Kelebihan Pasokan dan Tertekan Dolar, Tepatkah Jika Menaikkan Harga Semen?

0
475

Berempat.com – Tahun 2018 industri semen Indonesia sepertinya sedang banyak menghadapi persoalan. Persoalan pertama ialah kelebihannya pasokan semen yang mencapai 107 juta ton, sedangkan kebutuhan semen nasional diprediksi tak lebih dari 80 juta ton. Belum lagi lemahnya rupiah terhadap dolar AS yang turut berimbas pada tingginya biaya produksi.

Sementara itu, beberapa pengamat juga menilai, persaingan antarprodusen semen pasti akan semakin ketat mengingat produk luar pun merambah pasar nasional.

Untuk menyiasati kondisi saat ini, beberapa produsen semen pun mulai memutar otak untuk bisa mendapatkan ‘kue’ lebih banyak. Salah satu strategi yang dilakukan oleh PT Indocement Tunggal Perkasa Tbk. ialah menaikkan harga jual semen antara 1-2% pada semester II 2018 ini.

Indocement memutuskan menaikkan harga jual lantaran melejitnya biaya produksi yang mesti ditanggung perusahaan. Menurut Direktur Utama PT Indocement Tunggal Prakasa Tbk. Christian Kartawijaya, selama kuartal I tahun 2018 biaya produksi yang ditanggung perseroan naik 11% dibanding periode sama pada tahun lalu. Namun, harga jual justru melemah lebih dari 7%.

“Setelah Lebaran ini, kami akan melakukan tes pasar dengan mencoba menaikkan harga jual, tetapi kenaikannya rendah sekali, pada kisaran 1%—2%,” ujar Christian di Jakarta, Senin (4/6).

Namun, apakah langkah yang diambil oleh Indocement sudah tepat dan dapat juga dilakukan oleh produsen semen lainnya?

Pengamat pasar modal dari Binaartha Sekuritas, Reza Priyambada justru menganggap apa yang dilakukan oleh Indocement tidak tepat. Bahkan ia menilai bahwa Indocement salah mengambil momentum. Pasalnya, industri semen saat ini sudah dibuat pusing oleh kelebihan pasokan yang juga berbuntut pada tertekannya harga jual semen.

“Mana mau konsumen beli dengan harga lebih mahal meski hanya satu sampai dua persen, sedangkan produk di pasar berlimpah,” tukas Reza seperti dikutip dari Wartaekonomi.co.id, Sabtu (30/6).

Reza justru berpendapat, hal yang semestinya dilakukan oleh perusahaan yaitu mendongkrak penjualan, salah satunya memperbanyak jaringan penjualan di level pengecer. Jika hal itu bisa dilakukan, Reza menilai bahwa margin perusahaan bakal bisa terdongkrak dengan sendirinya.

“Kalau memang penjualan secara bulk sedang jelek karena proyek-proyek infrastruktur atau properti juga sedang lesu, ya penjualan ecerannya dong yang digalakkan. Di level eceran ‘kan ketika orang mau bangun atau renovasi rumah, nggak ada istilah hold dulu. Mereka akan tetap belanja,” tegas Reza.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.