Sinergi Kebijakan Domestik dan Kerja Sama Internasional Dorong Pemulihan Ekonomi

0
3
Bank Indonesia. (Jawapos)

Dalam menghadapi dampak pandemi COVID-19, Bank Indonesia menekankan pentingnya sinergi antara kebijakan domestik dan kerja sama internasional untuk meningkatkan resiliensi perekonomian serta mendorong pemulihan dan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Hal ini disampaikan Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo dalam pertemuan Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Sentral negara-negara G20 yang diselenggarakan secara virtual sebagai bagian dari rangkaian Pertemuan Tahunan International Monetary Fund (IMF) dan World Bank pada 12-16 Oktober 2020.

Respons kebijakan berskala besar (extraordinary) di berbagai bidang, khususnya bidang moneter, fiskal, keuangan, dan kesehatan, yang diambil oleh berbagai negara di dunia telah mulai mendorong pemulihan ekonomi global. Sejalan dengan itu, IMF merevisi ke atas proyeksi ekonomi global tahun 2020 menjadi -4,4% (lebih baik daripada proyeksi pada Juni 2020 sebesar -4,9%). Perbaikan tersebut sejalan dengan realisasi pertumbuhan PDB Triwulan II-20 yang lebih baik dari prediksi semula, terutama di negara maju, dan aktivitas ekonomi yang mulai meningkat pasca pelonggaran pembatasan sosial. Meskipun demikian, prospek pertumbuhan perekonomian global masih dibayangi risiko akibat perkembangan pandemi yang belum sepenuhnya terkendali, volatilitas aliran modal sebagai akibat perubahan sentimen pasar, peningkatan beban utang, kerentanan di sektor keuangan, serta peningkatan kemiskinan dan ketimpangan. Di tengah berbagai risiko tersebut, pemulihan ekonomi global diperkirakan masih bersifat parsial, tidak merata dan dipenuhi ketidakpastian.

IMF memandang positif dilanjutkannya respons kebijakan yang bersifat extraordinary yang disesuaikan dengan kebutuhan dan perkembangan ekonomi di masing-masing negara. Dalam jangka pendek, kebijakan perlu diprioritaskan pada upaya untuk memastikan ketersediaan sumber daya yang memadai bagi layanan kesehatan, meningkatkan kepercayaan pasar, mengatasi dampak krisis terhadap lapangan kerja, serta mendorong pertumbuhan ekonomi. Dalam jangka menengah, dukungan kebijakan perlu dilakukan secara lebih terarah dan diprioritaskan untuk memulihkan produktivitas guna meningkatkan kapasitas perekonomian yang menyusut akibat dampak pandemi COVID-19 . Selain itu, kerja sama multilateral sangat penting untuk memperkuat upaya bersama memerangi krisis kesehatan dan ekonomi.

Pada Pertemuan Tahunan IMF-World Bank tahun ini, Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo juga menjadi narasumber mewakili kawasan Asia dan Pasifik pada sesi khusus Governor Talks[2] guna menjelaskan bauran kebijakan yang dijalankan Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan. Gubernur Bank Indonesia menyampaikan pengalaman Bank Indonesia dalam merumuskan dan mengimplementasikan bauran kebijakan untuk mengatasi beberapa krisis ekonomi yang pernah terjadi, termasuk pandemi COVID-19, khususnya dalam menghadapi volatilitas aliran modal asing dan nilai tukar, menjaga stabilitas sistem keuangan, dan mendukung pemulihan ekonomi.

Pada pertemuan Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Sentral negara-negara G20, seluruh negara anggota berkomitmen untuk melanjutkan dukungan kebijakan dalam menghadapi dampak ekonomi dari pandemi COVID-19 dan mempererat kerja sama internasional guna mencapai pertumbuhan ekonomi yang kuat, berkelanjutan, berimbang dan inklusif[3]. Pada pertemuan tersebut secara spesifik Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo juga menyampaikan 5 (lima) respons kebijakan Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan, yaitu kebijakan moneter yang akomodatif, stabilisasi nilai tukar, pemberian stimulus moneter dalam bentuk quantitative easing, skema burden sharing dengan pemerintah untuk memastikan kelancaran stimulus fiskal, serta pelonggaran kebijakan makroprudensial.

Dalam rangka mengomunikasikan perkembangan ekonomi dan respons kebijakan yang ditempuh Indonesia, pada kesempatan rangkaian Pertemuan Tahunan IMF-World Bank tersebut Bank Indonesia melakukan pertemuan virtual dengan sejumlah investor dan pelaku pasar keuangan di luar negeri. Selain itu, Bank Indonesia juga mengikuti berbagai diskusi bersama institusi dan otoritas negara lain mengenai dampak pandemi COVID-19 terhadap berbagai aspek seperti fintech, inklusi keuangan dan risiko sehubungan dengan meningkatnya pemanfaatan teknologi digital.

Bank Indonesia bersama dengan Pemerintah dan Lembaga/Instansi terkait akan terus menempuh langkah-langkah kebijakan lanjutan yang diperlukan dalam mendukung program Pemulihan Ekonomi Nasional dengan mencermati dinamika perekonomian dan pasar keuangan global serta penyebaran COVID-19 dan dampaknya terhadap prospek perekonomian Indonesia dari waktu ke waktu.