Investasi Real Estate Komersial Asia Pasifik Diprediksi Naik 5%

0
92

 

Konsultan real estate global JLL memprediksi volume transaksi real estate Asia Pasifik secara keseluruhan pada tahun 2019 diperkirakan akan naik lima persen, meskipun laju momentum pertumbuhan akan melambat.

“Selama satu dekade siklus ekonomi, para investor masih terus berkutat dengan resiko-resiko makro dan ketidakpastian geopolitik seperti kenaikan suku bunga, berlanjutnya perang dagang antara Amerika Serikat dan Cina, serta tekanan di Uni Eropa yang disebabkan oleh negosiasi Brexit,” kata Stuart Crow, Head of Capital Markets, JLL Asia Pasifik.

Meskipun terlihat adanya kemunduran, industri real estate tetap terlihat menarik sebagai tempat yang aman untuk berinvestasi, dengan manfaat diversifikasi portofolio-nya serta tingkat keuntungan yang relatif lebih tinggi dibanding dengan kelas aset lainnya. Tetapi, dalam situasi ekonomi yang melambat ini, investor menjadi lebih selektif dan ketat saat bergerak keluar dari suatu jenis investasi karena semakin sulit untuk menemukan alternatif investasi lain yang dapat menghasilkan pendapatan.

Di Asia Pasifik, permintaan real estate akan terus bergerak didorong oleh fundamental demografis yang kuat. Penduduk perkotaan diperkirakan akan melampaui 400 juta orang pada tahun 2027, sedangkan penduduk berusia 65 tahun atau lebih akan meningkat sebanyak 146 juta orang dalam kurun waktu 10 tahun ke depan.

Minat Investor Kuat

James Taylor, Head of Research, JLL Indonesia mengatakan minat investor akan tetap kuat di Indonesia pada tahun 2019. Pasar gedung perkantoran serta ritel akan semakin ketat dan yang paling mungkin diambil oleh investor adalah pengembangan tapak atau membentuk kemitraan dengan grup-grup perusahaan lokal.

Sementara itu, pengembangan infrastruktur MRT dan LRT menghadirkan peluang baru bagi para investor. Untuk pasar pergudangan logistik modern kemungkinan akan terus menjadi fokus bagi grup-grup perusahaan lokal dan internasional.

Bagi para investor, sektor yang berkaitan dengan kehidupan ini menawarkan hasil yang menarik serta prospek pertumbuhan jangka panjang dan peluang diversifikasi portofolio.

“Sektor-sektor baru ini siap untuk mengalahkan investasi di bidang aset perumahan tradisional terkait dengan sifatnya dalam penggunaan ruang yang efisien, manajemen bangunan yang unggul, serta imbal hasil yang umumnya lebih tinggi,” jelas Crow.   

Semakin banyak perusahaan yang menggunakan ruang kerja bersama sebagai suatu cara untuk mengembangkan inovasi dalam penggunaan ruang kantor yang fleksibel termasuk co-working dan serviced offices.

Megan Walters, Head of Asia Pacific Research, JLL mengatakan pada tahun 2030, ruang kerja yang fleksibel akan mencapai 30 persen dari portofolio beberapa perusahaan-perusahaan properti komersial di seluruh dunia. Ini berarti konsolidasi pasar akan semakin sering terjadi membentuk usaha bersama dengan perusahaan co-working, atau dapat dilihat dari merger dan akuisisi yang terjadi antara perusahaan-perusahaan co-working.

Semakin meningkatnya peran Asia Pasifik sebagai tuntutan bagi organisasi-organisasi untuk mendirikan infrastruktur penyimpanan data serta memiliki fasilitas pergudangan untuk barang-barang fisik ritel mereka akan semakin meningkat.

James Taylor mengatakan pasar gudang logistik modern telah berkembang selama beberapa tahun terakhir di Indonesia dan para investor akan terus menampung permintaan pengguna baik dari sektor e-commerce. Tingkat okupansi tetap tinggi namun pasar kekurangan pasokan terutama di wilayah Jabodetabek dan Surabaya.

Co-Living

Menurut hasil riset JLL, diketahui bahwa, para investor dan pengembang saat ini melirik sektor kehidupan, sebuah kelompok hunian real estat baru yang sedang naik daun, untuk menanamkan modal mereka. Sektor ini meliputi hunian-hunian dimana orang akan melewati tahap kehidupan seperti hunian untuk pelajar, hunian bersama (co-living), hunian multifamily, hunian untuk lansia dan panti jompo.

JLL mengungkapkan bagaimana cepatnya proses urbanisasi merubah cara dan tempat tinggal manusia. Tetapi, penerimaan masyarakat terhadap prinsip ekonomi saling-berbagi (shared-economy) berhasil menjadikan sektor kehidupan sebagai alternatif untuk hunian. Permintaan yang datang secara konsisten ini menarik perhatian para investor.

“Kami melihat adanya peningkatan minat investor di sektor kehidupan di seluruh kota-kota Asia Pasifik. Hal ini terjadi karena semakin intensifnya permintaan akan alternatif pilihan hunian yang terjangkau,” kata Rohit Hemnani, COO and Head of Alternatives, Capital Markets, JLL Asia Pacific.

Masih sangat baru di Indonesia tetapi sama seperti jenis aset lainnya, pasar yang berkembang seperti misalnya Hong Kong dan Singapura tetap menjadi yang terdepan dalam hal perkembangan. Hal ini sama dengan tempat kerja bersama (co-working) dan gudang logistik modern dimana pertumbuhannya di Indonesia secara relatif baru saja dimulai.

Populasi anak muda yang besar serta proses urbanisasi di Indonesia yang sangat cepat menjadi latar belakang terjadinya pertumbuhan akan permintaan untuk bentuk-bentuk hunian seperti hunian bersama (co-living) ini.

James Taylor mengatakan kos kosan, kamar sewaan dengan berbagai harga dan kualitas, yang memiliki fasilitas bersama adalah suatu konsep yang sudah terbentuk dengan baik di Indonesia, jadi hunian bersama (co-living) bukan merupakan sesuatu hal yang baru untuk sebuah bentuk hunian karena memang sudah dikenal baik oleh orang Indonesia.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.