Pengamat Ungkap 4 Faktor Investor Lokal Tak Banyak Berinvestasi di Startup

0
537
Co-Founder and Managing Partner Jagartha Advisors, Ari Adil.

Berempat.com – Pada 2017 lalu Google telah mengeluarkan hasil riset yang menyebut bahwa nilai investasi di bidang startup teknologi Indonesia menempati urutan ketiga terbesar setelah sektor migas. Total investasi yang masuk berjumlah Rp 40 triliun (Januari-Agustus 2017).

Wajah startup teknologi di Indonesia bisa dibilang sedang diwakili oleh 4 perusahaan, yakni GO-JEK, Bukalapak, Tokopedia, dan Traveloka. Keempat perusahaan tersebut sudah menyabet gelar ‘Unicorn’ setelah mampu memiliki valuasi perusahaan di atas US$ 1 miliar atau setara Rp 13 triliun di bawah usia 10 tahun.

GO-JEK menjadi perusahaan dengan valuasi mencapai US$ 1,75 miliar, Tokopedia memiliki valuasi US$ 1,347 miliar, Traveloka memiliki valuasi US$ 1,1 miliar, dan Bukalapak yang tidak diketahui.

Namun, Co-Founder and Managing Partner Jagartha Advisors, Ari Adil melihat bahwa yang bisa mengantarkan startup Indonesia bisa sebesar saat ini justru datang dari investor asing. Sementara investor lokal yang diketahui cukup besar memiliki andil hanya Emtek yang berinvestasi di Bukalapak, serta Astra dan Salim Group yang menjadi investor GO-JEK.

Tetapi, kendati demikian Ari mengungkapkan, menurut riset Google berdasarkan kuantitas diill investasi startup di Indonesia masih dikuasai oleh investor lokal. Hanya saja bila dilihat secara value investor lokal masih kalah dengan investor asing.

Sebagai seorang pemerhati keuangan dan financial advisor, Ari melihat beberapa kecenderungan investor lokal yang menyebabkan fenomena ini:

Perlunya vehicle yang tepat

Ari melihat bahwa di negara lain investor dapat berinvestasi di perusahaan startup melalui produk investasi sebagai vehicle yang sering disebut Venture Capital, yakni di mana produk tersebut dikelola oleh Manajer Investasi yang berpengalaman. Sementara untuk lebih memberikan akses luas kepada investor lokal di Indonesia agar bisa berinvestasi di perusahaan startup, dibutuhkan terobosan peraturan untuk dapat menyediakan vehicle yang tepat bagi investor lokal.

Dibutuhkan insentif pajak

Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) telah merekomendasikan insentif pengurangan pajak bagi pemodal startup di Indonesia. Hal ini, menurut Ari, akan sangat baik mengingat akan terdorongnya iklim investasi bagi startup dengan adanya kebijakan fiskal dan tax incentive.

Terbatasnya pengetahuan mengenai bisnis startup

“Negara asal para investor asing seperti Amerika dan China sudah sejak 20 tahun akrab dan belajar tentang bisnis startup, bahkan bisa lebih lama untuk Amerika. Sedangkan startup di Indonesia baru berkembang dalam kurun waktu lima tahun terakhir,” ujar Ari.

Masih banyak ladang investasi di Indonesia

Ari menilai, tidak banyak investor lokal yang berinvestasi di startup Indonesia bukan karena mereka tidak memiliki dana. Beberapa investor lokal justru dinilai memiliki dana besar, tapi Ari melihat bahwa mereka lebih tertarik untuk mencari ladang investasi di tempat lain.

Di Indonesia sendiri terdapat banyak ladang investasi menarik lainnya, seperti properti, emas, pertambangan, perkebunan tanah, dan perkebunan pun masih menjanjikan di Indonesia.

Karena itu, Ari menilai bahwa peluang investor lokal untuk berinvestasi pada startup Indonesia masih terbuka lebar. Apalagi jika kelak perusahaan startup tersebut memutuskan untuk melantai di bursa saham Indonesia.

“Peran, dukungan, dan kolaborasi dari banyak pihak termasuk swasta dan pemerintah sangat dibutuhkan guna mencetak investor lokal yang menjadi raja sepenuhnya bagi startup–startup Unicorn asal Indonesia,” tandasnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.