Kiat Membuka Usaha di Kantin Perkantoran

0
625
Bisnis di kantin perkantoran (dok amazonaws.com)

 

Kalau diamati usaha kuliner memang menggiurkan seperti rasa makanannya. Bahkan makanan termasuk kategori yang selalu kita butuhkan. Terlebih lagi kalau kita membuka usaha di perkantoran yang notabene karyawannya akan lapar dan haus setelah bekerja. Tentu kebutuhan makanan yang mendesak untuk mengisi perutnya tidak bisa ditunda. Dorongan ini membuat bisnis kuliner kita semakin dibutuhkan.

Dalam membuka usaha apapun memang betul ada baiknya kita memiliki informasi lebih dulu. Bukankah ini sama maknanya saat kita bepergian ke daerah yang baru perlu informasi jalan? Kita membawa peta atau memakai GPS untuk memandu jalan yang akan kita lalui. Hal yang sama juga terjadi saat kita membuka usaha. Kita perlu informasi supaya tidak salah membuat keputusan. Apa informasi yang dibutuhkan saat akan membuka usaha kuliner di perkantoran? Ini paparannya.

Dalam membuka usaha paling sedikit dibutuhkan informasi mengenai pasar dan pesaing. Kita bahas mengenai pasar lebih dulu. Yang dimaksud pasar di sini adalah orang-orang yang akan kita bidik untuk membeli ke kita. Karena usaha kulinernya dibuka di perkantoran, maka dengan jelas pasar di sini adalah para karyawan yang bekerja di perkantoran tersebut.

Pertama amati berapa jumlah karyawan yang bekerja di perkantoran tersebut. Kuncinya semakin banyak jumlah karyawan yang bekerja semakin bagus. Mengapa? Karena bisnis kita menggantungkan pada karyawan yang ada. Semakin banyak jumlah karyawan, semakin cerah potensi pasarnya. Pilihlah lokasi perkantoran dengan jumlah karyawan minimal lebih dari 200 orang.

Unsur kedua yang perlu diamati adalah daya beli orang-orang perkantoran di lokasi yang akan kita bidik. Tiap lokasi perkantoran bisa memiliki karakteristik karyawan yang berbeda dengan kantor lain. Sebagai contoh kalau di Jakarta, daerah perkantoran di segitiga emas seperti Sudirman atau Kuningan, banyak dihuni karyawan yang berkelas tinggi sehingga memiliki daya beli tinggi.

Berbagai bisnis kuliner dalam bentuk kantin moderen atau café tersebar di sini, harganya pun premium . Berbeda kalau di daerah perkantoran di Jakarta lainnya, tentu harganya tidak bisa dipasang premium seperti di daerah Sudirman. Maka lokasi perkantoran tempat para karyawan menghuni harus kita amati dari segi daya belinya.

Faktor ketiga, berkaitan dengan informasi disediakan tidaknya makanan oleh pihak kantor. Beberapa kantor sering menyediakan makan siang bagi karyawannya. Jujur, ini menjadi penghambat bagi bisnis kuliner kita. Juga, amati saat jam makan siang apakah karyawan kebanyakan membawa bekal makanan sendiri.

Kalau suatu perkantoran banyak dihuni karyawan yang membawa bekal sendiri tentu kurang menarik kalau kita membuka usaha kuliner di daerah tersebut. Ini berarti daerah perkantoran yang potensial kalau pihak kantor tidak menyediakan makan siang bagi karyawannya dan perilaku karyawan tidak membawa bekal sendiri.

Setelah kita mengumpulkan informasi tentang pasar, selanjutnya kita kumpulkan informasi tentang pesaing. Berkaitan dengan pesaing, amati apakah banyak pesaing ada di sekitar perkantoran? Kalau banyak, ini berarti kita semakin perlu usaha keras untuk merebut pelanggan. Sebaliknya kalau kantin kita menjadi satu-satunya tempat yang menawarkan makanan, tentu ini kabar yang sangat menggembirakan.

Setelah itu kita teliti berapa jumlah konter makanan yang akan buka di konter perkantoran. Biasanya jumlah konter yang membuka di kantin dibatasi. Semakin sedikit semakin bagus prospeknya bagi kita. Karena ingat, semakin banyak semakin besar tingkat persaingan antar konter di dalam kantin. Yang ideal maksimal 4-5 konter yang ada di dalam kantin. Pihak pengelola kantor biasanya akan mengatur jenis makanan utama untuk tiap konter supaya tidak sama sehingga banyak variasi. Misalnya kalau sudah ada masakan padang tentu yang lain diharapkan jenis makanan yang lain seperti bakso, empek-empek, nasi campur, dan lain-lain.

Kalau dua faktor utama di atas –pasar dan pesaing- sudah diteliti dan posisinya menguntungkan maka berikutnya yang perlu kita cermati adalah kebijakan atau aturan yang diberlakukan. Amati bagaimana sistem harga sewanya, prosedur perpanjangan, biaya bulanan (service charge), pembebanan biaya listrik, dan sejenisnya. Kalau semuanya menguntungkan maka kita bisa membuka usaha kantin di perkantoran yang dibidik.

Sebagai penutup, supaya kantin kita di perkantoran sukses ada beberapa tip di sini. Pertama, tawarkan menu makanan yang benar-benar enak dengan besar porsi yang mencukupi. Karena sekali rasa makanan  kita tidak enak, karyawan yang kecewa membeli tidak akan kembali lagi dan akan menyebar berita negatif. Kalau ini terjadi tidak mudah untuk membangun imej kembali terlebih di perkantoran yang pelanggannya terbatas.

Kedua, layani pelanggan dengan ramah. Pelanggan yang beli di kantin hanya akan “itu-itu saja”. Untuk itu perlu bina hubungan yang ramah dan berkawan. Usahakan jangan mengecewakan pelanggan.

Ketiga, tawarkan beberapa variasi makanan sehingga orang yang suka dengan kantin kita tidak bosan. Pasang menu spesial atau unggulan di hari tertentu. Keempat, lakukan promosi untuk awal buka seperti diskon 20%. Lakukan penyebaran brosur yang menginformasikan menu makanan yang spesial dan promo-promo lainnya. Kelima gunakan kartu loyalitas. Misalnya setiap kali membeli mendapat poin yang bisa ditukar dengan minuman gratis atau hadiah lainnya.

Selamat membuka usaha kuliner di perkantoran.

 

 

Diasuh oleh: Istijanto Oei,

Pelatih dan Konsultan Bisnis Prasetya Mulya

Penulis Buku Jurus-Jurus Sakti Wirausaha

www.istijanto.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.