Sukses Bisnis Susu Kambing Beromset Ratusan Juta Rupiah

0
83
Ridwan Munir, Produsen susu kambing dok IST

 

Ridwan Munir merupakan anak pertama dari pasangan Sutarto dan Tutur dengan kondisi ekonomi keluarga yang pas-pasan. Faktor itulah yang mendorong pria yang akrab disapa Ridwan ini coba mencari tambahan uang saku dengan menerima pengetikan tugas-tugas kuliah, skripsi, dan mengajar Al – Qur’an dari rumah ke rumah saat menempuh pendidikan di IAIN Gunung Jati, Bandung. “Dari situ setiap bulan saya bisa membeli sepeda motor dan menikah. Lumayan meskipun motornya motor bekas, untuk operasional mengajar,” ungkapnya.

Setelah tamat kuliah, Ridwan sempat bekerja di PT Yosan Telkom sebagai seles jasa pemasangan jaringan untuk membuka warnet dan wartel selama dua tahun sebelum akhirnya memutuskan untuk pindah ke perusahaan Logistic Pandusiwi pada tahun 2004. Di tempat barunya tersebut Ridwan mendapatkan posisi yang cukup baik, dimulai dari sebagai Marketing Logistic, dan Customer Relations untuk bagian claim. Dari sinilah Ridwan bertemu seorang teman yang menawarkan susu kambing organik dan menjelaskan manfaatnya.

Karena tertarik dengan khasiatnya, Ridwan coba membelinya untuk diberikan kepada anaknya yang memang kebetulan mengalami batuk-batuk yang tak kunjung sembuh. “Pas saya berikan susu kambing ternyata sembuh, dari situ saya baru percaya khasiat susu kambing organik,” kenang Ridwan. Karena ingin membagikan pengalamannya ke orang lain sambil mencari penghasilan tambahan, pria kelahiran Bandung, 20 Desember 1971 ini mulai memanfaatkan waktu luangnya untuk berjualan susu kambing organik yang dibeli dari produsen susu kambing organik di daerah Ciampea, Bogor.

Mengambangkan Usaha. Meski masih bekerja di perusahaan logistic Ridwan cukup gencar menjalankan usahanya. Mulai dari pukul 6 pagi ia sudah mulai jalan mengantarkan susu kambing kepada para langganannya sebelum berangkat ke kantor. Sepulangnya dari bekerja, Ridwan melanjutkan kembali mengantarkan susu hingga tengah malam. Modal yang dikeluarkannya saat menekuni usaha ini pertama kali sebesar Rp 30 ribu yang digunakan untuk membeli 1 liter susu kambing dari produsen yang dikemas dalam kantong berukuran 200 ml dan dijual kembali dengan harga Rp 50 ribu.

Dengan ketekunan dan menyerahkan segala sesuatunya kepada Allah S.W.T, penjualan susu kambing organiknya semakin meningkat. Mulai dari yang hanya mampu menjual susu kambing 1 liter per minggu, meningkat secara perlahan hingga mencapai 40 liter per minggu. Dari hasil penjualan tersebut, Ridwan bisa membeli lemari es seharga Rp 1,6 juta untuk menunjang usahanya yang semakin hari semakin baik. Dengan begitu penghasilan Ridwan dari menjual susu kambing organik lebih besar ketimbang gajinya sebagai karyawan. Hal itu membuat Ridwan bimbang memutuskan tetap bekerja atau fokus menekuni usahanya, sampai suatu ketika ia mendapatkan kesempatan naik haji yang dibiayai kantornya. Saat naik haji itulah,  Ridwan meminta petunjuk Allah sesampainya di Tanah Suci.

“Pulang dari Tahan Suci saya makin bingung karena pekerjaan makin banyak dan saya mulai tidak betah di kantor,” ujar Ridwan mengenang. Ridwan cenderung lebih senang menerima telepon dari pelanggan susu, ketimbang harus menangani berbagai macam komplain dari pelanggan perusahaan tempatnya bekerja. Pasalnya tak jarang Ridwan mendapatkan cacian dan makian dari pelanggan yang tidak puas dengan pelayanan yang diberikan perusahaan. Karena itu Ridwan akhirnya memutuskan untuk keluar dari perusahaan dan fokus mengelola usaha susu kambing organik pada tahun 2006.

Menjadi Produsen. Sejak pertama menekuni usaha penjualan susu kambing organik, Ridwan sempat mempelajari mengenai bisnis ternak kambing. Karena itu ia tertarik untuk menjadi produsen susu kambing. ”Kalau saya pikir, ternah kambing bisa mendatangkan 4 penghasilan sekaligus. Yaitu penghasilan harian dari susu kambing, penghasilan mingguan dari kotoran kambing (dikumpulkan untuk dijadikan pupuk), penghasilan bulanan dari penjualan kambing aqiqah, penghasilan tahunan dari penjualan kambing qurban,” jelas Ridwan bersemangat.

Keinginannya yang kuat untuk menjadi produsen, membuat Ridwan memutuskan untuk mendatangi peternakan di Bogor untuk membeli kambing pada tahun 2008. “Pertama kali saya beli 10 ekor kambing Ettawa yang berumur 8 bulan dengan harga Rp 2,5 juta per ekor ke peternak di Bogor. Yang memelihara tetap dia dengan sistem konsinyasi. Jadi pemilik peternakan akan mendapatkan jatah 1 anak kambing jika kambing saya melahirkan 2 ekor anak, dan 60% susu kambingnya juga diberikan ke peternak,” jelasnya. Ridwan menerapkan hal tersebut dengan harapan jika sudah memiliki peternakan sendiri, ia tinggal memindahkannya.

Sayangnya harapannya tersebut tidak seindah kenyataannya. Pemilik peternakan kerap melakukan praktik kecurangan dengan menjual kambing-kambing miliknya namun mengatakan kepadanya jika kambingnya mati, hilang, dan susunya sedikit, padahal sesuai hitung-hitungannya kambing miliknya seharusnya sudah bisa produksi. Hal tersebut membuatnya menelan kerugian sebesar Rp 30 juta, namun pengalamannya tersebut tidak membuatnya berkecil hati, Ridwan menjadikan hal tersebut pelajaran bagi dirinya dan permasalahan tersebut dipasrahkan kepada Allah S.W.T. “Yah anggap saja itu untuk biaya kuliah di bidang pertanian,” papar Ridwan santai.

Ridwan bangkit dengan mengumpulkan empat orang rekan untuk membantu usahanya tersebut di bagian pengawasan, keuangan, distribusi, dan bagian kesehatan dan pengembangan ternak. Kali ini Ridwan mengeluarkan modal sebesar Rp 100 juta untuk membeli 40 ekor kambing Ettawa. Dari 40 kambing yang dibeli sebagian sudah siap perah, masih mengandung, kambing dara, dan 2 ekor kambing jantan. Selain itu ia juga membeli gelas ukur freezer, dan pakan untuk kambingnya. Dari hasil usahanya tersebut Ridwan mampu membuat kandang dan menyewa tanah seluas 2 hektar di Ciapus – Jawa Barat Rp 1 juta/tahun sebagai lahan peternakannya. “Tapi sekarang tanah tersebut sudah menjadi milik saya,” kenang Ridwan.

Susu Kambing. Ridwan menyebut susu kambingnya sebagai susu kambing organik karena susu yang dihasilkan berasal dari kambing sehat dengan pola makan terjadwal serta kandungan gizi yang baik yang dikemas dengan plastik jenis HDPE ukuran 200 ml agar bisa dikonsumsi habis. Tujuannya untuk menghindari bakteri masuk ke dalam susu yang tersisa bila kemasan terbuka. Susu kambing organik juga diproses tanpa bahan pengawet, dan masih bisa dikonsumsi sampai 2 minggu mulai dari tanggal produksi.

Harga yang ditawarkan untuk susu kambing murni sebesar Rp 11 ribu/kantong, ada juga susu kambing murni dari kambing Jawa yang dijual kepada konsumen dengan harga Rp 7 ribu/kantong. “Kalau konsumen menawar harga, saya langsung alihkan ke yang harganya Rp 7 ribu. Tapi akhirnya pelanggan maunya beli yang harga Rp 11 ribu juga,” kata Ridwan. Dalam 1 minggu, Ridwan dapat menjual 500 bungkus untuk susu kambing organik dari kambing Ettawa, dan 200 bungkus untuk susu kambing organik dari kambing Jawa yang ia dapatkan dari peternak lain.

Omset. Usaha yang dijalankan Ridwan selama ini menghasilkan pemasukan lebih dari Rp 100 juta setiap bulan. Dari usahanya ini pula Ridwan mampu membeli mobil, motor, dua buah rumah, 1 peternakan dan 4 tempat peternakan pembina di Bogor. Kini susu kambing organik yang diproduksinya juga sudah merambah ke negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura.

Meski telah sukses, Ridwan tidak melupakan jati dirinya, karenanya ia selalu memberikan sedekah kepada anak yatim sebesar 12,5% dari omset yang diperolehnya setiap bulan. Sumbangan ini jauh melebih yang diharuskan agama. Ia juga berpegang teguh pada prinsipnya untuk menjaga kualitas dengan bibit dan cara pemeliharaan yang baik. Selain itu selalu menjadikan konsumen seperti saudara atau teman, yang memberikan solusi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.