Intiland Beberkan Pendapatan Usaha dari Berbagai Sektor pada 2017

0
454
Ilustrasi pembukuan. (nrg-office)

Berempat.com – Perusahaan pengembang properti, PT Intiland Development Tbk., mencatat penurunan pada pendapatan usaha di tahun 2017 dibanding setahun sebelumnya. Berdasarkan laporan keuangan pada 31 Desember 2017 lalu, Intiland mencatat pendapatan usaha sebesar Rp 2,2 triliun, turun Rp 1 triliun dibanding tahun 2016.

Namun, penurunan tersebut tak dianggap buruk oleh Intiland mengingat kondisi pasar properti di Indonesia masih dianggap kurang kondusif di tahun 2017. Seperti dituturkan oleh Direktur Pengelolaan Modal dan Investasi Intiland, Archied Noto Pradono, yang menilai di tahun lalu pasar properti nasional menghadapi sejumlah tantangan. Apalagi investor dan konsumen yang mengambil sikap menunggu menghadapi perubahan kondisi pasar.

“Segmen pengembangan kawasan industri dan recurring income (pendapatan berkelanjutan) menjadi pendorong utama pencapaian kinerja keuangan tahun 2017. Hasil penjualan lahan kawasan industri sepanjang tahun lalu bisa langsung dibukukan sebagai pendapatan usaha,” terang Archied dalam keterangan resminya, Senin (26/3).

Namun, di balik menurunnya pendapayan usaha, Intiland justru mencatat peningkatan pada pengembangan kawasan industri di tahun 2017 dengan pendapatan usaha sebesar Rp 550,9 miliar, atau memberikan kontribusi sebesar 25% dari keseluruhan. Jumlah tersebut melonjak sebesar 578% dibandingkan pencapaian tahun 2016 yang mencapai Rp 81,3 miliar.

Selain itu, segmen properti investasi yang juga merupakan sumber recurring income memberikan kontribusi senilai Rp 528,2 miliar. Segmen ini diklaim Intiland meraih pertumbuhan pendapatan usaha sebesar Rp 180,6 miliar dibanding tahun 2016 yang membukukan Rp 347,6 miliar.

Pemicu peningkatan yang cukup signifikan ini adalah meningkatnya kontribusi dari pendapatan sewa perkantoran serta pengelolaan fasilitas gedung dan kawasan yang dimiliki Intiland.

Sementara itu, segmen pengembangan mixed-use & high rise mencatatkan pendapatan usaha sebesar Rp 703,6 miliar. Segmen ini tercatat memberikan kontribusi sebesar Rp 420 miliar atau 19,1%.

Namun, Archied mengaku penjualan pada dua segmen ini mengalami penurunan masing-masing sebesar 37% dan 43%.

“Penurunan ini karena marketing sales pada segmen mixed-use and high rise dan kawasan perumahan belum bisa dibukukan sebagai pendapatan usaha tahun 2017, karena menunggu progres pembangunan,” ungkap Archied.

Untuk kinerja marketing sales di tahun lalu, Intiland menganggap pencapaiannya cukup baik dibanding 2016, yakni sebesar Rp 3,3 triliun, lebih tinggi 106,3% dibanding tahun 2016. Segmen pengembangan mixed-use & high rise serta kawasan perumahan memberikan kontribusi marketing sales masing-masing sebesar Rp 1,9 triliun dan Rp 483 miliar.

Sementara itu dari sisi kinerja profitabilitas, Intiland membukukan laba kotor sebesar Rp 955,7 miliar dan laba usaha mencapai Rp 344,9 miliar. Laba bersih perseroan tercatat mencapai Rp 297,5 miliar. Angka tersebut diklaim cenderung sama dengan perolehan tahun lalu.

“Di tengah tantangan besar sepanjang tahun lalu, perseroan berhasil menjaga kinerja laba bersih. Kami masih mempertahankan langkah dan strategi konservatif di tahun ini,” kata Archied lebih lanjut.

Menghadapi kondisi pasar di 2018, tutur Archied, perseroan telah menyiapkan sejumlah strategi kunci untuk menjaga pertumbuhan kinerja usaha. Salah satunya melalui pengembangan dan peluncuran proyek-proyek baru yang akan dilakukan tahun ini.

“Untuk meluncurkan proyek-proyek baru, kami tentu tetap mempertimbangkan perubahan arah dan kondisi pasar. Namun kami yakin kondisinya akan berangsur membaik, sehingga pasar properti akan kembali bergairah dan kondusif bagi investasi,” terangnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.