Pandawa Putra Cetak Omset Ratusan Juta dari Adjuvant Herbisida

0
102
dok swa.co.id

 

Di Indonesia, penggunaan herbisida kimiawi untuk memberantas tumbuhan pengganggu atau disebut gulma seperti rumput liar pada perkebunan atau pertanian masih sangat tinggi. Itu sebabnya produk minyak sawit tidak bisa diterima oleh beberapa negara yang menggunakan standar Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO). Hal inilah yang menjadi perhatian ketiga Alumnus Institut Pertanian Bogor, Kukuh Roxa Putra Hadriyono, Sigit Pramono dan Wahyudi.

Menurut Kukuh Roxa Putra Hadriyono atau akrab disapa Kukuh, herbisida dengan bahan aktif kimia sebesar 100% bisa memberantas gulma. Tapi di sisi lain, penggunaan bahan aktif kimia yang berlebihan akan merusak lingkungan. Hal ini mendorong Kukuh dan kedua teman untuk menemukan solusi guna menekan penggunaan herbisida kimia.

Mereka pun melakukan uji coba untuk menurunkan dosis racun pada herbisida, dan berhasil menemukan adjuvant atau bahan campuran untuk menurunkan dosis racun pada herbisida, tetapi kualitas mematikan gulma tetap sama.  Adjuvant tersebut bisa mengurangi dosis penggunaan herbisida sebesar 50%. Jika biasanya petani menggunakan satu liter herbisida untuk menyemprot tanaman, maka dengan tambahan adjuvant, petani cukup menggunakan setengah liter herbisida saja. Bahan tersebut bisa dicampur dengan semua jenis merek herbisida.

Adjuvant ini berasal dari bahan organik yang mudah ditemukan di alam. Kukuh memerlukan waktu sekitar enam bulan untuk melakukan riset dan pengembangan. Produknya harus beberapa kali diuji di laboratoirum Kementerian Pertanian selama tiga bulan karena terbilang masih baru, dan belum ada laboratorium yang mengeluarkan izin pengujian.

“Produk ini  campurannya herbisida. Kalau untuk aplikasi mematikan rumput itu biasanya pakai herbisida, ini kami arahkan setengahnya herbisida, setengahnya Solut-ioN. Intinya, ini sebagai campuran, atau tidak bisa dipakai tunggal. Produk ini gunanya untuk menurunkan dosis racun yang ada di herbisida, tetapi kualitas kematian rumput tetap sama. Segala merek atau bahan aktif herbisida bisa dicampur dengan ini. Sekarang ini, kalau digunakan 100 persen herbisida, dampaknya ke lingkungan dan kesehatan,” ujar Kukuh.

Produk yang diberi nama Solut-ioN tersebut telah mengantarkan Kukuh dan teman-temannya mendapat penghargaan sebagai juara pertama Mandiri Young Technopreneur 2013 kategori teknologi-non IT. Selain itu mereka juga memperoleh penghargaan sebagai Wirausaha Muda Bidang Pertanian Kemenpora 2013, Young Change Maker 2013 dari Ashoka Indonesia, dan Juara 1 di Impact Venture Application Program LGT VP-GEPI 2012.

Kukuh mengatakan, modal yang digunakan untuk membuat Solut-ioN hanya sebesar Rp 6 juta, dan tambahan modal diperoleh saat mereka mendapat penghargaan Mandiri Young Technopreneur 2013 dengan total hadiah Rp 50 juta plus capital project senilai Rp 500 juta untuk kategori non-IT. Uang itu digunakan sebagai modal untuk pengembangan usaha.

Sebelum membuat Solut-ioN, Kukuh dan rekan-rekannya pernah menjalankan usaha pembuatan minyak atsiri di tahun 2010. Lalu beralih usaha penjualan benih padi. Dari keuntungan yang dikumpulkan, mereka mulai ekspansi memasarkan sarana produksi pertanian. Lalu pada 2012, Kukuh bersama kedua temannya mendirikan perusahaan CV Pandawa Putra Indonesia di Banyuwangi, Jawa Timur yang bergerak dalam bidang pertanian. Kukuh menjadi pemimpin perusahaan yang menjual obat-obat pertanian, pupuk organik dan berbagai macam benih padi, yang sebagian besar produknya merupakan buatan mereka sendiri tersebut. Hingga kini, mereka menjual tujuh macam benih padi dan 16 produk sarana pertanian, salah satunya adjuvant herbisida Solut-ioN.

“Awal berdirinya tahun 2010, tapi kita sudah mulai sejak awal kuliah, jadi dari tahun 2008 kita sudah ikut proyek dosen dan lainnya. Kita juga suka ambil proyek di luar kampus dan tahun 2010 baru fokus. Tahun 2012 kita membentuk badan usaha, dan tahun 2014 ini berdiri PT Pandawa Agri Indonesia. Di 2013 juga kita buat produk pembenihan padi yang kita beri nama Padi Nusantara,” ungkap Kukuh.

Produk

Manfaat dan keistimewaan adjuvant herbisida Solut-ioN produksi Pandawa Putra Indonesia antara lain dapat digunakan untuk campuran herbisida di perkebunan, kehutanan, dan lahan pertanian, dapat mengurangi penggunaan herbisida pra-tanam (olah tanah) khususnya berbahan aktif glifosat atau paraquat sampai 50% dari dosis biasanya. Kualitas hasil sasaran pengendalian gulma menjadi lebih efektif meskipun dosis herbisida yang dipakai berkurang.

Selain itu adjuvant ini dapat dikombinasikan atau dicampurkan dengan semua jenis herbisida yang ada di pasaran khususnya untuk herbisida pra-tanam. Dengan berkurangnya dosis herbisida yang dipakai maka kadar/dampak negatif dari herbisida dapat dikurangi, sehingga biaya pengendalian gulma menjadi lebih ekonomis karena harga Solut-ioN lebih terjangkau yakni seharga Rp 35 ribu/L. Kukuh mengemas produknya dalam kemasan 1 L dan 20 L.

Petunjuk penggunaan Solut-ioN dengan mencampurkan pada herbisida khususnya pra-tanam dengan perbandingan 1 : 1. Konsentrasi campuran (Solut-ioN + herbisida) 100-200 ml/tangki 14 L. Dosisnya mengikuti ½ dosis pemakaian herbisida pada umumnya karena pemakaian Solut-ioN ini sangat efektif direkomendasikan sebagai campuran herbisida pra-tanam. Selain memproduksi Solut-ioN, Pandawa Putra Indonesia juga memproduksi sekitar 15 produk sarana produksi pertanian lain seperti pupuk organik padat dan cair, pestisida nabati dan lainnya.

Mengenai bahan baku, Kukuh mengaku tidak ada kesulitan sejauh ini karena produknya 50%-nya berasal dari bahan organik, yang bisa didapatkan di alam. Sayang, Kukuh enggan menjelaskan secara rinci formulasi dan bahan baku produk tersebut. “Kalau herbisida itu 100% bahan aktifnya impor, kalau produk kami 100% itu berasal dari lokal,” papar Kukuh. Lebih lanjut ia mengatakan bahwa saat ini kapasitas penjualan adjuvant herbisida Solut-ioN per bulan saat ini sekitar 5.000 L. Jika harga per liter Rp 35 ribu maka omset yang dikantongi Kukuh dan rekannya untuk produk Solut-ioN sebesar Rp 175 juta/bulan, belum termasuk penjualan produk pertanian lain.

Strategi Eksis

Dalam membesarkan bisnisnya agar bisa bertahan lama, Kukuh menegaskan bahwa startegi yang ia terapkan bersama timnya adalah dalam hal inovasi produk. Pandawa Putra Indonesia selalu berkomitmen untuk menjadi pioneer di bidang pertanian, bukan menjadi follower.

“Strategi kita lebih ke inovasi, jadi kita membuat ‘sesuatu’ yang belum ada dan belum dikembangkan orang lain di bidang pertanian. Karena kita basic-nya dari IPB Bogor, kita merasa kalau mau membuat hal-hal inovatif itu gampang, misal kalau mau diskusi kita bisa langsung ke pihak IPB yang bersangkutan. Kita juga bisa langsung  bergerak sosialisasi ke petani. Intinya, kita bikin produk bukan kita yang mikir mau buat apa ya?, tapi kita lebih menggali kebutuhan konsumen dalam hal ini petani maunya apa,” tutur Kukuh semangat.

Kini usaha ini telah berkembang dengan memiliki 4 orang di bagian manajemen dan 18 tenaga kerja produksi. Pada produk adjuvant herbisida Solut-ioN, Kukuh menargetkan produksi sekitar 100 ribu liter tahun 2014 ini dan di tahun 2015 produksinya ditargetkan bisa naik sebesar 25 %.

Kunci sukses Kukuh dalam berbisnis juga tak luput dari dukungan petani yang menjadi konsumennya serta kerjasama tim usaha yang solid dalam menjalankan usaha. Melalui kedekatan dengan kelompok tani, ia cepat mengetahui kebutuhan mereka. Kedekatan itu juga menjadi jalan memperkenalkan riset yang selama ini kerap tidak menjangkau petani. Beberapa diantara petani bahkan mengajukan diri sebagai target uji coba produk kreasi Kukuh. Ia pun mengakui dukungan rekan-rekan sesama alumni pertanian menjadi penopang keberhasilannya.

“Yang paling penting itu kuncinya fokus, selain itu kita harus humble. Anak muda biasanya suka show off, sementara yang tua biasanya lebih wise. Anak muda biasanya suka menggebu-gebu dalam mengejar untung, padahal yang namanya bisnis itu pasti fluktuatif. Kita pun harus siap kala kita jatuh, itulah gunanya humble,” papar Kukuh bijak.

Menyasar Korporat.

Pemasaran produk pertanian Pandawa Putra Indonesia menurut Kukuh bisa dibilang lebih menyasar business to business dengan menggandeng beberapa distributor sarana pertanian di tiap daerah dan menyasar kalangan korporat. Hingga saat ini Pandawa Putra Indonesia telah memiliki 5 distributor di wilayah Jawa, Sumatera, Kalimantan, Nusa Tenggara, dan lainnya. “Syarat distributor berpengalaman dan belanja Solut-ioN minimal 5.000 L. Agen biasanya berhubungan dengan distributor. Kita juga suka kontrol mengenai tingkat harga di petani, edukasinya apakah sampai atau tidak,” terang Kukuh.

Menurut Kukuh, permintaan pesanan produk biasa melonjak jika ada proyek di perusahaan bidang pertanian. “Kita tidak main proyek langsung, tapi biasanya perusahaan yang punya proyek akan menunjuk produsen. Produsen organik kan nggak banyak, nah biasanya produsen itu bermitra dengan kita untuk memenuhi permintaan,” ujar Kukuh. Lebih lanjut Kukuh pun memaparkan bahwa ia tak begitu gencar berpromosi seperti beriklan atau mengikuti pameran. Salah satu pameran yang ia ikuti lebih tertuju ke acara yang diadakan oleh korporat itu sendiri, seperti bulan lalu Pandawa Putra Indonesia mengikuti pameran International Oil Palm Conference 2014 di Nusa Dua, Bali. “Bagi kami lebih efektif kalau menyasar langsung acara korporat,” kata Kukuh.

Ke depannya, Kukuh dan rekannya ingin bisa lebih mengembangkan bisnis berbasis pertanian terintegrasi dari hulu hingga hilir. Ia pun berharap bisa menjual Solut-ioN ke pasar ekspor. “Ekspor belum, tapi akan. As soon as posibble,” tuturnya sambil tersenyum.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.