Top Mortar tkdn
Home Bisnis Pakar Sebut Galon Polykarbonat Aman, Narasi Bahaya Dinilai Bermuatan Bisnis

Pakar Sebut Galon Polykarbonat Aman, Narasi Bahaya Dinilai Bermuatan Bisnis

0
Pakar Sebut Galon Polykarbonat Aman, Narasi Bahaya Dinilai Bermuatan Bisnis (Ilustrasi Foto)

Pemerintah melalui Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menegaskan bahwa Galon Polykarbonat yang digunakan secara berulang tetap aman sebagai wadah pangan. Kepastian ini menjadi sinyal kuat bahwa produk kemasan tersebut tidak hanya terjamin keamanannya, tetapi juga mendukung program pengurangan sampah plastik lewat prinsip guna ulang (reuse).

Penegasan BPOM ini menguatkan kembali bahwa kebijakan yang diambil selalu berlandaskan kajian ilmiah yang kredibel. Regulasi tidak disusun berdasarkan kepentingan komersial, melainkan untuk menjamin perlindungan kesehatan masyarakat. Fakta di lapangan menunjukkan, isu tentang bahaya Bisphenol A (BPA) dari Galon Polykarbonat hingga kini tidak terbukti secara ilmiah.

Berbagai riset, termasuk yang dilakukan dengan skenario ekstrem seperti paparan sinar matahari langsung, memperlihatkan bahwa migrasi BPA dari galon ke dalam air minum tetap berada jauh di bawah ambang batas aman. Dengan demikian, kekhawatiran sebagian pihak terhadap potensi bahaya penggunaan galon guna ulang dinilai tidak memiliki dasar kuat.

Narasi Bahaya Dinilai Bermuatan Persaingan Usaha

Pakar Kesehatan Masyarakat Universitas Muhammadiyah Hamka (Uhamka), Hermawan Saputra, menegaskan bahwa industri kemasan pangan telah menyepakati keamanan material polykarbonat. Menurutnya, dampak BPA pada galon begitu minim hingga tidak relevan disebut berbahaya.

“Galon yang diproduksi dengan material PC sudah lama direkomendasikan aman untuk dijadikan kemasan air minum. Sampai sekarang, tidak ada bukti ilmiah yang menyatakan sebaliknya,” ujar Hermawan, yang juga menjabat Ketua Umum Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI).

Ia menambahkan, isu kesehatan yang kerap dikaitkan dengan galon guna ulang lebih tepat disebut hoaks. Pernyataan ini sejalan dengan pandangan sejumlah pihak yang menilai narasi bahaya BPA sengaja digulirkan sebagai bagian dari strategi persaingan usaha.

Hal senada disampaikan dokter sekaligus influencer kesehatan, Tirta Mandira Hudhi. Ia melihat munculnya opini negatif terkait galon guna ulang justru berpotensi diarahkan untuk mendorong masyarakat beralih ke kemasan sekali pakai. “Ada indikasi isu ini dimainkan untuk kepentingan pasar, bukan murni soal kesehatan,” ungkap Tirta.

Pertanyaan atas Regulasi Pelabelan BPA

Dari perspektif hukum bisnis, keraguan juga datang dari akademisi Universitas Sumatera Utara, Prof. Ningrum Natasya Sirait. Ia menilai kebijakan pelabelan BPA yang diwacanakan justru berpotensi menambah beban biaya produksi dan pada akhirnya dibebankan kepada konsumen.

“Kalau dari sisi kesehatan saja masih pro kontra, maka regulasi jangan dipaksakan. Pertanyaan mendasar adalah regulasi ini sebenarnya untuk kepentingan siapa?” tegasnya.

Menurut Ningrum, isu BPA dalam galon bukan semata soal kesehatan, tetapi juga terkait dinamika persaingan usaha di industri air minum dalam kemasan. Kebijakan yang keliru, lanjutnya, bisa memukul produsen sekaligus merugikan masyarakat sebagai pengguna akhir.

Exit mobile version