Bisnis Lele Sistem Biofloc yang Menguntungkan

0
107
Lele Biofloc (dok Creativa - WordPress.com)

Sebagai salah satu komoditas perikanan darat, lele bisa dibilang yang paling laris di pasaran. Karena itu tidak heran, budidaya lele menjadi pilihan masyarakat dibandingkan budidaya ikan lainnya.

Dari berbagai teknik budaya lele yang digunakan masyarakat, teknik bisa dibilang teknik budidaya lele dengan sistem biofloc merupakan teknik budidaya baru. Teknik ini masuk ke Indonesia pada tahun 2005 yang lalu, namun tidak langsung diaplikasikan pada budidaya lele, melainkan pada budidaya udang di Lampung.

Melihat hasil yang memuaskan pada budidaya udang, teknik ini mulai diaplikasikan pada budidaya lele pada sekitar tahun 2010 yang lalu dan hasilnya terus mengalami perkembangan yang menjanjikan hingga sekarang.

Ramah Lingkungan dan Padat Tebar

Sistem biofloc merupakan sistem budidaya yang memanfaatkan hasil metabolisme ikan (kotoran) yang mengandung nitrogen untuk diubah menjadi protein yang dapat dimanfaatkan oleh ikan, sehingga ikan memperoleh protein tambahan dari biofloc di samping pakan yang diberikan.

Sistem kerja dari biofloc sendiri adalah mengubah senyawa organik dan anorganik yang mengandung senyawa Karbon, Hidrogen, Oksigen, Nitrogen dan sedikit unsur Fosfor  menjadi gumpalan berupa biofloc dengan menggunakan probiotik atau bakteri pembentuk floc yang mensintesis biopolimer poli hidroksi alkanoat sebagai ikatan biofloc.

Ada beberapa keuntungan yang dapat diperoleh para pembudidaya, yang pertama adalah menghilangkan bau tidak sedap pada kolam budidaya yang biasa ditemukan pada pelaku budidaya dengan sistem konvensional. Pada budidaya konvensional kotoran ikan dibuang setiap hari dengan membuang 20-30% air yang ada pada kolam.

Namun pada sistem biofloc pergantian air dapat diminimalisir atau tidak dilakukan sama sekali sehingga tidak mencemari lingkungan sekitar. Pakan yang digunakan pun menjadi lebih sedikit ketimbang sistem konvensional karena ikan telah mendapatkan makanan alami dari hasil penguraian kotoran.

Dengan sistem penguraian sempurna maka akan mengurangi angka mortalitas atau kematian karena racun yang disebabkan oleh kotoran. Bila biasanya angka mortalitas pada budidaya konvensional mencapai 40% maka dengan sistem biofloc angka kematian bisa ditekan hingga 10%.

Tidak adanya racun dalam sistem biofloc bisa dilihat dari daging ikan yang putih dan tentunya rasa yang lebih baik serta empedu yang berwarna kuning bening tidak berwarna hitam atau hijau tua, dan tidak pahit.

Bisa dibilang, sistem biofloc dengan menggunakan kolam berbentuk tabung memiliki keunggulan produktivitas kolam yang padat tebar. Bila biasanya pada budidaya konvensional kepadatan tebar 200-500 per meter kubik air, maka dengan sistem biofloc kepadatan bisa meningkat 5-10 kali lipat menjadi 500-1000 ekor per meter kubik air.

Teknik Budidaya

Tempat budidaya dengan sistem biofloc ini berbentuk tabung yang dibuat dengan menggunakan kerangka besi Warnes ukuran 5 mm yang dilapisi terpal pada bagian dalamnya. Ukuran tempat atau wadah budidaya bervariasi tergantung kebutuhan mulai dari diameter 175 cm, 2 m, 2,5 m hingga 3 m dengan ketinggian kolam sekitar 105 cm. Untuk membuat kolam budidaya daya ini membutuhkan modal paling tidak Rp 600 ribu untuk kolam berukuran diameter 175 cm.

Selain kolam untuk budidaya ini juga dibutuhkan bibit lele, pakan berupa pelet hingga bahan pendukung seperti probiotik biofloc, dolomit, molase, garam krosok dan lain sebagainya. Modal yang dikeluarkan untuk budidaya sistem biofloc dengan ukuran diameter kolam 175 cm dan 1000 ekor bibit lele sekitar Rp 3 juta.

Setelah kolam dan berbagai bahan pendukung siap, langkah berikutnya adalah mempersiapkan air untuk media pembesaran. Masukan air dengan ketinggian sekitar 80 cm dan diamkan selama satu hari. Di hari ke dua masukkan probiotik,  hari ke tiga masukkan prebiotik seperti molase, malam harinya tambahkan dolomite (diambil airnya saja) selanjutnya diamkan air media selama 7-10 hari.

Setelah media siap, bisa dilanjutkan dengan memasukkan bibit lele dengan ukuran standar yaitu sekitar 8-7 cm. Setelah bibit ditebar, diperlukan perlakuan khusus pada bibit lele agar tumbuh maksimal. Diantaranya pemberian probiotik setiap hari dengan cara mencampurkan pada pakan yang diberikan dua kali sehari pada pagi dan sore hari. Selain itu juga perlu di penambahan prebiotik yang terdiri dari dolomit, molase, garam krosok dan lain sebagainya yang juga diberikan setiap hari pada proses budidaya.

Berbagai perlakukan khusus tersebut berlangsung hingga ikan siap panen pada usia 2,5 hingga 3 bulan. Dengan angka kematian 10%, maka paling tidak pembudi daya bisa memanen lele sebanyak 100 kg. Bila biaya yang dikeluarkan selama masa pembesaran sekitar Rp 13 ribu per kg, dengan harga jual lele saat ini yang mencapai Rp 24 ribu per kg maka keuntungan yang diperoleh pembudi daya sekitar  Rp 11 ribu per kg atau sekitar Rp 1,1 juta.

Kendala

Budidaya lele dengan teknik biofloc ini bukan tanpa kendala dan permasalahan, apalagi sistem ini masih terus dikembangkan dan mencari formulasi yang pas untuk meningkatkan produktivitas lele. Karena itu diperlukan sharing atau bertukar pendapat dengan sesama pembudi daya dengan sistem biofloc agar di dapatkan solusi atau jalan keluar yang ada.

Dan untuk itu, kami selalu membuka kesempatan kepada para pelaku usaha maupun pembudi daya yang ingin bertukar pendapat maupun menanyakan tentang budidaya lele dengan sistem biofloc ini. Selain sudah terbukti efektif pada budaya lele maupun udang, ternyata sistem biofloc ini juga sangat efektif pada sistem budidaya ikan patin.

 

Oleh: Legian Samtafsir, Pemilik Biofloc-165

Alamat: Jl. Raya Keadilan, No. 65, Rt 11, Rw 01 (Rawa Denok)

Rangkap Jaya Baru, Pancoran Mas, Depok, Jawa Barat

Email: [email protected]

Facebook: Legisan Samtafsir

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.