Bisnis Kinclong Ekspor Handicraft

0
230
Produk kerajinan ekspor (dok inacraftnews.com)

 

Pasar ekspor menjadi dambaan bagi setiap pelaku usaha, tak terkecuali produsen handicraft. Apalagi produk handicraft asal Indonesia sangat disukai pasar luar negeri. Tak heran menurut Titik Farida, pengajar peserta Balai Besar Pendidikan dan Pelatihan Ekspor (PPEI), Gedung PPEI Jl. Letjen S. Parman 112 Grogol Jakarta ekspor kerajinan tangan (handicraft) mengalami peningkatan sebesar 10% tiap tahunnya. Hal ini menunjukkan bahwa ekspor kerajinan tangan memiliki prospek yang bagus dan perlu ditingkatkan lagi.

Saat ini, pangsa pasar ekspor handicraft yang mudah digarap adalah negara Malaysia dan Timur Tengah. Hal ini disebabkan Malaysia dan Timur Tengah memiliki corak budaya yang mendekati budaya Indonesia yaitu budaya Melayu dengan handicraft bernuansa religius. Produk-produk ekspor ke negara tersebut lebih ke arah produk souvenir seperti kaligrafi ukir dan cetak, tirai, sarung bantal, miniatur otomotif, serta produk dari kain perca dan dedaunan kering dan anyaman-anyaman. Demikian juga dengan pajangan berukir khas Melayu dan bergaya Timur Tengah.

Selain Malaysia dan Timur Tengah, negara-negara yang potensial sebagai tujuan pangsa ekspor kerajinan tangan adalah Jepang, Belanda. Italia, Prancis, Tunisia, Australia dan beberapa negara Eropa lainnya. Hal ini karena budaya penduduk negara tersebut dikenal sangat konsumtif, memiliki standar hidup yang tinggi dan pendapatan perkapita masyarakatnya juga tinggi.

Sebelum melakukan ekspor, eksportir harus mempelajari dan tahu betul karakter tipologi suatu negara yang akan dituju. Antara negara satu dengan negara lainnya memiliki kesukaan produk yang berbeda. Hal ini perlu diperhatikan oleh eksportir agar produk yang diekspornya betul-betul tepat sasaran. “Pemahaman budaya berbisnis dalam memasuki pasar internasional sangatlah penting supaya ekspor suatu produk berhasil. Misalnya mengenal selera pasarnya dan musim yang ada di negara tersebut,” jelas Titik Farida.

Produk kerajinan tangan yang masih tren diminati pasar ekspor terutama berbahan baku ramah lingkungan. Misalnya dari eceng gondok, tempurung kelapa, mendong, bambu, kayu dan beberapa bahan baku lainnya. Selain bahan baku yang ramah lingkungan, perlu diperhatikan pula asal bahan baku dari produk yang menggunakan bahan kayu. Produk tersebut harus berasal dari jenis pohon yang cepat tumbuh dan bukan pohon langka serta tidak merusak lingkungan alam. Misalnya, bahan baku dari kayu Sonokeling, Sengon dan Bambu yang di habitatnya masih banyak dan mudah tumbuh.

Produk kerajinan kayu dengan bahan baku berbasis pemulihan fungsi lingkungan alam juga menjadi incaran para pembeli di luar negeri. Sedangkan produk kerajinan yang memberikan kontribusi terhadap pemanasan global justru tidak lagi diminati buyer di luar negeri.

Prosedur Ekspor

Bagi eksportir yang ingin melakukan ekspor produk handicraft sebaiknya  melengkapi beberapa persyaratan, dari syarat administrasi seperti ijin usaha dan kelengkapan dokumen ekspor. Seperti Badan Usaha, TDP (Tanda Daftar Perusahaan), SIUP,  NPWP, PEB (Pemberitahuan Ekspor Barang) di kantor Bea Cukai, sedangkan COO (Certificate of Origin) dan SM (Sertifikat Mutu) di Kementerian Perindustrian dan Kementerian Perdagangan.

Untuk sistem pembayaran, sebaiknya eksportir lebih berhati-hati dalam kontrak awal kerja sama. Untuk sistem pembayaran tempo, sebaiknya menggunakan sistem pembayaran berjangka atau kredit, baik dengan Letter of Credit (L/C) atau tanpa L/C, dengan Document Against Payment (D/P), atau Document Against Acceptance (D/A), dan konsinyasi yang tergantung kontrak kerja sama yang dilakukan.

Letter of Credit (L/C) dalam kegiatan ekspor-impor merupakan cara pembayaran yang cukup aman untuk ditempuh. Pasalnya cara pembayaran ini melibatkan pihak ketiga yang disebut dengan correspondent bank di antara eksportir dan importir. Ini dapat menghindari hal-hal yang kurang diinginkan seperti pengiriman ekspor tanpa dilakukan pembayaran.

Pemasaran

Bagi eksportir pemula, yang belum memiliki izin-izin usaha atau dokumen tersebut, sebaiknya bergabung dengan asosiasi seperti ASEPHI (Asosiasi Eksportir dan Produsen Handicraft Indonesia), dan bisa pula  mengikuti  kursus di PPEI (Pendidikan dan Pelatihan Ekspor Indonesia). Selain mengetahui persyaratan mengenai ekspor, juga bisa mendapatkan link buyer.  Selain itu bisa mengikuti pameran handicraft berskala  nasional dan internasional, serta membuat website mengenai produk yang akan dipasarkan.

Eksportir biasanya memasok produk handicrfat dari para pengrajin  di daerah, namun bagi para pengrajin yang sudah mengetahui prosedur ekspor biasanya  akan melakukan proses ekspor sendiri. Salah satu pengrajin yang menyuplai produknya ke eksportir adalah Sukatno, produsen kerajinan bambu di Desa Wonoanti, Kecamatan Gandusari, Trenggalek dengan nama “Bambu Indah.” Produk handicraftnya dari anyaman bambu sudah diekspor ke Amerika, antara lain kotak snack, rantang, tudung saji, tempat tisu, tempat parsel, dan keranjang dengan harga sekitar Rp 2.500-Rp 20 ribu.

Dalam memasok pesanan tergantung permintaan  eksportir, dan sebelumnya  eksportir memberikan DP dulu sekitar 25%, sisanya sebesar 25% dibayar ketika produk sudah hampir selesai dibuat, lalu  dilunasi ketika produk  sudah selesai dibuat dan siap dikirim. Dari harga jual handicraft tersebut, Sukatno meraup keuntungan bersih sekitar 30-35%. Keuntungan dari ekspor produk handicraft yang bisa diraup  eksportir  berkisar 200-400%. Berikut beberapa profil  eksportir yang  juga memproduksi  handicraft, profil eksportir yang bekerja sama dengan para pengrajin, serta direktori eksportir dan buyer handicraft.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.