Sri Mulyani Buka Suara Soal Dolar yang Hampir Sentuh Rp 15.300

0
251
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati. (Kumparan/Yudhistira Amran Saleh)

Berempat.com – Pagi ini dolar Amerika Serikat (AS) masih tak mau mengendur terhadap rupiah. Mengutip dari Reuters, Selasa (9/10), dolar AS dibuka di Rp 15.215 dan terus menguat hingga menyentuh Rp 15.230. Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pagi ini memang cenderung lebih lemah dibanding Senin (8/10) sore yang mencapai Rp 15.244.

Namun, tetap saja dolar AS masih betah bertengger di kisaran Rp 15.200. Secara year to date (ytd) atau dari awal tahun hingga saat ini, dolar AS sudah menguat terhadap rupiah sebesar 12,25 persen.

Melihat hal tersebut, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati pun buka suara. Yani menyebut bahwa menguatnya dolar AS kali ini karena faktor eksternal, tepatnya karena dinamika ekonomi AS yang mendominasi dan cepat.

Yani menerangkan bahwa menguatnya dolar AS kali ini lantaran imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS yang terus meningkat hingga mencapai 3,4%. Yani sendiri tak mengira bahwa yield obligasi AS bisa sekuat itu karena biasanya hanya di bawah 3%.

“Kalau dulu tresshold psikologisnya sepuluh tahun bonds AS 3 persen, jadi pas mereka mendekati 3 persen memunculkan apa yang disebut reaksi dari seluruh nilai tukar dan suku bunga internasional,” papar Yani di sela-sela rangkaian acara Annual Meeting IMF-WB, Nusa Dua, Bali, Senin (8/10).

Yani tak menampik bahwa pemerintah Indonesia harus lebih berhati-hati dari segi kecepatan ekonomi tersebut. Namun, ia memastikan bahwa pemerintah telah mengantisipasi risiko global seperti ini dengan berbagai penyesuaian. Salah satunya fleksibilitas dari nilai tukar rupiah.

“Fleksibilitas dari nilai tukar tidak bisa dihindarkan, dia merupakan bagian dari respon selingkungan global yang masih terus berjalan,” jelasnya.

Selain itu, untuk menjaga rupiah tetap stabil, Yani menyebut bahwa pemerintah terus berkoordinasi dengan Bank Indonesia (BI). Salah satunya ialah dengan melakukan kebijakan campuran.

“Jadi kami dengan BI akan terus melakukan policy mix yang ada domain BI dalam mengelola nilai tukar, makroprudensial dan dari sisi intervensi,” terangnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.