Top Mortar tkdn
Home Ekonomi Algoritma Sosmed Bahaya Buat Investasi? Kenali Risikonya!

Algoritma Sosmed Bahaya Buat Investasi? Kenali Risikonya!

0
Algoritma Sosmed Bahaya Buat Investasi? Kenali Risikonya! (Foto Ilustrasi)

Algoritma Sosmed buat Investasi kini menjadi perhatian seiring meningkatnya penggunaan media sosial sebagai sumber informasi keuangan. Banyak orang mengenal saham, reksa dana, hingga aset kripto melalui video pendek, unggahan influencer, dan diskusi komunitas daring. Informasi yang muncul berulang kali di beranda bisa membuat suatu produk investasi terlihat menjanjikan, bahkan ketika pengguna belum memahami risiko di baliknya.

Media sosial memang mempermudah masyarakat mendapatkan pengetahuan finansial. Investor pemula bisa mempelajari istilah pasar modal, membaca analisis perusahaan, dan mengikuti perkembangan ekonomi tanpa harus mengakses banyak sumber secara terpisah. Namun, ada persoalan yang kerap luput diperhatikan: konten yang muncul di beranda tidak selalu dipilih berdasarkan kualitas informasi atau manfaatnya bagi keputusan keuangan.

Platform digital umumnya menggunakan sistem rekomendasi untuk menyajikan konten berdasarkan berbagai sinyal, seperti riwayat tontonan, interaksi, dan minat pengguna. Ketika seseorang sering melihat video tentang saham yang sedang naik, sistem rekomendasi dapat kembali menampilkan konten serupa. Akibatnya, pengguna berpotensi menerima pandangan yang berulang dan kurang memperhatikan informasi yang bertentangan.

Risikonya semakin besar ketika keputusan investasi dibuat berdasarkan popularitas konten, janji keuntungan cepat, atau rekomendasi figur yang terlihat meyakinkan. Dalam investasi, informasi yang ramai dibicarakan belum tentu mencerminkan kondisi fundamental suatu aset.

Algoritma Sosmed buat Investasi dan Pengaruhnya terhadap Keputusan Investor

Pengaruh media sosial terhadap keputusan investasi telah diteliti secara akademis. Studi yang diterbitkan dalam Journal of Behavioral and Experimental Finance pada Desember 2024 menguji bagaimana unggahan positif dan negatif tentang perusahaan memengaruhi keputusan investor muda yang akrab dengan media sosial.

Penelitian tersebut menemukan bahwa unggahan bernada positif dapat meningkatkan jumlah dana yang ingin diinvestasikan peserta, sedangkan unggahan negatif memberikan pengaruh sebaliknya. Salah satu mekanismenya adalah perubahan persepsi terhadap kondisi keuangan perusahaan setelah peserta membaca konten tersebut. Temuan ini menunjukkan bahwa sentimen di media sosial berpotensi memengaruhi penilaian investor, bahkan ketika informasi fundamental perusahaan juga tersedia.

Temuan itu relevan untuk memahami cara kerja algoritma rekomendasi. Ketika pengguna terus melihat konten dengan narasi serupa, pandangan terhadap aset tertentu bisa semakin kuat. Saham yang sedang populer mungkin terlihat memiliki prospek cerah karena banyak dibahas, sementara risiko bisnis, valuasi, atau kondisi keuangan perusahaan justru jarang diperhatikan.

Meski begitu, algoritma tidak otomatis membuat keputusan investasi menjadi buruk. Dampaknya bergantung pada jenis konten yang direkomendasikan, kualitas informasi, dan cara pengguna menilainya. Konten edukasi dari sumber tepercaya dapat membantu meningkatkan pemahaman finansial. Sebaliknya, rekomendasi yang sensasional atau menyesatkan dapat mendorong keputusan yang tidak didasarkan pada analisis memadai.

Finfluencer dan Risiko Mengikuti Tren Investasi

Fenomena finfluencer, yaitu figur media sosial yang membahas keuangan dan investasi, turut mengubah cara masyarakat mencari referensi. Mereka sering menyampaikan informasi dalam format singkat dan mudah dipahami, sehingga topik yang sebelumnya terasa rumit menjadi lebih mudah diakses.

International Organization of Securities Commissions (IOSCO) dalam laporan tentang finfluencer pada 2025 menyoroti sejumlah risiko, termasuk informasi yang menyesatkan atau bias, promosi produk berisiko tinggi, serta kurangnya keterbukaan mengenai konflik kepentingan. Laporan tersebut juga mengakui bahwa konten finansial di media sosial dapat membantu memperluas akses masyarakat terhadap edukasi investasi.

Masalah muncul ketika audiens tidak mengetahui apakah seorang kreator benar-benar memiliki keahlian yang relevan, menerima bayaran untuk mempromosikan produk, atau mempunyai kepentingan atas aset yang dibahas. Rekomendasi membeli saham tertentu, misalnya, bisa saja disampaikan tanpa penjelasan mengenai risiko penurunan harga atau kondisi yang membuat rekomendasi tersebut tidak lagi berlaku.

Investor juga perlu membedakan edukasi umum dari rekomendasi yang disesuaikan dengan kebutuhan keuangan pribadi. Strategi yang cocok bagi seseorang belum tentu sesuai untuk orang lain, karena setiap investor memiliki tujuan, kemampuan finansial, dan toleransi risiko yang berbeda.

Data Penipuan Investasi di Indonesia Menjadi Peringatan

Risiko investasi digital juga terlihat dari penanganan aktivitas keuangan ilegal di Indonesia. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melaporkan bahwa hingga 30 September 2026, pihaknya menerima 3.645 pengaduan terkait investasi ilegal sejak awal tahun. Pada periode yang sama, Satgas Pemberantasan Aktivitas Keuangan Ilegal (Satgas PASTI) menemukan dan menghentikan 242 entitas investasi ilegal.

Angka tersebut menunjukkan bahwa penawaran investasi ilegal masih menjadi persoalan yang perlu diwaspadai. Namun, data itu tidak berarti seluruh pengaduan berasal dari media sosial atau disebabkan algoritma. Data tersebut mencakup penanganan aktivitas investasi ilegal secara lebih luas.

Media sosial tetap dapat dimanfaatkan oleh pihak tidak bertanggung jawab untuk menyebarkan promosi investasi yang tidak masuk akal, menampilkan testimoni keuntungan, atau mengarahkan pengguna ke grup percakapan tertutup. Dalam beberapa kasus, promosi menggunakan istilah profesional, tangkapan layar keuntungan, dan narasi bahwa kesempatan hanya tersedia dalam waktu singkat.

Karena itu, janji keuntungan tinggi dengan risiko sangat rendah patut dicurigai. Investor perlu memeriksa legalitas pihak yang menawarkan produk melalui kanal resmi regulator dan tidak mengandalkan jumlah pengikut, komentar positif, atau popularitas sebuah unggahan sebagai bukti kredibilitas.

Cara Menggunakan Media Sosial tanpa Terjebak Algoritma

Ada beberapa langkah yang bisa dilakukan agar media sosial tetap bermanfaat untuk mencari informasi investasi.

  • Pertama, periksa sumber informasi. Cari tahu identitas pembuat konten, dasar analisisnya, dan apakah klaim yang disampaikan dapat diverifikasi melalui laporan perusahaan atau sumber resmi.
  • Kedua, bandingkan informasi dari beberapa sumber. Jangan mengambil keputusan hanya berdasarkan satu video atau unggahan viral. Cari pandangan berbeda dan periksa data fundamental sebelum mempertimbangkan pembelian aset.
  • Ketiga, pahami risiko sebelum mengikuti rekomendasi. Pelajari kemungkinan kerugian, likuiditas, biaya transaksi, serta jangka waktu investasi yang sesuai dengan tujuan keuangan.
  • Keempat, hindari keputusan karena takut tertinggal tren. Perasaan takut kehilangan peluang atau fear of missing out (FOMO) dapat mendorong seseorang membeli aset hanya karena banyak orang membicarakannya. Popularitas tidak menjamin harga akan terus naik.
  • Kelima, periksa legalitas penawaran investasi. Jika ada tawaran mencurigakan, masyarakat dapat mencari informasi melalui kanal resmi OJK. Jangan memberikan kata sandi, kode OTP, atau akses rekening kepada pihak yang mengaku sebagai penasihat investasi.

Algoritma Sosmed buat Investasi dapat menjadi sarana edukasi sekaligus sumber risiko, bergantung pada informasi yang dikonsumsi dan cara investor mengambil keputusan. Sistem rekomendasi dirancang untuk menampilkan konten yang dianggap relevan bagi pengguna, tetapi relevansi tersebut tidak sama dengan ketepatan informasi atau kelayakan sebuah investasi.

Exit mobile version