Usaha Cabai Giling dengan Kemasan Modern

0
556
Cabe kemasan (dok pengusahasukses.com)

Indonesia merupakan negara yang kaya akan rempah-rempah, dari dulu sampai saat ini rempah-rempah tersebut tetap digunakan untuk berbagai hal, salah satunya sebagai bumbu masak. Bumbu masak dapur seperti bumbu giling sangat mudah didapatkan di pasar-pasar tradisional dengan bentuk kemasan plastik atau sebagainya. Namun sekarang produk bumbu dapur tersebut telah berkembang dengan kemasan yang lebih modern seiring dengan kemajuan zaman. Tujuannya agar dapat menarik perhatian dan memudahkan konsumen dalam kegiatan masak-memasak.

Sayangnya tanpa disadari selama ini kebanyakan bumbu yang beredar banyak yang mengandung bahan pewarna dan formalin yang dapat merusak kesehatan manusia. Untuk itu bila Anda berminat memulai usaha ini hindarilah pemakaian zat-zat berbahaya tersebut. Bicara mengenai usaha di sektor ini, prospek usaha olahan cabai atau cabai giling masih terbilang cukup baik karena selalu ada permintaannya meskipun pelaku usahanya sudah cukup banyak karena proses pengolahannya yang tidak terlalu sulit. Modal yang dibutuhkan berkisar Rp 15 juta untuk membeli mesin dan rempah-rempah yang dibutuhkan.

Produk dan Bahan Baku. Ada berbagai jenis olahan cabai giling yang digunakan sebagai bumbu masak di pasaran, tetapi Anda bisa memulainya dengan menawarkan bumbu untuk berbagai makanan yang familiar di negeri ini. Misalnya bumbu rendang, bumbu semur, bumbu gule kare, bumbu ayam bakar, bumbu ayam goreng, bumbu opor, dan bumbu pepes ikan yang bisa dijual dengan harga sekitar Rp 15 ribu per kemasan standing pos.

Bahan baku utama yang dibutuhkan dalam usaha ini tentu saja cabai (Capsium sp). Namun yang perlu diperhatikan adalah memilih cabai yang tepat untuk bumbu giling yang ingin dibuat. Pasalnya terdapat berbagai jenis cabai yang diperkirakan hingga lebih dari 20 jenis, di antaranya ada cabai keriting, lit super, hot beauty, cabai paris, cabai long chili, dan seterusnya. Setiap jenis cabai tersebut mempunyai kandungan kimia seperti kapsaisin, kapsatin, kapsarubin, karoten (zat pewarna alami), karotenoid, minyak lemak, Vitamin A, B, dan C.

Menurut pengalaman kami, cabai yang paling cocok diolah sebagai bumbu giling adalah cabai merah keriting (Capsicum annuum var longum). Cabai kriting termasuk jenis van varietas yang biasa ditemui di daerah Kudus, Rembang, Lampung, Sumatera Barat, Garut, dan Karo untuk cabai lokalnya. Tetapi selain cabai keriting lokal ada pula cabai kriting yang sudah diproduksi perusahaan benih seperti Laris (East West Seed), Cemeti (China Thai Seed), Select Keriting (Selektani), dan Tamper (Sang Hyang Seed). Cabai ini baik sebagai olahan bumbu karena memiliki kadar air yang rendah tapi kadar kapsisi-din (biang pedas yang berguna sebagai antibiotik) tinggi. Ada cabai yang besar, namun kadar air terlalu tinggi dan kapsisinnya sangat rendah.

Selain cabai sebagai bahan baku utama, diperlukan pula rempah-rempah lainnya sebagai bahan pelengkap yang bisa didapatkan dengan mudah di Pasar Induk Kramat Jati mulai dari harga cabai keriting Rp 15 ribu – Rp 22 ribu/kg, harga kemiri Rp 20-33 ribu/kg, bawang putih Rp 6.300/kg, bawang merah Rp 7.500/kg, jahe Rp 13.500/kg, dan lain-lain.

Proses Pengolahan. Terdapat beberapa langkah yang perlu diperhatikan dalam membuat olahan cabai giling, di antaranya adalah proses pencucian rempah-rempah. Dalam proses ini ada beberapa tahapan, yang pertama adalah melakukan pencucian dengan mesin/molen yang selanjutnya diteruskan dengan memasukkan cabai dan teman-temannya ke dalam bak besar yang telah diisi air bersih yang mengalir lalu tiriskan. Setelah bersih, bahan tersebut dicelupkan ke dalam air mendidih fungsinya untuk menghilangkan bakteri-bakteri.

Selesai proses pencucian, masuk ke dalam proses pembuatan. Pertama kemiri digoreng hingga terlihat kekuning-kuningan, kemudian ditiriskan. Selanjutnya bahan seperti cabai, bawang, dan tomat digoreng hingga beberapa menit, lalu ditiriskan (proses penggorengan jangan dicampur dengan menggoreng kemiri), dilanjutkan dengan mengiris sereh dan dicampurkan dengan kemiri, cabai, dan bawang yang sudah digoreng serta ditambahkan air perasan jeruk nipis dan diberi garam secukupnya, lalu digiling sampai halus. Tomat dimasukkan, kemudian dihaluskan kembali. Setelah semua tahap selesai dilanjutkan dengan proses pengemasan.

Pada tahap pengemasan terdapat 3 cara yang bisa dilakukan, yakni yang pertama cara pasteurisasi, yang mana bumbu dikemas dalam keadaan panas (700-800 Celcius dan langsung dicelupkan ke dalam air es). Kedua dengan menggunakan vacuum dan ketiga dengan cara irradiasi (sinar gamma), setelah produk akhir sampai tahap pengemasan, maka selanjutnya barang dikirim ke BATAN (Badan Tenaga Nuklir Nasional) untuk proses irradiasi dengan sinar gamma. Tujuannya adalah untuk pengawetan agar tahan lama dan produk tersebut bebas dari bahan kimiawi yang berbahaya. Baru setelahnya bisa dipasarkan.

Promosi dan Pemasaran. Agar produk olahan cabai dapat dikenal banyak orang, promosi yang paling efektif adalah mengikuti pameran-pameran, seperti pameran UKM, pameran Koperasi, dan sebagainya. Namun, agar dapat menjangkau seluruh daerah di Indonesia, kita dapat menggunakan media internet seperti membuat website ataupun mempromosikannya melalui situs UKM. Ada baiknya promosi juga dilakukan secara konvensional dengan menyebarkan brosur ke pasar-pasar atau minimarket.

Pemasarannya tentu sangat efektif jika menjualnya langsung kepada pedagang di pasar-pasar tradisional. Nah, dengan melakukan pengemasan secara lebih modern, pemasaran bisa menjangkau pasar swalayan atau minimarket. Selain itu pengemasan modern juga bisa mengangkat citra produk cabai giling yang dulu terlihat sangat tradisional. Dengan begitu tentu keuntungan yang bisa diperoleh juga bisa meningkat dan mempercepat pengenalan produk.

Atau bisa juga dengan membuka kerja sama keagenan untuk menjangkau semua daerah. Dengan memberikan pelayanan yang terbaik dan keuntungan menarik bagi calon Agen atau Reseller, tentu akan memudahkan penyebaran produk ke berbagai daerah.
Kendala. Sebenarnya proses produksi cabai giling cukup mudah, karenanya dalam proses ini cukup minim kendala yang ditemui. Kalau pun ada kemungkinan adalah faktor bahan baku seperti yang terjadi beberapa waktu lalu, yang mana harga cabai melonjak cukup tajam karena kelangkaannya.

Namun kesulitan yang paling sering ditemui adalah pada proses pemasarannya. Dalam menjalani usaha ini keberadaan tenaga pemasaran yang mampu memasarkan produk ini hingga ke pelosok-pelosok daerah di seluruh Indonesia sangat dibutuhkan. Tapi yang terpenting bagi setiap pemula yang ingin menekuni usaha ini adalah ada niat serta keinginan tinggi untuk terjun dan memulainya. Di samping itu, mutu dan kualitas produk yang diproduksi harus konsisten dan dijaga kualitasnya agar pelanggan tetap setia dan percaya kepada produk yang ditawarkan.

oleh: KRT. DRS. N. J. Sembiring,
Pemilik Gerak Tani
Jl. Setia I No. 11, Jati Cempaka Pondok Gede
Jl. Jatiwaringin Raya No. 42, Pondok Gede 17411

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.