Di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik global, terutama konflik yang kembali memanas di kawasan Timur Tengah, Bank Indonesia (BI) menilai sektor kredit perbankan akan menjadi salah satu penopang utama pertumbuhan ekonomi nasional sepanjang 2026. Peran pembiayaan dari sektor perbankan dinilai semakin penting untuk menjaga aktivitas dunia usaha dan konsumsi masyarakat tetap bergerak di tengah tekanan eksternal yang belum mereda.
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menegaskan penguatan penyaluran kredit perbankan harus terus dilakukan agar momentum pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap terjaga. Menurutnya, kondisi global yang penuh ketidakpastian membuat sektor keuangan nasional perlu bekerja lebih agresif namun tetap hati-hati dalam menjaga stabilitas.
Dalam pengumuman hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI periode Mei 2026, Perry menyebut pertumbuhan kredit pada April 2026 menunjukkan tren positif. Penyaluran kredit tercatat tumbuh 9,98 persen secara tahunan atau year on year (yoy), lebih tinggi dibandingkan Maret 2026 yang berada di level 9,49 persen.
Pertumbuhan tersebut ditopang oleh peningkatan pembiayaan di sejumlah sektor utama. Kredit investasi menjadi penyumbang tertinggi dengan pertumbuhan mencapai 19,48 persen. Sementara kredit modal kerja tumbuh 6,04 persen dan kredit konsumsi meningkat sebesar 6,13 persen.
Bank Indonesia memandang capaian tersebut menjadi sinyal bahwa aktivitas ekonomi domestik masih cukup kuat meski tekanan global terus meningkat. Kinerja kredit perbankan yang tetap tumbuh juga menunjukkan dunia usaha masih memiliki optimisme untuk melakukan ekspansi bisnis.
Likuiditas Perbankan Dinilai Masih Sangat Kuat
Selain pertumbuhan kredit yang positif, BI juga melihat kondisi likuiditas perbankan nasional masih berada dalam posisi aman. Hal ini tercermin dari besarnya fasilitas pinjaman yang belum digunakan atau undisbursed loan yang mencapai Rp2.551,42 triliun.
Nilai tersebut setara dengan 22,57 persen dari total plafon kredit yang tersedia. Kondisi itu memberi ruang cukup besar bagi bank untuk terus memperluas penyaluran pembiayaan ke berbagai sektor ekonomi.
Tak hanya itu, rasio Alat Likuid terhadap Dana Pihak Ketiga (AL/DPK) juga tercatat berada di level 25,39 persen pada April 2026. Dana pihak ketiga (DPK) pun masih tumbuh tinggi sebesar 11,39 persen secara tahunan.
Bank Indonesia optimistis pertumbuhan kredit perbankan sepanjang 2026 masih dapat bergerak di kisaran 8 hingga 12 persen. Target tersebut diyakini realistis mengingat kondisi likuiditas dan kapasitas pembiayaan bank masih sangat memadai.
Di sisi lain, BI juga menilai efisiensi suku bunga perbankan masih dapat terus diperbaiki. Pada April 2026, rata-rata suku bunga kredit tercatat sebesar 8,73 persen, sementara bunga deposito satu bulan berada di level 4,16 persen.
Menurut Perry, Bank Indonesia akan terus memperkuat kebijakan makroprudensial yang akomodatif untuk mendukung penyaluran pembiayaan. Langkah tersebut dilakukan melalui penguatan kebijakan Rasio Intermediasi Makroprudensial (RIM) serta Kebijakan Likuiditas Makroprudensial (KLM).
Risiko Geopolitik Diwaspadai, Perbankan Tetap Stabil
Meski konflik di Timur Tengah masih menjadi ancaman bagi ekonomi global, BI memastikan kondisi perbankan nasional tetap berada dalam kategori sehat dan stabil. Ketahanan sektor keuangan disebut masih sangat kuat dalam menghadapi berbagai risiko eksternal.
Hal ini terlihat dari rasio kecukupan modal atau Capital Adequacy Ratio (CAR) perbankan yang mencapai 25,09 persen pada Maret 2026. Angka tersebut dinilai cukup tinggi untuk menyerap potensi risiko yang muncul akibat gejolak global.
Sementara itu, rasio kredit bermasalah atau Non-Performing Loan (NPL) juga tetap terkendali. Secara agregat, NPL bruto tercatat sebesar 2,14 persen dan NPL neto berada di level 0,83 persen.
Perry menjelaskan hasil stress test yang dilakukan Bank Indonesia menunjukkan sektor perbankan nasional masih mampu bertahan menghadapi berbagai tekanan, termasuk dampak lanjutan konflik Timur Tengah.
Menurutnya, kemampuan bayar korporasi yang masih terjaga serta profitabilitas dunia usaha yang relatif stabil menjadi faktor penting yang mendukung ketahanan sektor keuangan nasional saat ini.
Karena itu, koordinasi antara Bank Indonesia, pemerintah, dan Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) akan terus diperkuat agar stabilitas sistem keuangan tetap terjaga sekaligus menjaga pertumbuhan kredit perbankan tetap berada di jalur positif sepanjang tahun ini.







