Makanan Beku Rumahan Untung Lebih dari 50%

0
101
Makanan beku (dok papadedeshop.com)

 

Berkembangnya gaya hidup di era modern yang serba praktis turut mempengaruhi berkembangnya sajian menu kuliner. Saat ini produk makanan siap saji semakin banyak disukai masyarakat. Apalagi keterbatasan waktu untuk menyiapkan menu sehari-hari terutama bagi wanita karir menuntut untuk memilih menu praktis saat dimasak namun tetap disukai keluarga.

Salah satu menu siap saji yang semakin berkembang dibuat dalam kondisi beku (frozen  food).  Sajian frozen food umumnya seperti Bakso, Nugget, Siomay dan kini semakin berkembang variannya. Frozen food juga tak hanya dinikmati kalangan anak-anak tetapi pangsa pasarnya hingga orang dewasa, bahkan para orang tua usia lanjut.

Menurut pakar kuliner Fatmawah Bahalwan, peluang usaha ini memang lebih berkembang di kota-kota besar, seiring dengan aktivitas masyarakat yang semakin disibukkan oleh pekerjaan, namun di kota-kota kecil usaha ini juga mulai bertumbuh. Pertumbuhan masyarakat yang meningkat juga  merupakan potensi pasar yang besar bagi  berkembangnya usaha kuliner seperti frozen food.

Selama ini  frozen food yang ada di pasaran seperti Sosis dan Nugget identik dengan junk food karena mengandung pengawet. Umumnya adonan menggunakan tepung, baik tepung terigu, tepung sagu, atau tepung campur/gluten free flour untuk membuat tekstur menjadi lebih padat.

Semakin banyak jumlah tepung yang dimasukkan dalam adonan, membuat rasa olahan daging akan berkurang, tekstur semakin keras, dan citarasanya kurang enak. Tak heran jika banyak frozen food diberi tambahan penyedap rasa untuk menambahkan cita rasa daging lebih gurih, dan agar tahan lebih lama ditambahkan bahan pengawet makanan.

Adapula frozen food curah yang belakangan banyak dijumpai di pasar tradisional dengan berbagai merek, kemasan, dan harga. Bahkan ada beberapa yang dijual tanpa menggunakan fasilitas pendingin yang memadai, sehingga kurang aman dikonsumsi.

Namun saat ini sudah mulai banyak pelaku usaha frozen food khususnya dari skala home industri/rumahan yang menghadirkan produk frozen food sehat dan alami, tanpa bahan pengawet, pewarna dan penguat rasa. Sehingga produk frozen food rumahan ini memiliki daya simpan pendek, maksimal hanya 6 bulan saja.

Kehadiran frozen food  yang mengandalkan unsur sehat tanpa bahan pengawet ini ternyata mendapat respon positif di masyarakat. Seperti halnya Yani Kusmayani yang membuat frozen food Nugget dengan tambahan sayuran dan tanpa bahan pengawet dengan merek Ilya’s Kitchen. Menurut Yani,  prospek usaha frozen food  tanpa bahan pengawet ini  masih sangat luas, mengingat usaha makanan yang sehat masih cukup jarang.  Hanya saja memberi pemahaman masyarakat perlu waktu, karena makanan sehat produksi home industri berbeda komposisi dengan pabrikan, terutama tanpa unsur pengawet dan pewarna tambahan.

Menurut pakar kuliner Fatmah Bahalwan, frozen food tanpa bahan pengawet saat ini memang sedang banyak diminati dan menjadi tren. Adapun jenis frozen food yang sedang tren mengarah pada menu tradisional Indonesia. Seperti halnya Siomay yang sudah menjadi bagian dari kuliner tradisional Indonesia. Namun untuk frozen food  jenis lauk pauk seperti Chicken Nugget, Kaki Naga, maupun Karage masih tetap mendominasi. Salah satu pelaku usaha frozen food rumahan, Feni Nurdiani, pemilik Siomay Youlagi juga membuat kreasi Siomay dengan bentuk mirip Dim Sum.

Siomay frozen tersebut menggunakan adonan daging ayam cincang dengan beberapa varian isi tambahan. Selain Siomay Original berisi adonan campuran daging ayam cincang dan tepung sagu, ada Somay Telur Puyuh berisi adonan daging ayam ditambah telur puyuh. Ada pula Siomay Keju dengan tambahan potongan keju, Siomay Rawit dengan tambahan cabe rawit, Siomay Sayur dengan tambahan potongan buncis dan wortel, serta Siomay Tahu menggunakan adonan ayam yang dimasukkan ke dalam tahu. Namun yang menjadi trend an banyak peminat adalah Siomay Original.

Beberapa pelaku usaha juga membuat frozen food dengan ciri khas masing-masing. Seperti Nanang Khoerudin, produsen frozen food  khusus membuat frozen food  tanpa bahan pengawet dengan varian menu ala bento, yang memasarkan produknya ke kalangan pemilik usaha katering, warung makan dan cafe.

Dengan menu bento seperti Spicy Chicken Nugget, Shrim Roll, Chicken Katsu, Egg Chicken Roll, Breaded Chicken Ball, Ekkado dan lain lain. Ia membuat frozen food ala menu bento  karena menu ini banyak digemari masyarakat dan dibuat mirip seperti di menu bento resto. Ia menjual frozen food menu bento ini seharga Rp 20 ribu sampai 40 ribu per pack isi 250 gram.

Adapula produsen frozen food yang khusus membuat frozen food olahan seafood, seperti halnya Rudy Giartono, pemilik Karya Inti Alam Tunggal yang membuat frozen food Nugget dari ikan dori, Dori Crispy  dan lainnya. Ia juga mengaku produknya tidak menggunakan pengawet, MSG maupun pewarna dan awet hingga 6 bulan.

Frozen food berupa Nugget saat ini variannya juga berkembang seperti Nugget Ayam Sayur, Ayam Susu, Ayam Keju, Ayam Jamur dan lainnya. Bahkan Dwi Puji Astuti, Pemilik frozen food NASA membuat kreasi menu Nugget inovasi baru yang diberi tambahan sayuran seperti bayam merah, bayam hijau, wortel, jagung manis, dan brokoli. Serta tambahan buah seperti apel, jeruk, durian, jambu dan anggur.

Begitu pula dengan Yani Kusumayani yang  membuat frozen food Nugget Ayam Wortel, Nugget Ayam Keju Sayuran dengan jenis sayuran wortel buncis, wortel jagung, wortel kembang kol, dan wortel brokoli, Kaki Naga Ayam Sayuran dan Nugget Ayam untuk bayi dengan berbagai varian sayuran yang dapat dipesan dan bumbu dapat dipilih sendiri seperti tanpa gula garam, sedikit tambahan gula garam, dan tambahan varian rasa keju.

Ia membuat ciri khas produk frozen food yang rendah gluten dan selalu menambahkan sayuran untuk melengkapi nutrisi produk buatannya. Agar produk rendah gluten, ia masih menggunakan tepung terigu namun dalam jumlah sedikit hanya untuk melapisi nugget ketika  diberi tepung panir. Ia mengganti tepung terigu dengan roti sehingga nugget menjadi lebih empuk.

“Berbeda dengan Nugget yang dijual di supermarket, kandungan tepung terigunya banyak sehingga teksturnya keras,” terangnya. Yani mengaku untuk membuat makanan rendah gluten ia belajar resep-resep dari pakar kuliner sehat Wied Harry.

Modal Minim

Bagi pemula usaha ini bisa melakukan survey terlebih dahulu untuk mengetahui selera konsumen yang akan disasar. Dari sana mulai memilih jenis produk yang akan dibuat, dengan mempertimbangkan produk yang sudah ada di pasaran. Lebih baik lagi jika memberikan nilai tambah seperti varian produk dan bentuknya. Usaha ini bahkan bisa dimulai hanya dengan modal ratusan ribu rupiah dengan mengandalkan peralatan yang sudah dimiliki di rumah seperti blender dan freezer.

Peralatan lain  yang bisa dibeli tergantung jenis produk yang dibuat, misalnya untuk membuat Nugget membutuhkan mesin pencetak Nugget. Jika usaha sudah berkembang dan pasar mulai terbentuk, bisa menambah modal untuk membeli mesin-mesin  lain dan menyewa ruang lebih luas untuk workshop.

Yang perlu diperhatikan adalah pelaku usaha harus jeli membaca sekaligus menjaga selera pasar, terutama dalam hal keamanan produk dan citarasanya. Maka dari itu, untuk membuat citarasa produk sesuai dengan selera konsumen, sebaiknya lakukan uji coba resep berulangkali, untuk mendapatkan rasa dan kualitas produk yang baik. Bisa pula merekrut karyawan yang memiliki ketrampilan memasak. Untuk melakukan tes pasar sebagai pemula bisa menawarkan produk ke komunitas lingkungan sekitar, seperti kantin sekolah, kerabat, atau tetangga.

Lebih baik di awal usaha juga mengurus perijinan seperti ke Dinas Kesehatan agar produk lebih dipercaya konsumen. Pasokan bahan baku juga menjadi prioritas karena tak sedikit pelaku usaha yang mengaku masih kesulitan memperoleh bahan baku yang diinginkan karena belum musim panen. Untuk itu pelaku usaha bisa mencari pemasok bahan baku di daerah lain.

Kemasan

Salah satu bahan penting yang dibutuhkan untuk produk frozen food adalah kemasan. Agar frozen food terlindungi dan tetap aman dikonsumsi, maka kemasan sebaiknya menggunakan plastik khusus untuk makanan beku (food grade) yang tidak berpori (plastik nylon) dan sebaiknya divakuum dengan mesin vacuum. Namun alternatif lain bisa menggunakan plastik kemasan berbahan PE ketebalan 0,8 mm yang dikemas dengan hand sealer, dan bisa pula memakai kemasan tepak plastik (PP5) food grade.

Frozen food yang sudah dikemas bisa langsung dimasukkan ke freezer dalam suhu minus 18 derajat celcius dan pertahankan supaya kondisi tetap beku/tidak cair agar bisa bertahan hingga 6 bulan. Dalam pengiriman ke tempat lebih jauh, sebaiknya kemasan sudah divakum, dan  dimasukkan dalam box styrofoam dengan tambahan dry ice. Namun jika produk tersebut sudah dipesan sebelumnya oleh konsumen dan langsung akan dikirim setelah diolah, tidak perlu divakum terlebih dahulu.  Cukup menggunakan plastik PE jika  lokasi pemesan masih di dalam kota.

Pemberian label kemasan juga memegang peranan penting untuk meberikan informasi produk bagi konsumen dan untuk mendapatkan kepercayaan dari konsumen. Sebaiknya label kemasan makanan mencantumkan nama makanan, merek dagang, komposisi nutrisi, isi netto, nama dan alamat produsen, nomor pendaftaran (ijin Dinas Kesehatan), kode produksi, informasi lain (petunjuk pemakaian, nilai gizi, dan lainnya)

Para pelaku usaha frozen food sehat tanpa bahan pengawet ini bisa meraup keuntungan cukup besar, lebih dari 50%. Dengan permintaan yang terus meningkat menunjukkan bahwa frozen food sehat tanpa bahan pengawet semakin diminati konsumen. Seperti halnya  Feni Nurdiani yang mampu menjual 2.500 hingga 3.000 bungkus Siomay frozen setiap bulannya, dengan keuntungan bersih hingga 65%.

Para pelaku usaha juga mengaku banyak yang kebanjiran order. Melihat peluang pasar yang masih sangat menjanjikan dengan modal minim, Anda bisa mengikuti jejak sukses para pelaku usaha frozen food sehat tanpa pengawet di lembar-lembar halaman berikut, semoga terinspirasi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.