Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif (Ekraf) menegaskan dukungan terhadap Gameseed 2026 sebagai ruang strategis bagi ekosistem industri game nasional. Program ini dipandang penting untuk memperkuat posisi Developer Game Indonesia agar mampu bersaing di tingkat global. Menteri Ekraf Teuku Riefky Harsya menyebut sektor game kini menjadi salah satu prioritas ekonomi kreatif karena kontribusinya terhadap penciptaan lapangan kerja dan nilai tambah ekonomi yang terus meningkat.
Menurutnya, industri game sudah berkembang jauh melampaui sekadar hiburan. Ia menilai Developer Game memiliki peran penting dalam mendorong transformasi ekonomi digital yang lebih inklusif dan kompetitif. Pemerintah, kata dia, berkomitmen memperkuat ekosistem agar Developer Gim lokal dapat berkembang tanpa tertinggal dalam persaingan global yang semakin ketat.
Penyelenggaraan Gameseed 2026 menjadi salah satu langkah konkret. Program ini merupakan kompetisi sekaligus inkubasi game terbesar di Indonesia yang tahun ini memperkenalkan kategori Mobile Stream. Peluncuran dilakukan secara daring melalui Discord dan YouTube, dengan antusiasme awal ratusan peserta. Ajang ini dirancang untuk mengasah kemampuan Developer Game melalui proses inkubasi intensif selama tiga bulan agar ide yang lahir dapat berkembang menjadi produk siap pasar.
Tantangan Industri dan Developer Game yang Harus Dihadapi
Direktur gim Luat Sihombing menilai bahwa tantangan terbesar Developer Game saat ini bukan hanya pada aspek kreativitas, tetapi juga kemampuan memahami pasar. Ia menekankan pentingnya penguasaan strategi pengembangan, manajemen skala proyek, hingga kemampuan beradaptasi terhadap perubahan tren industri agar karya yang dihasilkan tetap relevan.
Presiden Asosiasi Gim Indonesia (AGI) Syafiq Husein turut menyoroti fase pasca-inkubasi sebagai titik krusial bagi Developer Gim. Menurutnya, banyak talenta lokal yang memiliki kualitas ide kuat, namun masih menghadapi tantangan dalam mempertahankan keberlanjutan bisnis setelah produk dirilis ke pasar.
Sementara itu, perwakilan publisher Zero Stress, Vincent Ismawan, mengungkapkan adanya kesenjangan antara produksi dan kebutuhan pasar. Ia menyebut mayoritas Developer Game di Indonesia masih fokus pada platform PC, sementara pasar global justru didominasi segmen mobile dengan nilai yang jauh lebih besar.
Gameseed 2026 yang didukung Garena Indonesia dan Zero Stress ini berhasil menghimpun 2.314 peserta dalam 469 tim. Program ini juga mendorong Developer Game untuk membangun jalur distribusi mandiri melalui strategi self-publishing, termasuk optimalisasi trailer game yang harus mampu menarik perhatian dalam lima detik pertama agar lebih kompetitif di pasar global.
