Menerima Gaji Pertama Bekerja setelah lulus kuliah atau sekolah merupakan salah satu momen penting dalam perjalanan finansial. Setelah bertahun-tahun belajar, akhirnya ada penghasilan sendiri yang bisa digunakan untuk memenuhi kebutuhan, membantu keluarga, atau membangun masa depan. Namun, pertanyaan yang sering muncul adalah apakah gaji pertama sebaiknya masuk tabungan atau langsung diinvestasikan? Kami di Berempat.com membahas pilihan ini dengan pendekatan yang realistis, terutama bagi pekerja pemula yang baru mulai mengatur keuangan secara mandiri.
Keputusan tersebut tidak harus selalu berupa pilihan antara tabungan dan investasi. Keduanya memiliki fungsi berbeda. Tabungan membantu menyediakan dana yang mudah diakses ketika ada kebutuhan mendesak, sedangkan investasi ditujukan untuk mengembangkan aset dalam jangka waktu yang lebih panjang. Pekerja baru perlu memahami perbedaan tersebut sebelum menentukan alokasi penghasilan.
Mengapa Gaji Pertama Perlu Dikelola dengan Baik?
Memiliki penghasilan rutin untuk pertama kalinya sering membuat seseorang ingin menikmati berbagai hal yang sebelumnya belum terjangkau. Membeli ponsel baru, makan di tempat yang lebih mahal, bepergian, atau memenuhi kebutuhan pribadi merupakan hal yang wajar. Masalahnya muncul ketika seluruh penghasilan habis sebelum bulan berikutnya tiba.
Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Badan Pusat Statistik (BPS) dalam Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan 2025 menunjukkan bahwa indeks literasi keuangan masyarakat Indonesia mencapai 66,46 persen, sedangkan indeks inklusi keuangan berada di angka 80,51 persen. Survei tersebut menggambarkan kondisi masyarakat pada 2024 dan menunjukkan bahwa akses terhadap layanan keuangan lebih tinggi dibandingkan tingkat pemahaman keuangan.
Angka tersebut memberikan gambaran mengapa pekerja pemula perlu memperhatikan pengetahuan finansial, bukan sekadar memiliki rekening atau akses ke produk keuangan. Memahami cara mengatur penghasilan, risiko investasi, dan kebutuhan dana darurat dapat membantu seseorang mengambil keputusan yang lebih terukur.
Tabungan atau Investasi, Mana yang Lebih Dulu?
Bagi lulusan baru yang baru memperoleh Gaji Pertama Bekerja, tabungan umumnya menjadi prioritas awal. Alasannya sederhana: kebutuhan hidup sehari-hari harus tetap terpenuhi, sementara kondisi pekerjaan dan penghasilan masih mungkin berubah.
Dana yang disimpan dalam rekening tabungan dapat digunakan untuk keperluan mendesak, seperti biaya transportasi, kesehatan, perbaikan kendaraan, atau kebutuhan keluarga. Berbeda dengan investasi, tabungan tidak dirancang untuk mengejar pertumbuhan nilai yang tinggi. Fungsinya lebih kepada menjaga ketersediaan uang ketika diperlukan.
OJK menjelaskan bahwa literasi keuangan mencakup kemampuan memahami manfaat, risiko, biaya, serta hak dan kewajiban dari produk keuangan. Pemahaman ini membantu masyarakat memilih produk yang sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan finansial.
Sementara itu, investasi dapat dipertimbangkan setelah kebutuhan dasar dan dana cadangan mulai tertata. Instrumen seperti reksa dana, obligasi, atau saham memiliki karakteristik risiko dan jangka waktu yang berbeda. Pekerja pemula sebaiknya mempelajari instrumen tersebut sebelum mengalokasikan uang ke dalamnya.
Contoh Pembagian Gaji Pertama Bekerja
Berikut contoh simulasi apabila seorang lulusan baru menerima gaji bersih Rp4.000.000 per bulan. Angka ini hanya ilustrasi, bukan rata-rata gaji seluruh lulusan baru di Indonesia.
Simulasi penghasilan bulanan
Rp4.000.000
Biaya hidup dan kebutuhan rutin
Rp2.400.000
Tabungan
Rp800.000
Investasi
Rp800.000
Alokasi 60% kebutuhan, 20% tabungan, dan 20% investasi. Sesuaikan dengan biaya hidup dan kondisi keuangan masing-masing.
Pembagian di atas menunjukkan bahwa tabungan dan investasi dapat berjalan bersamaan. Namun, pekerja yang belum memiliki dana darurat dapat mengutamakan tabungan terlebih dahulu. Setelah cadangan mencukupi, sebagian alokasi dapat dialihkan ke investasi.
Cara Menghitung Target Tabungan dari Gaji Pertama
Target tabungan perlu disesuaikan dengan kebutuhan hidup. Misalnya, seseorang memiliki pengeluaran rutin Rp2.500.000 per bulan. Jika ingin membangun dana darurat sebesar tiga kali pengeluaran bulanan, targetnya adalah Rp7.500.000.
Dengan asumsi mampu menyisihkan Rp750.000 setiap bulan, target tersebut secara matematis dapat dicapai dalam 10 bulan. Perhitungan ini belum memasukkan bunga tabungan, biaya, atau perubahan pengeluaran.
Kapan Investasi Mulai Dipertimbangkan?
Investasi dapat dimulai ketika seseorang sudah memiliki gambaran jelas mengenai arus kas dan kebutuhan jangka pendek. Tidak ada kewajiban untuk langsung berinvestasi pada bulan pertama bekerja. Jika penghasilan masih terbatas, membangun kebiasaan menabung secara konsisten justru dapat menjadi fondasi yang lebih penting.
Bagi pekerja pemula yang memiliki dana lebih setelah memenuhi kebutuhan rutin, investasi dapat dilakukan secara bertahap. Reksa dana pasar uang, misalnya, sering dipelajari sebagai salah satu instrumen untuk tujuan jangka pendek hingga menengah, sedangkan saham dan reksa dana saham memiliki risiko fluktuasi yang lebih tinggi dan umumnya membutuhkan horizon investasi lebih panjang.
OJK mencatat bahwa kelompok usia 18–25 tahun memiliki indeks inklusi keuangan 89,96 persen dan indeks literasi keuangan 73,22 persen dalam hasil SNLIK 2025. Data ini menunjukkan bahwa kelompok usia muda memiliki akses dan tingkat pemahaman keuangan yang cukup tinggi dibandingkan beberapa kelompok usia lainnya, meskipun pemahaman tersebut tetap perlu ditingkatkan melalui edukasi.
Hal yang perlu diperhatikan adalah jangan menggunakan seluruh dana cadangan untuk mengejar keuntungan investasi. Dana yang diperlukan dalam waktu dekat sebaiknya ditempatkan pada instrumen yang sesuai dengan kebutuhan likuiditas dan tingkat risiko yang dapat diterima.
Gaji Pertama Bekerja dan Kebiasaan Finansial Jangka Panjang
Gaji pertama sering kali menjadi awal dari kebiasaan keuangan yang terbawa hingga bertahun-tahun. Jika sejak awal seseorang membiasakan diri mencatat pengeluaran, menyisihkan uang secara rutin, dan membedakan kebutuhan dengan keinginan, pengelolaan penghasilan berikutnya akan lebih terarah.
Misalnya, pekerja yang konsisten menyisihkan Rp500.000 per bulan akan mengumpulkan Rp6.000.000 dalam satu tahun, dengan asumsi tidak ada penarikan atau hasil investasi. Jumlah tersebut bisa menjadi dana cadangan awal, modal untuk meningkatkan keterampilan, atau bagian dari target keuangan yang lebih besar.
