Uang; Pendorong untuk Bertindak

0
190
Kerja di Cafe (dok Fastwork.id)

 

Metodologi Penelitian adalah salah satu mata kuliah yang pernah saya ikuti tahun 2009 yang lalu. Mata kuliah ini apabila mahasiswa serius mengikuti dan melakukan tugas-tugasnya, maka saat perkuliahan usia sama dengan telah menulis skripsi sampai bab III.

Diantara aktifitas selama perkuliahan yang berkesan bagi saya, saat dosen—Ibu Lela Fatmawati—meminta kami untuk mencari masalah yang mau diteliti dengan membaca journal-journal baik telah dibukukan atau berbentuk pdf di dunia maya.

Selama penugasan tidak ada gambaran dalam kepala saya, seperti apakah yang namanya journal itu? Apa bedanya dengan artikel atau essay? Yang lebih parahnya lagi, sedikit pun tidak ada celetukan-celetukan penasaran dalam diri, masalah apa yang mau saya teliti?

Saya mengamati pancaran sinar dalam bola mata teman-teman seangkatan. Betapa tatapan penasaran berbinar-binar dalam mata mereka. Jari jemari juga siap membuka halaman demi halaman journal-journal Akuntansi yang ada di perpustakaan.

Sementara saya kebingungan harus melakukan apa? Bingung apa yang mau dibaca? sebenarnya menurut saya itu bukan bingung, akan tetapi tanda betapa sangat tidak mengertinya saya tentang Akuntansi sehingga tidak tau apa yang bisa dijadikan topik penelitian. Maka saya memutuskan membaca majalah Marketing terbaru dan Swa.

Gairah Membaca Jurnal

Namun pagi ini, saya merasa ada gairah membara dalam diri saya mencari informasi penelitian dalam journal-journal ilmiah di dunia maya. Sangking semangatnya, bukan hanya berbahasa Indonesia, berbahasa Inggris pun saya berusaha memahaminya.

Dalam benak saya terbersit, “Seandainya keingintahuan dan penasaran ini bisa muncul dalam konteks akuntansi, mungkin dari dulu skripsiku telah terdokumentasikan pada rak perpustakaan“.

Ya, saat menulis artikel ini, saya lagi senang, semangat, sangat ingin tahu dan berhasrat untuk mencari informasi penelitian tentang “Hubungan Pola Asuh dengan Perilaku Seseorang Saat Remaja atau Dewasa”. Seperti yang Anda ketahui, saya juga. Tema ini bukanlah domainnya Akuntansi, tapi Psikologi. Begitulah tertera dalam file yang saya unduh.

Dan pagi ini saya mencari informasi—Dampak Pola Asuh Terhadap Perilaku—bukan karena ingin menyelesaikan tugas kampus. Akan tetapi, dalam rangka menguatkan materi seminar yang akan saya bawakan untuk para orang tua salah satu TK teman saya. Tema seminarnya, “Meramal Masa Depan Anak; Mengetahui dampak pola asuh terhadap masa depan anak”. Adaptasi penelitian Young and Klosko, Praktisi Schema Therapy dan Cognitive Behavior Therapy.

Seminar ini bertujuan agar orang tua—dan yang akan menjadi orang tua—menyadari bentuk-bentuk pola asuh yang menyebabkan terjadinya hambatan mental (self-limiting belief) dan perilaku-perilaku kurang produktif (tindakan tidak sesuai pada konteksnya). Seperti, suka menunda pekerjaan, tidak percaya diri bertemu orang baru, tetap melanjutkan hubungan walau disakiti secara fisik dan verbal, serta hambatan mental lainnya.

Dua Sumber Motivasi

Akhirnya saya jadi mengerti, kenapa saya termotivasi mencari journal tentang hubungan pola asuh dan perilaku. Alasannya ada dua. Pertama karena saya “SUKA, Penasaran, dan Prihatin“. Sementara satu lagi, banyak orang mementingkan dan mau memilikinya, yakni “UANG“. Sayangnya saya tidak memiliki hal ini dulu saat mau menulis skripsi atau kuliah metodologi penelitian.

Pengalaman ini pula menyadarkan saya, betapa “uang dan rasa ingin tahu” bisa menjadi pendorong bagi seseorang—terutama saya—untuk bergerak dan bertindak. Di lain waktu saya juga pernah mengalami hal serupa. Beberapa bulan silam. Saya pernah duduk di sebuah cafe di mall Pejaten Village–Jakarta Selatan–untuk mengerjakan materi pelatihan “Basic Selling Skill” yang sudah lama diminta oleh EO.

Lumrah, bila mengerjakan tugas di Cafe, tidak mungkin saya hanya minum sebotol air mineral. Apalagi saya di sana hampir 3 jam. Pastinya, saya memesan minuman lain juga makanan yang tertera di menu.  Saat melihat menu, saya menghitung-hitung makanan dan minuman yang saya pesan hampir Rp.100 ribu. Menyadari hal ini, saya merasa ada semacam komitmen membara dalam diri. “Materi ini harus selesai hari ini dan di sini juga“.

Alhamdulillah, hari itu, akhirnya materi yang dipesan oleh EO selesai saya kerjakan. Karena, ada perasaan rugi mengeluarkan Rp.100ribu bila yang saya kerjakan tidak tuntas. Tapi anehnya, bila saya bekerja di Cafe hanya memesan minum dan snack yang biayanya cuma Rp. 30ribuan, apalagi bekerja di rumah tanpa ada biaya. Perasaan akan waktu yang berlalu itu tidak sebanding dengan yang rupiahnya benar-benar bernilai bagi saya.

Contoh lainnya; barang-barang yang saya miliki karena saya peroleh dengan tenaga dan mengkompensasi dengan sejumlah uang, tidak bisa saya pungkiri, perlakuannya pasti berbeda dengan barang yang saya milik secara Gratis. Bahkan terkadang, ilmu pun juga demikian.

Pembaca yang budiman. Bagaimana dengan Anda? Apakah Anda juga mengalami hal serupa dengan saya?

 

Oleh    : Rahmadsyah Mind-Therapist

Trainer Soft-Skill, Associate Trainer @Tantowi Yahya Plublic Speaking School dan Lembaga Pelatihan Ratih Sang.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.