Segmen Pengembangan Kawasan Perumahan Sumbang 50% Pendapatan Intiland

0
299

Berempat.com – Perusahaan pengembang properti PT Intiland Development Tbk. telah merilis laporan kinerja keuangan sampai dengan kuartal 3-2018. Emiten berkode DILD ini telah membukukan pendapatan usaha sebesar Rp 2,4 triliun, atau tumbuh 40% dibanding periode sama tahun lalu sebesar Rp 1,7 triliun.

Direktur Pengelolaan Modal dan Investasi Intiland Archied Noto Pradono mengungkapkan, segmen pengembangan kawasan perumahan menjadi penyumbang terbesar pada pendapatan usaha perseroan. Sumbangan terbesar itu didapat dari penjualan tanah yang masuk kategori bukan bisnis inti.

Selain penjualan tanah, beberapa proyek di segmen tersebut juga turut mendongkrak pendapatan perseroan, seperti Serenia Hills Jakarta, Graha Famili dan Graha Natura Surabaya, Talaga Bestari, dan Magnolia Residence di Tangerang.

“Pengembangan kawasan perumahan mampu memberikan kontribusi Rp 1,2 trilun atau sekitar 50 persen dari keseluruhan pendapatan usaha. Kalau dibandingkan tahun lalu, pendapatan usaha di segmen ini naik 255 persen,” ungkap Archied dalam keterangan resminya, Rabu (31/10) malam.

Setelah segmen pengembangan kawasan perumahan, segmen pengembangan mixed-use & high rise tercatat paling berkontribusi dengan pendapatan usaha sebesar Rp 729,1 miliar atau 30% dari keseluruhan. Kemudian segmen properti investasi yang merupakan sumber pendapatan berkelanjutan (recurring income) berkontribusi sebesar Rp 430,6 miliar atau 18% dari keseluruhan. Nilai pendapatan itu naik 24,5% dibanding periode sama tahun lalu sebesar Rp 345,9 miliar.

Archied menjelaskan, meningkatnya pendapatan dari segmen properti investasi karena pendapatan sewa ruang perkantoran, seperti South Quarter dan Intiland Tower naik. Selain dari penyewaan ruang perkantoran, segmen ini turut menyumbang pendapatan dari penyewaan ruang ritel, pergudangan, serta pengelolaan klub olahraga dan lapangan golf.

Recurring income sebagian besar bersumber dari pengelolaan sarana dan prasarana, perkantoran, dan kawasan industri,” jelasnya.

Ditinjau berdasarkan tipe sumber pendapatan usahanya, pendapatan pengembangan (development income) memberikan kontribusi Rp 2 triliun atau mencapai 82% dari keseluruhan. Sisanya berasal dari segmen recurring income yang tercatat sebesar Rp 430,6 miliar atau memberikan kontribusi sekitar 18%.

Sementara untuk pendapatan keseluruhan, segmen pengembangan kawasan industri yang berasal dari penjualan lahan di Ngoro Industrial Park di Mojokerto, perseroan memperoleh pendapatan usaha sebesar Rp 54,7 miliar, atau berkontribusi 2% dari keseluruhan.

“Secara keseluruhan kinerja pendapatan usaha tahun ini lebih baik dibandingkan dengan tahun lalu. Banyak proyek yang masuk tahap penyelesaian, sehingga hasil penjualan bisa sepenuhnya dibukukan sebagai pendapatan,” papar Archied.

Meskipun pendapatan usaha meningkat, namun kinerja profitabilitas perseroan pada kuartal 3 ini mengalami penurunan. Perseroan mencatatkan perolehan laba kotor sebesar Rp 719 miliar atau meningkat tipis dibandingkan periode sama tahun lalu sebesar Rp 706 miliar.

Perseroan membukukan laba usaha sebesar Rp 202,1 miliar atau turun 20,6% dibandingkan periode sama tahun lalu. Laba bersih perseroan tercatat mencapai Rp 123 miliar, atau mengalami penurunan sebesar 47% dibandingkan periode sama tahun lalu yang mencapai Rp 233 miliar.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.