Personal Branding VS Pencitraan

0
169
Ilustrasi membangun personal branding. (Pexels.com/Bruce Mars)

 

 Belum banyak yang paham mengenai personal branding, hingga sejauh mana manfaatnya bagi pengusaha. Masyarakat masih banyak yang menganggap bahwa personal branding itu sebatas muncul di media, menjadi populer, atau hanya diperlukan bagi entrepreneur besar.

Padahal, personal branding merupakan fondasi utama bagi setiap pemilik usaha dalam mengembangkan bisnisnya. Juga penting bagi perusahaan untuk meningkatkan kinerja karyawannya, memperbaiki kultur dalam perusahaan, serta nilai tambah bagi produknya.

Salah Kaprah Personal Branding dengan Pencitraan

Pengasuh perlu menggarisbawahi mengenai perbedaan antara personal branding dengan pencitraan. Mayoritas pencitraan dilakukan bukan atas landasan yang benar dan hanya bersifat kosmetik. Misalnya, seorang tokoh menyewa tim pencitraan untuk memoles citranya sesuai dengan selera khalayak.

Jika masyarakat menyukai tokoh bergaya hidup sederhana, maka tim membuatnya bersikap sederhana, agar dipandang positif oleh orang lain.
Strategi pencitraan seperti ini biasanya hanya akan membuahkan kegagalan. Sebab pada masa tertentu akan muncul sosok asli tokoh tersebut, sehingga membuat khalayak merasa tertipu dan tidak memberikan kepercayaan kembali.

Pencitraan sangat bertolak belakang dengan personal branding. Personal branding didasarkan pada nilai, keunikan, serta kelebihan yang memang benar-benar berasal dari dalam diri seorang individu. Seperti yang dikatakan oleh Julie Nava, direktur Indscript Personal Branding Agency dan pendiri JN Consulting,

“Personal Branding adalah seni untuk menjadi diri sendiri, serta seni untuk menepati dan membuktikan janji tentang diri sendiri kepada orang lain. Bukan sekedar promosi produk atau profilnya.”

Tahapan MembangunPeronal Branding

Dalam proses membangun personal branding perlu menghindari beberapa hal di bawah ini.

  1. Menulis hal negatif mengenai pihak lain. Lebih baik fokus pada penulisan kreatif tentang sisi unik diri, prestasi, bisnis, serta penghargaan terhadap orang lain.
  2. Memiliki sikap yang buruk. Menurut Julie Nava, seorang Certified Personal Branding Strategist (CPBS), “Personal branding hendaknya dibangun dengan landasan sikap yang positif. Kurangi kebiasaan buruk yang tidak disadari, seperti melanggar hukum, melukai orang lain, tidak toleran, dan sebagainya.”san kreatif tentang sisi unik dirieatif tentang potensi diri, prestasi, dan penghargaan terhadap orang lain. meruntuhkan persona
  3. Tidak memiliki integritas. Menurut Julie Nava, “Jika seseorang ketahuan tidak konsisten antara perkataan dan perbuatannya, maka itu bisa meruntuhkan personal brandingnya sendiri.” Serupa dengan yang dikatakan oleh Zeti Arina, seorang konsultan pajak, yang berkata, “Fokuslah menjaga sikap agar tidak ceroboh, yang akhirnya bisa merusak branding yang dibangun.”

 

Oleh: Indari Mastuti

CEO Indscript Personal Branding Agency

Jl. PLN Dalam I No.1/203D, Moh Toha, Bandung

Email: [email protected]

www.indscriptcreative.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.