Investor Asing Lebih Jeli Melihat Peluang Startup Teknologi di Indonesia

0
340

Berempat.com – Perusahaan rintisan (startup) di Indonesia terus berkembang sejak satu dekade belakangan ini. Banyak yang bermunculan, banyak pula investor berdatangan. Saat ini di Indonesia sendiri sudah ada 4 perusahaan rintisan berlabel Unicorn’, yakni mereka yang belum berusia 10 tahun tapi sudah punya valuasi di atas US$ 1 miliar atau setara Rp 13 triliun.

GO-JEK, Tokopedia, Bukalapak, dan Traveloka memang menjadi gambaran bagaimana perusahaan rintisan di Indonesia bisa terlihat begitu menjanjikan. Bahkan, para pemilik perusahaan-perusahaan ini sudah masuk ke dalam daftar 150 orang terkaya di Indonesia versi Majalah Global Asia.

Namun, sayangnya, kebanyakan investor yang membuat keempat perusahaan tersebut kini dapat besar merupakan investor asing. Ari Adil, Co-Founder and Managing Partner Jagartha Advisors menanggapi fenomena masuknya dana fantastis dari asing pada perusahaan rintisan Indonesia karena investor asing sangat cermat dan jeli dalam melihat konsep bisnis yang diusung oleh mereka.

“Didukung oleh stabilitas makroekonomi, demografi, dan penetrasi pengguna internet yang meningkat mencapai 54%, menjadikan adanya peluang besar dalam pertumbuhan ekonomi digital di Indonesia. Investor asing dalam hal ini melihat pangsa pasar yang begitu besar di Indonesia bagi pertumbuhan bisnis startup tersebut, sehingga startup Unicorn ini mendapat nilai yang sangat baik di mata asing,” terang Ari dalam keterangan resminya, Jumat (10/8).

Apalagi, menurut Ari, hal yang paling menarik di mata investor asing adalah konsep sharing economy yang ditawarkan oleh perusahaan rintisan di Indonesia. GO-JEK, Tokopedia, Bukalapak, dan Traveloka sama-sama memaksimalkan konsep one stop solution dalam satu aplikasi.

“Mereka tidak memiliki aset seperti perusahaan konvensional pada umumnya. Startup tersebut menyediakan aplikasi yang bermanfaat bukan hanya bagi pengguna, tetapi bagi mereka yang memiliki aset seperti motor, mobil, produk. Dan kehadiran startup ini mampu menjembatani gap di antara ini,” papar Ari.

Ari pun memaparkan soal hasil riset Google yang rilis pada 2017 lalu. Hasil riset tersebut menyebutkan bahwa nilai investasi di bidang startup teknologi Indonesia menempati urutan ketiga terbesar setelah sektor migas, dengan total investasi yang masuk berjumlah Rp 40 triliun (Januari-Agustus 2017).

Memang, menurut Ari hal yang menarik dari konsep perusahaan rintisan saat ini ialah ‘ekspansi dulu, untung kemudian’ yang berbeda dengan perusahaan konvensional. Perusahaan konvensional umumnya fokus untuk mengejar profit, sedangkan fokus perusahaan rintisan saat ini adalah valuasi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.