Jumat, September 4, 2026
Top Mortar Gak Takut Hujan
Beranda blog Halaman 111

10 Persiapan Sebelum Melakukan Franchise agar Bisnis Tidak Gagal di Tengah Jalan

Banyak pelaku usaha tergoda ekspansi cepat begitu outlet pertama rame. Tapi sebelum buru-buru jual lisensi, berhenti dulu dan tanya: apa saja Persiapan sebelum melakukan franchise yang wajib dipenuhi biar nggak jeblok di tengah jalan? Pertanyaan tentang Persiapan sebelum melakukan franchise ini penting banget, karena franchise bukan sekadar “boleh pakai brand-ku asal bayar”, tapi transfer sistem bisnis lengkap yang bisa direplikasi di lokasi berbeda dengan hasil yang (harusnya) konsisten.

Tanpa standar jelas, yang terjadi: cabang rasa beda-beda, kualitas turun, pelanggan bingung, dan reputasi hancur. Jadi kuncinya: kunci kualitas, hitung keuangan secara realistis, lindungi merek, dan siapkan dukungan berkelanjutan buat mitra—bukan jual paket lalu ditinggal.

Blueprint Persiapan Franchise, ini Langkah Wajibnya!

1. Bukti Bisnisnya Sudah Terbukti

Minimal punya 1–3 outlet yang benar-benar berjalan stabil, bukan cuma rame grand opening. Tunjukkan data omzet, margin, dan repeat customer. Franchisee beli sistem yang terbukti, bukan eksperimen.

2. Hitung Unit Economics Secara Jelas

Rinci biaya investasi awal (renovasi, peralatan, lisensi), biaya operasional bulanan, dan proyeksi BEP (break-even point). Susun skenario optimis, realistis, dan konservatif. Transparansi = kepercayaan.

3. SOP Tertulis & Teruji

Resep, gramasi, standar penyajian, kebersihan, cara melayani, jadwal maintenance alat—semua harus terdokumentasi. Beda kru, rasa tetap sama: itu ruh franchise.

4. Standar Brand & Pengalaman Pelanggan

Logo, warna, packaging, signage, greeting script, sampai musik di outlet (kalau relevan). Konsistensi brand bikin pelanggan langsung ngeh walau buka di kota lain.

5. Legal: Kontrak & Perlindungan Merek

Pastikan merek terdaftar. Susun perjanjian: wilayah eksklusif atau nggak, durasi lisensi, fee awal, royalty bulanan, kewajiban beli bahan baku inti, aturan pemutusan kerja sama.

6. Supply Chain Rapih

Franchise gagal kalau bahan inti sering kosong. Kunci distributor, siapkan gudang konsolidasi (kalau skala besar), dan tetapkan standar substitusi kalau stok mepet.

7. Sistem Pelatihan Mitra & Tim

Bootcamp awal (operasional + brand), pendampingan pembukaan, dan kunjungan berkala. Buat modul video singkat biar mudah dipelajari ulang.

8. Dukungan Pemasaran Terpusat

Template materi promo, desain poster, konten sosmed musiman. Bisa juga iuran marketing bersama biar brand makin kelihatan.

9. Teknologi yang Nyambung

Gunakan POS terintegrasi supaya franchisor bisa pantau penjualan real-time, cek stok, dan ukur performa tiap outlet. Data bikin keputusan cepat.

10. Seleksi Franchisee, Jangan Asal Siapa Bayar Dapat

Lebih baik pilih mitra yang cocok nilai & siap operasional daripada investor duit tebal tapi cuek. Wawancara, cek latar belakang, komitmen waktu.

Ekspansi lewat model franchise memang bisa mempercepat pertumbuhan, tapi tanpa fondasi kuat malah jadi bumerang. Luangkan waktu buat nyusun struktur, angka, dan dukungan mitra. Ingat: franchise itu hubungan jangka panjang. Kalau level dasar—kualitas, brand, dan kepercayaan—rapih, jaringanmu bisa tumbuh lintas kota tanpa kehilangan rasa asli.

Grab Tolak Tuntutan Potongan 10 Persen, Mitra Ojol Minta Skema Bagi Hasil Dirombak

0

Isu Grab Tolak Tuntutan Potongan 10 persen yang disuarakan komunitas ojek online (ojol) Garda Indonesia kian memanas setelah aksi unjuk rasa di Jakarta. Menjawab desakan itu, manajemen menegaskan Grab Tolak Tuntutan Potongan komisi menjadi 10 persen karena dinilai tidak sejalan dengan keberlanjutan ekosistem transportasi daring secara menyeluruh.

Chief of Public Affairs Grab Indonesia Tirza Munusamy dalam pernyataan resmi, Selasa (22/7/2025), menilai komisi aplikator bukan sekadar biaya akses platform. Dana tersebut menopang berbagai layanan penting bagi mitra: dukungan operasional 24/7 termasuk GrabSupport dan tim tanggap darurat; perlindungan asuransi kecelakaan untuk pengemudi dan penumpang; program edukasi dan peningkatan kapasitas lewat GrabAcademy; serta inisiatif kesejahteraan sukarela seperti GrabBenefits, beasiswa GrabScholar, dan pelatihan kewirausahaan.

Grab menyebut tetap berupaya menjaga keterjangkauan tarif pengguna di tengah kenaikan biaya operasional. Beragam inisiatif—subsidi tarif, diskon musiman, dan program loyalitas pelanggan—ditujukan menjaga permintaan agar order tetap mengalir dan pendapatan mitra tidak tertekan. “Kami ingin layanan tetap terjangkau bagi masyarakat, sekaligus menjaga peluang penghasilan mitra,” ujar Tirza.

Komisi Grab Picu Aksi Protes Mitra

Perusahaan juga menegaskan komitmen bekerja bersama pemerintah dan komunitas dalam membangun ekosistem transportasi daring yang tangguh dan adil. Dialog, empati, dan dukungan jangka panjang disebut sebagai jalan terbaik untuk mencari titik temu.

Saat ini, potongan komisi aplikasi Grab berada di kisaran 20 persen—angka yang memicu keberatan sebagian mitra pengemudi. Mereka menilai proporsi tersebut lebih menguntungkan aplikator dibanding driver yang menanggung biaya kendaraan, BBM, perawatan, dan risiko harian di lapangan.

Penolakan itu diwujudkan lewat aksi Garda Indonesia di kawasan Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Senin (21/7/2025). Dalam orasinya, salah satu perwakilan pengemudi, Rudi, menyebut batas 10 persen sebagai “harga mati” dan meminta pemerintah turun tangan mengatur skema bagi hasil yang “lebih manusiawi.” Menurutnya, problem utama bukan tarif ke penumpang, melainkan besarnya potongan aplikator. “Kami minta potongan aplikator ditetapkan 10 persen, titik!” tegasnya.

Gelombang tuntutan ini menambah daftar pekerjaan rumah sektor transportasi berbasis aplikasi: mencari formula komisi yang cukup untuk mendanai layanan, teknologi, dan perlindungan; namun tetap memberikan ruang pendapatan layak bagi mitra di jalan. Grab menyatakan pintu dialog tetap terbuka. Para pengemudi menunggu tindak lanjutnya.

AS Turunkan Tarif Impor Produk Indonesia, Sosialisasi ke Pelaku Usaha Dipercepat

0

Pemerintah terus melakukan sosialisasi ke pelaku usaha terkait kebijakan tarif impor Amerika Serikat (AS) terhadap produk asal Indonesia yang kini turun signifikan dari 32% menjadi 19%. Penurunan tarif ini merupakan hasil kesepakatan tingkat tinggi antara Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Donald Trump, menjadikan Indonesia sebagai negara pertama yang mencapai kesepakatan setelah pengumuman resmi AS pada Juli lalu.

Langkah sosialisasi ini digelar untuk memastikan para pelaku usaha dan asosiasi memahami perubahan tarif serta peluang perdagangan yang terbuka. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan bahwa kebijakan tarif baru ini menempatkan Indonesia pada posisi lebih kompetitif dibanding negara-negara ASEAN lainnya.

Indonesia Lebih Kompetitif di Pasar AS

“Jika kita bandingkan, tarif impor yang berlaku untuk Indonesia saat ini adalah yang terendah di kawasan ASEAN. Vietnam dan Filipina masih di angka 20%, Malaysia dan Brunei di 25%, Kamboja serta Thailand di 36%, sementara Myanmar dan Laos mencapai 40%. Bahkan dibandingkan negara pesaing di sektor tekstil seperti Bangladesh (35%) atau India (27%), posisi Indonesia jauh lebih menguntungkan,” ungkap Airlangga saat memberikan keterangan di Kantor Kemenko Perekonomian, Senin (21/7/2025).

Airlangga juga menekankan bahwa struktur Tarif Bea Masuk (BM) Most Favoured Nation (MFN) Indonesia yang diatur dalam Buku Tarif Kepabeanan Indonesia (BTKI) 2022 sudah cukup terbuka. Dari total 11.555 pos tarif HS, sebanyak 11,7% di antaranya memiliki tarif BM 0% dan 47,1% berada pada BM 5%. Kesepakatan baru ini memungkinkan Amerika Serikat menikmati tarif mendekati 0%, sejalan dengan perjanjian perdagangan lain seperti ASEAN-FTA, ASEAN-China FTA, hingga CEPA dengan Jepang, Kanada, Australia, dan Uni Eropa.

Selain penurunan tarif, hambatan non-tarif juga berhasil diatasi melalui kesepakatan bilateral. Semua detail akan dituangkan dalam pernyataan resmi (joint statement) yang direncanakan dirilis dalam waktu dekat.

Dampak Positif Penurunan Tarif

Menurut Airlangga, penurunan tarif ini tidak akan merugikan neraca perdagangan Indonesia. “Sejumlah produk pertanian seperti gandum dan kedelai yang dibeli dari AS merupakan komoditas yang memang sudah kita impor dari negara lain. Jadi ini hanya soal pergeseran sumber,” jelasnya.

Airlangga menambahkan, kebijakan ini membawa manfaat besar bagi sektor padat karya dengan melindungi hingga satu juta tenaga kerja serta meningkatkan daya saing produk Indonesia di pasar global. Komoditas unggulan seperti minyak sawit diperkirakan akan semakin diminati di pasar AS maupun Eropa.

Sebagai bagian dari tindak lanjut, sosialisasi ke pelaku usaha akan terus digencarkan agar para eksportir dapat memanfaatkan peluang dari penurunan tarif tersebut. Airlangga menegaskan bahwa Indonesia kini berada di garda terdepan dalam menjalin kerja sama dagang dengan AS, dengan ketentuan tarif baru 19% yang akan berlaku resmi mulai 1 Agustus mendatang.

Mau Coba Kripto? Ini Ilmu yang Wajib Dikuasai Biar Nggak Boncos

Belakangan makin banyak yang tertarik coba investasi aset digital, tapi nggak sedikit yang masuk tanpa bekal. Banyak yang mengira cukup paham soal inflasi, supply-demand, dan teori pasar—langsung tancap gas beli token. Padahal, Ilmu untuk Masuk Dunia Kripto jauh lebih luas dari ekonomi dasar. Ada aspek teknologi, keamanan, psikologi pasar, sampai regulasi yang kalau diabaikan bisa bikin dana ludes. Jadi sebelum benar-benar nyemplung, pastikan kamu siap secara mental, finansial, dan ngerti dasar-dasar penting dari Ilmu untuk Masuk Dunia Kripto biar nggak jadi korban hype.

Kripto itu kombinasi unik antara teknologi blockchain, spekulasi pasar, komunitas, dan narasi. Harga bisa terbang cuma karena meme, tapi juga bisa anjlok karena bug smart contract atau regulasi pemerintah. Itu sebabnya pendekatan belajar harus menyeluruh.

Ilmu yang Perlu Dipahami Sebelum Nyemplung ke Kripto

1. Dasar Teknologi Blockchain (Jangan Skip!)
Pahami konsep rantai blok, node, mining vs staking, konsensus (PoW, PoS), dan kenapa transaksi nggak bisa sembarang dibalik. Nggak perlu jadi coder, tapi ngerti struktur ini bikin kamu lebih hati-hati pilih jaringan atau aset.

2. Dompet Kripto & Keamanan Kunci Privat
Kripto tuh nggak kayak rekening bank. Kalau seed phrase hilang, ya wassalam. Pelajari beda hot wallet (mudah tapi rawan), cold wallet (aman tapi ribet dikit), multi-sig, dan cara nyimpan seed offline. Banyak kasus rugi bukan karena harga turun, tapi karena dompet diretas.

3. Tokenomics & Utility
Sebelum beli koin, cek total supply, circulating supply, mekanisme burn, vesting jadwal tim, dan kegunaan tokennya. Kalau token cuma dibuat buat “pump”, hati-hati.

4. Analisis Pasar: Teknikal & Sentimen
Grafik tetap berguna: support, resistance, volume, RSI, MACD—dasar aja cukup untuk tahu kapan masuk/keluar. Tapi kripto juga sangat digerakkan sentimen: berita regulasi, influencer, listing di exchange besar, maupun hype komunitas.

5. Manajemen Risiko & Alokasi Dana
Tentukan berapa persen dari total portofolio yang siap “high risk”. Misal total dana investasi 100%, jatah kripto cukup 5–20% (tergantung profil risiko). Selalu bagi lagi dalam stablecoin vs aset volatil.

6. Regulasi & Pajak
Tiap negara beda. Di Indonesia, transaksi aset kripto dikenakan pajak tertentu dan diawasi lembaga pemerintah terkait komoditas digital. Catat transaksi, kalau serius main, jangan abaikan kewajiban pelaporan.

7. Hindari Scam Umum
Rug pull, phising link airdrop palsu, fake wallet app, giveaway palsu “kirim 1 BNB balik 10 BNB”—semua klasik tapi masih makan korban. Prinsip: kalau terlalu bagus buat jadi nyata, biasanya memang jebakan.

Masuk Pelan, Keluar Boleh Cepat

Masuk ke kripto itu mirip belajar berenang: jangan langsung ke laut dalam. Mulai kecil, pahami alatnya, dan jangan percaya satu sumber. Dengan bekal Ilmu untuk Masuk Dunia Kripto yang cukup—teknologi, risiko, keamanan, dan perilaku pasar—kamu bisa ambil peluang tanpa jadi korban hype musiman. Ingat, tujuan utama bukan FOMO, tapi bertumbuh.

Panen Gadu Padi Diprediksi Dongkrak Stok Beras hingga 3 Juta Ton

0

Menjelang masa panen gadu padi yang diperkirakan berlangsung mulai Agustus mendatang, Badan Pangan Nasional (NFA) memastikan langkah penguatan stok beras di Perum Bulog terus digencarkan. Pemerintah juga berkomitmen memperketat pengawasan distribusi beras subsidi agar penyalurannya tepat sasaran.

“Saya mengimbau para pelaku penggilingan padi untuk membantu Bulog dalam menambah stok, karena bulan depan adalah masa panen gadu padi. Meski tidak sebesar panen raya di Maret dan April, periode ini tetap menjadi momen penting dalam menjaga ketersediaan beras nasional,” ujar Kepala NFA Arief Prasetyo Adi saat memberikan keterangan pers di Gudang Bulog Meger, Klaten, Jawa Tengah, Minggu (20/7/2025).

Produksi Beras Diproyeksikan Naik di Bulan Agustus

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, produksi beras pada Agustus diperkirakan kembali meningkat setelah sempat turun menjadi 2,22 juta ton pada Juni. Produksi beras pada Agustus diproyeksikan mencapai 3,07 juta ton, memberikan optimisme terhadap stabilitas pasokan pangan nasional.

Bulog sendiri telah melibatkan penggilingan padi swasta dalam penyerapan beras produksi dalam negeri sepanjang tahun ini. Keterlibatan sektor swasta dinilai krusial untuk memastikan ketersediaan stok saat terjadi fluktuasi pasokan maupun harga di pasar.

Di Juli, pemerintah mulai menggelontorkan dua strategi intervensi agar harga beras tetap stabil. Strategi pertama adalah penyaluran bantuan pangan beras kepada masyarakat berpenghasilan rendah, yang hingga 20 Juli telah mencapai 18.465.560 kilogram (kg) atau setara 923.281 Penerima Bantuan Pangan (PBP). Program ini mengacu pada surat penugasan Kepala NFA Nomor 170/TS.03.03/K/7/2025.

Selain itu, distribusi beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) juga diperketat. Per 18 Juli, penyaluran SPHP tercatat mencapai 860,7 ribu kg. NFA menekankan agar beras SPHP tetap dalam kemasan utuh 5 kilogram tanpa dibuka atau dicampur dengan jenis beras lain, karena produk ini mendapat subsidi khusus dari negara untuk masyarakat yang membutuhkan.

“Pengawasan distribusi beras SPHP dilakukan bersama Satgas Pangan Polri dan Direktorat Jenderal PKTN Kementerian Perdagangan. Kami ingin memastikan kualitas dan mutu beras yang keluar dari Bulog tetap terjaga hingga ke tangan masyarakat,” tegas Arief Prasetyo Adi.

Karya Fotografer Lokal Disebut Mesin Pertumbuhan Ekonomi Kreatif Baru

0

Apresiasi tinggi disampaikan Wakil Menteri Ekonomi Kreatif (Wamen Ekraf) Irene Umar kepada para fotografer lokal yang dinilainya berhasil menangkap kehangatan budaya Indonesia lewat bahasa visual yang menyentuh. Ia mendorong para fotografer lokal untuk lebih berani memamerkan karya di ruang-ruang publik, baik di dalam negeri maupun mancanegara, agar narasi visual Indonesia makin terdengar luas.

Berbicara saat membuka pameran foto SK-ART & Friends: The Colors of Art di DOSS Megastore, Ratu Plaza, Jakarta, Sabtu (20/7/2025), Irene mengatakan kekuatan foto bukan sekadar soal keindahan teknis, tetapi energi emosional yang memancar dari subjek dan kreatornya. “Destinasi wisata Indonesia itu bukan hanya cantik di mata, tapi hangat di hati. Itu yang saya rasakan dari karya-karya teman-teman,” ujarnya, sembari mengucapkan terima kasih kepada SK-ART sebagai penyelenggara.

Ia menegaskan Kementerian Ekraf siap membuka akses pemotretan ke berbagai lokasi—mulai dari lanskap alam terbuka hingga destinasi bawah tanah—serta menjembatani kerja sama dengan pengelola ruang publik di Indonesia dan luar negeri. “Kami siap jadi makcomblang,” kata Irene.

Pameran Fotografi dan Harapan untuk Terbentuknya Ekonomi Kreatif

Pameran The Colors of Art menampilkan 75 karya dari 65 fotografer komunitas SK-ART (Sebastian Kisworo-ART). Ragam temanya luas: budaya, ekspresi keagamaan, tokoh film, hingga seni pertunjukan. Format kuratorial yang inklusif memungkinkan penonton melihat Indonesia dari banyak lensa—harfiah maupun kultural.

Irene juga menyoroti dimensi ekonomi dari fotografi. Banyak talenta kreatif Indonesia memiliki karya bernilai komersial tinggi, namun ragu membuka diri karena kekhawatiran pembajakan atau minimnya apresiasi. Padahal, kata dia, model monetisasi—dari royalti digital, lisensi komersial, cetak edisi terbatas, hingga kolaborasi brand—dapat menjadi sumber passive income berkelanjutan. “Karya kreatif bisa jadi mesin pertumbuhan ekonomi baru kalau ekosistemnya dibangun,” tegasnya.

Dukungan lintas pemangku kepentingan turut terlihat di acara tersebut. Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PAN-RB) Rini Widyantini hadir dan bahkan ikut memamerkan karya foto pribadi. Staf Khusus Presiden Bidang Ekonomi Kreatif Yovie Widianto juga memberikan pandangan menarik: seperti musik, fotografi hidup dari “jiwa” penciptanya. Menurutnya, teknologi—termasuk kecerdasan buatan—dapat membantu teknis, namun tidak menggantikan intuisi manusia. “Justru ketidaksempurnaan kadang yang membuat karya terasa hidup,” ujar Yovie.

Rangkaian pameran berlangsung 5–27 Juli 2025. Pada sesi Minggu (20/7), digelar talkshow “Pengalaman Teman Seperjalanan SK-ART” menghadirkan tiga narasumber yang dikenal di dunia fotografi dan komunitas Kota Tua: Hardijanto Budiman, Fajar Kristiono, dan Ve Dhanito. Sesi ini membahas proses kreatif, etika memotret ruang publik, hingga strategi menjaga hak cipta karya.

Kurator sekaligus pendiri SK-ART, Sebastian Kisworo, berharap kehadiran pemerintah di pameran ini menjadi awal kemitraan yang lebih terstruktur. Ia menginginkan fasilitas yang tak berhenti pada ruang pamer, tetapi juga dukungan promosi, perluasan audiens digital, dan jembatan ke pasar kreatif global. “Kami ingin karya teman-teman tidak hanya dilihat, tapi juga berdampak,” ujarnya.

Tips Menghindari Kegagalan Bisnis Kuliner Sejak Awal Memulai Usaha

Bisnis makanan selalu keliatan menarik: jualan cepat, pasar luas, modal bisa disesuaikan. Tapi di balik semangat buka kedai, food stall, cloud kitchen, atau gerobak kopi, angka tutup dini masih tinggi. Banyak kasus Kegagalan Bisnis Kuliner terjadi bahkan sebelum masuk tahun kedua, sebagian malah belum genap 12 bulan. Kenapa? Karena Kegagalan Bisnis Kuliner sering berawal dari hal-hal sederhana yang diabaikan: salah hitung biaya, menu nggak fokus, manajemen kacau, sampai promosi yang bikin tekor sendiri.

Kabar baiknya, sebagian besar masalah itu bisa dicegah kalau dari awal sudah ngerti pola uang masuk-keluar, siapa target pelanggan, dan gimana jaga kualitas tiap hari—not cuma di grand opening.

Kenapa Banyak Bisnis Kuliner Tumbang di Tahun Pertama?

1. Salah Hitung Modal & Cash Flow.
Buka lapak itu baru permulaan. Yang sering bikin tumbang adalah biaya jalan bulanan: sewa, listrik, gas, gaji kru, bahan baku, kemasan, dan promosi. Banyak yang habis modal di depan, tapi nggak siap “napas panjang”.

2. Food Cost Nggak Dikendalikan.
Nggak pernah ngitung biaya bahan per porsi? Bahaya. Harga cabai naik sedikit aja bisa nggerus margin. Selalu catat gramasi dan revisi harga atau porsi bila perlu.

3. Menu Kebanyakan, Stok Berantakan.
Menu panjang bikin pelanggan bingung dan stok banyak terbuang. Lebih baik 5 menu laris daripada 20 menu yang bikin bahan basi.

4. Branding Seadanya.
Nama susah diingat, kemasan polos, nggak ada cerita. Di era visual, identitas kuat bantu pelanggan balik lagi.

5. Operasional Tanpa SOP.
Resep beda tiap kru, waktu saji lama, dapur kotor—pelanggan kapok. Standarisasi rasa + kebersihan itu reputasi.

6. Nggak Dengerin Pelanggan.
Review negatif diabaikan, padahal itu alarm gratis. Cek rasa, porsi, kecepatan kirim.

Checklist Anti-Tumbang: Langkah Praktis 0–12 Bulan

  • Hitung BEP (break-even point) sejak awal. Berapa porsi per hari buat nutup biaya? Tempel angkanya di dapur.
  • Buat menu inti + menu musiman. Inti stabilkan stok; musiman tarik perhatian.
    Catat penjualan harian. Beda hari kerja vs akhir pekan = beda stok.
  • Lock supplier utama & cadangan. Hindari putus bahan.
  • Kumpulkan nomor pelanggan. Kirim promo ulang bulan depan. Repeat order = napas bisnis.
  • Cek margin setiap 2–4 minggu. Bahan naik? Revisi porsi, bundling, atau harga paket.

Contoh Simulasi Sederhana

Modal awal Rp25 juta. Biaya jalan bulanan Rp8 juta. Target harga jual rata-rata Rp25 ribu/porsi dengan margin kotor 50%. Artinya butuh ±640 porsi/bulan untuk nutup biaya jalan (belum hitung gaji founder). Dibagi 26 hari operasional = 25 porsi/hari. Angka ini jadi patokan: kalau realisasi cuma 15 porsi, harus genjot promosi atau potong biaya.

Kegagalan itu sering bukan karena pasar kecil, tapi karena angka dan operasional nggak dikendalikan. Kalau dari awal sudah paham titik impas, jaga kualitas, dan aktif dengar suara pelanggan, peluang bertahan melewati tahun pertama jadi jauh lebih besar.

Dukungan KUR dan Sertifikasi, Kolaborasi UMKM Kian Terlihat Nyata

0

Kolaborasi UMKM menjadi agenda utama pemerintah pada kuartal II 2025 untuk meningkatkan daya saing pelaku usaha kecil dan menengah. Kementerian Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) menggandeng berbagai kementerian dan lembaga guna memperluas akses perizinan, sertifikasi, hingga pembiayaan. Upaya ini diharapkan mampu menjadikan UMKM lebih produktif, kompetitif, serta membuka lapangan kerja berkualitas.

Menteri UMKM, Maman Abdurrahman, menegaskan pentingnya sinergi lintas sektor. Pihaknya bekerja sama dengan Kementerian Investasi dan Hilirisasi, Kementerian Hukum, Kementerian Kesehatan, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), serta Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH). “Kolaborasi UMKM ini diharapkan memberi dampak signifikan bagi perekonomian, karena pelaku usaha akan lebih siap bersaing di pasar lokal maupun global,” ujarnya dalam diskusi media di Jakarta, Jumat (18/7).

Percepatan Perizinan dan Sertifikasi

Menurut Maman, langkah pemerintah tidak hanya fokus pada pembiayaan, tetapi juga percepatan legalitas usaha. Hingga triwulan II 2025, jumlah Nomor Induk Berusaha (NIB) yang diterbitkan mencapai 1.445.205, melonjak 95,4 persen dibandingkan kuartal sebelumnya yang mencatat 739.843 NIB. Capaian ini sudah memenuhi 83,72 persen dari target 2,5 juta NIB sepanjang tahun ini.

Sertifikasi halal juga mencatat peningkatan dengan total 654.518 sertifikat pada kuartal II. Akumulasi sejak 2019 telah mencapai 2.348.061 sertifikat, mencakup lebih dari 6,5 juta produk. Mayoritas, yakni 97,2 persen, diterbitkan melalui skema self-declare.

Sementara itu, program SNI Bina UMK meningkat dua kali lipat. Pada kuartal II, sertifikat diberikan kepada 194.401 pelaku UMK, sehingga total akumulasi penerima sertifikasi SNI mencapai lebih dari 1 juta pengusaha dengan 1,2 juta produk tersertifikasi.

Dorongan Pembiayaan dan Pencapaian KUR

Di sektor pembiayaan, realisasi Kredit Usaha Rakyat (KUR) hingga awal Juli 2025 telah menembus Rp132,7 triliun atau 44,2 persen dari target tahunan. Sebanyak 2,29 juta pelaku UMKM telah merasakan manfaat program ini, termasuk 1,05 juta debitur baru. Penyaluran KUR ke sektor produksi juga menunjukkan tren positif dengan porsi 59,9 persen atau senilai Rp79,6 triliun.

Selain itu, sertifikat PIRT pada semester I 2025 mencapai 104.860 sertifikat, dan penerbitan merek dagang UMKM bertambah 7.692, menambah total merek yang terdaftar menjadi 154.371 sejak 1980.

Menteri Maman menekankan bahwa langkah kolaboratif ini sejalan dengan arahan Presiden Prabowo untuk memastikan sektor UMKM menjadi pilar pertumbuhan ekonomi nasional. “Kami berharap sinergi ini terus diperkuat agar layanan kepada masyarakat, khususnya pelaku UMKM, semakin maksimal,” tegasnya.

Dari Baja hingga Besi, Ekspor Industri Manufaktur Kuatkan Posisi Indonesia di Pasar Global

0

Ekspor Industri Manufaktur terus menjadi motor utama dalam menopang kinerja perdagangan Indonesia. Sepanjang 2024, sektor ini berhasil mencatat nilai ekspor mencapai USD196,5 miliar, menyumbang sekitar 74,25 persen dari total ekspor nasional. Angka tersebut menunjukkan tren positif, naik 5,11 persen dibandingkan capaian 2023 yang berada di angka USD186,9 miliar.

“Pada triwulan pertama 2025, sektor manufaktur juga mencatatkan surplus perdagangan sebesar USD10,4 miliar. Nilai ekspor dari sektor ini mencapai USD52,9 miliar atau menyumbang 79,4 persen dari total ekspor nasional,” ujar Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita dalam pelepasan ekspor baja lapis PT Tata Metal Lestari ke Amerika Serikat di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Jumat (18/7).

Dominasi Ekspor dan Posisi Global Indonesia

Surplus perdagangan dari sektor manufaktur menjadi pendorong utama kinerja neraca perdagangan Indonesia secara keseluruhan. Berdasarkan data Trading Economics dan laporan Menteri Keuangan yang dikutip Reuters, Indonesia membukukan surplus perdagangan sebesar USD4,9 miliar pada Mei 2025.

Dalam pemeringkatan World Visualized, posisi Indonesia bahkan berada di peringkat ke-3 dunia, di bawah Tiongkok (USD103,22 miliar) dan Jerman (USD17,8 miliar), sekaligus mengungguli Rusia (USD4,5 miliar) dan Malaysia (USD3,5 miliar).

“Capaian positif ini membuktikan struktur industri manufaktur nasional tetap kokoh dari hulu ke hilir. Tidak ada indikasi deindustrialisasi, bahkan kondisi kita semakin kuat,” tegas Agus.

Peran Strategis Industri Baja

Menurut Menperin, subsektor logam dasar—yang di banyak negara maju menjadi tulang punggung pembangunan industri—menunjukkan performa terbaik di dalam negeri. Pada triwulan I 2025, industri logam dasar berkontribusi 1,10 persen terhadap PDB nasional dan mencatat pertumbuhan 14,47 persen (year-on-year), tertinggi di antara subsektor manufaktur lainnya.

“Pertumbuhan ini dipicu oleh meningkatnya permintaan global, terutama dari industri besi dan baja, serta keberhasilan program hilirisasi nasional yang meningkatkan nilai tambah komoditas lokal,” imbuh Agus.

Data World Steel Association mencatat, Indonesia menempati posisi ke-14 dalam produksi crude steel dunia pada 2024 dengan capaian 17 juta ton. Angka ini melonjak 98,5 persen dibandingkan produksi 2019 yang hanya 8,5 juta ton. “Dalam tiga hingga empat tahun ke depan, kami optimistis bisa naik ke posisi ke-11 atau ke-10,” kata Agus.

Kapasitas terpasang crude steel nasional saat ini berada di 21 juta ton, dengan target naik menjadi 27 juta ton pada 2029. Langkah ini diharapkan memperkuat daya saing industri baja Indonesia di kancah global.

Pemerintah berkomitmen menjaga momentum pertumbuhan industri baja dan mendorong ekspor industri manufaktur agar tetap kompetitif. Berbagai kebijakan strategis terus digalakkan, mulai dari penerapan trade remedies, kewajiban Standar Nasional Indonesia (SNI), fasilitas Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT), prioritas produk dalam negeri untuk proyek pemerintah, insentif fiskal, hingga penerapan prinsip industri hijau.

“Kebijakan ini dirancang untuk menjaga kapasitas produksi, meningkatkan utilisasi, dan memastikan produk baja lokal mampu bersaing di pasar domestik maupun ekspor,” pungkas Menperin.

Target Gen Z di Bisnis Kuliner? Begini Cara Bikin Mereka Jatuh Hati

0

Banyak pelaku usaha makanan sekarang ngebidik anak muda karena perilaku belanja mereka unik, aktif di digital, dan doyan coba hal baru. Kalau bisnis kamu memang mengincar Target Gen Z di Bisnis Kuliner, penting banget ngerti pola pikir dan kebiasaan mereka, bukan cuma ikut tren menu viral. Gen Z seneng pengalaman, cerita di balik produk, dan keterlibatan komunitas. Jadi kalau mau serius main di segmen ini, strategi Target Gen Z di Bisnis Kuliner harus lebih dari sekadar rasa enak—harus visual, relevan, dan interaktif.

Gen Z tumbuh di era konten cepat: scroll, klik, beli. Mereka gampang penasaran, tapi juga gampang pindah kalau branding hambar. Kabar baiknya, mereka royal kalau sudah “connect” secara emosional atau identitas. Nah, mari bedah langkah-langkah yang bisa bikin brand kuliner kamu jadi langganan Gen Z.

Strategi Praktis Menembus Selera Gen Z di Bisnis Kuliner

1. Visual First: Makanan Harus “Selfieable”

Gen Z makan dengan mata dulu. Pastikan plating, kemasan, atau warna minuman bikin pengen difoto. Cup lucu, stiker limited, atau topping ngejreng sering jadi alasan mereka beli kedua kalinya.

2. Cerita di Balik Menu

Jangan cuma tulis “es kopi gula aren”. Ceritain asal bahan, siapa roasternya, atau momen minum yang pas. Cerita singkat di menu board atau caption IG bisa bikin brand terasa hidup.

3. Menu Limited Edition & Seasonal Drop

Gen Z suka FOMO. Rilis menu edisi terbatas tema film, konser, musim liburan, atau kolaborasi dengan kreator lokal. “Cuma 7 hari!” jauh lebih memicu aksi daripada “tersedia setiap hari”.

4. Harga Bertingkat Biar Nggak Serba Mahal

Bikin 3 level harga: hemat (untuk nongkrong harian), mid (favorit), premium (signature/limited). Dengan begitu, pelajar tetap bisa jajan, sementara yang pengin gaya punya opsi lebih mahal.

5. Sistem Order Fleksibel

Integrasikan pemesanan lewat QR, aplikasi delivery, atau pre-order untuk pick-up. Gen Z suka cepat, cashless, dan jelas harga totalnya.

6. Jadikan Pelanggan Kreator Konten

Ajak pelanggan bikin konten: challenge video makan pedas, bikin versi topping sendiri, atau review singkat yang kamu repost. Konten UGC (user generated content) bikin brand lebih dipercaya daripada iklan biasa.

7. Mainkan Komunitas & Event Kecil

Gen Z suka ngumpul. Bikin open mic malam Jumat, turnamen mini game mobile, atau workshop latte art. Begitu tempat kamu jadi “basecamp”, repeat order bakal ngalir.

8. Transparansi & Nilai Sosial

Isu lingkungan, bahan halal, penggunaan bahan lokal—semua penting. Kalau brand peduli hal ini, tampilkan jelas. Gen Z menghargai brand yang punya sikap.

9. Aktif di Platform yang Mereka Pakai

IG buat visual, TikTok buat behind-the-scenes & viral konten pendek, WhatsApp Catalog buat order cepat, dan mungkin Discord/Telegram buat komunitas khusus member. Setiap platform beda gaya komunikasinya.

10. Respons Cepat = Poin Tambah

DM dibalas, keluhan ditindak, dan review dihargai. Gen Z sering share pengalaman—yang positif bisa jadi promosi gratis, yang negatif bisa viral kalau diabaikan.

Contoh Kampanye Mini 7 Hari Buat Ngetes Pasar Gen Z

Hari 1–2: Drop teaser menu warna-warni.
Hari 3: Video TikTok “buka box + reaction.”
Hari 4: Challenge foto dengan hashtag khusus; repost favorit.
Hari 5: Diskon kecil untuk pelajar (tunjukkan kartu).
Hari 6: Live IG dari dapur atau proses racik menu.
Hari 7: Umumkan menu paling laris + bonus topping untuk pembelian ulang.

Masuk ke segmen anak muda nggak harus mahal, tapi harus peka. Dengan memahami pola pikir, kebutuhan sosial, dan cara mereka konsumsi konten, strategi kuliner bisa jauh lebih nempel. Ingat: rasa enak itu pondasi, tapi pengalaman, komunitas, dan cerita adalah yang bikin brand kamu dibicarakan, di-tag, dan direkomendasikan.