Jumat, September 4, 2026
Top Mortar Gak Takut Hujan
Beranda blog Halaman 120

Demo Sopir Truk Muncul di Berbagai Daerah, Aptrindo Kritik Langkah Pemerintah

0

Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia (Aptrindo) angkat bicara terkait protes serta demo yang digelar sejumlah sopir truk di berbagai wilayah. Aksi ini disebut dipicu oleh ketidakpuasan para sopir terhadap kebijakan pengetatan pengawasan truk Over Dimension and Over Load (ODOL) yang dilakukan Korps Lalu Lintas (Korlantas) Polri.

“Aksi protes ini muncul karena adanya keresahan di kalangan sopir akibat pembatasan ODOL yang kini ditegakkan secara ketat oleh pihak Korlantas,” jelas Agus Pratiknyo, Wakil Sekretaris Jenderal Aptrindo kepada CNBC Indonesia, Kamis (19/6/2025).

Menurut Agus, para sopir merasa ditinggalkan oleh pemerintah. Penegakan hukum yang sepenuhnya diserahkan kepada kepolisian tanpa adanya transisi yang jelas justru memicu kekhawatiran baru, terutama bagi mereka yang bekerja dengan sistem setoran harian.

“Penindakan memang sudah berjalan dalam beberapa waktu terakhir. Tapi ketika kontrol sepenuhnya dilakukan oleh Korlantas, kekhawatiran para sopir makin besar. Situasi ekonomi mereka sedang berat, dan kebijakan ini makin membebani,” ujarnya.

Aspirasi dari Lapangan: Bukan Perusahaan, Melainkan Komunitas Sopir

Agus menegaskan bahwa demonstrasi tersebut digerakkan oleh para sopir dari komunitas perorangan, bukan berasal dari perusahaan-perusahaan truk. Hal ini menunjukkan bahwa yang paling terdampak langsung dari kebijakan ini adalah para pekerja di lapangan, bukan pemilik usaha.

“Yang turun ke jalan itu kebanyakan sopir independen, bukan dari perusahaan. Mereka ini yang langsung kena imbasnya. Wajar kalau kemudian muncul gelombang protes,” imbuhnya.

Ia juga menyoroti langkah penindakan yang dianggap terlalu terburu-buru, sementara persoalan seputar ODOL belum sepenuhnya dibereskan oleh pemerintah. Beberapa regulasi dan solusi pendukung belum kunjung hadir.

“Masih banyak persoalan ODOL yang belum ditangani dengan tuntas. Tapi penindakannya sudah duluan dijalankan. Ini yang jadi pemicu kekecewaan di lapangan,” lanjut Agus.

Pihak Aptrindo berharap pemerintah bisa lebih bijak dalam menyikapi permasalahan ini. Mereka mengusulkan agar penegakan hukum tidak sepenuhnya dibebankan kepada kepolisian, dan penerapan kebijakan harus tetap mempertimbangkan aspek keadilan.

“Kami berharap ada pendekatan yang lebih adil. Jangan sepenuhnya penindakan ODOL ini diserahkan ke Korlantas. Harus ada solusi bersama, jangan cuma tegas di hilir, tapi akar masalah belum disentuh,” tutupnya.

Aksi demo sopir truk paling banyak terlihat di wilayah Surabaya dan sekitarnya. Pemerintah sebelumnya menargetkan penerapan penuh kebijakan Zero ODOL dimulai tahun 2025, namun tampaknya masih menyisakan berbagai persoalan yang belum tuntas dan kini mendapat sorotan dari pelaku di sektor transportasi logistik.

UMKM Indonesia Catat Transaksi Rp1,1 Triliun Lewat Business Matching Global

Pemerintah melalui Kemendag membawa pelaku UMKM ke pasar internasional berhasil menunjukkan hasil yang menggembirakan. Melalui program UMKM BISA Ekspor (UMKM Berani Inovasi, Siap Adaptasi Ekspor), kegiatan penjajakan bisnis atau business matching berhasil mencatatkan transaksi fantastis selama periode Januari hingga Mei 2025.

Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kemendag, Fajarini Puntodewi, menyampaikan bahwa total nilai transaksi dari kegiatan ini mencapai USD 68,65 juta atau sekitar Rp1,1 triliun. Angka ini mengalami pertumbuhan 19,16 persen dibandingkan dengan capaian pada Januari–April 2025 yang tercatat sebesar USD 57,61 juta.

“Program ini merupakan bentuk nyata dukungan Kemendag dalam mempertemukan UMKM lokal dengan calon pembeli luar negeri secara langsung dan terstruktur. Kami ingin UMKM Indonesia punya akses luas ke pasar global dan mampu mencatatkan transaksi konkret,” ujar Fajarini dalam keterangannya.

UMKM Lokal Makin Dilirik Pembeli dari Mancanegara

Dalam kurun waktu lima bulan pertama 2025, Kemendag melalui perwakilan dagang Indonesia di 33 negara telah menyelenggarakan total 296 sesi business matching terhadap UMKM. Rinciannya meliputi 197 sesi pitching dan 99 pertemuan tatap muka antara pelaku UMKM dan calon pembeli dari luar negeri.

Khusus pada bulan Mei 2025, terdapat 50 kegiatan yang dilaksanakan, mencakup 32 sesi pitching dan 18 pertemuan langsung. Hasilnya cukup menjanjikan, dengan potensi transaksi sebesar USD 11,05 juta. Dari jumlah itu, USD 10,65 juta berasal dari purchase order (PO) dan sisanya merupakan potensi transaksi lanjutan.

Tak kurang dari 119 UMKM turut ambil bagian pada Mei, dengan produk yang sangat beragam—mulai dari fesyen, kerajinan tangan, dekorasi rumah, makanan olahan seperti belalang goreng, produk perikanan, kopi, hingga kertas.

“Ini bukti bahwa produk UMKM Indonesia tidak hanya menarik perhatian, tetapi juga memiliki daya saing tinggi di pasar global. Kami yakin, dengan pendekatan yang responsif dan berbasis kebutuhan pasar, UMKM kita akan semakin tangguh di kancah ekspor,” ujar Fajarini.

Kemendag juga mencatat partisipasi lebih dari 17 pembeli internasional dari tujuh negara mitra pada periode Mei. Antusiasme mereka membuka peluang kemitraan yang lebih berkelanjutan di masa mendatang.

Kesuksesan program ini turut didukung oleh 11 lembaga pembina UMKM, termasuk institusi besar seperti Bank Indonesia (BI), BRI, BNI, LPEI, ASEI, Pertamina, serta platform Padi UMKM. Mereka secara aktif merekomendasikan mitra binaan untuk terlibat dalam kegiatan business matching dan mendorong ekspansi produk lokal ke mancanegara.

Baru Mulai Investasi? Ini Perbandingan Emas dan Kripto yang Wajib Kamu Tahu!

Banyak orang yang baru mulai tertarik dengan dunia keuangan dan langsung dihadapkan dengan pilihan: investasi emas atau kripto. Kedua instrumen ini sering jadi bahan perdebatan, apalagi di media sosial. Di satu sisi, emas sudah terbukti aman selama puluhan tahun. Di sisi lain, kripto menjanjikan potensi cuan yang besar dalam waktu singkat. Jadi, bagi pemula, lebih baik investasi emas atau kripto?

Pertanyaan ini sering muncul karena masing-masing punya daya tarik sendiri. Tapi sebelum buru-buru menaruh uang, penting banget untuk kenal karakter dari kedua jenis investasi ini.

Bedah Untung Rugi: Emas vs Kripto

1. Emas: Stabil dan Terbukti dari Zaman Dulu

Investasi emas adalah pilihan klasik. Nilainya cenderung stabil dan gak mudah goyah walau ekonomi global sedang naik turun. Buat pemula yang ingin bermain aman, emas bisa jadi pilihan awal yang masuk akal. Kamu gak perlu takut harga jatuh drastis dalam semalam. Selain itu, emas mudah dicairkan dan bisa disimpan dalam bentuk fisik maupun digital.

Namun, jangan harap cuan besar dalam waktu singkat. Kenaikan harga emas biasanya bertahap. Cocok buat yang punya tujuan jangka panjang seperti biaya pendidikan, tabungan pernikahan, atau dana pensiun.

2. Kripto: Potensi Untung Besar, Tapi Risiko Juga Gede

Di sisi lain, kripto seperti Bitcoin atau Ethereum menawarkan keuntungan yang menggiurkan. Gak sedikit yang berhasil cuan berkali lipat hanya dalam hitungan bulan. Tapi ingat, fluktuasi harga kripto sangat ekstrem. Nilainya bisa melonjak tinggi hari ini, tapi anjlok besoknya.

Untuk pemula yang memilih kripto, wajib banget belajar dulu. Jangan asal beli karena FOMO (takut ketinggalan tren). Pahami dulu teknologinya, fungsinya, dan tentu saja risikonya. Kalau gak siap mental, investasi kripto bisa bikin stres.

Jadi, Mending Investasi Emas atau Kripto?

Kembali lagi ke tujuan finansial dan karakter kamu sebagai investor. Kalau kamu lebih suka stabilitas, sabar dalam menunggu hasil, dan gak ingin pusing dengan grafik yang naik turun setiap hari, emas lebih cocok. Tapi kalau kamu punya waktu untuk belajar, siap menghadapi risiko, dan ingin mencoba tantangan baru, kripto bisa jadi arena bermain yang menarik.

Idealnya? Diversifikasi. Gak ada salahnya bagi pemula untuk mencoba dua-duanya dalam porsi kecil. Misalnya, 70% ke emas dan 30% ke kripto. Seiring berjalannya waktu dan pemahaman yang bertambah, kamu bisa atur strategi yang lebih matang.

Jadi, “investasi emas atau kripto” bukan soal mana yang lebih baik secara mutlak, tapi lebih soal mana yang lebih sesuai dengan kondisi dan kepribadianmu sebagai investor. Yang penting, mulai dari yang kamu pahami dan jangan tergoda janji untung cepat tanpa riset.

Harga Minyak Melonjak Akibat Perang Iran Israel, Ekspor Indonesia Bisa Terganggu

0

Memanasnya perang Iran Israel kembali mengguncang stabilitas geopolitik global. Harga minyak mentah meroket lebih dari 8 persen, dari level USD70 menjadi USD78 per barel. Di sisi lain, ketidakpastian ekonomi semakin bertambah dengan belum tercapainya kesepakatan antara Amerika Serikat dan Tiongkok.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyebut bahwa kondisi ini memunculkan tekanan ganda: lonjakan inflasi akibat gangguan pasokan serta potensi perlambatan ekonomi global. “Ini kombinasi yang harus kita waspadai. Harga naik karena disrupsi geopolitik, tapi di saat bersamaan ekonomi dunia justru melemah,” ungkap Sri Mulyani dalam konferensi pers APBN KiTA di Jakarta, Selasa (17/6).

Tekanan Global Berimbas ke Industri dan Ekspor

Kondisi geopolitik yang terus memanas, termasuk perang Iran Israel, berdampak langsung terhadap sektor manufaktur global. Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Dunia per Mei 2025 hanya menyentuh angka 49,6—terendah sejak Desember 2024. Sebanyak 70,8 persen negara-negara ASEAN dan G20 mengalami kontraksi ekonomi, termasuk Indonesia yang mencatatkan PMI di angka 47,4.

Menkeu menjelaskan bahwa pelemahan ekonomi global kemungkinan akan menurunkan permintaan ekspor Indonesia. Di sisi lain, harga komoditas yang melonjak tajam lebih disebabkan oleh gangguan pasokan, bukan karena kenaikan permintaan. Nilai tukar rupiah pun mengalami fluktuasi, sementara suku bunga utang global ikut naik, terutama dipicu oleh kebijakan fiskal AS.

Lembaga internasional seperti IMF dan Bank Dunia turut merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi global tahun 2025 menjadi lebih rendah. IMF mematok pertumbuhan hanya 2,8 persen, dan Bank Dunia bahkan lebih pesimis di angka 2,3 persen. Proyeksi volume perdagangan global juga dipangkas menjadi 1,7 persen, jauh di bawah angka 3,8 persen tahun sebelumnya.

Indeks Kepercayaan Konsumen Masih di Zona Optimis

Namun, di tengah ketidakpastian itu, sejumlah indikator domestik Indonesia tetap menunjukkan ketahanan. Indeks kepercayaan konsumen masih berada di zona optimis pada level 117,5. Penjualan ritel naik 2,6 persen, konsumsi listrik meningkat masing-masing 4,5 persen di sektor bisnis dan 6,7 persen di industri manufaktur. Bahkan, penjualan semen melonjak hingga hampir 30 persen.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal pertama 2025 pun tetap kuat di angka 4,87 persen. Inflasi tahunan berhasil ditekan di 1,6 persen, dengan kontribusi harga pangan dan komoditas yang stabil. Inflasi inti yang tercatat 2,4 persen juga mengindikasikan bahwa permintaan domestik tetap terjaga.

Menkeu menegaskan bahwa kekuatan ekonomi nasional tak lepas dari peran APBN sebagai alat fiskal yang disiapkan untuk merespons gejolak global. Hingga 31 Mei 2025, pendapatan negara tercatat Rp995,3 triliun, sementara belanja negara telah mencapai Rp1.016,3 triliun. Defisit APBN juga berhasil dijaga hanya di 0,09 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB), dengan surplus keseimbangan primer sebesar Rp192,1 triliun.

“Di tengah dinamika global yang penuh tekanan, Indonesia tetap mampu menjaga stabilitas fiskal dan ekonomi melalui kebijakan yang adaptif namun tetap disiplin,” tutup Sri Mulyani.

Ekspor Batu Bara RI Tertekan, Permintaan China dan India Menurun Tajam

Ekspor Batu Bara Indonesia tengah menghadapi tekanan serius pada awal 2025 seiring menurunnya permintaan dari dua konsumen terbesar, China dan India. Sepanjang periode Januari hingga April, volume ekspor menurun secara signifikan, mencerminkan tantangan yang lebih luas bagi industri batubara nasional.

Menurut data industri, ekspor batu bara ke China turun hingga 20 %—sekitar 14 juta ton—pada April 2025 dibanding periode yang sama tahun lalu. Sementara India juga mengalami penurunan impor sekitar 15 %—equivalen dengan 6 juta ton. Penurunan ini terkait dengan strategi peningkatan produksi domestik serta kebijakan transisi energi kedua negara.

Pangsa Pasar Terdampak Kebijakan dan Produksi Domestik

Menurut laporan dari Energy Shift Institute, produksi batu bara Indonesia pada 2024 mencapai rekor 836 juta ton, namun peningkatan tersebut tidak mampu mengimbangi penurunan ekspor di tahun ini. China dan India kini mendorong industri dalam negeri untuk mengurangi ketergantungan pada impor, mempercepat penurunan ekspor RI.

Di sisi lain, kenaikan Harga Batu Bara Acuan (HBA), yang kini ditentukan dua kali sebulan, menjadi salah satu penyebab turunnya keunggulan harga Indonesia di pasar ekspor, terutama China. China menolak harga yang dirasa terlalu tinggi dibandingkan harga pasar domestik, membuat batu bara RI kurang kompetitif.

Meskipun ekspor ke China dan India melemah, pelaku industri tidak sepenuhnya pesimis. Direktur Eksekutif Indonesian Mining Association (IMA), Hendra Sinadia, menjelaskan bahwa permintaan domestik masih tinggi dan potensi ekspor ke negara lain—seperti Jepang, Korea Selatan, serta negara-negara Asia Tenggara—masih terbuka luas.

Strategi pemerintah kini tengah difokuskan pada diversifikasi pasar dan optimalisasi permintaan domestik, seiring ambisi menuju swasembada energi. Menteri ESDM, melalui Dirjen Minerba, menyatakan siap membuka dialog mengenai penyesuaian kebijakan HBA agar tetap fleksibel dan mendukung daya saing ekspor.

Prediksi Harga Batu Bara dan Tantangan Global

Meski permintaan melemah, harga batu bara secara global mencatat kenaikan. Di pasar ICE Newcastle, harga batu bara termal naik ke US$111,5 per ton—level tertinggi selama tiga bulan terakhir. Kenaikan ini didorong oleh kebijakan energi di AS dan China, serta lonjakan impor India.

Namun, peningkatan harga tak serta-merta mengatasi penurunan volume ekspor. Pengusaha dan analis memperingatkan bahwa strategi yang dibutuhkan adalah kombinasi efisiensi biaya, perluasan pasar, dan adaptasi kebijakan agar industri batubara nasional tetap kompetitif dan berkelanjutan.

Masih Bingung Pilih KPR atau Ngontrak Rumah? Begini Cara Menentukannya

Mimpi punya rumah sendiri memang jadi impian banyak orang. Tapi, di tengah kondisi ekonomi yang serba tak pasti seperti sekarang, pertanyaan besarnya: lebih baik ngontrak atau KPR rumah? Jawabannya nggak bisa langsung hitam-putih. Yang jelas, keputusan ini harus disesuaikan dengan kondisi keuangan dan rencana jangka panjangmu. Banyak orang berpikir, “kalau bisa nyicil daripada bayar kontrakan tiap bulan, kenapa nggak langsung KPR aja?” Tapi tunggu dulu, ada hal penting yang perlu kamu pikirkan.

Salah satu pertimbangannya tentu soal kesiapan. Apakah kamu sudah benar-benar siap mengambil tanggung jawab finansial jangka panjang? Ngontrak memang terkesan ‘uangnya hangus’, tapi fleksibilitas yang ditawarkan juga nggak bisa diabaikan. Di sisi lain, KPR memberi rasa memiliki dan stabilitas. Tapi konsekuensinya, kamu harus siap komitmen hingga belasan bahkan puluhan tahun. Nah, untuk menjawab pertanyaan besar “ngontrak atau KPR rumah?”, yuk ikut Berempat.com kupas satu per satu.

Kapan Waktu yang Tepat Ambil KPR?

Ada beberapa sinyal yang bisa kamu jadikan acuan sebelum memutuskan untuk mengambil KPR:

  1. Punya Dana Darurat
    Sebelum mikirin cicilan rumah, pastikan dulu kamu punya dana darurat minimal 3–6 bulan pengeluaran. Ini penting sebagai ‘jaring pengaman’ kalau terjadi sesuatu yang nggak diinginkan seperti kehilangan pekerjaan.

  2. Penghasilan Stabil
    Pekerjaan tetap dan penghasilan bulanan yang konsisten jadi syarat utama. Idealnya, total cicilan (termasuk KPR) tidak melebihi 30% dari total penghasilan.

  3. Uang Muka Tersedia
    KPR mensyaratkan uang muka minimal 10–20%. Kalau kamu sudah punya tabungan khusus untuk ini, berarti kamu makin siap.

  4. Rencana Jangka Panjang Jelas
    Kalau kamu merasa akan tinggal di kota itu untuk waktu lama, ambil KPR bisa jadi keputusan tepat. Tapi kalau pekerjaanmu berpindah-pindah, mungkin ngontrak lebih realistis.

Di sisi lain, ngontrak cocok buat kamu yang masih ingin fleksibel, belum punya penghasilan tetap, atau masih menyiapkan dana darurat dan uang muka.

Jadi, Pilih Mana?

Keputusan antara ngontrak atau KPR rumah sebenarnya sangat personal. Kalau kamu sudah siap secara finansial dan mental, ambil KPR bisa jadi langkah tepat untuk masa depan. Tapi kalau belum, nggak usah malu untuk tetap ngontrak dulu sambil menyiapkan semuanya secara matang. Ingat, rumah bukan sekadar bangunan—tapi komitmen jangka panjang yang butuh kesiapan di banyak sisi.

Konflik Iran Israel Mengancam Industri Indonesia, Pemerintah Minta Pelaku Usaha Siaga

0

Ketegangan akibat Konflik Iran Israel terus bereskalasi dan mulai memberikan imbas serius ke berbagai sektor global, termasuk manufaktur. Indonesia, sebagai negara dengan ekonomi terbesar di Asia Tenggara dan populasi keempat terbanyak di dunia, menghadapi risiko tinggi terhadap dampak dari konflik tersebut—terutama lonjakan harga energi, kenaikan biaya logistik, dan pelemahan permintaan ekspor.

Salah satu pukulan paling nyata dari konflik Iran Israel terlihat di pasar energi. Kawasan Timur Tengah, sebagai penghasil hampir sepertiga produksi minyak dunia, kini menjadi titik rawan pasokan. Produksi harian Iran yang mencapai lebih dari 3 juta barel terancam terganggu. Harga minyak mentah dunia pun terus bergejolak—Brent misalnya, telah bergerak liar antara 73 hingga 92 dolar AS per barel. Ancaman penutupan Selat Hormuz, jalur vital distribusi energi dunia, kian menambah ketidakpastian pasar.

Industri Diminta Efisiensi dan Diversifikasi Energi

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyoroti pentingnya kesiapan sektor industri nasional dalam menghadapi dampak geopolitik tersebut. Ia meminta pelaku industri lebih bijak menggunakan energi dan mengurangi ketergantungan pada energi fosil impor, terutama dari kawasan konflik.

“Energi bukan hanya penopang produksi, tapi juga bahan baku penting dalam proses manufaktur. Kita harus lebih efisien dan mulai beralih ke energi domestik, termasuk energi baru dan terbarukan,” ujar Agus dalam keterangan resminya, Selasa (17/6).

Agus menegaskan bahwa upaya efisiensi energi dan diversifikasi sumber daya sangat diperlukan agar industri tetap tangguh dalam situasi krisis. Ia juga mendorong penggunaan limbah industri sebagai bahan bakar alternatif, sekaligus mempercepat pengembangan produk manufaktur yang mendukung ketahanan energi nasional.

Selain sektor energi, Kemenperin juga memberi perhatian pada ketahanan pangan. Agus menyebut hilirisasi sektor agro menjadi langkah strategis menghadapi gejolak logistik, inflasi global, dan tekanan nilai tukar. “Industri pangan harus bisa memproses hasil pertanian dan perikanan lokal agar tak bergantung terus pada impor,” tegasnya.

Kemenperin juga mendorong inovasi teknologi produksi di sektor agro agar industri bisa menciptakan nilai tambah tinggi di dalam negeri, sekaligus mendukung agenda besar pemerintahan Presiden Prabowo terkait kemandirian pangan.

Ancaman Terhadap Rantai Pasok Industri

Di sisi lain, ancaman terhadap rantai pasok juga semakin nyata. Jalur pelayaran seperti Selat Hormuz dan Terusan Suez kini menghadapi potensi gangguan, mendorong pengalihan rute melalui Tanjung Harapan di Afrika. Imbasnya, waktu pengiriman bertambah hingga dua pekan dan biaya kontainer naik hingga dua kali lipat.

Kondisi ini berdampak langsung pada sektor otomotif, elektronik, tekstil, dan bahkan baja. Kelangkaan semikonduktor bisa membuat ekspor otomotif terpangkas hingga 500 juta dolar AS, sementara sektor baja menghadapi biaya transportasi batubara yang naik 20 persen serta penundaan pengiriman selama sebulan.

Agus juga mengingatkan pentingnya pemanfaatan skema Local Currency Settlement (LCS) dari Bank Indonesia untuk mengurangi tekanan nilai tukar. “Dengan transaksi langsung dalam rupiah dan mata uang mitra dagang, kita bisa menahan dampak volatilitas kurs akibat perang,” ujarnya.

Tren global pun mulai berubah. Negara-negara Barat mendorong “friend-shoring” atau pengalihan rantai pasok ke wilayah yang dianggap lebih stabil. Meski ini membuka peluang bagi Indonesia—terutama lewat cadangan nikel nasional yang besar—tantangan tetap ada. Salah satunya adalah hambatan perdagangan seperti kebijakan CBAM dari Uni Eropa, yang bisa meningkatkan beban biaya hingga 12 persen bagi eksportir.

Dorong UMKM Tumbuh, Pemerintah Tegaskan Kewajiban Alokasi 30% Ruang Publik

Menteri Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) Maman Abdurrahman kembali menekankan pentingnya implementasi nyata dari kebijakan pemanfaatan Ruang Publik untuk UMKM. Menurutnya, langkah ini menjadi bagian dari strategi besar dalam mengakselerasi pemberdayaan ekonomi kerakyatan di tengah masyarakat.

“Sesuai amanat Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 2021, seluruh pengelola fasilitas publik seperti stasiun, terminal, rest area, pelabuhan hingga bandara, termasuk Bandara Soekarno-Hatta, wajib mengalokasikan minimal 30 persen ruang usahanya untuk UMKM,” ungkap Maman dalam sambutannya pada kegiatan Blok M Hub Kuliner di Jakarta, Sabtu (14/6).

Ia menyampaikan bahwa pihaknya dalam waktu dekat akan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan regulasi tersebut. Ruang Publik untuk UMKM, lanjutnya, bukan hanya simbol keberpihakan pemerintah, tapi juga harus menjadi sarana promosi dan ruang tumbuh bagi pelaku usaha kecil di berbagai sektor.

Ruang Permanen dan Kolaborasi Estetis

Blok M menjadi salah satu contoh area yang dinilai sudah cukup progresif dalam mengakomodasi UMKM, meskipun menurut Maman, masih banyak potensi ruang lainnya yang belum tergarap maksimal. “Kalau dalam satu bulan kita lihat geliat ekonomi yang muncul cukup tinggi, saya akan dorong supaya area seperti ini bisa dijadikan ruang permanen bagi UMKM. Tapi tentu tetap harus memperhatikan aspek estetika dan kenyamanan,” jelasnya.

Maman juga menggarisbawahi pentingnya tanggung jawab dari pelaku UMKM dalam menjaga kebersihan serta keteraturan ruang yang mereka gunakan. Menurutnya, pemberian akses ruang usaha perlu diimbangi dengan komitmen menjaga keindahan lingkungan.

“Kita ingin UMKM tumbuh, tapi jangan sampai merusak tatanan publik. Harus ada kerja sama yang solid antara pengelola fasilitas dan para pelaku usaha agar lingkungan tetap bersih dan tertib,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa keberadaan UMKM di ruang-ruang strategis tak sekadar memberi manfaat ekonomi, tapi juga menjadi sarana edukasi bagi masyarakat luas tentang kualitas produk dalam negeri. “Selama ini, persepsi tentang UMKM masih sempit. Padahal kita punya pelaku usaha di bidang kuliner, fesyen, dan kreatif yang kualitasnya bisa bersaing dengan brand internasional,” tambah Maman.

Dalam kesempatan tersebut, Maman juga mengapresiasi keberadaan Blok M Hub yang menurutnya sudah menjadi ekosistem UMKM modern yang sehat dan kolaboratif. Kehadiran komunitas seperti Jakcloth dan asosiasi kuliner juga turut mendongkrak eksistensi UMKM di tengah masyarakat urban.

“Saya sampaikan penghargaan setinggi-tingginya kepada para pelaku UMKM yang tergabung di Blok M Hub. Ini contoh nyata bahwa jika diberi ruang yang layak, mereka bisa tumbuh dan berkompetisi secara profesional,” ujar Menteri UMKM.

Pemerintah berharap, dengan penguatan implementasi PP 7/2021 dan penyediaan Ruang Publik untuk UMKM secara berkelanjutan, akan terbentuk ekosistem wirausaha yang inklusif, adaptif, dan mampu menjadi motor penggerak ekonomi nasional ke depan.

Modal Usaha Tanpa Hutang? Gaji Pas-pasan Bukan Halangan!

Banyak orang punya mimpi buat buka usaha sendiri. Tapi, sering kali langkah itu mentok karena satu alasan klasik: modal. Apalagi kalau gaji bulanan pas-pasan, rasanya mustahil bisa mulai usaha tanpa harus utang sana-sini. Tapi tenang, ternyata ada beberapa cara cerdas yang bisa kamu lakukan untuk kumpulin modal usaha tanpa hutang, bahkan meski penghasilanmu belum besar.

Daripada buru-buru ambil pinjaman atau kredit yang nantinya bisa jadi beban, mending pelan tapi pasti dengan strategi yang lebih aman dan minim risiko. Percaya deh, membangun modal usaha tanpa hutang itu bukan impian kosong—asal kamu tahu triknya.

Strategi Kumpulin Modal Usaha Meski Gaji Gak Banyak!

1. Sisihkan Pendapatan dengan Sistem Otomatis
Langkah pertama dan paling dasar: sisihkan uang gajimu setiap bulan secara otomatis. Anggap ini sebagai “cicilan ke diri sendiri”. Buat rekening terpisah khusus untuk modal usaha, dan jangan diganggu gugat. Mungkin awalnya terasa kecil, tapi kalau konsisten, lama-lama bakal kelihatan hasilnya.

2. Cari Penghasilan Tambahan
Nggak harus langsung resign dari pekerjaan utama. Kamu bisa ambil pekerjaan sampingan sesuai kemampuan, seperti freelance, jualan online, atau jadi affiliate. Pendapatan dari sini bisa kamu dedikasikan penuh untuk modal usaha.

3. Manfaatkan Barang Tak Terpakai
Coba cek rumah, siapa tahu ada barang yang bisa dijual. Misalnya, baju yang masih bagus tapi jarang dipakai, gadget lama, atau perabot rumah tangga. Selain bikin rumah lebih lega, kamu juga bisa dapet tambahan uang.

4. Investasi Skala Kecil
Kalau kamu masih punya waktu agak panjang sebelum benar-benar buka usaha, investasi bisa jadi pilihan bijak. Mulai dari reksa dana, emas, atau investasi mikro yang kini makin banyak pilihan dan platform-nya. Dengan cara ini, uangmu bisa tumbuh sambil kamu menunggu.

5. Ikut Program Inkubasi atau Hibah Usaha
Banyak lembaga atau komunitas kini menyediakan program pendanaan untuk UMKM atau usaha rintisan. Biasanya, mereka nggak minta pengembalian dana, tapi kamu harus punya ide bisnis yang solid dan rencana usaha yang jelas. Nah, kalau serius, peluang ini bisa banget kamu manfaatkan.

Modal Bisa Dikumpulkan dari Langkah Kecil, Jangan Gengsi!

Yang penting bukan seberapa besar modal awalnya, tapi bagaimana kamu memulainya. Banyak pengusaha sukses justru memulai dari kecil, dari rumah, dan tanpa utang. Kuncinya ada di pengelolaan uang dan mental untuk hidup sederhana dulu, supaya bisnis bisa jalan kemudian.

Jadi, kalau kamu punya impian punya usaha sendiri, jangan biarkan gaji kecil jadi alasan berhenti bermimpi. Dengan strategi yang tepat, modal usaha tanpa hutang bisa kamu kumpulkan secara bertahap dan lebih aman buat masa depan usahamu.

Kampus Dinilai Punya Peran Strategis dalam Transformasi Industri Hijau

0

Upaya mewujudkan transformasi industri hijau yang berkelanjutan dan kompetitif tak bisa dilepaskan dari peran strategis dunia pendidikan, terutama kampus dan mahasiswa. Kementerian Perindustrian menegaskan bahwa transformasi industri hijau harus dimulai dari kesadaran lingkungan di lingkungan akademik dan ditularkan ke sektor industri secara luas.

Kepala Badan Standardisasi dan Kebijakan Jasa Industri (BSKJI) Kemenperin, Andi Rizaldi, menyebut perguruan tinggi sebagai pusat ilmu dan inovasi memiliki posisi kunci dalam perubahan ke arah industri ramah lingkungan. Dalam keterangannya di Jakarta, Senin (16/6), Andi menjelaskan bahwa mahasiswa tak sekadar calon pemimpin masa depan, tetapi juga agen perubahan yang bisa memulai dari hal-hal sederhana di kampus.

“Kalau solusi lingkungan bisa kita terapkan di kampus, seperti pengurangan plastik sekali pakai, pengelolaan sampah elektronik, atau limbah makanan di kantin, maka hal serupa bisa diadaptasi di sektor industri,” ujarnya.

Andi menambahkan, Kemenperin saat ini tengah memperluas sertifikasi industri hijau dan mendorong praktik ekonomi sirkular dengan memanfaatkan limbah sebagai bahan baku. Ia menekankan bahwa kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, dan institusi pendidikan sangat penting untuk menciptakan ekosistem industri yang tidak hanya ramah lingkungan, tetapi juga kompetitif secara global.

“Industri hijau bukan sekadar menekan dampak lingkungan, tapi juga membangun ekonomi yang inklusif dan tangguh. Inilah langkah nyata menuju visi Indonesia Emas 2045,” tegas Andi.

Peran Kampus Jadi Contoh Pengelolaan Limbah yang Berkelanjutan

Senada dengan itu, Kepala Pusat Industri Hijau Kemenperin, Apit Pria Nugraha, dalam acara AIGIS Goes to Campus di Universitas Indonesia (UI), Depok, menilai UI punya potensi besar menjadi contoh pengelolaan limbah kampus yang cerdas dan berkelanjutan. Di hadapan ratusan mahasiswa, ia mengajak seluruh civitas akademika untuk lebih aktif dalam menciptakan solusi hijau.

“Bayangkan jika setiap kampus di Indonesia menerapkan pengelolaan limbah yang efisien dan ramah lingkungan. Dampaknya ke industri pasti besar,” ujarnya dalam acara bertema Campus Waste Solution, Greener Industry-Wide Transformation.

Apit juga mendorong mahasiswa untuk ambil bagian dalam AIGIS Green Scientific Competition dan menghadiri puncak acara The 2nd AIGIS 2025 pada 20–22 Agustus mendatang. Ia berharap kampus menjadi pusat lahirnya ide-ide baru yang bisa memicu perubahan nyata di sektor industri.

“Saya ucapkan terima kasih kepada UI sebagai tuan rumah, serta PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) yang menjadi sponsor utama dengan kontribusinya di bidang green manufacturing. Masa depan industri hijau ada di tangan generasi muda,” tuturnya.

Sebagai informasi, AIGIS Goes to Campus merupakan bagian dari agenda tahunan Indonesia Green Industry Summit (The 2nd AIGIS 2025), yang menjembatani kolaborasi antara pemerintah, pelaku industri, akademisi, dan masyarakat. Program ini menyambangi empat kampus besar—UI, Universitas Padjadjaran, Politeknik STTT Bandung, dan Universitas Trisakti—untuk memperkuat peran mahasiswa dalam mendukung gerakan industri hijau nasional.