Berada di Cincin Api, Indonesia Perlu Maksimalkan Helikopter

0
350
Helikopter Basarnas. (Dok. Tempo.co)

Berempat.com – Posisi Indonesia yang berada di kawasan ring of fire atau cincin api Asia Pasifik membuat negara ini rentan akan bencana alam. Untuk itu, Indonesia seyogianya memiliki kesiapan ekstra untuk urusan penanggulangan bencana alam. Salah satu alternatif yang mesti dimiliki ialah kesediaan helikopter.

Menurut Ketua Asosiasi Pilot Helikopter Indonesia (APHI) Capt. Imanuddin Yunus, keberadaan helikopter akan sangat membantu dalam hal penanganan bencana nasional. Pasalnya, helikopter ialah moda transportasi udara yang memiliki kemampuan menjelajah dan mendarat di kondisi apa pun.

“Saat terjadi bencana dibutuhkan alternatif transportasi yang cepat, anytime, dan bisa mendarat di mana-mana, walaupun dalam kondisi infrastruktur yang rusak. Dan itu menjadi kemampuan pesawat helikopter,” ujar Yunus saat berbicara di Rotary Wing Indonesia Conference 2018 di JW Marriott, Jakarta, 26 September 2018 lalu.

Sebab itu, pilot helikopter yang sudah memiliki 10 ribu lebih jam terbang ini berharap setiap provinsi di Indonesia yang masuk sebagai kawasan rawan bencana alam bisa memiliki helikopternya sendiri.

“Jika dalam kondisi normal, tak ada bencana, helikopter tersebut bisa dimaksimalkan untuk keperluan pemerintah daerah, seperti kunjungan ke daerah-daerah terpencil,” imbuh Yunus.

Menurut Yunus, sebagai negara kepulauan yang memiliki wilayah terpencil dan sulit dijangkau oleh transportasi pada umumnya, Indonesia perlu untuk memanfaatkan helikopter.

Boleh dibilang, Yunus mendorong pemerintah agar mulai peduli dan memperbanyak armada helikopter serta lebih merata dalam penyebarannya. Pasalnya, helikopter merupakan moda transportasi yang dinilai cepat, efisien, aman, dan dapat menjangkau kawasan terpencil. Sebab helikopter tak butuh lokasi mendarat yang lebar dan panjang.

Selain untuk penanggulangan bencana alam, Yunus pun sempat menuturkan bahwa keberadaan helikopter bisa digunakan dalam hal penanggulangan kebakaran hutan.

“Kebakaran hutan terjadi setiap tahun dan itu tidak bisa dipungkiri. Beberapa daerah memiliki kandungan tanah yang dapat dikatakan mudah terbakar. Sehingga mempermudah terjadinya kebakaran, seperti di Kalimantan yaitu komposisi tanahnya terdiri dari batu bara dan gambut sehingga semakin mempercepat terjadinya kebakaran,” terangnya.

Kendati nantinya pemerintah telah menerapkan berbagai regulasi maupun upaya pencegahan, namun keberadaan helikopter tetap dibutuhkan untuk melakukan penanggulangan sewaktu-waktu. Sebab Yunus berkaca pada Amerika dan Australia yang tetap diterpa kebakaran hutan meski sudah mencegah semaksimal mungkin.

“Jadi sekali lagi, solusinya salah satunya dengan memasukkan pesawat helikopter sebagai salah satu solusi. Baik sebagai for early spotting, locating, preventing, dan atau untuk fighting the fire.

Pada kesempatan yang sama, Deputi Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Bernardus Wisnu Widjaja pun tak menampik akan kebutuhan helikopter di Indonesia. Terutama untuk urusan penanggulangan bencana.

Dalam presentasinya, Bernardus menyebut bahwa dalam penanggulangan kebakaran hutan di Sumatera Selatan pada 2018 saja, BNPB perlu 966 kali menerbangkan 12 helikopter yang dimiliki. Dari total penerbangan tersebut, BNPB berhasil melakukan pemboman air sebanyak 21.340 kali dengan menghabiskan total 81 juta liter air.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.