Baru 9% UMKM Indonesia yang Melek Teknologi

0
2926
Pengrajin di sektor UMKM. (infonawacita)

Berempat.com – Profil ekonomi Indonesia tampaknya didominasi oleh Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Menurut data Kementerian Koordinasi Bidang Ekonomi, UMKM memegang porsi 93,4% ekonomi di Indonesia, sedangkan usaha kelas menengah 5,1% dan korporasi hanya 1%. Sebab itu, tak heran jika UMKM dianggap punya andil besar dalam kemajuan ekonomi Indonesia.

Namun, rupanya dari presentase tersebut, masih sangat kecil pelaku UMKM yang melek teknologi. Padahal, saat ini Indonesia sudah memasuki Revolusi Industri 4.0 yang menempatkan teknologi sebagai pemeran utama dalam bisnis.

Founder & Consultant Cultivate Brand Anke Dwi Saputra mengatakan, pemanfaatan teknologi digital dalam strategi pemasaran perlu dilakukan oleh pelaku UMKM untuk meningkatkan daya saing. Namun, data dari PWC Indonesia menunjukkan bahwa hanya 9% pengelola UMKM yang memahami teknologi.

“Dengan pertumbuhan penjualan online sebesar 40% per tahun, tentu promosi secara online dinilai sangat penting. Sayangnya, baru 9% UMKM yang melek teknologi,” ujar Anke saat berbicara di Indonesia CSR Exhibition (ICE) 2018 di Kinanti Building, Jakarta, Jumat (26/10).

Menurut Anke, saat ini calon pengusaha perlu membekali diri dengan pengetahuan teknologi dan digital agar bisnisnya dapat terus berjalan dan berkembang. Jika tidak ada pengembangan, tentu bisnis akan berjalan statis dan tak mengalami kemajuan. Maka dari itu, kreativitas juga dibutuhkan dalam proses peningkatan UMKM.

Menurut Anke, kreativitas menjadi modal bisnis di era digital. Sebab dengan kreativitas, kita bisa mengembangkan usaha menjadi besar. Namun, Anke mewanti-wanti bahwa kreativitas juga harus diiringi dengan technology savvy, yakni membawa penjualan ke platform digital dengan strategi marketing yang telah dirancang sebelumnya.

Selain inovasi dari segi pemasaran, Anke juga menekankan pentingnya inovasi pada produk atau jasa yang ditawarkan. Apalagi, bila produk yang ditawarkan menyasar generasi millennial. Pasalnya, menurut Anke, generasi tersebut cenderung mudah penasaran sekaligus bosan.

Namun, di samping itu produk juga harus memiliki kualitas baik dengan harga yang tetap terjangkau. Bahkan, jika memungkinkan buatlah produk yang dapat menjadi bagian dari ekspresi atau emosi komunitas tertentu.

“Contohnya, batik Trusmi dan produk-produk kaus Yogya, mereka mewakili kebudayaan dan kota sehingga menjadi ciri khas di sana,” terang Anke.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.