Banyak pemilik usaha kecil masih menganggap uang bisnis dan uang pribadi sebagai satu kesatuan. Selama ada pemasukan, rasanya aman. Tapi di balik kebiasaan ini, sering muncul masalah yang tidak disadari: tidak adanya sistem gaji pemilik usaha kecil yang jelas. Padahal, hal sederhana seperti menentukan “hari gajian” justru bisa jadi pembeda antara bisnis yang bertahan dan yang stagnan.
Tanpa struktur gaji pemilik usaha kecil, pemilik bisnis cenderung mengambil uang kapan saja dibutuhkan. Hari ini ambil sedikit, besok tambah lagi, tanpa catatan yang jelas. Akibatnya, sulit mengetahui apakah bisnis benar-benar menghasilkan keuntungan atau hanya sekadar berputar.
Data dari QuickBooks menunjukkan bahwa sekitar 57% pemilik usaha kecil mencampur keuangan pribadi dan bisnis. Dampaknya bukan hanya soal pembukuan yang berantakan, tapi juga keputusan bisnis yang jadi kurang akurat.
Padahal, menetapkan gaji pemilik usaha kecil bukan soal formalitas. Ini tentang menciptakan batas yang sehat antara bisnis dan kehidupan pribadi.
Kenapa Pemilik Bisnis Perlu “Digaji”?
Banyak yang merasa aneh dengan konsep ini. “Ini bisnis sendiri, kenapa harus digaji?” Padahal justru di sinilah letak pentingnya.
Dengan sistem gaji, pemilik usaha bisa memperlakukan bisnis seperti entitas yang berdiri sendiri. Ada pemasukan, ada biaya operasional, dan ada kompensasi untuk pemilik sebagai “pekerja” di dalamnya.
Menurut survei dari Guidant Financial, sekitar 50% pemilik bisnis kecil tidak mengambil gaji tetap di tahun pertama. Ini menunjukkan bahwa banyak usaha berjalan tanpa struktur finansial yang jelas di awal.
Masalahnya, tanpa gaji tetap, pemilik sering kesulitan mengatur keuangan pribadi. Bahkan dalam beberapa kasus, kebutuhan pribadi justru membebani arus kas bisnis.
Dengan adanya “hari gajian”, pemilik punya kepastian. Kapan bisa mengambil uang, berapa jumlahnya, dan bagaimana mengaturnya. Ini juga membantu menciptakan disiplin finansial yang lebih kuat.
Cara Menentukan Gaji yang Masuk Akal
Menentukan gaji pemilik usaha kecil tidak harus langsung besar. Yang penting realistis dan sesuai kondisi bisnis.
Langkah pertama adalah menghitung keuntungan bersih. Setelah semua biaya operasional, gaji karyawan, dan kewajiban lain terpenuhi, barulah ditentukan berapa porsi yang bisa diambil sebagai gaji.
Beberapa pelaku usaha menggunakan pendekatan persentase, misalnya 10% hingga 30% dari keuntungan bersih. Sisanya tetap disimpan untuk pengembangan bisnis atau dana cadangan.
Yang penting, jangan mengambil dari omzet. Ini kesalahan umum yang sering terjadi. Omzet bukan keuntungan, dan jika diambil sembarangan, bisa mengganggu operasional.
Selain itu, tentukan tanggal tetap. Misalnya setiap tanggal 1 atau tanggal 5. Dengan cara ini, pemilik terbiasa menunggu “hari gajian” seperti karyawan pada umumnya.
Mungkin terlihat sepele, tapi dampaknya cukup besar. Dengan sistem gaji, laporan keuangan jadi lebih rapi. Pemilik bisa melihat dengan jelas apakah bisnis benar-benar untung atau tidak.
