pelatihan formulasi, hingga pendampingan standardisasi mutu dan reimburs pembelian mesin lewat program restrukturisasi industri.

Pemerintah juga mendorong kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk pelaku industri besar, akademisi, dan asosiasi. “Kami terus mendorong IKM agar bisa belajar langsung dari para pelaku industri yang telah sukses melakukan scale-up, agar terbentuk ekosistem industri yang saling menguatkan,” tambah Reni.

Salah satu langkah nyata dari kolaborasi ini adalah terselenggaranya webinar bertema “Strategi Scale-Up: Dari IKM ke Brand Nasional” pada 29 Juli 2025. Acara tersebut menghadirkan tokoh industri seperti Nurhayati Subakat (Komisaris Utama PT Paragon) dan Maria R. Hidayat (Direktur Marketing PT Sido Muncul), yang berbagi pengalaman sukses mereka dalam membesarkan bisnis.

Direktur IKM Kimia, Sandang, dan Kerajinan, Budi Setiawan, menyatakan harapannya agar forum ini menjadi wadah inspirasi dan pembelajaran. Menurutnya, ketika pelaku IKM bisa melihat dan memahami perjalanan bisnis para figur sukses, mereka akan lebih percaya diri menghadapi tantangan dalam mengembangkan usahanya.

Dengan dukungan kebijakan, kemitraan yang kuat, dan inovasi berkelanjutan, sektor kosmetik dan obat tradisional dinilai mampu menjadi pendorong industri bernilai tambah lokal yang siap menembus pasar global.

Polytron Masuk Pasar Laptop! Seri Luxia Tawarkan Fitur Premium Mulai 5 Jutaan

0

Laptop Polytron kini resmi hadir sebagai pemain baru di pasar perangkat komputasi Tanah Air. Melalui lini produk Luxia, brand elektronik lokal ini memperkenalkan tiga varian laptop yang menyasar kebutuhan berbeda namun tetap mengusung ciri khas: ringan, bertenaga, dan elegan. Kehadiran Laptop Polytron ini menjawab kebutuhan masyarakat yang mendambakan perangkat kerja stylish tanpa mengorbankan performa.

Dengan mengusung slogan “BE MORE”, Polytron Luxia hadir dalam tiga model: Luxia Pro Ultra 5, Luxia Pro i5, dan Luxia i3. Ketiganya dirancang untuk mendukung produktivitas pengguna aktif — baik untuk bekerja, belajar, maupun berkarya secara kreatif.

Varian Pro untuk Profesional Aktif dan Kreator Konten

Luxia Pro Ultra 5 menjadi varian paling premium dengan spesifikasi tinggi, mengandalkan prosesor Intel Core Ultra 5, AI Dedicated NPU, serta GPU Intel ARC. Kombinasi tersebut menjadikannya pilihan ideal bagi pengguna profesional di bidang desain grafis, editing video, hingga multitasking berat.

Dengan bobot hanya 1 kg dan bodi magnesium premium, laptop ini juga membawa layar 14 inci berpanel IPS WUXGA yang mendukung 100% sRGB. Fitur modern seperti fingerprint scanner, E-shutter untuk kamera, hingga port lengkap (HDMI 2.0, USB Type-C Full Function, dan USB 3.0) turut disematkan. Daya tahan baterainya mencapai 10 jam, menjadikannya sahabat perjalanan bagi para pekerja dinamis.

Sementara itu, Luxia Pro i5 hadir untuk konten kreator dan pengguna yang kerap mengolah foto maupun video. Ditenagai Intel Core i5 dan grafis Intel Iris Xe, performanya tetap bisa diandalkan. RAM 16GB DDR4 dan kecepatan turbo hingga 4.4GHz memastikan kinerja tetap mulus tanpa gangguan. Sama seperti varian Ultra 5, laptop ini juga menawarkan layar berkualitas tinggi dan konektivitas lengkap.

Solusi Ringan untuk Mahasiswa dan Pengguna Harian

Bagi kalangan pelajar maupun mahasiswa, Luxia i3 menjadi alternatif menarik. Dibekali prosesor Intel Core i3 serta RAM 8GB (dapat ditingkatkan hingga 64GB), laptop ini sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan akademis, streaming, hingga belajar daring. Penyimpanan SSD 256GB turut melengkapi kemampuannya sebagai perangkat belajar serbaguna.

Tak hanya itu, bodi berbahan metal, layar 14 inci WUXGA berasio 16:10, dan bobot ringan menjadikan Luxia i3 mudah dibawa ke kampus, kafe, atau ruang belajar lainnya. Port yang tersedia mencakup HDMI, USB-C, USB 3.0, dan USB 2.0, memastikan kompatibilitas dengan berbagai perangkat tambahan.

Dalam hal layanan purnajual, Polytron menghadirkan Protect Plus yang mencakup perlindungan kerusakan tak disengaja (ADP) selama dua tahun. Ditambah lagi dengan dukungan 66 service center yang tersebar di 33 provinsi, konsumen mendapat jaminan servis yang mudah dijangkau dan andal.

Program pre-order Laptop Polytron Luxia sudah dibuka secara eksklusif di platform Blibli mulai 5 hingga 15 Agustus 2025. Berikut adalah daftar harga resmi:

  • Luxia Pro Ultra 5 (16GB/512GB): Rp10.999.000

  • Luxia Pro i5 (16GB/512GB): Rp7.899.000

  • Luxia Pro i5 (16GB/256GB): Rp7.599.000

  • Luxia i3 (8GB/256GB): Rp5.499.000

Ekonomi Digital Dorong Pertumbuhan Indonesia, Target USD600 Miliar di 2030

0

Pertumbuhan Ekonomi Indonesia terus menunjukkan tren positif di tengah ketidakpastian global. Berdasarkan data terbaru, ekonomi nasional mencatatkan pertumbuhan sebesar 5,12 persen pada kuartal II tahun 2025—angka tertinggi dalam beberapa kuartal terakhir. Angka ini sekaligus menegaskan bahwa laju Pertumbuhan Ekonomi Indonesia tetap berada di jalur yang stabil, sejalan dengan optimisme pemerintah terhadap daya tahan ekonomi nasional.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan hal tersebut dalam Rapat Kerja dan Konsultasi Nasional (Rakorkernas) ke-34 APINDO yang digelar di Bandung, Selasa (5/08). Ia menuturkan bahwa pertumbuhan ini turut tercermin dari kinerja positif sejumlah perusahaan terbuka, terutama di sektor ritel, yang berhasil membukukan hasil lebih baik dibandingkan semester pertama tahun lalu.

Konsumsi dan Ekonomi Digital Jadi Motor Penggerak

Di tengah perubahan pola belanja masyarakat yang semakin selektif dan cenderung mengarah ke kanal digital, pemerintah menilai fenomena seperti “Rojali” atau “rombongan jarang beli” tidak perlu dikhawatirkan secara berlebihan. Justru, pertumbuhan di sektor ritel dan e-commerce menunjukkan bahwa konsumsi domestik masih kuat, meski cara masyarakat membelanjakan uang telah bergeser.

Airlangga juga menyoroti pentingnya sektor digital dalam mendorong ekonomi nasional. Ia menyebut bahwa secara global, ekonomi digital sudah menyumbang lebih dari 15,5 persen terhadap total PDB dunia. Di kawasan ASEAN, Indonesia bahkan menguasai sekitar 40 persen pasar ekonomi digital.

“Kalau kita lihat hampir semua sektor berbasis digital mengalami pertumbuhan signifikan. Inilah sektor yang menjadi pengungkit tambahan dalam mendorong pertumbuhan ekonomi kita,” ungkapnya. Ia pun menargetkan kontribusi ekonomi digital Indonesia bisa mencapai USD600 miliar pada 2030, beriringan dengan kerangka kerja sama DEFA yang menjadi agenda utama ASEAN.

Strategi Pemerintah Jaga Permintaan dan Sektor Eksternal

Menghadapi dinamika global, pemerintah juga telah menyiapkan sejumlah langkah konkret untuk menjaga stabilitas ekonomi. Di sisi permintaan, pemerintah meluncurkan paket stimulus ekonomi guna menjaga konsumsi dalam negeri. Sementara untuk menjaga sektor eksternal, strategi seperti kebijakan Devisa Hasil Ekspor (DHE), negosiasi dagang, serta perluasan perjanjian dagang seperti CEPA dan FTA terus dioptimalkan.

Tak hanya itu, Airlangga menambahkan bahwa industri padat karya yang terdampak tarif ekspor juga mendapat perhatian khusus melalui skema Kredit Industri Padat Karya. Skema ini ditujukan untuk membantu industri merevitalisasi peralatan dan meningkatkan efisiensi produksi.

Dalam konteks global, posisi Indonesia semakin strategis berkat pendekatan politik luar negeri yang bebas aktif. Indonesia aktif berperan dalam forum-forum internasional seperti G20, BRICS, RCEP, hingga ASEAN, dan saat ini tengah berupaya bergabung dalam OECD dan CPTPP.

“Saya optimis, jika seluruh pelaku usaha tetap menjaga semangat dan keyakinan terhadap prospek ekonomi nasional, maka target pertumbuhan yang dicanangkan pemerintah bukan hal yang mustahil untuk dicapai,” tutup Airlangga dalam sambutannya.