Arafa Tea Berdayakan Petani Teh

0
10

Kepedulian yang besar terhadap kesejahteraan para petani teh mendorong Iffah Syarifah untuk merintis usaha membuat produk teh di tahun 2011.  “Saya ingin petani teh itu menjadi entrepreneur. Selama ini petani jadi buruh teh saja yang menjual daun teh basah dengan harga murah ke pabrik. Saya berpikir bagaimana petani bisa jual dalam bentuk kering dan berkelompok membuat produk teh sehingga kesejahteraannya meningkat,” jelas wanita kelahiran  1967.

Dengan brand usaha Arafa Tea, Iffah mulai mengembangkan produk teh putih. “Arafa itu arif atau bijaksana, jadi peminum teh harus bijak terhadap dirinya karena dalam teh terkandung zat L- teanin untuk memicu gelombang otak kita supaya fokus, jadi peminum teh itu pasti tidak marah, fokus dan sigap dalam belajar atau bekerja, rileks, happy. Makanya di China matcha digunakan untuk meditasi memicu gelombang alfa supaya fokus,” paparnya.

Jenis teh yang diproduksi adalah teh putih yang dibuat secara tradisional tanpa mesin dengan modal Rp 50 juta termasuk rumah produksi yang berlokasi di kota Bandung.  Bahan baku teh putih dari daun teh pucuk yang belum mekar.  Dari 1 ha perkebunan teh umumnya menghasilkan 10 kg teh putih kering siap konsumsi dan dijual sekitar Rp3,5 juta per kg.

Iffah kemudian membuat mesin penghalus teh dengan memberdayakan mahasiswa teknik mesin ITB.  “Kita lihat mesin penghalus teh di China dan Jepang peralatannya mahal sekali, lalu kita lakukan inovasi membuat mesin seperti di China atau Jepang, dengan menggunakan batu asal Majalengka untuk menghaluskan teh,” terangnya.

Setelah dua bulan dipasarkan, produk Arafa Tea sudah mulai banyak pesanan. Di awal usaha marketnya dari kalangan rumah sakit karena kandungan antioksidan teh putih tinggi. Bahan baku teh putih dalam kondisi basah dari petani dibeli dengan harga Rp200 ribu per kg. Untuk 1 kg teh putih kering biasanya perlu bahan baku 7 kg teh putih basah. Teh putih basah itu kemudian diolah dengan kualitas kontrol yang bagus untuk menghasilkan teh putih premium.

Pengembangan produk teh putih juga turut meningkatkan pendapatan petani teh. Biasanya petani teh menjual bahan baku teh hitam atau teh hijau ke pabrik dengan harga hanya Rp 2.500 per kg, namun untuk teh putih basah bisa dijual dengan harga Rp 200 ribu per kg.

Dengan semangat untuk memberdayakan para petani teh menjadi entrepreneur, kini rumah produksinya berkembang dalam bentuk koperasi yang dikelola para petani teh di 6 kebun teh, yaitu Sukabumi, Cianjur, Ciwidey, Tasik, Garut, Yogyakarta. “Kita mengajak para petani teh di daerah yang semula hanya menjadi buruh teh untuk bisa menjadi entrepreneur. Para petani teh selama ini memasok ke pabrik teh swasta, lalu mengapa kita tidak membuat produk sendiri dengan keterbatasan dan kelebihan kita. Tidak hanya memasok teh basah ke pabrik saja, tapi juga memproduksi teh sendiri. Jadi para petani di beberapa kebun tersebut memiliki brand dan kemasan masing-masing. Produk mereka bersaing di pasaran itu tidak masalah,” jelasnya.

Saat ini karyawan rumah produksi Arafa Tea di Soreang, Bandung (di luar yang dikelola para petani teh) ada 5 orang, dan karyawan di marketing sekitar 15 orang Customer Service

Selain teh putih, produknya berkembang seperti di tahun 2014 Iffah mulai memproduksi powder teh atau matcha yang bisa menjadi matcha latte atau coklat. Arafa Tea juga memiliki varian produk teh hitam, teh hijau hingga produk kosmetik dengan bahan baku teh seperti body lotion, masker, serta minyak teh dari biji teh. “Kita juga kembangkan inovasi teh rempah setahun lalu bekerjasama dengan para petani rempah di Kerinci, Jambi yang mempunyai perkebunan kayu manis. Kita beli kayu manis dari petani di sana untuk membuat teh kayu manis,” tambahnya.

Produk teh yang dipasarkan juga sudah memiliki izin PIRT dan bersertifikat halal. “Konsep gudang harus diperhatikan dengan baik. Teh itu sebenarnya merupakan pengawet makanan, di China bahkan digunakan untuk pengawet mayat. Semakin lama teh akan semakin bagus asalkan pengemasan baik,” jelasnya.