Tagar Uninstall Bukalapak Meraja di Twitter, Pengaruhkah ke Bisnis?

0
1970

Berempat.com – Pada Kamis (15/2) malam, tagar Uninstall Bukalapak menjadi trending topik di Twitter. Bahkan, sampai dengan siang ini, Jumat (15/2) tagar tersebut masih bertahan. Tagar Uninstall Bukalapak sendiri muncul setelah CEO Bukalapak, Achmad Zaky mengunggah status di akun twitter pribadinya terkait biaya R&D di Indonesia pada 2016 yang termasuk kecil. Yakni hanya sebesar US$2 miliar atau Rp2 triliun. lebih kecil dibanding negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura.

Namun, yang menjadi persoalan warganet ialah kalimat yang ditulis di akhir unggahannya, yakni “Mudah2an presiden baru bisa naikin”. Sebab itu, banyak yang kemudian mengaitkan cuitan Zaky tersebut dengan Pilpres.

Kendati demikian, Achmad Zaky pun sempat mengunggah cuitan klarifikasi yang isinya meminta maaf kepada para pendukung Presiden sekaligus Calon Presiden Nomor Urut 2 Joko Widodo. Zaky meminta maaf atas mispersepsi pada kalimat presiden baru.

Selanjutnya, pernyataan resmi pun keluar dari Bukalapak melalui rilis yang disebar ke media massa pada hari ini. Pada rilis tertulis bahwa cuitan tersebut tidak bermaksud untuk mendukung atau tidak mendukung suatu calon presiden tertentu, melainkan ajakan untuk bersama membangun Indonesia melalui penelitian dan pengembangan ilmiah.

“Saya, Achmad Zaky selaku pribadi dan sebagai salah satu pendiri Bukalapak, dengan ini menyatakanpermohonan maaf yang sebesar-besarnya atas pernyataan yang saya sampaikan di media sosial. Saya sangat menyesali kekhilafan tindakan saya yang tidak bijaksana tersebut dan kiranya mohon dibukakan pintu maaf yang sebesar-besarnya,” ujar Achmad Zaky dalam rilis tersebut.

Lantas, apakah munculnya tagar #UninstallBukalapak dapat memengaruhi keputusan konsumen untuk tak lagi membuka salah satu startup Unicorn Indonesia itu? Atau mudahnya, dapat memengaruhi laju bisnis Bukalapak?

Infografis oleh : Kovan (Berempat.com)

Untuk menjawabnya, kita bisa berkaca pada persoalan serupa yang pernah terjadi. Selain Bukalapak, seperti yang kita tahu, dua perusahaan startup berlabel Unicorn juga pernah didera tagar serupa di Twitter, yakni Go-Jek dan Traveloka.

Tagar #UninstallGojek muncul pada Oktober 2018 lalu sebagai bentuk protes warganet atas pernyataan resmi Gojek yang mengindikasikan dukungan terhadap Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender (LGBT) di sosial media-nya. Apalagi, mengutip dari Selular.id, pernyataan yang sama juga dilontarkan oleh Wakil Presiden Pengembangan Bisnis dan Operasi Gojek Brata Santoso pada akun Facebook-nya.

Sementara, hampir serupa dengan Bukalapak yang dikaitkan pada pilihan politik, tagar #UninstallTraveloka muncul di Twitter setelah pianis Ananda Sukarlan melakukan walk out (WO) saat Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan berpidato dalam acara peringatan 90 tahun berdirinya Kolese Kanisius pada November 2017.

Tak lama, beredarlah kabar bahwa salah satu pendiri sekaligus CTO Traveloka Derianto Kusuma yang turut hadir menyalami dan memberikan ucapan selamat ke Ananda setelah aksi WO yang dianggap sebagai dukungan terhadap aksi Ananda.

Pasca aksi di media sosial tersebut, baik Go-Jek maupun Traveloka sama sekali seperti tak terimbas dari aksi tersebut. Go-Jek dan Traveloka bahkan terus melebarkan sayapnya, seperti ekspansi ke beberapa negara. Baru-baru ini Go-Jek bahkan telah mengantongi putaran pendanaan terbarunya yang membuat valuasinya naik hingga hampir membawa Go-Jek menjadi Decacorn.

Maka bisa disimpulkan bahwa merajanya tagar #Uninstall yang ditujukan kepada kedua perusahaan Unicorn tersebut tak berdampak signifikan pada bisnisnya. Hal yang sama mungkin saja bisa dirasakan Bukalapak. Apa yang digaungkan di media sosial tak terlalu berdampak pada perjalanan bisnisnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.