Apa yang Selama Ini Dilakukan GO-JEK dengan Uang Investor?

0
840

Bukan hanya digelontorkan dana segar, GO-JEK tak lupa ikut berinvestasi dan mengakuisisi perusahaan lokal hingga asing.

Berempat.com – GO-JEK menjadi salah satu dari empat perusahaan rintisan (Start up) lokal yang menyandang gelar ‘Unicorn’. Gelar atau status Unicorn tak bisa sembarangan diberikan atau disematkan kepada sebuah perusahaan rintisan. Untuk bisa mendapatkan status tersebut sebuah perusahaan rintisan harus memiliki valuasi mencapai US$ 1 miliar. Valuasi tersebut biasanya didapatkan dari total dana yang digelontorkan oleh investor.

Di Indonesia sendiri, untuk saat ini terdapat empat perusahaan rintisan yang sudah menyandang gelar Unicorn, di antaranya GO-JEK (US$ 1,75 miliar), Tokopedia (US$ 1,347 miliar), Traveloka (US$ 500 juta), dan Bukalapak (tidak diketahui).

Berhubung GO-JEK menjadi perusahaan rintisan lokal dengan nilai perusahaan tertinggi, sangat menarik bila mengikuti bagaimana cara GO-JEK menggunakan uang investor. Pastinya GO-JEK tidak akan sembarangan dan asal dalam ‘membakar’ uang yang sudah didapat. Sebab sudah pasti juga para investor sudah menargetkan kapan GO-JEK bisa mendapatkan keuntungan.

Lalu bagaimana cara GO-JEK mengelola uang investor?

GO-JEK Rajin Berinvestasi dan Mengakuisisi Perusahaan

Seperti yang sudah diketahui, kali pertama GO-JEK mendapatkan investor saat usia perusahaan berjaket hijau ini sudah berjalan hampir 5 tahun. Tepatnya pada 2015, setelah meluncurkan aplikasinya GO-JEK lekas mendapat suntikan dana dari NSI Ventures. Namun, tak diketahui berapa nilai investasi yang digelontorkan.

Menginjak akhir tahun 2015, GO-JEK kembali mendapatkan pendanaan dari Sequoia Capital dan DST Global. Nilai investasi kali ini pun tidak diungkap kepada publik.

Di tahun pertamanya mendapatkan investor, GO-JEK cenderung memilih menggunakan dana segarnya untuk kebutuhan riset, pengembangan aplikasi, iklan, promo pelanggan hingga bonus kepada mitra ojek.

GO-JEK tentu harus menalangi uang bagi pelanggan yang menggunakan promo saat menggunakan pelayanannya. Sebab untuk bisa menjalankan promo diskon tentu GO-JEK tak bisa mengorbankan mitra ojek dengan memotong upah yang semestinya. Begitu juga dengan bonus bagi mitra ojek yang mencapai target, tentu GO-JEK tidak bisa meminta uang lebih kepada pelanggan melainkan harus mengeluarkan uangnya sendiri dari kas.

Beruntung GO-JEK memiliki dana berlimpah dari investor, sebab itu berbagai promo diskon di awal kemunculannya bisa berjalan tepat. Lain hal dengan beberapa perusahaan rintisan serupa yang mengikuti jejak GO-JEK namun tanpa investor besar. Nama-nama pesaing seperti TopJek, Ojek Kampung, Ladyjek, hingga Bluejek, satu per satu dari mereka pun betrumbangan.

Persaingan harga menjadi salah satu faktornya. GO-JEK yang punya sokongan dana kuat tentu lebih mudah memberikan promo diskon kepada pelanggan tanpa perlu mengurangi pendapatan mitra ojek. Lagi pula, dengan skema bagi hasil yang membuat GO-JEK hanya menerima 20% dari setiap order yang diambil mitra ojek tak akan mampu memberi keuntungan di awal.

Sementara untuk belanja iklan belum diketahui berapa dana yang sudah dihamburkan GO-JEK. Namun, yang pasti GO-JEK tak sedikit ‘membakar’ uangnya di sektor tersebut.

Tapi, yang pasti kita bisa menelusuri berbagai perkembangan yang dilakukan GO-JEK, baik secara layanan maupun fitur yang ditawarkan. Setidaknya, selama 2015 GO-JEK telah melakukan banyak perubahan dan pembaharuan, Dimulai dari munculnya fitur GO FOOD, GO BUSWAY, GO BOX, GO CLEAN, GO MASSAGE, dan GO GLAM.

Selain itu, GO-JEK sempat membuka perekrutan besar-besaran pada Agustus 2015 di Senayan, Jakarta. Perusahaan yang dimotori Nadiem Makarim ini pun dengan cepat membuka kantor perwakilan di beberapa kota besar di Indonesia. Membuka kantor perwakilan di wilayah Surabaya, Bandung, Medan, Jogja, Palembang, Semarang, Balikpapan, dan Bali dalam rentang satu tahun tentu membutuhkan biaya yang tak sedikit.

Tapi GO-JEK berhasil mendapatkan hasil dari semua yang dilakukannya. Dalam waktu enam bulan setelah peluncuran aplikasi GO-JEK berhasil mencatatkan 1 juta transaksi. Bahkan, di penghujung tahun 2015 GO-JEK berhasil membuat aplikasinya diunduh sebanyak 5,5 juta kali dan memiliki 150 ribu mitra ojek.

2016

Memasuki tahun 2016, tanpa dikira, GO-JEK mengawali tahun dengan mengakuisisi perusahaan rintisan asing yang berbasis di India. Februari 2016, GO-JEK mengakusisi C42 Engineering dan Codelgnition, dua perusahaan yang bergerak di bidang IT.

Akuisisi yang dilakukan Nadiem bukan tanpa alasan. GO-JEK memang sedang mencari solusi untuk menciptakan perangkat lunak yang dapat mengatasi bug pada aplikasinya. “Kami kehilangan kendali terhadap pengembangan (IT), kemudian investor kami: Squoia membantu mengenalkan kami ke pendiri C42 dan Codelgnition,” ujar Nadiem seperti dilansir dari The Economic Times.

Tujuan akuisisi yang dilakukan GO-JEK pun tak terlepas dari rencana untuk merekrut 100 orang insinyur, programmer dan pengelola data di level junior hingga senior dalam 6 bulan sampai satu tahun. C42 Engineering dan Codelgnition memang diketahui sebagai perusahaan yang bergerak di bidang konsultan teknologi yang berdiri sejak 2010. Hasilnya pun seperti yang dapat dirasakan sekarang, GO-JEK terus memperbaharui fitur di aplikasinya.

Sampai pada pertengahan tahun, Juli-Agustus 2016 sebanyak 8 investor (diketahui Formation Group, Capital Group, KKR & CO., Northstar Group, Rakuten Ventures, Warburg Pincus, dan Farallon Capital Management) menggelontorkan dana investasi hingga total mencapai US$ 550 juta (Rp 7,2 triliun). Ini adalah pendanaan kedua yang dibuka GO-JEK sekaligus menjadi momen bagi GO-JEK yang resmi menyandang gelar Unicorn pertama rintisan Indonesia di usianya yang ke-6 tahun.

Selepas mendapatkan nilai investasi yang fantastis, GO-JEK bergerak cepat. Tak hanya menambah fitur dan layanan, di awal September GO-JEK menjadi salah satu investor bagi HaloDoc. Investasi yang dilakukan GO-JEK bertujuan untuk memperkuat GO-MED—fitur dan layanan baru yang diluncurkan GO-JEK setelahnya. Pada investasi kali ini diketahui dana yang digelontorkan GO-JEK mencapai US$ 15 juta (Rp 201 miliar).

Masih di bulan yang sama, GO-JEK kembali mengakuisisi perusahaan rintisan asal India, Pianta. Perusahaan tersebut diketahui bergerak dalam jasa kesehatan, sehingga ada kemungkinan akuisisi tersebut juga berkenaan dengan memperkuat layanan GO-MED. Namun, tidak diketahui berapa nilai akuisisi yang dilakukan GO-JEK.

Sampai di sini GO-JEK terus memilih menggelontorkan uang kas dari investor untuk berinvestasi di perusahaan yang dapat menyokong lini bisnisnya. Hal itu bisa dilihat saat GO-JEK bekerja sama dengan MVCommerce, perusahaan yang bergerak di bidang pembayaran mobile PonselPay. Nadiem memilih mengakuisisi MVCommerce untuk rencana jangka panjangnya melahirkan dompet virtual: GO PAY.

Tak hanya berinvestasi, GO-JEK juga mulai asyik mengakuisisi perusahaan rintisan asal India. November 2016, Nadiem mengakuisisi Leftshift Technologies, perusahaan pengembang aplikasi. Uniknya, sebelum mengakuisisi, GO-JEK adalah klien Leftshift bersama dengan 200 perusahaan lainnya seperti Practo, BookMyShow, hingga Oyo. Namun, lagi-lagi, GO-JEK enggan mengungkapkan nilai akuisisi yang dilakukan.

2017

Melangkah ke tahun 2017, GO-JEK tak lagi mengawali tahun dengan jor-joran berinvestasi maupun mengakuisisi perusahaan rintisan. GO-JEK kali ini lebih memilih melakukan pengembangan fitur dan layanan. Hasilnya, GO-JEK membuat aplikasi baru bernama GO-LIFE. Aplikasi tersebut khusus untuk fitur dan layanan GO CLEAN, GO MASSAGE, GO GLAM, dan GO AUTO. Pemisahan ini dilakukan GO-JEK agar dapat memaksimalkan masing-masing pelayanan. Lebih lagi, untuk aplikasi GO-JEK memang ingin lebih fokus pada urusan transportasi, logistik, dan payment.

Sampai kemudian GO-JEK kembali dihujani dana lebih setelah dua raksasa teknologi asal Tiongkok, Tencent Holding dan JD.com memutuskan berinvestasi pada Mei 2017. Total investasi yang digelontorkan keduanya berkisar US$ 1,2 miliar (Rp 16 triliun). Dengan ini, GO-JEK telah mencatatkan total pendanaan mencapai US$ 1,3 miliar (Rp 17,3 triliun) —menjadi yang tertinggi dibanding Traveloka, Tokopedia, dan Bukalapak.

Selepas mendapatkan dana baru, GO-JEK kembali merasa ‘gatal’. Tiga bulan berselang, GO-JEK pun mengakuisisi platform ticketing asal Indonesia, Locket.com tanpa disebutkan besar nominalnya. Akuisisi ini dilakukan guna memperkuat layanan GO TIX yang sudah diluncurkan GO JEK sejak 2016 silam.

Tak berhenti di situ, besarnya dana yang dipunya GO-JEK membuat si ‘Jaket Hijau’ ini kembali mengakuisisi perusahaan rintisan lokal. Tak tanggung-tanggung, menutup tahun 2017 GO-JEK langsung mengakuisisi 3 perusahaan financial technology (Fintech) sekaligus, yakni KartuKu, Midtrans, dan Mapan.

Tujuan GO-JEK mengakuisisi ketiga fintech ini tak terlepas dari ambisi Nadiem yang ingin menjadikan GO-PAY sebagai alat pembayaran multiplatform yang terpisah dari GO-JEK. Nadiem amat yakin bila keberadaan GO PAY selama ini telah memengaruhi sedikit banyak gaya hidup masyarakat masa kini. Karena itu GO-JEK berambisi melebarkan sayap demi dapat menjangkau layanan pembayaran multiplatform lebih luas lagi.

Usai mengakuisis perusahaan rintisan lokal, pada November 2017, GO-JEK pun mengucurkan pendanaan seri A senilai US$ 2 juta atau sekitar Rp 26 miliar kepada perusahaan rintisan yang serupa asal Bangladesh, namanya Pathao. Kucuran pendanaan GO-JEK kepada Pathao bahkan berlanjut di tahun 2018.

Hingga akhir tahun 2017, GO-JEK kian mentereng dengan capaian apiknya. Sebanyak 15 juta orang telah mengunduh aplikasinya, lebih dari 250.000 mitra bergabung, beroperasi di 16 kota besar di Indonesia, mencatatkan 100 juta transaksi setiap bulan di aplikasinya, dan telah menggandeng lebih dari 125.000 merchant.

2018

Dan beranjak ke tahun 2018, GO-JEK kembali membuat penuh kasnya setelah Google turut andil menjadi sumber uang baru bagi GO-JEK dengan mengucurkan dana US$ 100 juta (Rp 1,3 triliun). Selain itu ada juga Astra dan Djarum Group yang ikut meramaikan pendanaan kepada GO-JEK dengan total nilai mencapai Rp 3 triliun.

Sekarang, cukup menanti apa yang akan dilakukan oleh GO-JEK setelah mendapatkan sokongan dana baru dari Google, Astra, dan Grup Djarum. Apakah GO-JEK akan kembali berinvestasi, mengakuisisi perusahaan, mengembangkan aplikasi dan menambah layanan, atau justru membuat gebrakan dengan menghadirkan sesuatu yang baru di luar GO-JEK.

Tapi, setidaknya bocoran muncul dari pesan Nadiem melalui surat elektronik kepada seluruh karyawan GO-JEK pada Selasa (27/3). Dalam surat elektronik itu, Nadiem mengutarakan niat ekspansi GO-JEK ke tiga negara di ASEAN. Tapi, dalam tulisannya itu Nadiem tak menyampaikan lebih jauh negara mana saja yang akan menjadi tujuan GO-JEK selanjutnya.

Namun, rupanya rencana ekspansi GO-JEK ke negara di ASEAN tak melulu harus menempatkan kantornya di salah satu negara, melainkan bisa dilakukan lewat cara investasi. Setidaknya, hal itulah yang dilakukan GO-JEK pada akhir April 2018 saat memimpin pendanaan pra seri B senilai US$ 10 juta atau setara Rp 139 miliar kepada Pathao.

Dengan turut andil memimpin pendanaan kepada perusahaan transportasi berbasis aplikasi di Bangladesh tersebut, GO-JEK akan menempatkan satu eksekutifnya di jajaran direksi Pataho. Dengan begitu, secara tak langsung GO-JEK sudah ikut menjamah pasar Bangladesh tapi dengan ‘jaket’ berbeda.

*Artikel ini sempat diperbaharui oleh redaksi pada pukul 06.51 WIB, 2 Mei 2018. Informasi yang ditambahkan adalah investasi GO-JEK kepada Pathao.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.