Gurihnya Bisnis Makanan Ringan Anak-anak

0
3828
Dok: adhika.com

Makanan ringan juga termasuk jenis bisnis kuliner yang bertahan cukup lama dibandingkan menu kuliner lain yang tergolong makanan basah atau makanan berat. Sehingga perputaran penjualan bisa berjalan cukup lama.

Tren. Baik kalangan pabrikan maupun home industry membuat makanan ringan dengan berbagai varian produk. Lihat saja Orang Tua Group yang juga memproduksi makanan ringan anak-anak berupa wafer dengan beragam varian produk baru seperti waffle dengan variasi seperti Real Cheese, Crunchox, Cruncberry, dan Crunchmilk. Namun biasanya pabrikan makanan ringan tidak membuat semua jenis produk camilan, dan ada kekhususan tertentu.

Seperti dikatakan Sriboga, Corporate Communication Mayora Group, produsen makanan ringan termasuk untuk anak-anak, saat ini Mayora hanya fokus membuat camilan  berbentuk biskuit dan wafer dengan aneka variasi misalnya dibalut cokelat, bukan camilan berupa snack seperti Chiki atau sejenisnya.

Begitu pun makanan ringan anak-anak skala home industry yang saat ini sangat variatif jenisnya. Dari berbagai jenis makanan ringan anak-anak, saat ini sedang digemari makanan ringan anak-anak siap santap dalam kemasan namun dengan kandungan bahan yang menyehatkan.

Menurut pakar kuliner Budi Sutomo, tren makanan ringan atau jajanan yang disukai anak-anak didominasi oleh makanan kemasan, dengan warna, bentuk dan kemasan yang menarik.

Makanan ringan seperti sosis goreng, kentang goreng dengan aneka bumbu, cup cake dengan karakter binatang atau kartun, ice cream, dan pudding aneka warna, candy dan jelly diminati oleh anak-anak.

Saat ini makanan ringan anak-anak yang mengandung bahan baku menyehatkan, tanpa MSG dan pewarna serta pengawet mulai banyak diminati.

Segmen Pasar. Para produsen makanan ringan umumnya menyasar semua kelas mulai dari kelas bawah hingga atas. Namun ada pula yang khusus menyasar  segmen tertentu seperti Hendra Herdiansyah, produsen makanan ringan merek Rajawali yang memiliki workshop di Tasikmalaya, khusus membuat makanan ringan untuk anak-anak yang ditujukan untuk segmen menengah bawah. Harga jualnya sekitar Rp 7.000 per pack (isi 25 pcs, berat per pcs 250 gr) dengan kemasan dipilih dari plastik biasa. Harga tersebut merupakan harga  ke distributor dengan pembelian minimal 800 pack yang sudah termasuk ongkos kirim.

Lain halnya dengan Santos Jonathan, produsen makanan ringan Makaroni Goreng yang menyasar semua segmen market. Ia menawarkan  makanan ringan Makaroni Goreng untuk anak-anak dari usia mulai 9 tahun ke atas. Ia pun membuat tiga jenis produk untuk menyasar segmen market yang berbeda.

Di segmen market kelas menengah atas, ia membuat  Fusilli Crunch dengan enam variasi rasa, dan salah satunya adalah rasa Tiramisu Cokelat yang digemari oleh anak-anak. Santos memberi nama Fushilli Crunch pada jenis makaroni karena bahan baku macaroni tersebut merupakan jenis makaroni Fushilli.

Ada pula Makaroni Cetar (khusus rasa pedas dengan dua tingkatan kepedasan yaitu extra pedas dan super extra pedas yang saat ini merupakan produk keluaran terbarunya. Makaroni ini menyasar segmen pasar menengah atas. Bahan baku Makaroni Cetar sama dengan Fusilli Crunch, hanya saja racikan bumbu menggunakan cabai bubuk alami.

Menurut Santos, ia mengeluarkan produk baru untuk rasa pedas karena masyarakat Indonesia penggila pedas termasuk anak-anak yang sudah beranjak remaja usia 15 tahun ke atas. Anak sekolah usia mulai 15 tahun biasanya menyukai jenis extra pedas. Makaroni Cetar dijual seharga Rp 13 ribu per bungkus  dan Fusilli Crunch Rp 15 ribu per bungkus.

Modal Minim. Memulai bisnis makanan ringan tak harus bermodal besar. Dengan modal tak sampai puluhan juta rupiah pemula usaha ini bisa mulai merintis usaha  produksi makanan ringan. Modal usaha ini bahkan bisa dimulai dari ratusan ribu rupiah saja. Seperti pengalaman Santos Jonathan yang  menjalankan usaha makanan ringan anak dengan modal awal Rp 500 ribu sebagai seorang reseller.

Dari sana, ia mulai mengumpulkan modal tambahan  dan memutuskan untuk memproduksi sendiri dengan menawarkan kelebihan produk. Ia juga tidak mengikuti kursus dan belajar otodidak, namun ia berusaha mengikuti tren produk makanan ringan dengan bergabung dalam komunitas  usaha kecil untuk bisa saling sharing.

Persaingan Usaha. Kreasi baru makanan ringan  terus berkembang terutama dari cita rasa dan jenisnya. Kreasi baru ini juga merupakan salah satu cara mengatasi persaingan usaha makanan ringan anak-anak yang cukup ketat.

Persaingan usaha makanan ringan pasti akan selalu dihadapi oleh semua produsen di bisnis ini, tinggal bagaimana strategi masing-masing pelaku usaha untuk bisa memenangkan pasar.  Pesaing tak hanya datang dari kalangan produsen skala pabrikan, namun juga home industry  makanan ringan.

Cara lain mengatasi  persaingan  tentu saja pelaku usaha harus memberikan mutu atau kualitas produk  seperti dari bahan baku dan cara produksi, serta higienis, dan  terus berusaha memperbaiki setiap kekurangan yang ada pada produk.

Seperti penggunaan bahan baku bumbu tabur sebaiknya dipasok dari supplier bahan baku pabrikan karena kualitasnya  lebih terjamin dibandingkan dari pasar tradisional. Bahan baku dari pabrikan juga harus dipilih yang sudah memiliki lisensi dari BPOM, agar tidak mengandung bahan kimia yang membahayakan tubuh dan tanpa pewarna.

Meski persaingan bisnis makanan ringan untuk anak-anak cukup ketat apalagi dengan banyaknya makanan ringan asal pabrikan, namun menurut Hendra Herdiansyah makanan ringan home industry bisa tetap bersaing, buktinya penjualan selama ini tetap stabil. Usaha yang baru digeluti satu tahun lalu ini bahkan bisa memproduksi hingga 8.000 pack makanan ringan (isi 25 pcs) dalam seminggu atau rata-rata 28 ribu pack sebulan, dan diperkirakan omsetnya hampir mencapai Rp 250 juta.

Beberapa jenis makanan ringan ada yang persaingannya belum ketat seperti makanan ringan untuk kesehatan, stik keju citrasa tradisional, dan lainnya. Namun ada beberapa jenis yang sudah cukup ketat, antara lain keripik singkong untuk anak-anak.

Seperti pengakuan Putra Sabudi, produsen Keripik Singkong dengan merek Bocah yang dikhususkan untuk pasar anak-anak. Ia membuat camilan ini untuk   melengkapi varian produk Keripik Singkong rasa pedas bagi kalangan dewasa yang diberi merek Mister Monkey.

Strategi Pemasaran. Promosi usaha ini bisa dilakukan melalui berbagai media seperti media cetak, media elektronik, flyer, brosur. Selain itu bisa pula menarik konsumen dengan memberikan diskon produk saat launching selama periode waktu tertentu, atau menggunakan sistem poin dengan hadiah menarik.

Biasanya produsen makanan ringan pabrikan memasarkan kepada para distributor yang memiliki gudang-gudang (warehouses), lalu didistribusikan ke ke cabang-cabang mereka di kota-kota besar, barulah  dipasarkan ke para pedagang besar lalu ke pengecer.

Promosi juga bisa dilakukan secara online, melalui website, iklan gratis seperti tokobagus.com, Facebook atau Twitter. Bisa pula melalui reseller dan sistem titip jual di toko makanan ringan. Strategi lain dengan memperkenalkan produk melalui event bazaar di mal, kampus-kampus atau pameran skala besar.

Besarnya peluang usaha makanan ringan anak-anak terlihat dari raihan omset para pelaku usaha setiap bulannya. Seperti Muhammad Assad, Pemilik PT Rayan Boga Nusantara yang mengantungi omset hingga Rp 70 juta, Sarah Rahmawaty Nurhadi, Pemilik Farfalle Chocolate dan Cake dengan omset hingga Rp 100 juta dan Stella Utomo pemilik Rumah Asap dengan oimset Rp 50 juta setiap bulan.

Keuntungan usaha ini pun cukup tinggi hingga 57 persen.  Omset yang cukup besar itu tak lepas dari krreasi-kreasi baru makanan ringan yang dibuat, mulai dari Cake Pops, Sosis tanpa pengawet, MSG dan pewarna, hingga Stik keju citarasa tradisional seperti rasa rendang, rumput laut, ayam panggang dan pedas. Jika anda  tertarik menangkap peluang bisnis ini, silakan ikuti ulasan lebih dalam di lembar-lembar halaman berikut, semoga bermanfaat!.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.