Pasar Bumbu Seasoning (Perasa) Makin Mengkilat

0
357
Bumbu tabur (dok contohusaha.com)

 

Prospek usaha bumbu instan baik yang bubuk maupun basah (pasta) memiliki prospek yang sama-sama menjanjikan. Perbedaannya hanya pada segmentasi yang dituju dan lama tidaknya daya simpan kedua jenis bumbu tersebut. Bumbu bubuk instan  antara lain seperti:  bumbu ayam fried chicken , bumbu nasi goreng, bumbu sayur asem,  juga bumbu tabur perasa (seasoning) yang banyak dibutuhkan UKM  makanan ringan misalnya untuk jenis makanan ringan snack maupun chiki skala rumahan. Sedangkan bumbu pasta  (basah) biasanya digunakan sebagai bumbu rendang, bumbu kari, bumbu opor yang sangat banyak dibutuhkan pelaku usaha catering, restoran, dan rumah makan.

Menurut Pengamat Kuliner Enita Sriyana, dilihat dari sisi daya simpan, tentu bumbu bubuk kering memiliki masa kadaluarsa lebih panjang daripada bumbu pasta yang banyak mengandung air. Jika bumbu pasta tidak diproses dengan higienis, dikemas dengan plastik atau aluminium foil dan divacum, maka bumbu bisa cepat rusak. Namun, pasar pengguna bumbu pasta biasanya memesan bumbu dalam jumlah besar yang dilakukan secara kontinu.

“Bumbu bubuk tak perlu pengawet selama bumbu yang dihasilkan benar-benar kering. Sedangkan bumbu pasta, bisa menggunakan bahan pengawet alami seperti garam dan gula atau bahan anti gumpal dan monosodium benzoat (bahan pengawet yang food grade, -red),” ujar Enita.

Menurut Yanti Isa, direktur PT Magfood Pangan Inovasi, tak banyak perusahaan yang menyediakan bumbu instan yang menyasar kelas UKM, padahal sebagian besar pelaku usaha di Indonesia adalah UKM.

“Yang banyak dan dikenal di kita adalah produsen besar yang membuat bumbu instan yang dikemas dengan kemasan bagus dan dijual di supermarket dan menyasar konsumen pengguna langsung (ibu rumah tangga, –red). Sedangkan yang menyasar usaha seperti pabrik keripik, bakso, siomay skala rumahan belum banyak, Padahal satu tukang keripik singkong saja bisa pesan bumbu tabur perasa (seasoning) 1-2 ton tiap bulan. Jadi prospek usahanya masih sangat bagus dan menjanjikan,” beber Yanti salah satu peraih Ernest & Young Entrepreneur Wining Women 2010.

Modal

Melihat belum banyaknya perusahaan bumbu instan dan seasoning, Edi Susanto, Direktur Natura Prima, tak segan mengeluarkan modal Rp 1 miliar dua tahun lalu untuk invetasi pada usaha bumbu instant dan seasoning. Modal  tersebut digunakan d untuk membangun pabrik dan membeli mesin-mesin serta penyediaan bahan baku yang sebagian masih diimpor.

Namun bila Anda ingin berusaha  di bidang bumbu jadi untuk skala rumahan dengan modal yang tidak begitu besar,  Anda bisa meniru usaha bumbu rempah yang mengusung bendera  Rempah Spice. Usaha Rempah Spice   dirintis tahun 2000, modal awal yang digunakan hanya sebesar Rp 10 juta itupun sudah termasuk sewa tempat Rp 5 juta. Bahkan berdasarkan hitungan usaha skala rumahan, usaha bumbu instan sudah bisa dimulai dengan modal  hanya sekitar Rp 650 ribu untuk satu jenis bumbu seperti bumbu nasi goreng dengan peralatan masak sederhana.

Dikatakan Yanti, yang  harus diperhatikan dalam usaha ini adalah penggunaan bahan baku harus bagus, peralatan dan prosesnya harus higienis serta pengemasannya juga  harus baik. “Karena ini usaha makanan kita nggak boleh sembarangan akan kualitas produk. Jika ingin usaha berlanjut produsen bumbu instan harus memiliki lab dan tempat produksi yang bebas kontaminasi, agar produk yang dihasilkan aman dikonsumsi,” tambahnya.

Nah, agar dapat menghasilkan bumbu instan yang aman dan berkualitas sebaiknya produsen bumbu instan mengantongi  Sertifikat Produk Pangan Industri Rumah Tangga (SPP – IRT) dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) dan sertifikat halal dari Majelis Ulama Indonesia (MUI).

Harga jual bumbu instan dan bumbu seasoning  sendiri  saat  ini mulai dari Rp 2,5-3 ribu per 30 gram untuk bumbu bubuk nasi goreng, bumbu pasta balado Rp 54 ribu/kg dan Rp 32 ribu/kg untuk bumbu seasoning rasa barbeque serta Rp 55 ribu untuk bumbu seasoning ayam lada hitam. Harga di tingkat  produsen  sendiri bervariasi, namun biasanya semakin banyak jumlah bumbu yang dibeli  konsumen harganya bisa lebih murah. Misal saja untuk seasoning rasa keju manis yang dijual Rp 46,5 ribu/kg harganya akan turun menjadi Rp 42,5 ribu untuk pembelian 10 kg dan Rp 37,5 ribu untuk pembelian 20 kg.

Bukan hanya itu, harga dan rasa bisa disesuaikan dengan keinginan. Seperti yang diterapkan Magfood yang bisa membuatkan bumbu secara customized (sesuai pesanan). ”Dengan penggunaan bumbu sebanyak 3-5% untuk bumbu seasoning dan 10% untuk bumbu perasa ikan, sapi atau ayam di nugget 10% maka kita bisa tentukan komposisi bahan yang disesuaikan dengan harga jual konsumen kita yang sebagian besar UKM,” tambah Yanti.

Sementara itu, untuk bumbu seasoning rasa super pedas dan warna yang ngejreng sangat diminati pelaku usaha UKM makanan ringan yang  menjual produk makanan dengan segmen kelas bawah, sedangkan  seasoning rasa barbeque, rumput laut dan keju dengan warna yang tidak mencolok dipilih pedagang makanan ringan yang menyasar kelas menengah. Bumbu seasoning kombinasi rasa seperti keju manis pedas dan bumbu rendang, dan nasi goring, saat ini paling banyak dibeli perusahaan UKM makanan ringan.

Dengan makin berkembangnya usaha makanan ringan yang kini banyak diterjuni para pelaku usaha UKM atau rumahan, maka perkembangan bumbu instan, terutama bumbu perasa atau seasoning makin mengkilat. Dan bila Anda ingin terjun dalm bidang usaha bumbu seasoning, maka ada baiknya  terlebih dahulu Anda bisa mengajak kerjasama perusahan-perusahana makanan kecil, dimana nantinya Anda akan menjadi supplier  atau pemasok untuk bumbu perasanya.

Pemasaran

Menurut Yuliana Agung, pengamat marketing dari Centre for Customer Service & Loyalty (CCSL) usaha bumbu instan sangat cocok dipasarkan B to B (Business to business) seperti dipasarkan pada restoran, catering, pedagang di pasar dan pelaku usaha kecil rumahan seperti snack kemasan untuk anak-anak.

Yuliana menambahkan meski dijual secara B to B namun penggunaan merek dagang (branding) tetap diperlukan, apalagi jika ingin menyasar konsumen langsung seperti perusahaan besar bumbu instan yang produknya banyak masuk mal. Sementara itu untuk meningkatkan penjualan gunakan kemasan yang atraktif seperti warna merah lengkap dengan gambar hasil masakanyaa, serta cantumkan cara penggunaannya secara detail.

Melihat dari data dari Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman (GAPMI) bahwa 30% pelaku usaha di Indonesia bergerak di bidang makanan dan 65% tersebar di Pulau Jawa, 22-24% di Sumatera dan sisanya terbabar di Indonesia Timur, menunjukkan bahwa usaha bumbu instan juga berpeluang dikembangkan di daerah. Tri Wibowo Susilo, Wakil Ketua GAPMI mengatakan pemasaran masih terkonsentrasi di Pulau Jawa, namun karena pengguna bumbu instan juga pelaku usaha UKM yang banyak tersebar di daerah pinggiran kota dan daerah.

Nah, agar usaha cepat dikenal, promosi melalui pameran dianggap sangat tepat untuk memperkenalkan produk seperti yang dilakukan produsen bumbu instan merek Rempah Spice dan Gerak Tani yang produknya banyak dibawa keluar negeri melalui ajang pameran. Sementara itu, cara lain yang juga cukup ampuh seperti yang dilakukan Teger Beremamanta, Pemilik PD. Terbang yang memperkenalkan produknya dengan cara memberikan sampel produk pada calon pelanggannya.

Kendala dan Risiko

Adapun kendala yang kerap dihadapi pelaku usaha bumbu instan adalah harga bahan baku cepat naik seperti cabai yang tergantung musim atau bumbu yang masih harus diimpor sepeprti oregano, garlic (bawang putih) dan MSG (monosodium glutamate) yang  tentu saja  harganya tergantung Dolar.

Selain itu, tidak standarnya bahan baku yang diperoleh juga dikeluhkan pelaku usaha. Untuk itu pelaku usaha sebaiknya memiliki 3-4 supplier bahan baku untuk mengatasi kendala tersebut. Sedangkan risiko bumbu instan  kadaluarsa sebelum masa waktunya  bisa terjadi, jika bahan baku, proses produksi dan pengemasannya kurang higienis.

Dari beberapa palaku usaha yang ditemui, persentase keuntungan yang diperoleh peaku usaha bumbu instan  mulai dari 20% hingga 50%. Namun produsen yang lebih banyak memproduksi bumbu seasoning dan bumbu bubuk instan memiliki keuntungan yang jauh lebih besar seperti yang dialami oleh perusahaan bumbu  Rempah Spice yang fokus pada produksi bumbu bubuk. Sedangkan omset dan keuntungan yang besar diperoleh Natura Prima, produsen seasoning dan bumbu instan yang mencapai omset Rp 1 miliar  dengan tingkat keuntungan sebesar 300 juta (30% dari omset).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.